Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek

Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek
Makan Malam Romantis


__ADS_3

Pagi itu juna mengurungkan niat untuk pergi syuting. Ia malah duduk di sebuah cafe bersama Gilsa. Hatinya sedang tidak enak. Ia menyadari perubahan sikap Melati. Sudah beberapa hari wanitanya lebih banyak diam, jarang bicara. Jika di ajak bercanda hanya tersenyum tipis.


Arjuna ingin kembali membuat istrinya seperti dulu. Ia bermaksud mencurahkan isi hatinya pada Gilsa dan berusaha mencari jalan keluar tentang masalahnya. Panjang lebar Arjuna menceritakan duduk persoalan yang sedang mereka hadapi. Ketakutannya mengatakan sebuah kebenaran soal latar belakang istrinya.


Gilsa mendengarkan dengan seksama, sesekali ia mengangguk mengerti, kemudian tampak berpikir.


"Jadi begitu lah, menurutmu apa yang harus kulakukan?" tanya Arjuna.


"Tuan, bagaimana kalau pertemukan saja Nyonya besar, dengan orang tua Nyonya Melati?"


Arjuna diam cukup lama, ia menimbang-nimbang.


"Bagaimana kalau mereka bersikap di luar apa yang kita inginkan, seperti yang kita tau selama ini ibunya Melati itu seperti apa?"


"Bagaimana kalau kita ancam saja, Tuan."


Dahi pria itu mengerut.


"Ancam? Maksudnya?"


"Begini, Tuan. Bukankah selama ini mereka membohongi kita. Itu bisa kita jadikan alat untuk membuat mereka patuh dengan perintah kita. Kita tinggal menyiapkan semua buktinya. Kalau mereka telah menipu kita, lalu kita ancam akan melaporkan mereka atas penipuan yang sudah mereka lakukan."


Arjuna mangangguk-anggukan kepala.


"Akan saya pikirkan rencana ini."


"Baik, Tuan."


"Terima kasih Gilsa."


"Sudah tugas saya, membantu apa pun yang Tuan butuhkan." Arjuna tersenyum, melipat kakinya dan menyeruput kopi susu di hadapan mereka.


Setelah itu ia merogoh saku celana mengirim pesan pada pujaan hatinya.


[Assalamu'alaikum, Yank.]


Tidak berapa lama, istrinya membalas. Terlihat ia mengetik sesuatu.


[Waalaikumsalam, Mas.]


[Lagi apa?]


[Baru pulang nganter Revi sekolah.]


[Ini udah di rumah?]


[Baru sampe, bentar lagi mau main ke rumah Mama.]


[Nanti aja mainnya, tolong beresin kamar kita, ya! Mas pergi tadi kok berantakan banget.]


[Masak sih, Mas? Tadi udah aku beresin kok.]


Arjuna mencari alasan lainnya. Ia tau sifat mamanya. Ia pasti akan menanyakan hal yang sama pada istrinya hari ini. Arjuna takut Melati tidak bisa menjawab dan salah bicara.


[Emm, kalau gitu masakin Mas agar-agar.]


[Kan bisa pulang dari sana, Mas. Masak agar-agar nggak lama kok!]


Hadehh, pake alasan apa lagi, ya?


[Ya udah kamu istirahat aja di rumah. Siap-siap nanti malam kamu mau Mas ajak ke suatu tempat.]


[Kemana, Mas?]


[Tunggu aja (emot cium)]


[Mulai deh... (Emot tersipu)]


Arjuna kembali memasukkan gawai ke saku celana. Ia harus menyusun rencana makan malam hari ini.


"Gilsa, siapin makan malam romantis malam ini buat aku sama Melati, ya!"

__ADS_1


"Siap, Tuan."


***


Dikediaman Rega. Bu Hertini sedang melihat-lihat foto usang.


"Ma, liat apa sih?" tanya Rega yang baru turun dari lantai atas.


"Liatin foto kamu sama Arjuna." sahut sang Mama tanpa menoleh ke arah anaknya.


"Bu, teh nya!" kata si mbok meletakkan secangkir teh hangat ke meja.


"Makasih ya, Mbok," sahut Rega.


"Iya, Tuan Muda." Dan si Mbok berlalu.


"Ma, Suka ngobrol apa aja sama Mbak Melati?" tanya Rega pada mamanya.


"Banyak, Nak. Mama tanya dia berasal dari mana, asal usulnya, orang tuanya."


Rega terdiam, ia mengalihkan pandangan. Sebelum ia membuntuti Melati pertama kali, ia sudah lebih dulu menyelidiki latar belakang keluarganya. Ia sangat paham sifat mamanya yang begitu membenci perselingkuhan. Tanpa sepengetahuan mamanya dulu Rega sering memergoki papanya di jalan bersama wanita lain. Hingga semua terbongkar dan keluarga kecilnya berantakan.


Rega bahkan pernah menemukan catatan kecil mamanya soal kekesalannya pada wanita simpanan. Sampai kapanpun mamanya tidak akan pernah mau mengenal orang-orang seperti itu, termasuk anak dan cucunya. Rega menarik napas panjang. Ia khawatir dengan Melati. Biar bagaimana pun ia adalah jembatan pertemuan antara Arjuna dan mamanya. Terlebih ia memiliki hati ke wanita berhijab itu. Rega tau, Melati anak istri kedua dari bapaknya.


"Kok diam?" tanya mamanya.


"Ehh nggak apa-apa kok, Ma." Rega tersenyum, samar.


Otaknya berpikir bagaimana ia bisa membantu Melati, supaya Mamanya bisa menerima keberadaan wanita istimewa itu.


***


Malamnya Melati sudah bersiap-siap. Ia makai rok payung berwarna cream dan kaus berlengan panjang berwarna putih, dengan ujung baju yang dimasukkan ke dalam rok. Ia memakai pasmina motif bunga berwarna senada, cream. Satu bagian di selempang kan kebelakang dan bagian lainnya di pasang bros di depan untuk menutup dada.


Melati menabur bedak tipis di muka dan mengoleskan lipstik berwarna peach pada bibir. Tidak lupa ia menyemprotkan parfum beraroma Melati pada beberapa bagian tubuh. Ponsel bergetar, ia meraihnya dan langsung membukanya.


[Assalamualaikum, Yank. Aku udah nunggu di suatu tempat, ya!]


Melati tersenyum. Ia segera membalas.


[Pak Gus udah di jalan untuk jemput kamu.]


[Oke, Mas.]


Ia kembali menyimpan ponselnya dalam tas. Bek berbunyi, segera wanita itu melihat siapa yang datang. Ternyata benar, Pak Gus. Langsung saja Mereka berangkat.


[Pak, gimana Revi?]


[Wah asik main sama Bunga, Nyonya.]


[Semenjak kenal sama Bunga jadi sering tidur di sana ya, Pak.] Melati tersenyum.


Sejak pulang sekolah anak itu main di sana, ia senang karena Bunga sering mengajarinya membuat kue. Mengajarinya memasak dan banyak hal lainnya. Dalam satu minggu, Revi bisa tiga kali menginap di rumah Arjuna yang lama. Melati senang jika Revi bahagia.


Tiga puluh menit berlalu, mobil berhenti di sebuah taman. Melati bingung kenapa bukan makan malam di restoran.


"Ini, Pak tempatnya?"


"Iya, Nyonya."


Melati segera turun, dan Pak Gus langsung pamit pulang. Dari kejauhan sudah terlihat cahaya lampu berkilauan. Melati terus menuju ke arah sana. Kemudian bibirnya tersenyum tipis melihat Arjuna sudah duduk di sebuah taman mini. Di mana di tengah-tengahnya ada sebuah tempat yang di pagari dengan tanaman merambat di sekelilingnya. Tempat itu dikelilingi lampu remang-remang. Ada beberapa lilin berdiri kokoh di tengah meja. Meja dengan dua kursi berwarna putih.


Arjuna duduk di sana memakai jas berwarna abu-abu. Berbagai makanan sudah tersedia. Melati melangkah melewati jembatan mini, yang di sekitarnya terdapat lampu bulat-bulat besar berwarna putih. Di bawah jembatan itu terdapat kolam dengan air yang jernih. Kaki mungil perempuan itu melangkah melewati jembatan.


Menyadari kedatangan Melati Arjuna berdiri menyambutnya. Kemudian menarik satu kursi untuk didudukinya.


"Selamat datang putri malu ku." sambutnya dengan di balas senyum bahagia oleh wanita itu.


"Mas ini apa?" tanyanya sedikit berbisik.


"Kejutan buat kamu. Suka?" tanya Arjuna mengulurkan tangan menggenggam jemari wanitanya di seberang meja, kemudian mengecup hangat.

__ADS_1


"Banget!" sahut Melati bahagia.


Arjuna memberikan buket bunga mawar yang besar kepada putri malunya. Bunga berwarna merah hati itu di terima dengan wajah merona oleh Melati. Kemudian pria itu berdiri, berjalan ke belakang tubuh wanitanya. Sedikit membungkuk dia melingkarkan tangan kokohnya pada Melati kemudian membuka telapak tangan itu tepat di hadapan wanitanya. Terlihat kalung berlian dalam genggaman.


Melati terdiam cukup lama. Matanya berkaca-kaca. Arjuna tersenyum, diciumnya pucuk kepala Melati yang tertutup hijab dan memakaikan kalungnya.


"Makasih ya, Mas."


Arjuna mengangguk, sekali lagi diciumnya pucuk kepala itu.


Cekrek!


Gilsa mengambil moment itu dari kejauhan.


"Kamu pengen aku kasih begituan?" tanya Regi.


"Perempuan mana yang nggak pengen di kasih berlian." sahut Gilsa tanpa menoleh. Ia masih sibuk mengambil foto yang bagus untuk Arjuna.


"Aku nggak punya uang sebanyak itu." kata Regi dengan wajah lesu.


"Ya udah nggak usah nawarin," sahut Gilsa cuek Bebek.


Regi diam saja, ia kembali menyandarkan tubuhnya pada mobil dan kembali memainkan gawai. Nasibnya memiliki pacar cuek dan dingin. Regi bahkan pernah di tinju bagian perut sama Gilsa gara-gara mencoba menciumnya.


Setelah pemberian kalung mereka makan berdua. Hanya membahas masalah ringan. Beberapa hari melihat Melati seperti banyak pikiran membuat hati Arjuna turut gelisah. Selesai makan Arjuna mengajak Melati melihat ikan di kolam. Mereka berdiri di jembatan yang disekitarnya terdapat bola lampu yang besar-besar berwarna putih. Namun cahayanya redup menenangkan hati.


Arjuna berdiri memeluk Melati dari belakang. Sebelah tanganya melingkar di leher wanita itu.


"Pejamkan matamu ...." pinta Arjuna.


"Buat apa, Mas."


"Lakukan saja." Melati memejamkan matanya.


Arjuna segera memakaikan satu headset ke telinga Melati. Cukup susah karena terhalang hijabnya. Kemudian satunya dipakai olehnya sendiri.


"Ini lagu aku buat kamu."


Musik diputar. Mereka mendengarkan lagu itu dengan mata sama-sama memejam. Sementara Arjuna masih memeluk leher Melati dengan sebelah tangan. Kepalanya disandarkan pada kepala wanitanya. Perlahan bibirnya ikut menyenandungkan lagu itu. Sebuah lagu dari Marcel berjudul jangan pernah berubah di putar.


*masih ada perasaan yang tak menentu di hati


bila ingat sorot matamu yang kurasa berbeda


Oh, janganlah terjadi yang selalu kutakutkan


beribu cara 'kan kutempuh


Oh, cintaku kumau tetap kamu


yang jadi kekasihku


jangan pernah berubah


selamanya kan kujaga dirimu


seperti kapas putih di hatiku


takkan kubuat noda


bayangkanlah kedua matamu


bayangkan aku disisimu


oh, janganlah terjadi yang selalu kutakutkan


beribu cara 'kan kutempuh*


Arjuna begitu meresapi lagu itu, suaranya cukup merdu. Melati membuka matanya, menoleh dan sedikit mendongak melihat kekasihnya. Ia tersenyum, perlahan perjalanan cintanya seolah berputar di ingatan. Mulai sikap Arjuna yang galak dan lain sebagainya. Bagaimana ia memperlakukan Melati sejak awal sampai ada benih-benih cinta tumbuh di hati mereka.


Sekali lagi gadis itu tersenyum, terus menatap Arjuna yang masih meresapi lagunya. Menyadari Melati menatapnya Arjuna membuka mata dan menoleh ke arah kekasihnya. Ia tersenyum tipis, Melati terus saja menatap mata coklat itu, kemudian sedikit berjinjit ia mengecup hangat bibir Arjuna.

__ADS_1


Cekrek!


Sekali lagi Gilsa mengambil fotonya. Sementara Regi menggigit kemudi setir di hadapannya.


__ADS_2