
"Mama .... " ucap Melati lirih.
Ia berusaha berjalan mendekat, tapi Bu Hertini memberi isyarat dengan tangan supaya ia tetap di tempat.
"Kalian semua, tega membohongiku. Jadi kau keturunan dari perempuan yang menikahi suami orang."
"Ma, Melati bisa jelasin." Mata gadis itu kembali berkaca-kaca.
"Saya, saya kecewa sama kamu. Ahh!!" Bu Hertini memegang dadanya dengan mata terpejam seperti menahan sakit.
"Ma! Mama tidak apa-apa?" Melati berlari mendekat, ia khawatir melihat keadaan mertuanya.
"Jangan sentuh saya! Ahh!" Bu Hertini semakin meringis menahan sakit.
Mendengar keributan di luar Bu Jamila dan Pak Fikri keluar kamar. Mereka langsung mendekati Bu Hertini yang duduk di kursi roda.
"Jeng, kapan datang ke sini? ya ampun yang mana yang sakit?" kata Bu Jamila juga panik.
"Ibu, berbaring di kamar ini saja dulu kalau sakit!" sambung Pak Fikri dengan muka cemas.
"Kalian semua, jangan mendekat!! Achh!!" Bu Hertini tertunduk memegang dadanya semakin erat.
"Tante Dinda!! Mbok!! Dewi!!" teriak Melati dengan raut wajah yang khawatir. Ia berusaha memegang tubuh dan tangan Mama mertuanya, tapi selalu di tepis.
Setelah berteriak berulang kali, barulah semua orang berdatangan. Tante Dinda mencoba menenangkan Bu Hertini, bersama Mbok mereka berdua segera membawa wanita paruh baya itu ke kamar.
"Achh!!" Teriak Bu Hertini menekan-nekan dadanya.
"Tante, Mama kenapa?" tanya Melati khawatir, semua orang kebingungan. gadis berhijab itu segera berlari keluar mencari Pak Gus di dapur, setelah bertemu ia segera mengajak Pak Gus ke rumah sakit.
"Pak Gus!! Kita ke rumah sakit, Pak!!" teriak Melati dari kejauhan, kemudian kembali berlari ke kamar.
"Mbak!! Mbak Hertini?!!" teriak Tante Dinda dari dalam kamar tiba-tiba yang didengar oleh Melati.
Ia mempercepat langkah dan melihat Mama mertuanya sudah lemas dengan mata terpejam.
"Mama!! Ma! Bangun, Ma!!" teriak Melati menepuk pipi Bu Hertini, panik. "Tante kita bawa ke rumah sakit sekarang!!" ajak Melati.
__ADS_1
"Iya, takutnya kenapa-kenapa!" semua orang sibuk mempersiapkan segalanya, sementara Melati dan Tante Dinda ikut ke rumah sakit bersama Pak Gus.
Di perjalanan ia menelepon Arjuna dan Rega untuk memberi kabar. Mereka langsung menuju ke rumah sakit yang wanita itu katakan.
***
"Ma bertahan, Ma!" kata Melati terus menggenggam tangan Mama mertuanya sambil berlari saat Bu Hertini di bawa ke ruang UGD dengan brankar dorong.
Sampai di UGD mereka diminta menunggu di luar. Tante Dinda terus menenangkan Melati, ia bertanya bagaimana ini bisa terjadi. Sambil menangis terisak-isak Melati menceritakan kejadiannya, kemudian menangis sejadi-jadinya.
Tante Dinda ikut menangis, ia memeluk tubuh Melati sambil mencoba menenangkan. Tidak berapa lama datang Rega berlarian menemui mereka. Melati tak sanggup berkata apa-apa lagi. Sehingga tante Dinda yang menjelaskan semuanya. Setelah itu Arjuna juga datang, ia juga menanyakan bagaimana kejadiannya.
Lagi-lagi tante Dinda yang menjelaskan semua. Melati duduk membelakangi semua orang dengan bersandar pada dinding rumah sakit. Ia terus saja menangis. Arjuna menatap istrinya dengan perasan tak menentu, perlahan ia berjalan mendekat kemudian memegang pundak istrinya dengan kedua tangan. Dibalikkannya tubuh kurus itu kemudian membenamkan dalam pelukan.
"Semua akan baik-baik saja. InshaAllah ... " lirih Arjuna berucap dengan pandangan nanar.
***
"Ternyata Mama memiliki penyakit jantung, Kak!" kata Rega memberi kabar setelah sang Mama di pindahkan ke ruang rawat inap.
Arjuna, Melati dan juga tante Dinda tak kalah terkejut mendengar kabar ini.
"Karena aku juga baru tahu!" sahut Rega spontan.
"Baru tahu!! Selama ini apa kerjamu bersama Mama? Kau bahkan tidak tau Mama memiliki penyakit mematikan!!" bentak Arjuna sambil menatap adiknya penuh amarah.
"Apa hanya aku yang salah? Lalu bagaimana denganmu? Sepuluh tahun lebih kau memusuhi Mama, membiarkan ia tersiksa dengan rasa bersalahnya karena kau selalu melimpahkan kesalahan itu padanya?! Bagaimana dengan semua itu?" Rega membalas bentakan Arjuna. "Bahkan ini terjadi juga gara-gara kau yang membohongi Mama!" tambahnya yang membuat Arjuna semakin murka.
Bugh!!
Ia meninju wajah adiknya di barengi teriakan Melati yang ketakutan.
"Mas, sudah Mas bukan saatnya bertengkar!" Melati mencoba menahan tubuh suaminya.
"Istighfar, Ga. Istighfar... " Tante Dewi menahan tubuh Rega yang berusha maju untuk membalas kakaknya dengan muka penuh amarah.
"Berpikir pake otak sebelum bicara! Selama ini siapa yang mengurus Mama kalau bukan aku!" ucap Rega menunjuk otaknya dengan muka kesal, kemudian berjalan pergi meninggalkan mereka.
__ADS_1
Setelah Rega berlalu Arjuna melepas pelukan istrinya, ia juga memilih pergi dari sana untuk menenangkan pikiran. Membiarkan Melati dan tante Dinda di ruang tunggu berdua. Melati kembali duduk dan menutup wajah dengan kedua tangan, menangis. Ia bingung harus berbuat apa. Hatinya diliputi rasa bersalah yang besar, Tante Dinda terus berusaha menenangkan, meyakinkan kalau semua yang terjadi bukan kesalahannya.
***
"Ya ampun jadi gimana, Bu nasib kuliahku? Baru juga masuk dan jadi siswi populer!" rengek Mawar pada Ibunya setelah mendengar kabar.
"Ibu nggak tau kalau ada anak itu di luar sama mamanya Arjuna. Kalau tau nggak mungkin lah ibu ribut-ribut sama Bapak seperti itu."
"Bapak sudah mengingatkan, kita di rumah orang harus jaga sikap, kenapa ibu masih saja marah-marah!!"
"Kalau Bapak nggak mancing-mancing aku tidak akan keceplosan, Pak!" sanggah Bu Jamila.
"Katakan saja ini rencana kalian kan!" kata Dewi masuk ke kamar tiba-tiba.
Mereka semua terdiam.
"Kalau Mama Hertini kenapa-kenapa, kalian yang harus bertanggung jawab!" ancam Dewi sembari meninggalkan kamar.
***
Arjuna bingung harus berbuat apa, ia menghabiskan waktunya di Mushola. Memohon petunjuk dan mendoakan sang Mama. setelah agak tenang, ia memutuskan melihat mamanya. Gontai kakinya melangkah ke arah kamar di mana sang Mama di rawat. Sudah puas ia mengadukan kesedihan dan kegelisahan hatinya pada Sang Pemilik Semesta.
Sampailah dia dimana mamanya di rawat, tak ada Melati, hanya ada Rega dan Tante Dinda. Arjuna membuka pintu dan Rega mengalihkan pandangan. Tampak wajah mamanya dipasangi selang di bagian hidung sebagai alat bantu pernapasan. Tubuh wanita paruh baya itu terlihat lemas. matanya sayu menatapnya dari kejauhan.
Arjuna mendekat, duduk di samping tubuh mamanya. Ia menggenggam erat jemari itu lalu mengecupnya.
"Junaaa." lirih sekali bibir penuh keriput itu berucap, bahkan nyaris tak terdengar.
Arjuna mendekatkan telinga ke arah mulut sang Mama supaya bisa mendengar kata-katanya.
"Kenapa, Ma?" tanya Arjuna sambil menatap wajah mamanya yang pucat dari dekat.
"Kamu sayang sama Mama?" kembali mamanya bertanya dengan suara yang nyaris tak terdengar.
"Sangat, Arjuna sangat menyayangi Mama ... "
"Mau melakukan satu hal untuk Mama?"
__ADS_1
Arjuna mengangguk, masih memegang erat kedua tangan itu.
"Ceraikan, ME LA TI, Nak ... "