
Dari pagi kami sudah mengunjungi beberapa tempat seperti Pura dan Candi Lempuyang. Setelah itu kami kembali ke hotel.
Jika kemarin, aku mengajak Melati melihat matahari terbenam di pantai Kuta, sore ini kami cukup berjalan ke depan hotel. Dari sini juga kami bisa duduk menikmati indahnya matahari terbenam. Kami berdua sedang duduk di kursi ayunan gantung rotan sintesis yang berjajar rapi, yang letaknya tidak jauh dari bibir pantai.
Kami hanya diam, memandang luasnya lautan di depan sana. Saat hari sudah mulai gelap, aku mengajaknya kembali ke kamar. Kami berjalan bergandengan tangan, tapi di tengah perjalanan bertemu dengan Mariska dan Dino.
"Junaaa!!!!" teriak Mariska yang langsung menghambur memeluk.
Melihat ini Melati mengerutkan kening dan melepas genggaman tangannya. Dia mungkin tidak terbiasa.
"Hey, ada istri gue!" bisikku penuh penekanan pada Mariska. Langsung saja Mariska melepas pelukannya, kemudian menegur wanitaku.
"Melati, ya? Ehh maaf ya, abisnya kami lama tidak bertemu karena acara di TV sudah selesai." katanya menatap Melati.
"Ehh nggak apa-apa, Mbak," sahut wanitaku sedikit menunduk sambil tersenyum.
"Hemm hemm hemm! Gimana kalau kita duduk dulu di sana!" ajak Dino menunjuk kursi longer yang berada tak jauh dari kami.
Aku menurut, mangamit tangan Melati dan kami berjalanan beriringan, kemudian duduk dan mengobrol di sana. Dino dan Mariska duduk bersebelahan di hadapan kami, sedangkan aku duduk bersisian dengan Melati.
"Kebetulan banget bisa ketemu di sini." Aku memulai obrolan.
Mariskan hanya tersenyum, mengalihkan pandangan ke pantai, tidak biasanya.
"Kalian cuma berdua?" tanyaku dan Dino mengangguk.
"Tinggal di hotel yang sama?" lagi aku bertanya, Dino kembali mengangguk. "Jangan bilang kalian ... satu kamar?" tanyaku ragu.
Melati hanya menyimak.
"Jun, kami sudah menikah tau!" kata Mariska tiba-tiba.
"Serius??" Aku tak percaya.
"Biasa aja mukanya!" Mariska mengusap mukaku dengan telapak tangan, dan Doni mendengkus, tertawa.
"Tega banget nggak ngundang!" Aku melotot ke arah mereka.
"Wahh, pengantin baru, selamat ya Mbak!" ucap Melati tiba-tiba sambil mengulurkan tangan.
"Makasih," sahut Mariska sembari bergelayut manja di bahu Dino dan membalas uluran tangan istriku.
"Kami nikah diam-diam, nggak mau heboh aja. tapi nanti pasti konferensi pers kok."
"Mending cepat di umumkan, biar nggak nimbulin fitnah. Takutnya nanti ada yang buat berita kalian kumpul kebo," saranku.
"Tinggal tunjukin aja surat nikah! Selesai, lagian wartawan pencari berita itu kadang suka berlebihan beritain kita, ya nggak sih?"
__ADS_1
"Resiko pekerjaan itu mah!" sambung Dino.
"Eh nanti kapan-kapan kami main ke kamar kalian, ya! Kita minum teh sama coklat panas bareng. itung-itung reuni gitu."
"Kalian nginep di sini juga?" Mariska menggeleng.
"Kami menginap di The Chedi Club," sambung Dino.
"Wahh, yang ada sensasi naik balon udara sekalian makan malam sama pasangan itu, ya?" tanyaku antusias.
"Bener banget! Kebetulan besok malam kami mau naik itu," jawab Mariska.
"Sayang, kamu mau naik balon udara itu?" tanyaku sambil menoleh ke arahnya dan memegang jemarinya.
"Mas, aku takut ketinggian." Melati menolak.
"Nggak terlalu tinggi kok, Mel. Cuma 50 meter di atas permukaan tanah. Mumpung ke sini, pasti seru." sambung Mariska.
"Mas, pengen naik itu?" tanyanya dan aku tersenyum.
"Kalau kamu nggak pengen, Mas juga nggak pengen." Aku mengusap lembut pipinya.
"Aku mau!" katanya tiba-tiba. Kami bertiga saling pandang lalu tertawa.
Samar-samar beduk Magrib berkumandang.
"Oke, di tunggu pokoknya!" balas mereka dan kami berlalu.
***
Sampai di lobi, terlihatlah patung berukuran sedang, patung perempuan sedang menari memakai pakaian bali lengkap berwarna hitam, dan hiasan mahkota berwarna emas di bagian kepalanya, patung itu berdiri tepat di depan tempat resepsionis ini.
Saat melewati lorong ke kamar, ada berbagai jenis lukisan yang tergantung, berjajar rapi di dindingnya. Semua lampu pun di nyalakan, sehingga terlihat lebih mewah lah hotel ini.
Sampai di kamar, wajah Melati terlihat murung.
Kami langsung membersihkan diri dan bersiap untuk shalat, setelah shalat usai, Magrib dan Isya aku mencoba bertanya. Ia sedang berbaring di kasur, menyalakan TV dan menontonnya. Di sini terdapat dua TV, di depan sofa ruang tengah dan di depan kasur.
"Sayang, kita keluar yuk!"
"Capek, Mas!" sahutnya dengan muka datar. "Kapan kita pulang?" tanyanya tanpa senyuman.
Aku terdiam, aku hanya ingin menghabiskan banyak waktu dengannya di sini sebelum menghadapi Mama dan berpisah dengan wanita yang sangat aku cintai. Rasanya aku tidak ingin pulang, ingin selalu berada di sini, bersamanya.
"Pengennya nggak pulang-pulang, pengen sama kamu terus," sahutku mengalihkan pandangan.
"Mas aku serius!" katanya meraih jemariku.
__ADS_1
"Lusa InshaAllah kita pulang." Hening." Sayang, kamu tadi marah?" tanyaku mengingat dia banyak diam sepulang dari pantai.
"Nggak," sahutnya singkat.
Wanita kadang suka seperti itu, mulutnya bilang tidak tapi hatinya bilang ya. Kalau di tawarin sesuatu bilangnya nggak mau, tapi aslinya mau.
"Jangan ngomong dalem hati. Katakan sama Mas kamu kenapa?" tanyaku sambil mencium tangannya, istriku menoleh.
"Mas." Ia beringsut duduk. "Kamu udah terbiasa ya di peluk-peluk wanita yang bukan muhrimnya?"
Mendengar pertanyaannya membuatku mengulum senyum, mungkin wanitaku cemburu. Pergaulan di duniaku memang sangat bebas, jangankan peluk, bahkan ada yang sampai tidur bersama tanpa ikatan apa-apa. Fenomena ini sudah biasa, jika tidak bisa menjaga diri, sudah lama aku tersesat.
"Kenapa emang?" tanyaku sembari naik ke ranjang dan duduk tepat di belakangnya.
Melati diam saja, aku menyibakkan rambutnya yang tergerai panjang ke arah depan, dan mencium lembut tengkuknya.
"Kok diem?"
"Mas, harusnya kalau udah punya pasangan itu harus jaga perasaanya. Siapa tau suaminya tadi cemburu lihat kalian peluk-pelukan gitu."
"Suaminya atau istri aku yang cemburu, ya?" Aku menarik napas panjang sembari memeluknya.
"Mas, aku serius!" katanya dengan bibir mengerucut, sebal.
"Maaf, ya! Mungkin karena kami sudah lama kerja bareng-bareng. Jadi sudah seperti saudara. Mas minta maaf buat yang tadi." Melati masih diam. "Di maafin nggak?" Tampak ia berpikir.
"Ya." sahutnya singkat sambil tersenyum dan jemarinya mengusap wajahku. Aku menyandarkan kepala sembari mencium hangat bahunya.
***
Pagi-pagi sekali suara ponsel berdering. Aku mengucek mata dan mengulurkan tangan untuk meraih ponsel yang tergeletak di nakas. Kuamati nomor siapa yang tertera di sana.
Ternyata nomor Rega. Kulihat jam masih menunjukkan pukul 04.30 pagi. Aku mengangkatnya.
"Assalamu'alaikum, iya Ga. Kenapa?"
"Waalaikumsalam, ini Mama, Nak. Maaf ya Mama ganggu kamu pagi-pagi seperti ini. Mama ganggu kamu nggak sayang?"
Ternyata Mama, aku beringsut duduk bersandar di kepala ranjang.
"Oh, Mama. Alhamdulillah Mama udah enakan?" tanyaku bertanya bagaimana kabarnya.
"Alhamdulillah, besok sudah bisa pulang, Sayang. Kamu kapan pulang?"
"Juna bahagia dengar kabar ini. Mungkin lusa kalau tidak ada perubahan." Melati terbangun, ia menatapku, belum sempat aku memberi aba-aba supaya dia tidak bersuara, Melati sudah bertanya lebih dulu.
"Mas! Siapa yang telepon?"
__ADS_1
"Sayang? itu suara siapa?" tanya Mama di seberang sana.