Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek

Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek
Mawar Berduri


__ADS_3

Melati semakin menangis saat Arjuna menciumnya untuk yang ke 2 kalinya. Pria itu melepas ciumannya dan memeluk istrinya erat.


"Maafkan aku, Sayang. Maaf..." ucapnya.


^^^


Andai laki-laki itu tau, sungguh wanitanya ketakutan malam itu. Ia takut terjadi sesuatu pada suaminya saat mendengar keributan di kamar, terlebih ketika melihat sang suami berlumuran darah di punggung tangannya. Hatinya gelisah, takut dan semua rasa bercampur menjadi satu. Kenapa sang suami sampai senekat itu Melukai tangannya sendiri. Sampai wanita itu berpikir, Jika kehadirannya hanya membuat suaminya menderita dan menyebabkan lelakinya marah, maka lebih baik ia pergi saja dari sana.


Akhirnya malam itu ia memutuskan pergi dari rumah. Ia pergi mengajak Revi, putri dari Juwita, mantan kekasih suaminya. Mengendap-endap mereka keluar rumah. Melati berpikir mungkin suaminya butuh sendiri dan butuh ketenangan hingga Melati nekat pergi malam itu. Ternyata di malam yang dingin, hujan sedang turun dengan derasnya, langit seakan marah dengan bumi. Petir terlihat sangat menakutkan, dan kilat berkilauan menjilat tanah. Melati tak membawa apa-apa, hanya jaket kulit dan uang dua ratus ribu dalam genggaman, karena terburu-buru ponsel dan kartu kredit pun tertinggal.


^^^


"Mas berjanji tidak kan marah-marah lagi sama kamu, Maaf ya sayang. Mas mohon maaf kan Mas." Arjuna memohon.


Melati membalas pelukan Arjuna, ia mengangguk cepat, mengiyakan. Bibirnya tak dapat berkata apa-apa. Hatinya bahagia, suaminya kembali seperti semula, jiwanya tenang tidak ada lagi ke salah pahaman.


"Kamu makan, ya! Kamu belum makan, kan?" tanya Arjuna. Ia menuntun istrinya untuk duduk.


"Mas juga pasti belum makan," sahut istrinya lirih.


"Ya sudah, kita makan sama-sama, ya!" sekali lagi Melati mengangguk cepat, mengiyakan.


Arjuna segera membantu Melati melepas mukena, kemudian memakaikan hijab instan yang ada di dekatnya. Sekali lagi dipeluk istrinya, lama. Kemudian mengecup hangat keningnya. Rasa bersalah masih saja menelusup di sudut hatinya.


Mereka berjalan beriringan keluar kamar Bunga, langsung menuju meja makan. Suasana sepi, tak ada yang berani mengusik. Semua orang memberi ruang untuk mereka berdua, ya hanya berdua.


Di meja sudah tersedia makanan, Melati hendak beranjak mengambilkan Arjuna, tapi pria itu melarang. Ia bergerak sendiri mengambil semuanya. Setelah selesai diletakkannya sepiring nasi beserta lauk pauknya di hadapan.


"Makan, ya!" pinta Arjuna penuh harap, sembari menyodorkan sesendok nasi pada kekasihnya.


Melati hanya diam, ia mengambil alih sendok dari tangan suaminya, dan berbalik menyuapkan nasi itu pada Arjuna.

__ADS_1


"Imamku harus mengawali semuanya, makmum mengikuti setelahnya," sahut Melati lirih.


Arjuna tersenyum, membuka mulutnya dan terus menatap wanita di hadapannya.


"Enak, Mas?" tanya Melati.


"Enak masakan kamu." Melati tersenyum.


Arjuna meraih jemari istrinya dan menciumnya, lalu mengambil sendok di tangan itu dan bergantian menyuapkan makanan pada istrinya.


"Kamu juga harus makan." Melati mengangguk sembari menerima suapan dari tangan suaminya.


Mereka sama-sama tertawa, tapi air mata Melati tak mau berhenti mengalir.


"Jangan menangis lagi, please .... "


"Aku tidak bisa mengungkapkan kebahagiaanku selain dengan air mata ini, Mas. Aku bersyukur kita bisa kembali seperti ini. Aku takut sekali semalam, aku takut kalau ... "


"Stttt, stttt ...." Arjuna meng geleng-geleng kan kepalanya sembari menutup bibir tipis istrinya dengan jari tangan. "Mas yang salah, Mas minta maaf."


****


Di suatu tempat di kota Bandung, keluarga Melati baru saja pindah ke rumah mereka yang lama. Arjuna menghentikan uang pengobatan yang biasa di transfer untuk Bapak Melati. Menerima kenyataan itu Ibu Melati uring-uringan. Tak ada pemasukan, sedangkan Pak Fikri belum bisa kerja terlalu keras.


Dengan terpaksa istrinya menjadi tukang cuci dari rumah ke rumah untuk menyambung hidup, karena selama Arjuna mengirim uang hanya di pakai untuk berfoya-foya dan habis seketika. Pak Fikri sedang duduk di kursi kayu yang terdapat di halaman rumah lusuh itu, sedangkan Bu Fikri sedang menjemur kasurnya.


"Pak! Kita harus cari Melati ke kota. Biar bagaimana pun kita ini mertuanya Tuan Arjuna. Seharusnya dia jangan pelit lah sama kita." rutuk Ibu Fikri.


"Bu, malu Bu. Malu! Tuan Arjuna itu sudah baik mau membiayai pengobatan Bapak sampai Bapak sekarang lebih baik seperti ini. Kita tidak pernah tau keadaan Melati di sana, Bu. Apakah dia bahagia, apakah dia di perlakukan dengan baik. Kadang Bapak menyesal, sampai sekarang Bapak belum sekali pun membuat anak itu bahagia."


"Kenapa musti malu, itu keputusan dia sendiri mau menikahi Melati, bukan kita yang maksa. Jadi mau tidak mau, suka tidak suka kita ini adalah mertuanya. Dia juga harus membiayai kebutuhan sehari-hari kita juga dong, Pak. Duit dia kan banyak! Oh, jadi seperti itu? Terus saja bela anak emas itu! Coba pikirin itu si Mawar! Dia juga anak Bapak!"

__ADS_1


Pak Fikri menarik napas panjang sembari mengelus dadanya. Laki-laki itu lelah selalu berdebat dengan istrinya jika membicarakan soal Melati. Ia berjalan masuk rumah secara perlahan. Hatinya sedih memikirkan anak gadisnya yang rela tinggal di rumah orang asing demi mereka.


"Kalau Bapak nggak mau kita datang ke sana dan meminta pertanggungjawaban ya Bapak harus Kerja! Penuhi kebutuhan keluarga.Jangan bisanya cuma nyusahin istri dan anak. Setiap hari aku harus banting tulang untuk makan kita, Bapak pikir enak? Gampang?" sungut Bu Fikri sambil menepuk-nepuk Kasur yang di jemur di bawah sinar matahari.


Terus saja istrinya mengomel panjang lebar, tiada henti. Pak Fikri terus melangkah perlahan memasuki kamar. Setelah sampai di dalam ia duduk perlahan di sisi ranjang. Ia mengambil foto Melati yang di sembunyikannya di bawah bantal lalu memeluknya.


"Maafkan Bapakmu yang belum bisa membahagiakanmu, Nak. Sungguh Bapak sangat ingin menyusulmu. Tapi, ibumu selalu melarang. Kini saat uang sudah habis dan Tuan Arjuna tidak mengirimkan uang lagi. Ibumu baru mengajak ke sana hanya untuk meminta uang. Rasanya, Bapak lebih bahagia menjadi pengemis jalanan di banding mengemis di sana. Memanfaatkan anak hanya untuk mendapatkan uang. Kau seperti di jual, Nak. Sungguh Bapak merasa berdosa."


Pak Fikri bersedih, di usap-usapnya foto Melati yang masih memakai pakaian Putih Abu-Abu, anak itu memeluk buku sambil tersenyum. Kemudian Pak Fikri menciumnya. Hatinya sangat merindukan anak gadisnya. Ia sangat merasa bersalah karena sudah mengirim Melati ke sana.


"Bapak rindu, Nak. Rindu ... Bahkan Bapak tak sanggup menamatkan sekolahmu. Bapak memang tidak berguna."


Tiba-tiba Mawar datang dari dapur langsung mendekati Ibunya.


"Kenapa sih, Bu? Berisik banget?" tanya Mawar berkacak tangan di pinggang, bertanya pada Ibunya. Ia memakai celana pendek sampai pertengahan paha dan tanktop berwarna putih.


"Itu tuh, Bapakmu. Biasa, ngebelain anak emasnya."


"Ya elah. Bu, kayak nggak tau sama Bapak. Diemin aja, ntar juga diem sendiri. Melati, Melati dan Melati. Bosen gue denger namanya. Eneg!"


"Apalagi, Ibu. Setiap kali liat mukanya ibu ingat sama ibunya. Sekali anak pelac** tetap saja pelac** ."


"Hahaha, paling-paling di sana di jadiin pembantu sama Tuan Arjuna, hah! Kasian." Mawar tersenyum kecut, mengejek.


"Sudahlah, tidak usah pikirkan dia. Pusing kepala. Nanti kapan-kapan kita susul ke Jakarta. Kita peras itu si Arjuna, kalau Melati menderita Pura-pura aja bilang nanti kita sebarin ke semua orang kalau dia nyiksa saudara kamu."


"Ide bagus, Bu. Capek hidup gini-gini mulu. Eh, masih nyimpen nggak sih uang sisa dari dia?"


"Abis, Nak. Kan kamu kerjaanya jalan-jalan terus sama teman-teman kamu, pake acara teraktir segala. Kalau gini kan kita susah, baru juga dua bulan tidak di kirim uang, kita sudah sengsara."


"Ah, Ibu. Eh, nanti kalau kita ke Jakarta, kita tinggal di rumahnya, ya! Aku sekalian mau minta di terusin sekolah. Kuliah gitu, Bu. Pasti asik, jadi adik iparnya artis, chef ternama." Mawar senyum-senyum sendiri.

__ADS_1


"Mawar, Kamu tau kan Melati itu gimana. Rasanya nggak mungkin kalau Arjuna mau sama dia. Jadi nanti kalau kita tinggal di sana, kamu harus mendapatkan hatinya. Kalau dia sudah suka sama kamu, dia pasti menceraikan Melati dan menikahi kamu."


"Wahhhh, ide bagus, Bu! hahaha." Mawar berlari mendekati ibunya dan melompat kegirangan.


__ADS_2