
"Mas, kerjanya hati-hati, ya! Nanti aku akan nonton acara Mas setiap hari. Jam 10 pagi, kan?"
"Iya, kamu jaga kesehatan, ya! Jangan terlalu banyak bekerja, kalau mau apa-apa minta tolong sama Mbok juga. Terus, jangan terlalu di ambil hati kalau Mama bicara."
"Iya, Mas. Dari awal aku sudah mempersiapkan diri dan hati untuk menghadapi Mama. Kamu jangan lupa makan dan shalat, ya!"
Arjuna tersenyum, ditatapnya wajah sang istri dari layar ponsel. Kemudian mencium hangat layar ponsel itu, sementara Melati tersenyum melihatnya, sambil mengusap-usap layar gawai miliknya sendiri.
"Ya udah, Mas tutup ya teleponnya. Mas baru aja nyampe, mau istirahat."
"Iya, Mas .... "
"Assalamu'alaikum, love u Sayangku."
"Waalaikumsalam, love u too mas ku."
Selesai VC dengan Arjuna, Melati bangkit dan keluar kamar. Dilihatnya malam itu Mama mertua sedang menonton TV sendirian. Melati melangkah ke dapur, lalu membuat segelas teh hangat, kemudian mengantarkannya pada Mama mertua.
"Ma, ini Melati buatin teh hangat," katanya sambil meletakkan gelas teh ke meja.
Bu Hartini diam saja, bahkan ia tak menoleh sama sekali.
"Mbokk! Mbok!" teriak Bu Hartini nyaring. Tergopoh Mbok lari mendekat dari arah belakang. "Antar saya ke kamar, saya mau tidur!" perintahnya.
Mbok langsung mendorong kursi roda majikannya menuju kamar. Sementara Melati hanya tersenyum samar melihat ke arah mbok. Asisten Rumah Tangga itu tersenyum dan sedikit membungkuk saat meninggalkan Melati sendiri.
Setelah Mama dan mbok berlalu, Melati duduk di sofa, menonton TV dengan perasaan yang, entah. Mungkin ia belum terlalu matang mempersiapkan diri menghadapi sikap Mama yang tak pernah menganggapnya ada. Dari atas Rega memperhatikan Melati yang duduk melamun seorang diri. Ia merasa kasihan. Rega memutuskan turun ke bawah.
Sampai di bawah ia langsung duduk di samping kakak iparnya, menyeruput teh yang sejak tadi Melati siapkan untuk Mama mertuanya.
"Pas banget dingin-dingin gini minum teh anget," ucap Rega sambil tersenyum. Melati diam saja, wanita itu bahkan tidak menyadari kalau Rega sudah duduk di sampingnya. "Mbak! Mbak! Mbak Melati!" Rega mengibaskan tangan di depan muka kakak iparnya.
Seketika Melati tersadar. Ia melihat ke arah Rega sekilas, kemudian mencoba tersenyum.
"Ohh, ada Pak Dokter rupanya."
"Teh nya, enak Mbak."
"Makasih," sahut Melati sedikit mengangguk.
"Mbak .... "
"Ya?"
"Yang sabar, ya! InshaAllah Mama lagi mempersiapkan diri dan hati untuk menerima Mbak di sini."
__ADS_1
"Saya mengerti, Pak Dokter."
"Panggil Rega aja, Mbak. Nggak usah Pak Dokter."
"Dari segi umur, usia Pak Dokter lebih dewasa tiga tahun di banding umur saya. Saya merasa kurang sopan jika memanggil hanya dengan sebutan nama."
"Ya udah panggil Mas aja kalau gitu."
"Hah?"
"Becanda, Mbak. hehehehe." Melati tersenyum.
Melati bingung apa yang harus dibicarakan, hingga wanita itu memutuskan pamit masuk ke kamar.
***
"Huekk! Huekk! Huekk! Ahh .... " Melati memijat pelipis nya karena pusing.
Rega yang hendak pergi bekerja mendengar suara Melati sedang muntah-muntah. Tak ada orang lain dirumah, Mbok sedang mengajak mamanya berjalan keluar, keliling komplek perumahan.
Tok tok tok!!
"Mbak!" teriak Rega.
"Huekk! Huekk!" suara Melati semakin kencang terdengar.
Rega langsung memutar knop pintu dan berlari menuju kamar mandi. Melati sudah ambruk di lantai, ia masih sadar dan terus mencoba berdiri.
"Astaghfirullah ... " Dengan cepat Rega membantu Melati.
"Pak Dokter saya tidak apa-apa."
"Tidak apa-apa bagaimana? Mbak jatuh loh, nanti kalau ada apa-apa sama kandungan Mbak gimana?" Rega terlihat sangat cemas.
Ia menuntun Melati menuju ranjang, kemudian membaringkan tubuh kakak iparnya di sana.
"Obat sama vitamin dari aku suka Mbak minum nggak?" tanya Rega sambil memeriksa laci nakas. Ia melihat obat itu masih utuh, belum tersentuh. Rega menghembuskan napas berat. "Mbak, vitaminnya di minum dong, ini ada obat mual juga."
Melati masih sibuk memijat pelipisnya. Rega bangkit dan menuju ke dapur, mengambilkan dua lembar roti dan segelas susu. Setelahnya kembali ke kamar tamu, dimana kakak iparnya terbaring lesu.
"Mbak, sarapan dulu. Sini!"
"Terima kasih Pak Dokter, tapi saya bisa makan sendiri." Melati mencoba duduk, tapi tidak kuat dan kembali berbaring.
"Mbak, Kak Juna menitipkan mbak padaku. Jadi Mbak Melati itu sekarang tanggung jawabku. Makan ya!" pintanya lembut.
__ADS_1
Rega mengambil roti dan memotongnya kecil-kecil, kemudian menyuapkannya pada Melati. Melati diam saja, ia takut menerima kebaikan dari Rega.
"Mbak, demi janin yang ada dalam perut Mbak."
Melati menatap adik iparnya, Rega tersenyum tipis. Perlahan wanita itu membuka mulutnya dan Rega yang hati-hati menyuapi nya. "Makan dikit dulu aja biar nggak mual. Minum susunya nanti aja, Mbak minum obat dulu, ya!"
Rega membantu Melati duduk, lalu memberikan obat pada wanita itu. Disodorkannya segelas air putih. Selesai minum obat Melati kembali berbaring.
"Mbak istirahat dulu, ya! Nanti aku cari orang yang bisa nungguin Mbak di sini kalau aku bekerja."
Melati diam saja, rega menarik selimut sampai ke pertengahan tubuh kakak iparnya. Kemudian berlalu untuk pergi bekerja. Saat ia akan keluar kamar Melati kembali memanggilnya.
"Pak Dokter!"
Rega yang hampir keluar dari pintu kamar berbalik.
"Ya, Mbak."
"Makasih banyak, maaf merepotkan."
Rega hanya tersenyum, kemudian melanjutkan langkah. Rega berjalan keluar dan menuju ke mobil, saat di luar rumah ia bertemu Mama dan ARTnya baru pulang ke rumah.
"Mama." kata Rega berjalan mendekat, kemudian mencium punggung tangan mamanya.
"Jam segini udah mau pergi bekerja?"
"Iya, Ma. Ada sedikit urusan. Ehhh, Mbok sementara tolong jaga Mbak Melati ya, dia masih sering muntah-muntah setiap pagi. Tolong nanti siang siapin makan buat dia. Jangan lupa ingetin untuk minum obat."
Mamanya menatap anaknya bingung. Ia tahu persis perasaan Rega pada wanita yang ia sebut Kakak iparnya itu.
"Rega, apa ini tidak berlebihan? Kamu harusnya menjaga jarak dengan Melati, supaya perasaanmu tidak meluas untuk wanita itu. Ingat dia istri Kakakmu." Mamanya mengingatkan.
Rega tersenyum, Ia duduk mensejajarkan diri dengan mamanya.
"Ma, aku tau apa yang aku lakukan. aku berjanji, itu tidak akan terjadi. Nanti akan ku carikan orang khusus untuk membantu Mbak Melati di sini."
"Ga, rasa khawatirmu melebihi Arjuna. Kau hanya adik iparnya, Nak."
"Aku bersikap seperti ini karena aku seorang dokter, Ma. Jadi aku merasa perlu membantu orang lain seperti ini, termasuk Mbak Melati."
"Apa pun itu, jaga perasaanmu. Mama tidak mau suatu saat akan jadi boomerang untuk kalian berdua. Mama tidak mau mendengar masalah antara kamu dan Arjuna hanya karena wanita itu."
"Mama, tenanglah, Rega berjanji. Semua akan baik-baik saja." Rega memegang erat tangan mamanya untuk meyakinkan, kemudiam sedikit berdiri untuk mencium keningnya. "Ya sudah aku pergi kerja dulu ya, Ma. Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam, Hati-hati dijalan!"
__ADS_1
Rega beranjak dan berjalan ke arah mobil, setelahnya membunyikan klakson tiga kali sebelum akhirnya mobil berlalu dari pandangan sang Mama.