Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek

Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek
Restu?


__ADS_3

Prok! Prok! Prok!!


Bu Hertini bertepuk tangan.


"Akhirnya ngaku juga. Udah dari tadi loh ditungguin. Mama sampe berteriak sama Melati." Mama menatap menantunya lalu tersenyum. Semua orang menatap bingung. "Nak, maaf ya. Selama ini Mama terlalu keras sama kamu." Mertuanya itu sedikit menunduk memegang bahu menantunya kemudian memintanya berdiri.


"Ma, maksudnya apa?" Melati tampak bingung, begitu juga yang lainnya.


"Duduk dulu di kursi ya, Nak. Nanti dijelaskan."


"Sayang, kita duduk dulu, kita dengarkan Mama bicara." Melati mengangguk. Mereka duduk di sofa dekat Bu Hertini.


"Sayang ... " panggil Bu Hertini pada anak bungsunya.


"Iya, Ma?"


"Putar rekamannya."


Rega segera berjalan kearah TV dan menghidupkan sesuatu. Ditangannya memegang sebuah flashdisk berwarna hitam. Setelah hidup ia membesarkan volumenya. Di sana terlihat Mawar memasuki kamar, kemudian Melati mengintip dari luar. Melati terlihat syok sampai menutup mulutnya dengan kedua tangan. Setelah itu ia berlari menjauh dari kamar karena suara pintu depan terbuka. Mawar menyusul dengan menggenggam kalung di tangan. TV dimatikan.


"Mama sudah tau kalau bukan kamu yang mengambilnya. Ada CCTV di rumah ini. Mama hanya ingin mengetes adikmu mawar, apakah dia akan mengakui kesalahannya atau hanya akan bersembunyi di balik punggungmu dan membiarkanmu menanggung semua. Dan sepertinya, gadis ini sudah mulai dewasa."


Mawar semakin malu mengetahui semuanya.


"Mama," ucap Melati lirih.


"Aku tau istriku, Ma. Dia tidak akan melakukan semua itu. Karena itu aku berusaha terus membelanya." Bu Hertini tersenyum.


"Kamu mengenal istrimu dengan baik, Nak. Mama tau kamu hanya pura-pura percaya dengan pengakuannya, iya kan?" Arjuna mengangguk. Kemudian menoleh ke arah istrinya dan menggenggam jemarinya. Sedangkan Melati masih menunduk.


"Mawar duduk di tempatmu, aku memaafkanmu." kata Bu Hertini. Gadis itu berdiri dan duduk di tempatnya semula. "Ini belum selesai. Masih ada sesuatu yang ingin Mama bicarakan."


Hening. Setelah cukup lama Bu Hertini kembali bersuara.

__ADS_1


"Sebenernya, selama ini Mama hanya ingin melihat kepatutan, kelayakan, kepantasan seorang Melati Kusuma untuk anak Mama yang bernama Arjuna." Melati terperangah begitu juga Arjuna. "Mama tau dia gadis yang baik dan sopan. Tapi mama belum yakin 100℅ hingga Mama pura-pura menentang hubungan kalian."


"Mama, jadi selama ini?" tanya Arjuna tidak percaya.


"Ya, maafkan Mama. Mama hanya bersandiwara. Tidak ada yang tau, termasuk adikmu Rega. Mama baru memberitahunya semalam."


"Itulah mengapa Rega meminta Kakak pulang secepatnya," sambung Rega dengan tenang.


"Kamu luar biasa Sayang. Kamu pantas untuk Arjuna." Mama membentangkan tangannya. Meminta Melati mendekat.


Melati menarik napas panjang, lega, sedih dan bahagia. Ia menyeka air di sudut matanya berulang kali, lalu berdiri dan perlahan mendekati Mama mertuanya.


"Peluk Mama Sayang." Suara Bu Hertini terdengar serak. Melati menunduk dalam, tenggorokannya terasa sakit dan serak. Dengan sangat hati-hati ia duduk di hadapan Mama mertua, kemudian menangis sambil memejamkan mata, dipeluknya Bu Hertini erat.


"Mama Terima kasih banyak, Ma." Lirih bibirnya berucap.


"Kamu layak untuk Arjuna, Nak. Sangat layak!" Wanita paruh baya itu melepas pelukan dan mencium kening menantunya. "Sekarang kamu berdiri. Mama mau ngobrol dengan cucu Mama." Melati mengangguk, ia berdiri mendekatkan perutnya yang mulai membuncit.


Bu Hertini mengelus perut itu lembut dan mengajak calon cucunya berkomunikasi dengan wajah berbinar bahagia.


"Mama tau dari mana?" tanya Melati.


"Siapa lagi kalau bukan dari Pak Dokter Rega."


Rega dan Arjuna tertawa. Langsung Mbok pergi ke belakang mengambilkan makanan untuk Melati. Setelah itu memberikannya pada Arjuna, dengan telaten Juna menyuapi istrinya.


"Ma, makasih ya!" kata Arjuna menatap mamanya. Bu Hertini tersenyum bahagia.


Sementara itu Mawar dalam diam kembali masuk ke kamar. Ia menangis sejadi-jadinya. Hanya perasaan malu yang kini hinggap pada diri. Ia tak pernah menyangkan kalau semua akan menjadi seperti ini. Begitu banyak yang mengasihi Melati. Ia ingin seperti itu. Disayangi dan berharga bagi orang lain.


Masih terisak ia mengemasi pakaian. Sesekali menyeka air mata yang terus saja membanjiri wajah. Gadis itu terlalu malu jika harus berhadapan dengan orang-orang di dalam sana. Selesai berkemas, mengendap-endap ia keluar rumah dari pintu belakang. Ia masih sempat melihat tawa bahagia dan kehangatan keluarga itu dari jendela yang tirainya terbuka.


Tidak lupa ia menatap Rega, cukup lama. Mawar berusaha mengingat-ingat tawa itu, senyum itu dan wajah super tampan itu. Ia mengalihkan pandangan, menghapus air mata dan kembali menatap ke depan. Bersusah payah ia menyeret kopernya kemudian berdiri di depan memesan taksi online. Mawar masih sempat berpamitan dengan satpam. Taksi datang, ia segera naik dan mobil melaju meninggalkan rumah.

__ADS_1


Setelah cukup lama bercanda dan berbincang dengan keluarga, Melati baru menyadari bahwa Mawar tak ada diantara mereka. Ia permisi dengan semua orang untuk masuk ke kamar. Sampai di kamar ia tak menemukan Mawar. kemudian Melati berjalan ke dapur, tak ada juga ia di sana. Melati bertanya dengan mbok yang sedang mencuci piring.


Mbok juga menjawab tidak tahu. Ia kembali ke kamar dan melihat tak ada lagi koper berwarna biru milik adiknya itu. Melati langsung memeriksa isi lemari. Semua baju adiknya juga sudah raib di sana. Melati duduk di ujung ranjang berusaha menelpon ponsel adiknya.


telpon diangkat.


"Ya, Mbak?" suaranya tertahan dan serak.


"Dek, kamu di mana?" tanya Melati khawatir.


"Mbak aku nggak pantas ada ditengah-tengah kalian. Aku terlalu kotor Mbak."


"Dek, kamu nggak boleh bilang gitu. Mbak susul kamu ya! Di mana kamu sekarang?" Melati mulai gelisah, ia berdiri sambil mondar-mandir karena gundah.


"Mbak, aku pulang ke apartemen, ya."


"Dek ini udah malem, Dek."


"Mbak jangan khawatir, bentar lagi aku sampe."


"Kamu kenapa nggak pamit sama kami semua?"


Terdengar isak tangis Mawar di seberang telepon. Mendengar itu Melati ikut bersedih.


"Mawar terlalu malu bertemu kalian semua, Mbak. Mau taruh di mana mukaku ini."


"Ya Allah, Dek. Mama nggak marah sama kamu, kami semua sudah memaafkan kamu, Dek."


"Tapi aku belum bisa bisa maafin diri aku sendiri Mbak. Aku belum bisa ..., "


Melati hanya diam, membiarkan adiknya menumpahkan tangisnya di ujung sana. Sesekali ia juga menghapus air matanya. Melati ikut bersedih mendengar tangisan sang adik.


Dulu saat ia masih berumur tujuh tahun. Melati yang selalu mengasuh adiknya jika ibunya sedang sibuk memasak di dapur. lalu jika Mawar menangis ia akan dipukuli oleh ibunya. Melati mengasihi Mawar seperti adiknya sendiri.

__ADS_1


"Dek, jangan nangis lagi. Mbak ikut sedih mendengar kamu nangis." Mendengar itu Mawar menangis semakin kencang. Arjuna memperhatikan istrinya dari luar, ia membiarkan dua saudara itu saling berbagi beban dan mencurahkan rasa.


__ADS_2