Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek

Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek
Sidang Keluarga


__ADS_3

Hari itu, hari ke 30 Melati tinggal di rumah Rega. Ia sedih tak bisa meluluhkan hati sang Mama mertua. Gundah dan gelisah hinggap di hatinya. Melati berusaha sabar dan tidak menyerah begitu saja. Arjuna sebentar lagi pulang. Melati tak pernah bercerita perihal kehilangan kalung berlian yang ada dirumah sang Mama mertua. Ia takut suaminya khawatir dan memutuskan pulang.


Melati berdiri dan melangkah keluar dari kamar. Ia melihat mamanya sedang duduk di taman belakang bersama Mbok. Perlahan ia jalan mendekat. Memberanikan diri menyentuh bahu Bu Hertini dan memijatnya.


"Ma .... " sapanya yang hanya didiamkan oleh Bu Hertini. Wanita paruh baya itu tidak menolak sentuhan Melati, juga tidak menerima. Ia hanya diam seperti biasa. "Maafkan Melati ya, Ma. Melati sudah membuat Mama bingung karena kehilangan kalung itu."


Tidak lama dari itu, Mbok pergi dari sana karena merasa tidak enak. Ia menunduk dan tersenyum pada Melati kemudian berlalu.


"Ma, sudah tiga puluh hari Melati tinggal disini. Terima kasih sudah mengizinkan aku ada di tengah-tengah keluarga ini. Sebentar lagi Mas Arjuna akan menjemput. Sekali lagi aku mohon maaf yang sebesar-besarnya."


Bu Hertini tak bergeming. Melati memutari kursi roda dan duduk berjongkok dihadapan Mama mertua.


"Ma, Terima kasih." Melati mencium punggung tangan Bu Hertini dengan takzim, kemudian menghapus air matanya dengan lembut. Ia tersenyum memandang wajah Bu Hertini. Meski pun Mama mertuanya itu membuang muka.


Selesai berpamitan, ia berdiri dan melangkah pergi. Melati kembali menuju kamar, membereskan semua pakaian dalam koper, ia bersiap jika suaminya datang menjemput. Tiba-tiba teringat kata-kata Dokter Rega waktu itu.


'Apa mungkin, dokter Rega menyukaiku?'


Hatinya di landa gelisah. Melati menghentikan aktivitasnya dan memilih duduk di ujung ranjang. Ia mengigit-gigit kecil kuku tangannya.


'Bagaimana kalau benar?' Melati jadi gelisah.


Ia berdiri dan mondar-mandir di dekat ranjang. Berpikir, apakah akan menemui dokter Rega dan mengingatkan akan perasaaannya.


***


"Malam Mbak!" sapa Mawar malam itu. Ia baru saja pulang dari kuliah.


Melati sedang melakukan VC dengan Revi. Seminggu sekali wanita itu menelepon anak angkatnya.


"Sayang, tante Mawar sudah pulang, udah dulu ya!" pamitnya.


"Oke deh!" sahut Revi dengan gaya menggemaskan.


Ponsel dimatikan, Mawar duduk di sisi kakaknya.


"Udah shalat Isya?" tanya Melati mengingatkan.


"Belum, Mbak. Tadi shalat magrib di Mushola kampus."

__ADS_1


"Ya udah, mandi sana! Terus shalat isya dulu, ya!"


"Ok!" Mawar langsung berdiri dan menyambar handuk di samping pintu kamar mandi, disana ada gantungan khusus untuk handuk.


Melati kembali membereskan pakaiannya yang tertunda. Tidak berapa lama Mbok memanggil.


"Mbak Mel. Nanti diminta Nyonya besar berkumpul di ruang tengah."


"Iya, Mbok. Makasih, ya!" sahut Melati, kemudian Mbok berlalu.


Mawar mendekati Melati yang telah selesai mengemas pakaiannya.


"Mbak, nanti aku pulang bareng mbak aja ya ke rumah!" kata Mawar.


"Boleh, kita keruang tengah dulu. Mama Minta berkumpul di sana."


"Ada apa ya, Mbak?" tanya Mawar.


"Nggak tau juga, Dek. Kita nurut aja ya." Mawar mengangguk. Mereka beriringan menuju ruang tengah.


Sampai di ruang tengah, Melati agak terkejut karena di sana sudah ada Arjuna dan Rega. Baru semalam Melati menelpon suaminya itu. Sekarang ia sudah ada di sini.


"Mas!" sapa Melati saat melihat Arjuna sudah duduk di salah satu sofa. Ia mendekat dan mencium punggung tangan imamnya itu dengan takzim.


"Alhamdulillah, Mas," sahut Melati. "Kenapa nggak bilang-bilang sudah ada di sini?" bisik Melati.


"Mas ditelepon Rega, ia meminta Mas pulang."


"Kenapa?"


Arjuna hanya mengangkat bahu. Mawar duduk didekat Mbok. Sedangkan Rega bersisian dengan Bu Hertini. Suasana jadi agak tegang tatkala Bu Hertini menyapukan pandangan pada setiap orang. Ia menatap satu persatu wajah yang ada di sana.


"Arjuna. Ada yang perlu kamu ketahui."


Melati dan Arjuna bersitatap. Hati wanita hamil itu agak takut kalau Mama mertuanya akan bercerita soal kalung berlian yang hilang.


"Iya, Ma?" sahut Arjuna dengan tenang.


"Mama kehilangan kalung berlian beberapa minggu yang lalu. Kalung berlian pemberian papamu. Mama sangat sayang dengan kalung itu."

__ADS_1


"Ya ampun. Kok bisa? Jadi sekarang sudah ketemu? "


Wajah Melati berubah pias mendengar kata-kata mamanya. Bagaimana kalau ia kembali disudutkan?


'Astaghfirullah .... ' ucapnya berulang dalam hati. Sungguh hatinya diliputi rasa gelisah.


Mawar menatap Melati dengan rasa bersalah. Ingin sekali ia Menolong, tapi ia juga takut semua orang akan memandangnya dengan tatapan benci.


"Sudah!" sahut mamanya menatap wajah Melati dan Mawar secara bergantian.


Melati memegang jemari sang suami. Bibirnya sedikit bergetar mengatakan sesuatu.


"Ma ... Mas! Aku yang mengambil kalung berlian itu. Tapi sungguh niatku bukan untuk mencuri, Mas. Aku hanya tertarik dan ingin mencoba. Itu saja."


Arjuna menatap istrinya dengan dahi berkerut. Tidak menyangka dengan kejadian ini. Tidak mungkin seorang Melati Kusuma berani berbuat hal seburuk ini.


"Sayang, kamu bisa minta beliin Mas. Nggak harus seperti itu. Dengan seperti ini Mama akan lebih sulit memberikan restunya." bisik Arjuna memandang istrinya nanar.


Melati memejamkan mata, ia menelan salivanya beberapa kali. Sementara Mawar, tangannya saling menggenggam dan berkeringat. Ia ingin mengaku, tapi banyak pertimbangan. Mama sudah menyukainya, ia tinggal membuat Rega menyukainya.


"Kamu tau kan siapa istrimu sekarang?" Bu Hertini manatap tajam wajah Arjuna.


"Ma, melati sudah mengatakan hanya ingin meminjam. Tidak berniat mengambilnya!" Arjuna berusaha membela.


"Lancang sekali dia membongkar isi lemariku hanya untuk meminjam kalung berlian. Lancang!!" teriak Mama.


Rega memegang tangan mamanya. Ia takut terjadi apa-apa dengan sang Mama.


"Mama, jangan terlalu keras." Rega mengingatkan.


Mawar semakin merasa bersalah, wajahnya berkeringat. Bibirnya bergerak-gerak ingin bicara. Tapi masih ragu dan penuh pertimbangan.


"Istri macam ini yang kau bela mati-matian? hah!" Bu Hertini berteriak dengan mata melotot.


"Ma, tolong jangan bicara seperti itu. Biar bagaimana pun Melati adalah wanita yang aku cintai. Ia Ibu dari anak-anakku nanti!" Suara Arjuna sedikit meninggi.


Melati berdiri, ia bersimpuh di kaki sang Ibu mertua sambil meminta maaf. Melihat itu Arjuna ikut berdiri, ia mengajak Melati duduk ditempat semula, tapi Melati menolak. Arjuna tidak tega melihat Melati dalam pesakitan.


"Mas, biarkan aku seperti ini Mas aku memang salah."

__ADS_1


Sementara itu Mawar memejamkan mata, mengumpulkan keberanian untuk bicara. Setelah yakin Mawar menarik napas panjang dan membuka mata.


"Aku pencurinya, bukan Mbak Melati!" kata Mawar tiba-tiba yang membuat semua orang terdiam. Mawar kembali memejamkan mata, beberapa tetes kristal luruh di pipi mulusnya. "Jangan buat Mbak Melati seperti itu. Saya mohon!" Mawar mengiba. Ia turun dari sofa dan berdiri dengan lutut. Mukanya tertunduk dalam penuh penyesalan.


__ADS_2