
Sedikit limbung saat aku keluar dari kamar rawat inap Mama. Aku berpegangan dinding dan duduk di ruang tunggu. Aku tidak bisa berpikir dengan baik. Kucari ponsel dan mencari nomor telepon wanitaku lalu langsung kutekan tombol hijau di sana.
"Ha, ha ... lo. Assalamu'alaikum, Mas." jawabnya sedikit terbata. Aku memejamkan mata. "Mas! Bagaimana keadaan Mama?"
Aku hanya diam dan menunduk dalam, membungkukkan punggung menatap lantai. Bagaimana aku akan membicarakan semua ini padanya ya Allah...
"Mas, Mama baik-baik aja kan?" Aku masih diam.
Setelah menarik napas panjang aku baru menjawabnya.
"Waalaikumsalam, kamu di mana Sayang?" Akhirnya lirih bibir ini berkata.
"Aku di taman depan rumah sakit, Mas." Langsung kumatikan ponsel dan menuju ke sana.
Sampai di taman, berputar-putar aku mencarinya, dan akhirnya terlihat wanitaku sedang duduk sendirian, sesekali ia menghapus air matanya dengan punggung tangan. perlahan aku berjalan mendekat dan duduk di sampingnya. Kubelai lembut kepalanya yang tertutup hijab berwarna hitam.
"Mas... " panggilnya lirih, seiring air mata yang berjatuhan ke pipi.
Aku menelan salivaku menahan tangis di depannya.
"Kamu kenapa sendirian di sini?" tanyaku sembari menyentuh pipinya yang terasa dingin.
"Aku menunggu kabar dari Mama, Mas. Bagaimana keadaanya sekarang, apakah Mama baik-baik saja?"
"Mama sudah sadar, Sayang. Jangan khawatir." sahutku mencoba tersenyum.
"Alhamdulillah, ya Allah." Melati terlihat lega, ia meletakkan sebelah tangannya ke dada dengan mata terpejam. "Mas, semua ini terjadi karena aku Mas, maafkan aku," ucapnya merasa bersalah dan tangisnya kembali tumpah.
"Bukan salah kamu, kita sudah berusaha yang terbaik. Semua kendali ada pada Allah, Sayang." Aku memeluknya.
Aku butuh waktu bersamanya untuk membicarakan ini semua. Tidak di apartemen, tidak juga di rumah.
"Sayang, kita liburan ya!" ajakku tiba-tiba.
"Mas, Mama lagi sakit, dia butuh kita."
"Ada Rega, ada Tante Dinda dan keluarga lainnya. Ada yang ingin aku bicarakan, tapi tidak sekarang. Tolong, beberapa hari saja." ajakku.
Setelah lama membujuk, akhirnya wanitaku mau. Aku segera menelepon Gilsa.
"Ya, Tuan."
"Atur penerbangan untuk besok, aku dan Melati."
"Ke mana, Tuan?"
__ADS_1
"Bali!"
***
Aku meminta Pak Gus menjemputnya lebih dulu lalu kembali ke ruang rawat inap untuk menemui Rega. Kujelaskan maksud dan tujuanku datang. Adikku hanya diam, mungkin dia masih kecewa dengan sikapku yang memojokkannya, bahkan ujung bibir itu masih kebiruan bekas pukulanku tadi.
"Aku titip Mama untuk beberapa hari saja."
"Kemana?"
"Membahagiakan wanitaku sebelum aku benar-benar yakin mengambil keputusan yang tepat."
Rega mengalihkan pandangan.
"Beri aku kabar mengenai perkembangan Mama setiap saat, jika ia bertanya katakan aku ada syuting luar kota yang tak bisa di cancel."
Rega masih diam. Aku beranjak, kemudian melangkah untuk pergi.
"Kak!" panggilnya yang membuat langkahku terhenti. "Aku akan menjaga Mama sebaik mungkin, jangan khawatir." Aku hanya mengangguk kemudian berlalu.
***
Setelah melewati penerbangan yang melelahkan, sampailah kami di Lv8 Resore Hotel. Melati tak banyak bicara, ia hanya diam. Jika kuajak bicara ia hanya menjawab seperlunya.
Sampailah kami di kamar yang didesain cukup unik dan stylish, furniturenya didominasi dengan kayu. Kamar ini dilengkapi dengan DVD player, TV, mini bar dan kamar mandi. Aku membuka tirai jendela kaca dan telihatlah lautan yang luas di luar sana.
Aku mengangguk.
Ia hanya melepas hijab dan melemparkannya ke kasur, kemudian berlalu ke kamar mandi. Aku menepon Rega dan bertanya kabar Mama.
"Ga, Kakak udah sampai di Bali. Bagaimana keadaan Mama?"
"Alhamdulillah Mama sudah lebih baik, keadaannya stabil."
"Syukurlah, ya sudah aku mau istirahat. Jaga Mama baik-baik. Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam .... " ponsel kumatikan.
Aku melepas kancing kemeja dan menanggalkan pakaian. Melepas jam tangan, lalu menghempaskan tubuh ke kasur. Kutatap langit-langit kamar ini. Masih bimbang pikiran ini.
Wajah pucat Mama tiba-tiba membayang di ingatan, kupejamkan mata dan mendoakan beliau dari dalam hati.
Sudah tiga puluh menit kenapa Melati belum juga selesai membersihkan diri. Aku menyusulnya ke kamar mandi. Terdengar gemericik air, lalu terdengar pula suara isak tangis, aku mencoba mengetuk pintunya.
Tok tok tok!
__ADS_1
"Sayang .... " Suara tangis terhenti.
"Ya, Mas."
"Buka pintunya."
"Jangan sekarang, Mas!"
"Sebentar saja," pintaku, ia membuka pintunya.
Pintu terbuka, ternyata ia tak melepas pakaiannya, tapi seluruh tubuh dan baju itu basah kuyup.
"Kamu ngapain?" tanyaku bersandar pada pinggir pintu.
"Nggak apa-apa, Mas," sahutnya menyelipkan rambutnya yang basah kebelakang telinga. "Mas, apa perjalanan ini, ucapan selamat tinggal untuk kebersamaan kita?" matanya memerah menatap ku lekat.
Aku melihat ia menelan ludah beberapa kali, menahan air mata yang sudah menggenang memenuhi semua sudut mata.
"Kata siapa?" tanyaku dengan suara serak.
"Tante Dinda sudah mengatakan semuanya padaku." Wanitaku tersenyum getir.
Ia mengulum bibirnya sendiri, kemudian dagu lencip itu berkerut berulang kali. Aku masuk ke dalam kamar mandi dan berdiri di hadapannya, kuhidupkan shower dan kami berdua berdiri di bawahnya. Basah semua tubuhku maupun tubuhnya. Aku membenamkannya dalam pelukan kemudian mencium puncak kepala itu beberapa kali. Wanitaku terisak lagi.
"Mas, apa benar ini kebersamaan kita yang terakhir?" tanyanya di sela isak tangis. Aku memejamkan mata dan memeluknya semakin erat.
"Jangan pernah berpikir seperti itu." pintaku.
"Mas, aku memang milikmu, tapi sampai kapan pun seorang suami adalah milik ibunya. Mas, saat ini kesembuhan Mama yang paling utama." katanya dengan suara tersendat. Aku melepas pelukan dan membingkai wajahnya, kemudian menatap wajah itu sayu.
"Katakan kalau kamu mencintaiku." pintaku dengan dada yang kian sesak.
"Aku mencintaimu, Mas," sahutnya dengan bibir bergetar dan air mata luruh di barengi tetesan shower yang deras menghujam kami.
"Katakan sekali lagi." pintaku lebih mendekat, air mataku pun tercampur dengan guyuran air yang membasahi kepala ini.
"Aku mencintaimu, Mas!" sahutnya dengan bibir yang lebih bergetar hebat.
"Katakan lagi!" pintaku yang kini mulai menempelkan kening kami dengan mata terpejam.
Melati memejamkan matanya, ia terus terisak.
"Aku mencintaimu, aku mencintaimu, aku mencintaimu, Mas!" tangisnya tersenggal. Aku memangut bibir itu lembut dengan hati hancur.
Tangisan wanita itu semakin menjadi, Kupeluk tubuh kurusnya erat dan semakin dalam menciumnya. Setelah cukup lama aku melepas ciuman, kutatap matanya dengan seksama.
__ADS_1
"Aku hanya ingin mendengar kata-kata itu. Ini awal perjuangan kita, berjanjilah Sayang. Kita taklukan hati Mama sama-sama," bisikku ke telinganya.
Melati mengangguk cepat. Air mata itu kembali tumpah. Aku melepas kancing bajunya satu persatu, sambil terus mencumbu. Di sini, di kamar mandi ini. Untuk pertama kalinya kami menyatu dengan perasaan yang sama-sama hancur.