
"Tenang, kamu pasti lelah. Bapak cuma kasihan dan ingin memijat tubuhmu." kata pria itu menyeringai seram yang membuat Mawar bergidik ngeri. "Ayolah, sini biar lelahmu hilang," kata pria itu yang mulai merambat naik mendekati gadis itu.
"Pak! Hentikan, atau saya teriak!" ancam Mawar dengan wajah pucat pasi. Gadis itu sudah memperingatkan berkali-kali, tapi tetap saja pak tua itu semakin merangkak naik mendekati tubuhnya.
Kesabaran gadis itu habis. Matanya memerah menatap pria yang sudah beruban itu yang mulai menyentuh kakinya. Rahangnya mengeras menahan amarah dan seketika.
Bugh! Bugh!
Mawar menerjang tepat di dada si Bapak sampai pria itu jatuh terpental ke bawah ranjang. meringis ia manahan sakit sambil meremas bajunya bagian dada. Mawar turun dari ranjang yang reot itu dan menatap wajah pria tua itu tajam. Bekal bela dirinya yang didapatnya saat di bangku SMP dan SMA berguna juga.
"Saya sudah peringatkan ya, Pak. Bukan hanya teriakan yang Bapak dapat. Tapi juga terjangan kaki saya."
"Kamu tidak ada sopan santunnya sama orang tua," kata Bapak tua itu masih meringis kesakitan. ia mencoba berdiri dan langsung memegang tangan Mawar serta memelintir nya ke belakang.
"Aww!" teriak gadis itu kesakitan.
Mawar tak kehabisan akal, diayunkannya kepalanya kebelakang dengan keras hingga membentur ke kepala si Bapak.
"Aduh!" kata Bapak itu sedikit menjerit sambil melepaskan tangannya, lalu memegang keningnya. Mawar berbalik dan jalan mendekat.
"Pak ingat umur! Saya bisa laporkan Bapak ke Polisi dengan tuduhan pelecehan!" Teriak Mawar marah dengan tatapan nyalang. Tangannya menunjuk-nunjuk si Bapak yang kini duduk di ujung ranjang masih memegang kepala dengan geram.
"Ada apa ini? ada apa?" teriak istrinya yang tiba-tiba datang.
"Suami ibu berniat melecehkan saya!" Kata Mawar lantang.
"Bohong, Bu! Bohong! Gadis desa itu yang melambaikan tangan berusaha menggoda Bapak. sudah Bapak ingatkan, Bapak tidak akan tergoda, tapi dia masih saja berusaha merayu." elak Bapak tua itu.
__ADS_1
Mawar tak menyangka dengan kata-kata yang ke luar dari mulutnya. Ia menggelengkan kepala sambil menatap wajah dia sepasang suami-istri itu di depannya.
"Nak, kami menolong kamu dengan ikhlas. kenapa sekarang kamu mau menggoda suami saya? Wajah saja cantik tapi tak memiliki akhlak! Sayang sekali!" bentak Ibu itu menatap tajam wajah Mawar.
Mawar mendengkus, kesal. Wajahnya terlihat sangat geram, ia menggigit bibir bawahnya sampai nyaris berdarah saking kesalnya dengan mata melotot ke arah mereka.
"Ibu percaya, kata-kata pria ini?" Tanyanya penuh penekanan. "Bu, kalau cinta jangan sampai membutakan mata dan hati. Menurut Ibu mengapa saya menggoda Bapak-bapak tua seperti ini? mana miskin!" kata gadis itu berapi-api.
"Munkin saja kamu kesepian karena di desa ini tak ada yang bisa menemani kamu!"
Mata gadis itu semakin membulat mendengar jawaban si Ibu. Ia tak habis pikir. akhirnya Mawar memutuskan pergi. Tak ada gunanya menjelaskan. Mawar langsung mengambil tasnya dan keluar dari rumah itu.
"Hu! Dasar tak tau berterima kasih!!" Teriak pria tua itu mengiringi langkah kaki Mawar.
***
sayup-sayup terdengar suara kendaraan dari kejauhan. Mawar berdiri dan mencoba melihat siapa yang akan lewat. Ternyata sebuah sepeda motor dengan suara yang sangat keras akan melintas. Mawar melambai-lambai kan kedua tangannya sambil berteriak, berharap mendapatkan tumpangan. Sepeda motor itu berhenti, sesosok orang memakai helm berhenti tepat di pinggir jalan.
Mawar segera berlari mendekat ke sana.
"Maaf boleh saya menumpang ke desa sebelah? Mau jalan kaki, tapi jauh. Apalagi sebentar lagi waktu subuh tiba. saya takut tidak bisa shalat subuh." katanya setelah berasa di dekat orang itu.
orang itu diam sejenak, kemudian membuka helmnya. terlihatnya rambutnya yang tergerai panjang. Ternyata seorang perempuan.
"Hay, boleh kok kalau mau numpang. Kenalkan saya Vivi." Gadis itu mengulurkan tangan.
Mawar ragu, mungkinkah ada gadis seberani ini, berkeliaran di tengah hutan di jam seperti ini. Mawar memperhatikan wanita itu dari ujung rambut sampai ujung kaki..
__ADS_1
'Apakah kakinya menginjak tanah? Apakah dia bukan kuntilanak?' tanyanya sendiri dalam hati.
"Kok malah bengong? Nama kamu siapa?" tanya gadis itu sekali lagi.
"Saya, Mawar!" akhirnya Mawar mengangsurkan tangan. Mawar heran, tangan wanita itu terasa sangat dingin. Melihat Mawar terus memperhatikan Vivi berdehem beberapa kali.
"Hem Hem! Bisa naik sekarang? Aku juga ngejer shalat subuh di desa sebelah."
"Oh iya, Maaf!" Mawar nyengir kuda, ia merasa tak enak dan segera naik di belakang tubuh wanita itu.
Diperjalanan Vivi bercerita banyak. Ia juga menceritakan kalau ia juga baru pulang dari kota beberapa bulan yang lalu karena ayahnya sakit. kemudian jadi menetap lebih lama karena sang ayah meninggal. Sementara Mawar menceritakan sedang mencari dua kerabatnya yang hilang karena kecelakaan.
Mereka langsung akrab karena sama-sama berasal dari kota. Akhirnya mereka sampai di sebuah mushola kecil, setelah melewati hutan yang panjang. Mereka turun dan masuk ke mushola itu beriringan. Mawar lega melihat Vivi shalat, karena awalnya ia mengira Vivi itu mahluk astral yang sedang kelayapan tengah malam. Ternyata ia salah, buktinya mereka shalat bersebelahan di mushola ini.
"Setelah ini ikut aku ke rumah aja, ya!" ajak Vivi.
"Di mana?"
"Tidak jauh dari sini. Nanti kita cari saudara kamu barengan. Di sini jangan percaya sama orang sembarangan. Bunyinya aja di desa, tapi bahaya lebih mengintai bagi kita para perempuan. Banyak pria lebih buas dari di kota di sini." bisik Vivi di telinga Mawar yang membuat gadis itu tercengang tak percaya, tapi setelah melewati peristiwa semalam ia percaya.
***
Di kota Juna marasa hidupnya semakin sengsara. Sementara si Juwita terus saja mencari kesempatan. Di satu kesempatan ia pura-pura sakit supaya tidak di minta pergi dari rumah besar itu. Juwita juga masih rutin mengunjungi Ibu nya Arjuna. berbagai macam alasan yang ia berikan agar bisa dekat dengan Bu Hertini.
Diam-diam ia dan Bunga sedang mempersiapkan rencana besar. rencana yang bakal membuat Arjuna membenci Melati selama-lamanya. Berulang kali Bunga menolak, tapi dengan lihai ia bisa meracuni pikiran wanita itu.
"Bunga, kalau mereka kembali. kita akan keluarkan foto-foto ini. Tugas bibi hanya memberikan bumbu supaya masakanku lebih terasa dan Juna mau tidak mau akan memakannya," ucapnya sinis sambil menatap foto di tangannya satu persatu.
__ADS_1