
"Ma, sebenarnya ... "
Tut ... tut ... tut ...
Telepon dimatikan, Arjuna mengerutkan kening. Kenapa ponsel tiba-tiba mati. Pria itu memutuskan menelepon Rega.
"Iya, Kak?"
"Aku barusan telpon Mama, kok tiba-tiba mati, ya?"
"Oh ya? Bentar aku lihat dulu."
Rega berjalan mencari mamanya keluar kamar, terlihat mamanya sedang menonton TV bersama Mbok.
"Ma, kenapa telponnya mati? Ini kak Arjuna yang menelpon."
"Batre hape Mama abis, Nak. Nanti aja bilangin Arjuna, filmnya lagi seru juga!" Arjuna mendengar mamanya berteriak.
"Kak, kata Mama nanti saja, batre hapenya abis."
"Oh ya udah kalau gitu. Nanti aku telepon lagi aja."
"Oke, aku tutup teleponnya ya Kak. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam ... "
Telepon dimatikan dan Arjuna kembali masuk ke kamar. Sebelumnya ia menutup pintu balkon dan berjalan mendekati Melati yang terlelap. Arjuna menarik selimut sampai ke pinggang istrinya kemudian memeluk. Ternyata Melati terbangun, ia mengucek matanya dan segera beringsut saat tahu suaminya sudah pulang.
"Mas kamu sudah pulang? Udah makan belum?"
Melati hendak turun dari ranjang, tapi Arjuna menarik tangannya.
"Udah, sini aja! Mau kemana sih?" tanyanya seraya menarik istrinya dalam dekapan.
"Mau siapin makan kamu, Mas."
"Nggak usah, Mas udah makan."
"Bener?"
Arjuna mengangguk. Melati menyandarkan kepalanya di dada suaminya yang bidang. Arjuna bercerita banyak hal tentang kesehariannya hari ini, begitu juga istrinya, ia menceritakan bagaimana Revi bersekolah dan lain sebagainya.
"Sayang ... "
"Iya, Mas."
"Kamu lanjut sekolah, ya! Kita ambil paket C aja."
"Buat apa, Mas?"
"Biar kamu bisa menyalurkan bakat menari kamu, sekolah khusus menari setelah mendapat ijazah SMA."
Melati beringsut duduk, ia menatap wajah suaminya sembari tersenyum.
__ADS_1
"Mas, itu semua nggak penting. Aku takut kewajiban aku sebagai istri nanti jadi terbagi. Aku takut jika aku berhasil aku akan melupakan prioritas utamaku, yaitu kamu dan anak-anak kita nanti. Aku nggak mau jadi penari profesional Mas. Cukup jadi istri dan ibu yang baik aku sudah bahagia. Surat kontraknya langsung dari Sang Pencipta."
Arjuna diam, menatap dalam wajah istrinya.
"Kadang aku bingung, amalan apa yang dulu pernah kuperbuat sampe aku bisa dapet istri kayak kamu."
Melati tertawa.
"Ih, kamu suka gitu!" Melati cemberut.
"Beneran, ada kamu di samping aku itu seperti... " Arjuna berpikir. "Pokoknya nggak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Kamu itu luar biasa sayangku."
"Kalau luar biasa di sayang dong! Kasih hadiah!" Melati menggoda.
"Emm, kalau kamu kasih hadiah sebuah ciuman, kalau aku apa, ya?"
"Pijitin aja!" kata istrinya memotong omongan.
"Curang! Mas belum sempat mikir yang pas!"
"Sini coba, pijitin kaki aku!" Melati menunjuk kakinya.
"Cuma kaki? Mas nggak mau cuma mijitin kaki doang. Maunya semuanya." Arjuna tertawa.
"Nggak jadi deh, tidur aja!" Melati berbaring dan menarik selimut sampai ke muka.
"Sayang! Kok tidur, sini!"
"Mas, apaan! Ayo tidur!"
"Nggak mau, Mas!"
Terjadilah adegan saling tarik menarik selimut, Arjuna sudah siap memijat sedangkan Melati menolak.
***
Pletak, pletak, pletak!
Suara langkah kaki sepatu berhak tinggi terdengar nyaring. Hari ini, hari pertama Mawar masuk kuliah. Ia berdandan semaksimal mungkin, sekeren mungkin. Beberapa pria menatapnya takjub, Mawar sungguh berbeda. Wajahnya mendongak angkuh dengan gaya sedemikian rupa.
Di dalam kelas semua orang saling menyapa dan berkenalan. Tidak dengan Mawar, dia tak mau berteman dengan orang sembarangan, harus kaya dan anak konglomerat.
"Hay, nama kamu siapa?" tanya seorang perempuan duduk di sampingnya.
"Mawar."
"Oh, Mawar. Aku Kay!" perempuan itu mengulurkan tangan.
"Oh, ya!" sahutnya tanpa membalas uluran tangan itu. "Aku nggak bisa berteman dengan sembarangan orang. Karena aku ini keluarga dari chef ternama Arjuna Delendra."
"Chef yang suka nongol di TV itu ya?" tanya gadis itu antusias.
Mawar hanya mengangguk sombong, dan semua orang yang mendengar langsung mengerumuninya. Bertanya banyak hal dan terkagum-kagum melihat Mawar.
__ADS_1
***
"Nak, Mama pengen main ke rumah Arjuna. Di sanakan keluarga besan berkumpul, bagaimana kalau kita menginap beberapa hari di sana?" Bu Hartini bertanya pada Rega yang baru saja pulang bekerja.
Pria itu menarik napas panjang. Begitu banyak resiko yang harus ditanggung kalau mereka menginap di sana.
"Ma, Mama tau kan Rega itu nggak suka nginep di rumah orang," kilahnya.
"Orang? Itu rumah Kakakmu, Sayang. Rumah kita dulu, hanya beberapa hari saja. Rumah ini sepi, Mama pengen ngobrol banyak sama besan. Ya, Sayang!" pinta mamanya.
"Iya, Ma. Tapi sudah lama kita tidak tinggal di sana, Rega agak canggung jadinya."
"Kamu, ada saja alasan untuk menolak, ya sudah Mama tidur di sana sama si Mbok saja. Kamu nggak usah ikut!" mamanya menjalankan kursi roda dan berlalu dari anaknya dengan wajah cemberut, Rega segera mengejar.
"Mama ... " panggilnya lebut sambil menghentikan kursi roda mamanya. Ia duduk mensejajarkan diri dan memegang kedua tangan wanita yang telah melahirkannya itu.
"Iya, akan Rega pikirkan. Jangan marah lagi, ya! Rega nggak mau liat mama cemberut gitu." Mamanya tersenyum, ia tahu kelemahan putra bungsunya.
"Iya, Sayang ... makasih ya!" sahut Bu Hartini gembira.
Rega mendorong kursi roda mamanya ke arah kamar, lalu membantu Bu Hartini berbaring di ranjang.
"Ya udah tidur ya Ma, udah malam!"
"Iya, Nak. makasih ya, jangan lupa dipikirkan, kapan kita bisa menginap di rumah Arjuna, bertemu besan."
"Iya, Mama .... ih bawel!" Rega tersenyum, kemudian menyelimuti mamanya dan mematikan lampu, setelah itu keluar kamar.
Besoknya Rega mengajak Arjuna bertemu di sebuah cafe. Mereka hanya bertemu berdua, Gilsa diminta pulang lebih dulu olehnya.
"Kak, Mama mengajak menginap di rumah itu. ia ingin menginap sebentar untuk bertemu keluarga Melati."
Arjuna memijit kening, dengan kedua siku bersandar pada meja. Kepalanya kembali pusing untuk menyusun skenario selanjutnya. Rega mengerti kegelisahan hati sang kakak.
"Kak!" panggilnya lirih sambil menepuk bahu.
"Kok sekarang semakin rumit ya, Ga!"
"Kak, keputusan sudah di ambil. Kakak harus tetap menjalankan rencana ini. Resiko ketika kita memutuskan berbohong adalah kita akan melakukan tindakan itu terus menerus untuk menutupi kebohongan selanjutnya."
"Semalem aku sempat ingin jujur kepada Mama. menurut mu bagaimana?"
"Bagus, Kak. Tapi aku tidak menjamin semua akan baik-baik saja. Kita sudah sama-sama mengenal watak Mama. Bagaimana prinsipnya dan lain sebagainya. Dari awal aku sudah bilang ini akan sulit. Jika aku jadi Kakak, aku akan melakukan apa pun untuk Mbak Melati.".
"Benarkah?" tanya Arjuna tersenyum kecil, menatap wajah adiknya yang tampak tenang sambil menyeruput segelas kopi susu.
"Iya, karena wanita seperti mbak Melati itu langka, " sahut Rega sembari meletakkan gelas kopi ke meja.
"Oh, ya? Boleh aku tanya sesuatu, Ga?"
"Boleh, apa Kak?"
"Kamu suka sama Melati?"
__ADS_1
Rega terdiam, ia menatap wajah kakaknya yang juga sedang menatap dengan sorot mata yang tajam.