
Malam itu cuaca mendung, langit menghitam bagai arang. Sepertinya air dari atas sana akan turun deras membasahi bumi. Melati sedang berdiri di balkon rumah, mengelus perut yang kini berisi anaknya dan Arjuna yang sudah berusia tiga bulan.
Suaminya belum juga pulang.
'Ya Allah, pengen sekali perut ini di elus oleh Mama. Rindu sekali rasanya, apakah Mama begitu membeci latar belakangku.'
Rintik hujan mulai berjatuhan dari angkasa. Melati memutuskan masuk setelah hujan mulai deras. Setelah menutup pintu, ia berbaring di sofa. Memejamkan mata yang mulai lelah karena kantuk yang menerpa.
Samar wanita itu merasa seperti ada yang mendekat, kemudian membelai kepala. ia belum sepenuhnya sadar, bisa jadi mungkin ini hanya mimpi, pikirnya. Setelah itu Melati merasa seperti Ada yang mencium. Dan ia memutuskan membuka mata, lalu tersenyum saat mengetahui itu perbuatan suaminya, Arjuna.
Perlahan wanita itu mengangkat tangan dan membelai kepala Arjuna. Suaminya melepas ciuman, kemudian beralih mengecup puncak kepala sang Istri.
"Udah ngantuk banget, ya?" tanyanya dengan senyum seringah.
"Hu um."
"Ya udah tidurnya di ranjang. Jangan di sini!" perintahnya sembari membopong tubuh Melati ke kasur.
"Mas .... "
"Apa Sayang?"
Arjuna membaringkan tubuh Melati ke kasur. Diambilkannya guling, lalu diletakkan di samping tubuh sang Istri.
"Gimana soal keinginanku?"
"Yang mana?"
"Sepertinya tinggal satu rumah sama Mama asik ya Mas."
Arjuna menarik napas panjang, kemudian mencubit kecil pipi istrinya.
"Bandel banget! Ngidam yang lain aja. Kenapa semua idaman kamu selalu berhubungan dengan Mama?" tanyanya menatap teduh ke dalam bola mata Melati.
"Bukan aku, tapi anak kamu!" sahut Melati dengan raut kecewa.
"Mas pikirin dulu nanti gimana caranya supaya Mama bisa elus perut kamu. Tapi, kamu yang sabar!" pintanya sambil membelai kepala. "Ya udah Mas mandi dulu, gerah banget. Sekalian mau shalat isya, ya!" Istrinya mengangguk cepat sambil tersenyum.
Arjuna langsung menuju kamar mandi, setelahnya menjalankan shalat Isya. Sementara Melati duduk bersandar di kepala ranjang, menunggu suaminya selesai menjalankan shalat sambil membaca novel Cinta di Hati Ratu karya Sylviana Mustofa.
"Udah Mas shalatnya?" tanya Melati setelah Arjuna jalan mendekat, kemudian duduk di sisi ranjang.
"Keliatannya gimana?"
"Udah!"
Mereka tertawa bersamaan. Arjuna berbaring di sisi istrinya. Ia mengangkat kepala Melati, lalu menyelipkan lengannya sebagai pengganti bantal sang istri. Wangi sabun mandi menguar di hidung Melati yang membuat nya tersenyum, Dan nya man berada di dekat Arjuna. Suaminya menceritakan kegiatannya hari ini. Dari awal sampe ke akhir, sementara Melati sibuk menyimak, sesekali ia menganggukan kepala.
***
Pagi-pagi sekali setelah shalat subuh Arjuna membawakan sarapan ke kamar. Padahal Ada Bunga, tapi laki-laki itu terlalu takut orang lain akan membuat kesalahan saat mengurus istrinya yang sedang hamil, sehingga Ia mengambil alih sendiri untuk sarapan dan makan malam sang istri.
"Mas buatin kamu bubur ayam!" katanya sambil meletakkan nampan di meja sofa.
"Wah, pasti enak!" jawab Melati dengan senyum mengambang.
Arjunalangsung menuntun Melati duduk di sofa, lalu menyuapkan bubur itu padanya. Sebelum masuk ke mulut, Arjuna meniup-niup bubur itu supaya cepat dingin dalam sendok. Setelah dirasa cukup, Melati langsung membuka mulut, menerima suapan itu.
__ADS_1
"Dulu Mas suka banget buat ini. Enak nggak?" tanyanya setelah satu suapan masuk ke mulut.
"Oh ya? Untuk siapa, Mas? Ini juara banget! Aku suka banget bubur ini Mas!"
"Hum um. dulu, Mas sering membuatnya untuk Papa." Pria itu menatap Melati dengan raut kesedihan. Terdengar Ia mengembuskan napas berat. "Maaf, Aku jadi ingat masa lalu." katanya sedikit membungkuk dan menunduk. Ia meletakkan sendok dan mangkuk ke meja lalu tangannya terkepal menyangga dagu beserta mulut. Sedangkan kedua sikut bertumpu pada lutut.
Melati terdiam, wanita itu berhenti mengunyah. Setelah cukup lama hening, Ia naik ke sofa, berdiri dengan lutut dan memeluk leher suaminya dari belakang.
"Nggak apa-apa, Mas. Jangan merasa tidak enak padaku. Aku bisa menjadi teman, saudara, Ibu, guru, bahkan Aku bisa jadi musuhmu." Melati mencium kepala sang suami penuh kasih sayang sambil tersenyum.
"Bisa jadi siapa pun, tapi kok Ada sebutan bisa jadi istri?"
"Yang itu nggak perlu diomongin, Mas. Semua orang sudah tau kalau Aku itu milik kamu." Melati mengeratkan pelukan.
"Oh ya?!"
"Emm."
Arjuna menoleh, Ia mencium pipi sang istri sambil tersenyum.
"Makasih ya, sudah jadi segala-galanya buat Mas."
"Kembali kasih, Mas! Muachh!" katanya sambil mencium kening.
***
Besok malamnya Arjuna mengundang Rega untuk datang. Ia sampaikan semua keinginannya. Rega mendengarkan dengan seksama, sesekali tangannya mencubit-cubit dagu, menandakan kalau Ia sedang berpikir.
"Gimana kalau kalian datang ke rumah aja, terus nginep, Kak."
"Iya juga, ya! Kalau nyamar gimana? Mbak Melati pake cadar aja, untuk menutupi wajah."
"Musti bohong lagi nih? Kalau bohong Aku nggak Mau, Pak Dokter!" protes Melati.
"Nggak bohong lah Mbak, nanti kita atur semua, ya."
Melati hanya tersenyum. Besar hadapannya supaya perutnya bisa di elus sang Mama mertua suatu hari nanti.
***
Hari-hari mereka lalui dengan bahagia, apa pun yang di inginkan Melati, Arjuna selalu bisa menuruti nya. tinggal keinginannya untuk bertemu mama dan bisa merasakan tangan mama memegang perutnya yang belum terealisasi.
"Jadi berapa Sayang?" tanya Melati pada Revi malam itu saat sedang mengerjalan PR.
Tampak Revi menghitung dengan jari tangan. "Lima di kurang dua." Revi memperhatikan jari jemarinya. "Tiga Bu Guru!" jawabnya antusias.
"Pinter. Coba sekarang yang ini." Melati menunjuk soal lainnya.
"Tiga di kurang tiga." Revi mulai menghitung. "Kok abis Bu Guru, jadi berapa isinya?" Revi kebingungan.
"Abis, itu Artinya nol Sayang." Melati menjelaskan.
"Oh gitu, Siap! Revi tulis ya!" kata anak itu ber Semangat.
Melati mengajari PR Revi sampai jam sembilan malam. Setelahnya Bunga naik ke atas untuk mengajaknya tidur.
"Selamat malam Sayang. Udah bagus belajar nya. Besok kita belajar lagi ya!"
__ADS_1
"Siap Bu Guru!"
"Mbak Bunga, jangan lupa disusun daftar pelajaran Revi untuk besok, ya!"
"Iya Nyonya. Kalau begitu, kami turun dulu, ya."
"Baiklah, Mbak."
Bunga berlalu mengajak Revi bersamanya. Setelah mereka turun, Arjuna datang masuk ke kamar.
"Sayang, kenapa sih nggak minta Mbak Bunga aja ajarin Revi?"
"Aku sudah terbiasa, Mas. Rasa Ada yang kurang kalau nggak ajarin dia belajar."
Melati membereskan tempat dan melangkah ke arah ranjang, kemudian ia berbaring di dekat suaminya.
"Ya udah gimana bagusnya aja."
"Tapi Mas nggak Mau, ya kamu terlalu capek." Protes Arjuna, Ia berganti posisi tidur menghadap ke arah perut sang Istri. "Mas nggak Mau nanti ngaruh ke janin kita." Arjuna menempelkan telinganya ke perut Melati. "Halo jagoan atau princesnya Papa. Kamu baik-baik di dalam sana, ya. Muach Muach Muach!!" Melati tertawa.
"Mas dia itu baru tiga bulan, belum bisa apa-apa."
"Kata siapa dia pasti denger kok Papanya bicara."
Melati hanya mencibir menggoda sang suami.
"Iya aja Deh, dari pada kena protes mulu."
Gantian Arjuna yang tertawa. Ia beringsut dan memeluk istrinya, membenamkan kepala Melati ke dadanya seperti biasa.
"Sayang.... "
"Emm."
"Lama Mas nggak sentuh kamu." Melati mengulum senyum. "Kamu nggak Kangen sama aku?" Kini wajahnya menunduk memperhatikan muka sang Istri.
"Ya Kangen, Mas!"
"Tuh, kan .... tapi Mas takut nanti terjadi apa-apa sama bayi kita. Karena itu Mas nggak berani."
"Kalau hati-hati nggak apa-apa, Mas."
"Masak sih? Kamu tau Dari mana?"
"Aku pernah nonton Dr. Boyke jelasin di TV."
"Ih, kok nggak ngomong dari kemaren-kemaren sih?"
"Mas nggak nanya." kilah Melati.
Tanpa menjawab, Arjuna langsung mencium istrinya dengan lembut, jari jemarinya mulai menelusup ke dalam baju sang Istri, menyusuri ke setiap lekuk tubuhnya.
"Mas, mau malam ini?" tanya Melati sambil melepas ciuman.
"Lah iya Sayang. Kapan lagi?"
"Janji ya, hati-hati!"
__ADS_1