Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek

Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek
Senjata Makan Tuan


__ADS_3

Hari itu Arjuna berangkat dari rumahnya pukul 09.00 pagi karena harus pemotretan terlebih dahulu. Sedangkan Melati bersama Revi tetap berada di rumah itu. Melati sedang memijat punggung Bapaknya di kamar, sambil membicarakan banyak hal.


"Kamu beruntung loh Nduk dapet suami kayak Tuan Juna ini. Padahal waktu dia nelpon mau nikahin kamu Bapak was was banget inget kelakuannya di TV. Bapak takut dia sering marahin kamu. Tapi, dengan terpaksa Bapak berkata iya karena tak bisa berbuat banyak."


Melati tersenyum. Andai bapaknya tahu awalnya memang sangat sulit, Arjuna adalah suami yang super duper jutek, tidak jarang Melati menahan sesak menghadapi sikapnya. Namun, keadaan berbalik saat ini, laki-laki itu begitu mencintainya.


"Alhamdulillah, Pak. Tuan itu memang jutek, tapi hatinya baik kok!"


"Iya, Alhamdulillah. Eh, waktu itu kan yang jadi wali nikahmu Pakde to?"


"Iya, Pak. Pakde yang jadi wali nikah."


"Bapak sebenarnya sedih nggak bisa jadi wali nikah kamu. Padahal sekali seumur hidup." Pandangan mata Pak Fikri menerawang jauh.


"Sudahlah, Pak. Namanya juga lagi sakit dan emang bener-bener nggak bisa."


"Sikap pakdemu ke Juna gimana Nduk? Apa sama seperti sama kita?"


"Bukan hanya sama Tuan, Pak. Sama aku juga dia jadi baik banget."


"Wahh syukur alhamdulillah ya, Nduk. Dulu kalau kita kesana suka di usir secara halus karena kita orang susah. Sekarang dia jadi baik banget." Mata Pak Fikri berbinar.


Melati hanya tersenyum, lama sekali ia tak memijat punggung Bapaknya. Melihat Bapaknya bahagia dia juga ikut bahagia.


Sementara itu di taman belakang Mawar dan ibunya sedang menyusun siasat untuk menyingkirkan Melati dari hati Arjuna. Mereka belum tahu kelemahan Melati. Alasan di balik mengapa Arjuna dan asistennya memintanya pura-pura menjadi ibu kandung untuk anak sambungnya itu.


"Sebaiknya kita cari dulu alasan di balik semua drama ini. Di penjara untuk kasus penipuan berapa lama sih? Kalau sebentar, ibu rela asalkan anak sialan itu hidupnya tidak sesempurna ini. Ibu sama anak kok sama aja sih, suka merebut kebahagiaan orang lain."


"Ibu sih, seharusnya Ibu dari awal kirim aku ke rumah ini bukan Melati. Kalau aku yang di kirim kan Tuan Arjuna cintanya sama aku bukan sama perempuan itu."


"Iya, ibu mana tau kalau dia bakal jadi permaisuri di rumah ini. Pikiran ibu, dia di jadiin pembantu, di ajarin masak dan ikut terkenal biar bisa menghasilkan uang untuk kita."


"Apa pun alasannya pokoknya ibu yang salah!"


Mawar menatap ibunya kesal, kemudian menoleh ke belakang, memastikan tidak ada orang. "Bu, aku bawa obat ini. Lama banget nggak ngerjain anak itu!"


"Obat apa ini, Nak?" tanya ibunya penasaran.

__ADS_1


"Pokoknya kalau dia minum ini, dia bakal sakit perut, Bu!"


"Oh, ya sudah kalau gitu, lakukan!"


Mereka berdua tertawa jahat. Mawar langsung ke dapur, ada Bibik yang lagi cuci piring. Ia tak memperhatikan gadis itu membuat sesuatu. Mawar membuat jus jeruk lalu memasukkan obat itu ke minuman. Setelah itu mawar mencari nampan, tapi tidak ketemu.


"Bik, nampan mana ya?" tanyanya.


"Ada di ujung sana, Neng!" sahut Bibik sekenanya, karena dia juga tak suka dengan Mawar.


Mawar berjalan ke ujung mencari nampan, tapi masih tidak ketemu, ia sampai berjongkok di rak piring dan mengeluarkan semua barang di sana. Dari balik dinding Dewi masuk secara mengendap-endap. Ia mendekati minuman yang sudah disiapkan oleh Mawar. Dari awal ia mengamati gerak-gerik gadis itu. Kemudian merasa kesal saat tau Melati akan dikerjain olehnya.


Dengan hati-hati ia menukar minuman yang sudah disiapkan oleh Mawar. Jus yang sudah dibuatnya diganti dengan jus yang baru. Melihat itu bibik hampir bertanya, tapi Dewi cepat memberi isyarat supaya bibik diam dan bersyukur bibik mengerti. Ia hanya tersenyum dan menunjukkan jempol tangannya. Selesai, segera Dewi kembali ke tempat semula. Nampan berhasil ditemukan, dengan wajah kesal Mawar mengambil nampan itu.


Ia menunju ke meja makan dan meletakkan dua minuman, secangkir teh hangat untuk Bapaknya dan jus jeruk untuk Melati. Bibirnya menyunggingkan senyum sebelah membayangkan Melati akan bolak balik kamar mandi. Dengan percaya diri ia membawa minuman itu ke kamar Bapaknya.


tok ... tok ... tok !!


"Bapak, mbak Melati. Ini aku bawakan minuman untuk kalian. Mungkin, kalian haus," katanya dengan sangat lembut sambil berjalan ke arah ranjang.


Mawar meletakkan nampan di atas nakas di dekat ranjang, dimana Bapaknya sedang berbaring dan Melati sedang memijat kakinya.


"Makasih ya, Dek," kata Melati.


"Buruan Mbak diminum, kalau tehnya kan masih panas. Kalau jus mbak kan nggak panas."


"Iya, nanti Mbak minum, Dek," sahut Melati kembali memijat kaki sang Bapak.


Bukan mawar namanya kalau keinginannya tidak segera terpenuhi.


'Ish! Lama!! Aku ambilin aja deh!'


Mawar mengambil gelas jus dan segera menyodorkannya pada Melati.


"Mbak, muka mbak pucet. Minum dulu aja, nanti lanjut pijet kaki Bapak lagi."


"Ehh, iya. Makasih loh, kamu repot-repot jadinya." Melati mengambil gelas dari tangan Mawar kemudian meminumnya.

__ADS_1


Dalam hati Mawar tertawa jahat. Ia sangat puas melihat Melati meminum habis jus buatannya. Tinggal menunggu beberapa menit pasti dia sudah sakit perut.


"Makasih ya, Dek!" kata Melati.


Dengan sigap Mawar mengambil gelas kosong dari tangan kakak sambungnya itu, lalu meletakkannya kembali ke nakas. Ia terus menatap Melati, berharap obat itu segera bereaksi. Sedangkan Melati kembali asik mengobrol dengan Bapaknya sambil terus memijat. 10 menit, 20 menit, 30 menit.


'Kenapa obat itu tak kunjung bereaksi?' Mawar kesal. Ia kelaur dengan muka cemberut, sebal.


'Apa yang salah? Apa aku salah memasukkan obat?' ia kesal bukan kepalang.


Langsung gadis itu menuju dapur dan duduk di meja makan. Muka merah padam, menahan kesal. Kenapa obatnya tak kunjung menunjukkan reaksinya. Karena merasa haus dan melihat ada segelas jus yang tergeletak di atas meja makan langsung saja ia meminumnya, ia tidak pernah tahu kalau jus itu adalah jus yang asli, yang di buatnya tadi, yang sudah di tukar oleh Dewi.


Dari balik dinding Dewi memegang perut, menahan tawa. Mawar terkena kejahilannya sendiri, senjata makan Tuan judulnya...


'Rasakan kejahatanmu Mawar!!' pekik Dewi dalam hati, Puas.


Dewi segera mengirim chat pada Arjuna, membaca chat sepupunya Arjuna tersenyum. Ia segera mengirim chat pada Melati.


[Sayang, kamu lagi apa?] send.


[Lagi ngobrol sama Bapak, Mas.]


[Lupa ya sama aku ada Bapak (emot sebal)] send.


[Nggak lah, Mas selalu di hati aku.]


[Mana buktinya?] send.


[(Emot cium, emot peluk, emot senyum, emot love)]


[Nggak mau cuma emot.] send.


[Ya udah nanti aja kalau gitu.]


Arjuna tersenyum bahagia, ia mengakhiri chatnya dengan kalimat.


[Miss you, Sayang ... ] send.

__ADS_1


Lalu kembali sibuk dengan pekerjaanya.


__ADS_2