
Sore itu kami sedang duduk menunggu matahari terbenam di pantai kuta, Bali. Suara gemuruh ombak pantai menjadi teman di sini. Kami duduk di bibir pantai, kusandarkan kepala di bahu Tuan Arjuna.
Lama kelamaan binar mentari senja mengintip diujung pantai, bias cahaya kekuningan terlihat sangat indah menembus cakrawala. Anak-anak berlarian di sekeliling kami, ada yang berselfie dan mengabadikan moment ini.
"Mas .... " Panggilku lirih.
Ia menoleh dan mencium puncak kepala ini. Kupejamkan mata menikmati kebersamaan kami, merekatkan pelukan pada lengan kekar ini. Mungkin, sebentar lagi kami tidak akan bisa seperti ini.
"Kenapa, Sayang?" tanyanya menjawab panggilanku.
"Gimana keadaan Mama?"
"Tadi pagi Mas sempat VC, Mama sudah lebih baik. Dia sudah bisa tersenyum, alat bantu pernapasannya juga sudah dilepas."
"Alhamdulillah .... "
"Sayang." panggilnya lirih.
"Ya."
Tuan duduk bersila menghadapku, kemudian menatap ke dalam bola mata ini. Aku tersenyum.
"Kamu nggak benci sama Mama?" Aku menggeleng. "Kalau orang lain pasti sudah benci banget sama Mama, tapi kamu nggak. Bener-bener nggak salah aku kasih hati ini ke kamu."
Aku tersenyum. "Mas, aku paham posisi Mama. Lagi pula, aku nggak mau kamu kehilangan kasih sayang dari seorang ibu, sepertiku." Mataku mulai memanas jika membahas soal ibu. "Sejak kecil, aku tidak pernah merasakannya, Mas. Berharap suatu saat bisa merasakan kehangatan itu, dan Allah memberi kesempatan padaku bertemu Mama. Saat itu aku baru bisa merasakan hangatnya kasih sayang seorang Ibu. Mama memperlakukanku dengan sangat lembut, seperti anaknya sendiri, bukan seperti menantu. Pelukannya, cara bicaranya, perhatiannya." Aku diam, menelan saliva beberapa kali kemudian menunduk. "Semua itu membuatku merasakan, ternyata begini rasanya punya ibu yang sayang sama kita dengan tulus."
Aku mengalihkan pandangan, dan menghapus titik air yang mengintip diujung mata.
"Tapi Mama sudah tidak adil denganmu, Sayang." Tuan mengusap lembut pipiku.
"Bukankah kita akan berusaha merebut hatinya, Mas." Aku meyakinkan, kutatap mata bening Tuan dengan penuh keyakinan.
Tuan tersenyum tipis, ia membenahi hijabku yang tertiup angin.
"Ya, kita akan memenangkan hatinya," sahutnya lirih. Kembali kami menatap ke lautan, menikmati indahnya bias cahaya matahari.
"Sayang."
"Ya."
"Aku nggak akan pernah sanggup ngucap talak sama kamu."
"Tapi Mas harus, karena aku nggak mau berbohong lagi sama Mama." Hatiku teriris, perih.
"Mas harus ucapkan, talak itu, di depan, Mama." Terbata, parau suaraku berucap sambil menahan sesak. Tuan menoleh, sepertinya ia tahu kegelisahan hatiku.
"Terima kasih sudah mengerti keadaan ini Sayang," katanya dengan mata memerah, aku mengangguk dengan dagu berkerut dan alis bertaut. Berusaha sekuat tenaga supaya air mata ini tidak tumpah, padahal serpihan kaca sudah berkilauan memaksa ingin jatuh ke pipi.
__ADS_1
Tuan memeluk dan menyandarkan dagunya dikepala. Seketika aku memejam dan luruhlah semua air yang sejak tadi menggenang di mata.
***
"Halo Sayang apa kabar?" tanyaku saat VC dengan Revi.
"Bu Guru sama Om Ganteng kemana? Kok Revi nggak diajak? tanyanya dengan bibir mengerucut.
Aku yang sedang berbaring di kasur bersama Tuan, saling pandang dan mencoba tersenyum.
"Karena waktu Om sama Bu Guru pergi, Revi masih tidur. Jadi kasihan mau di bangunin, bentar lagi pulang kok Sayang," kata Tuan.
"Bener, ya!"
"Iya," kujawab singkat sambil menyunggingkan senyum. "Sayang belajar sama Ibu Bunga dulu, nggak boleh nakal, harus nurut dan belajar yang rajin, ya!" perintahku.
"Siap Mama Melati."
"Mau dibawain oleh-oleh apa?"
"Apa, ya?"
"Boneka barbie raksasa, ada?"
"Buat apa? Ini bonekanya!" Tuan menunjuk mukaku. "Cantiknya sama, kurusnya sama, rambutnya aja beda. Kalau barbie berambut panjang, kalau Mama Melati pake hijab. Ini Barbie muslimah namanya."
"Mas, apaan sih!" wajahku datar melihatnya.
"Nggak usah ketawa, nanti nggak Mama bawain oleh-oleh loh!"
"Iya Mama, maaf ya!" Aku tersenyum.
Selanjutnya aku bicara dengan Mbak Bunga, bertanya kabar Bapak dan keluarga lainnya. Alhamdulillah semua dalam keadaan sehat walafiat. Termasuk tante Dinda dan Dewi.
Cukup lama kami mengobrol, setelah mengucap salam kumatikan telepon. Tuan tidak ada lagi di kamar. Ternyata ia berdiri di depan kacakaca jendela, menatap keluar luasnya lautan. Aku tersenyum dan mendekatinya. Kemudian memeluk tubuh kekarnya dari belakang.
"Udah nelponnya?" tanyanya.
"Hu um."
"Gimana kabar Bapak dan lainnya?"
"Alhamdulillah sehat semua."
Hening.
"Mas."
__ADS_1
"Iya, Sayang."
"Nanti setelah Mas ngucap talak, aku pengen kerja. Karena sudah bukan hakku lagi pakai fasilitas dari Mas."
Ia menoleh, kemudian melepas pelukan. Tuan berbalik dan menatap.
"Kok gitu? Kamu tetap tinggal di apartemen itu bersama Bapak dan lainnya. Mas akan balik ke rumah lama. Aku nggak mau kamu jauh dari aku."
"Tapi, Mas!"
"Stts!! Nggak boleh ada penolakan. Mas akan kasih apartemen itu ke kamu. Mas akan buatkan usaha rumah makan buat kamu."
"Mas, tapi nanti Mama ...."
"Itu hak kamu, Mas akan meminta Gilsa mengurus semua itu sebelum menalak kamu."
Aku diam saja. Tidak berani membantah.
"Aku nggak mau lihat kamu susah," ucapnya kembali membenamkanku di pelukan.
***
Paginya, suara alarm membangunkanku. Tuan masih terlelap, kusibakkan selimut lalu menuju ke kamar mandi. Setelah mandi aku membangunkan Tuan untuk shalat subuh berjamaah. Bukannya bangun ia malah menarik tubuhku kembali masuk ke dalam selimut dan memeluk.
"Mas shalat dulu," bisikku. "Nanti keburu abis waktunya. Udah jam lima, Mas." Posisiku setengah berbaring miring menghadap ke arahnya, aku masih menahan kepala supaya tidak tergeletak di bantal.
Tuan diam saja.
"Mas!"
"Cara banguninnya yang bener dong," sahutnya.
"Gimana yang bener?" tanyaku.
"Pake cinta. Karena bentar lagi aku nggak lagi liat kamu di pagi hari seperti ini."
Tuan membuka matanya, aku tersenyum getir. Sedih kalau ingat perpisahan, kudekatkan wajah dan mencium hangat keningnya. Kutatap dia lama lalu mencium kedua pipinya.
"Shalat subuh dulu, Mas. Kita do'a sama-sama, semoga Mama cepat membuka hatinya," bisikku di telinganya.
Tuan tersenyum, lalu beringsut duduk. Ia langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudhu. Sementara menunggu aku membentang dua sajadah dan memakai mukena.
Aku menunggu imamku datang. Tidak berapa lama Tuan sudah siap dengan baju kokonya dan peci cupluknya. Langsung saja ia menempatkan diri berdiri di depanku.
"Allahuakbar ... "
Kami shalat berjamaah. Aku tahu, aku pasti akan merindukan saat-saat seperti ini. Di mana ia berdiri di depanku, mengimami ku, mengajari tajwid untukku.
__ADS_1
'Raga kita mungkin terpisah, Mas. Tapi yakinlah jiwa dan hati ini selalu tertuju padamu. Mungkin Allah memberi kesempatan pada kita untuk saling merindu, untuk saling berbenah diri terlebih dahulu. Aku, Melati Kusuma, akan selalu menyebut namamu disetiap do'aku, ini janjiku.'
Setelah shalat aku mengaji. Tuan duduk di depanku, menyimak bacaanku, sesekali ia mencium pucuk kepalaku yang tertutup mukena sambil tersenyum hangat.