Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek

Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek
Penyesalan Pak Fikri


__ADS_3

"Nak, coba liat deh. Baju Mama baru datang. Menurut kamu bagus nggak?" Bu Hertini mendekati Rega bersama Mbok, anaknya itu sedang asik dengan laptopnya.


Melihat mamanya datang, Rega menghentikan pekerjaannya. Ia melepas kacamata dan mengamati pakaian yang di angsurkan oleh anak bungsunya.


"Bagus kok, Ma," sahut Rega tersenyum tipis.


"Bu kalau begitu saya ke dapur dulu," pamit Mbok.


"Oh, Iya Mbok. Makasih, ya!" Mbok menunduk sambil mundur ke belakang kemudian berbalik dan berlalu.


"Mama itu pake baju apa aja bagus, asal jangan baju ABG aja," Rega tersenyum.


"Ih, kamu! Masak iya Mama pake baju ABG." Rega tertawa melihat mamanya kesal.


"Dua hari lagi pertemuannya, Mama deg-degan, Nak. Mana Melati nggak main-main ke sini. Mama kan kangen. Besok kamu ajak ke sini ya, Melati. Kayak dulu, kalau nunggu Arjuna yang ngajaknya ke sini kapan sempatnya?"


Rega diam saja, ia ragu jika harus menjemput Melati, takut perasaanya semakin menjadi. Rega sengaja menjaga jarak baru-baru ini.


"Sayang, kamu denger Mama ngomong, kan?"


"Ehhh, Rega nggak enak sama Kak Arjuna."


"Nggak enak kenapa? Dulu kamu biasa aja kok anter jemput Melati ke sini. Dia kakak iparmu loh. wajar saja kalau kamu menjemputnya." Rega semakin bimbang.


"Bukan gitu juga, Ma."


"Terus kenapa?"


Karena takut mamanya curiga dengan sikapnya, dan bisa menebak perasaanya, akhirnya pria berkulit putih itu mengalah.


"Oke, akan Rega coba besok."


"Nah gitu dong, sayang Mama. Sini cium!" kata Mamanya bahagia sambil meraih wajah Rega dan mendaratkan satu kecupan di pipinya. Pria itu hanya tersenyum dan menggelengkan kepala melihat tingkah laku sang Mama.


***


"Beb, kamu kok diem aja sih dari tadi?" tanya Regi pada Gilsa saat mereka makan siang di sebuah restoran.


"Aku khawatir sama Tuan Arjuna. Sebentar lagi pertemuannya, kalau sampai ketahuan gimana ya, Gi?"


Regi memasukkan sesendok nasi ke mulutnya, kemudian berkata dengan mulut penuh sampai beberapa nasi tersembur keluar.


"Kamu ancem aja itu ibu sama saudara palsunya Nyonya. Bilang nanti nggak di belanjain lagi kalau mereka melanggar."


Gilsa melihat Regi dengan wajah kesal.


"Gi, kamu makan yang bener dong. Pake aturan! kalau mau ngomong ya jangan makan dulu!" katanya melotot ke arah Regi.


"Bebs, kamu galak banget sih," sungut nya sambil menyeruput air minum di hadapannya.

__ADS_1


"Abisnya kamu jorok banget!" Sahut Gilsa geram.


"Iya, Maaf-maaf. Nanti aku bantuan mikir deh gimana caranya supaya rencana kalian berhasil."


"Alah!!" Gilsa mengibaskan tangan di depan mukanya, kesal.


Ya ampun gini banget sih punya pacar, galaknya nggak ketulungan.


Batin Regi menjerit menangis, sementara Gilsa menoleh pun enggan ke arahnya.


***


Di Rumah Arjuna, Bapak Fikri sedang duduk di ujung ranjang kamarnya. Pikirannya melayang jauh memikirkan Ibunya Melati, Riyanti.


^^^


"Mas, Baru-baru ini kok Mas jarang pulang?" tanya Bu Rianti saat itu.


Pak Fikri baru saja pulang dari bekerja, sebagai buruh bangunan.


"Maaf, ya Dek. Mas jadi jarang ke sini, lagi banyak kerjaan soalnya jadi Bos terpaksa meminta Mas menginap." Pak Fikri berbohong, padahal ia sering pulang ke rumah istri pertama.


"Iya, Mas. Nggak apa-apa. Kamu mau aku buatin kopi apa teh, Mas?" tanya Bu Rianti sembari membantu Pak Fikri melepas bajunya.


"Apa saja, Dek."


Bu Rianti berlalu ke dapur membuatkan kopi suaminya. Di rumah, istri pertamanya tidak pernah selembut istri keduanya. setiap kali Pak Fikri pulang, langsung menanyakan pengahasilan, jika Pak Fikri membawa uang sedikit, istrinya akan marah dan mengomel panjang lebar, setelahnya meminta Pak Fikri tidur di luar.


Di rumah istri keduanya lah Pak Fikri menemukan kenyamanan, meski pun ia sadar, ia telah berdosa membohongi kedua wanita itu.


"Mas, ini diminum dulu kopinya." sapaa istrinya membuyarkan lamunan.


"Oh Iya, Dek."


"Aku shalat dulu ya, Mas. Belum sempet shalat Ashar tadi."


"Iya, Dek. Jangan lupa do'akan Mas supaya murah rejeki, baru-baru ini rejeki Mas seret, Dek."


Mendengar suaminya mengeluh Bu Rianti kembali mendekati Pak Fikri.


"Mas, jangan seperti itu. Berapa pun rejeki yang di kasih Allah buat kita harus kita syukuri, Mas." katanya menyentuh bahu Pak Fikri.


"Tapi Mas jadi jarang nafkahin kamu, Dek."


"Aku masih punya penghasilan dari menjahit Mas, nggak apa-apa. Jangan di paksakan, nanti Mas sakit." Pak Fikri tersenyum. "Ya sudah, aku shalat dulu ya Mas." Kemudian wanita itu berlalu.


^^^


Pak Fikri duduk menunduk dengan tubuh sedikit membungkuk, matanya menatap kedua telapak kakinya yang berpijak pada lantai. Ia rindu kelembutan istrinya. Kalau bisa ia ingin bersujud di kaki istrinya itu untuk memohon maaf, karena sampai ia meninggal Pak Fikri belum sempat mengatakan kebenaran itu.

__ADS_1


Tanpa terasa air matanya menetes mengenai kakinya. Pak Fikri larut dalam kesedihan dan penyesalan. Bahunya sampai berguncang karena tangisan.


"Maafkan Mas, Dek. Maafkan. Andai kamu lihat Melati, anak kita sekarang. Ia sangat mirip denganmu, lembut dan sangat patuh. Maafkan Mas, Dek. hiks hiks hiks." Pak Fikri menutup wajahnya dengan telapak tangan, sedangkan ujung sikut kedua tangannya bertumpu pada kedua lutut.


***


"Mas, pergi kerja sana!" perintah Melati karena suaminya sejak tadi hanya duduk di meja makan memperhatikan ia masak.


"Kamu suka banget usir-usir aku. Kenapa sih?" tanya Arjuna sewot.


"Aku risih aja, ngapa-ngapain di lihatin sama kamu." Arjuna berdiri, ia mulai jahil dengan istrinya. Arjuna berjalan mendekati set kitchen lalu mengambil tepung, ia melumuri telapak tangannya dengan itu.


Kemudian pria itu berjalan perlahan mendekati wanitanya. setelah tepat berada di belakang tubuhnya Arjuna mengangkat tangan tepat di belakang wajah istrinya.


"Sayang."


"Emm."


"Sombong banget, liat aku dulu!"


"Apa?" Melati menoleh kebelakang dan saat itu juga tangan Arjuna pas menapak di wajahnya, semua tepung yang ada di tangan Arjuna menempel ke semua bagian wajah Melati.


Arjuna tertawa terbahak-bahak. Ia berlari menjauh dari Melati.


"Ih, Mas apaan sih!" sungut istrinya sebal.


"Kamu cantik kayak begitu! Hahahaha." Tawa Arjun pecah yang membuat Melati kesal.


Melati mematikan kompor dan berjalan untuk mengambil segenggam gandum di tangan, kemudian mendekati Arjuna yang masih tertawa terbahak-bahak. Seketika ia melumurkan gandum dalam genggaman ke wajah suaminya.


Arjuna diam seketika, gantian Melati yang tertawa.


"Kamu cakep juga seperti itu Mas! hahahaha."


Arjuna berkacak tangan di pinggang. Ia tersenyum memperhatikan Melati yang tertawa lepas. Segera ia menggendong tubuh Melati seperti sekarung beras di punggung dan membawanya berjalan ke arah kamar.


"Mas! kamu apa-apaan sih! Lepasin aku mau masak!" teriaknya memukuli punggung suaminya.


"Mau dihukum pokoknya."


"Mau jemput Revi... ih Mas!"


"Biar Pak Gus saja."


Sampai di kamar Arjuna langsung menutup pintunya.


---


Nggak boleh ngintip Mak Mak 😆

__ADS_1


__ADS_2