Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek

Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek
Kembali ke Rumah Lama


__ADS_3

Arjuna, Melati dan Rega pergi ke klinik bersalin bersama. Rega membawa Melati ke salah satu dokter spesialis kandungan kenalannya. Dua puluh lima menit perjalanan akhirnya mereka sampai juga. Arjuna segera membantu istrinya turun dari mobil, dengan sangat hati-hati Ia membantu sang Istri berjalan.


Sementara Rega langsung mengurus semua. Mereka bertiga duduk bersisian di ruang tunggu. Melati duduk di tengah-tengah tubuh Arjuna dan adiknya. Keringat membanjiri semua dahinya, muka pucat pasi seperti orang sakit. Sesekali Melati menyandarkan kepala ke dada sang suami, kemudian dengan sabar Arjuna membelai lembut kepala yang tertutup hijab itu.


"Ga, masih lama? Aku nggak tega lihat istriku seperti ini."


"Sabar, Kak. Kita kan baru datang, jelas mendapatkan urutan yang terakhir."


Arjuna merasa tidak sabar, Ia memutuskan masuk menemui perawat meskipun sudah di larang oleh adiknya.


"Sayang, tunggu bentar, ya!" Pamit Arjuna pada istrinya. Kemudian menjauhkan kepala sang Istri perlahan dan masuk ke dalam untuk menemui perawat.


Melati begitu lemah sampai Ia hendak berbaring miring diruang tunggu kursi itu. Melihat itu Rega tak tega, Ia langsung mendekat dan meletakkan telapak tangannya untuk pengganti bantal kepala kakak iparnya. Melati tak menyadarinya, mungkin saking berat dan pusingnya rasa kepala.


Ia memejamkan mata dengan tenang. Arjuna kembali, Rega tidak mungkin begitu saja menarik tangannya dari sana. Perlahan Arjuna mendekat dan melihat itu.


"Kak jangan salah faham, Aku hanya kasihan jika kepala Mbak Melati harus tidur tanpa alas di kursi besi seperti ini, kan dingin dan keras."


"Iya, nggak apa-apa. Terima kasih, ya!" Kata Arjuna, kemudian Ia menjauhkan tangan adiknya secara perlahan dan memindahkan kepala Melati ke pangkuannya.


***


"Mawar, jadi kapan kami boleh main ke rumah kamu? Bertemu dengan chef terkenal itu?" tanya salah satu teman kampus Mawar siang itu.


Reflek Mawar terbatuk mendengar permintaan temannya. Ia jadi mendadak kepanasan dan salah tingkah. Bingung harus menjawab apa, keadaan rumah sedang genting mereka malah sibuk ingin main ke rumah.


"Nanti lah kita atur waktunya, tapi jangan sekarang." katanya sambil menyeruput es jeruk sampai habis tak bersisa di salah satu kantin di kampusnya.


Seperti biasa, banyak orang mengikutinya kemana pun Ia melangkah, karena Mawar termasuk siswi populer di universitasnya. Itu pun terjadi karena Ia menjual nama Arjuna.


"Jangan terlalu lama lah kakakku, Aku ngepens Sekali sama itu Tuan Arjuna. Muka cakep, banyak duit. Bah! Siapa pula yang tak suka sama dia!" sambung temannya dengan logat bataknya.


"Iyo, Mbak. Aku pun wes nggak sabar ketemu karo Mas Junjun!" tambah Suketi, teman karib Mawar yang sering di jadikan asisten olehnya.


"Kalian sabar lah! Kak Arjuna itu jadwalnya padet banget, Mana bisa asal aja bertemu kalian." Mawar mencari alasan. Tenang aja pasti suatu saat Aku ketemuin kalian.


Setelah itu jam Mata kuliah sudah di depan Mata. Melati segera berdiri dan membayar sekalian semua tagihan punya temannya. Selesai membayar Ia langsung melangkah ke kelas yang disusul langkah kaki semua teman di belakang tubuhnya.


***


Selesai periksa ke dokter kandungan mereka langsung menuju rumah Arjuna. Kabar bahagia ini langsung saja menyebar ke semua berita. Ber awal dari Dewi yang membuat status di Instagramnya. Ia memajang foto Arjuna dan Melati sembari mengucapkan selamat atas kehamilan istrinya.

__ADS_1


Ribuan like dan koment membanjiri kolom komentar di sana. Dewi bahkan tak sempat membalas satu persatu pertanyaan para fans Arjuna. Ada yang mendoakan kebaikan, Ada yang merasa patah hati karena Arjuna semakin jauh untuk di rain, Ada juga yang penasaran akan seperti siapa anak itu nanti.


Melati pindah ke rumah yang lama bersama Arjuna, karena pria itu ingin melati Ada yang menjaga selama 24 jam, sedangakan Ibu dan Bapak melati beserta Mawar pindah ke apartment di mana mereka tinggal sebelumnya.


Semua dilakukan karena Arjuna tak mau Melati bermasalah, sehingga Ia mengambil tindakan seperti itu. Ia mempercayakan menjaga Melati pada Bunga.


Satu minggu sudah mereka pindah ke sana. Semua keadaan baik-baik saja. Dalam satu minggu itu juga Arjuna belum sempat bicara dan menemui mamanya. Di malam hari saat Melati telah terlelap, Ia mengambil gawai dan memutuskan menelepon sang Mama.


"Masih inget sama Mama?" kata mamanya langsung saat menjawab telepon.


"Ma, jangan gitu. Juna hanya lebih fokus ke kandungan Melati saat ini."


"Sampai melupakan Mama?"


"Bukan melupakan, hanya belum sempat."


"Sudah lah, urus saja istrimu dan calon anakmu itu. Jangan lagi ingat-ingat Mama di dalam pikiranmu."


"Ma .... "


Hening.


"Ma, Juna minta maaf. Bukan bermaksud melupakan Mama, tapi keadaan Melati lemah, jadi dia butuh perhatian extra."


"Mama ngantuk, mau tidur!!"


Tut tut tut ....


Arjuna menyandarkan punggung pada kepala ranjang, lalu menoleh menatap istrinya. Dibelainya lembut kepala sang Istri sambil berkata.


"Sehat selalu Sayang ... " ucapnya lirih dengan senyuman tipis.


***


Hari itu hari minggu, Rega datang untuk mengunjungi Melati. Ia membawa beberapa vitamin Ibu hamil untuk kakak iparnya.


"Assalamualaikum!" teriaknya sambil menekan bel.


Pintu terbuka ternyata Revi dan Bunga yang membukakan pintunya.


"Wah Ada Om super ganteng!" teriak Revi antusias. Rega langsung menggendong anak kecil itu dan membawanya masuk.

__ADS_1


"Mama Melati sama Om Juna ada?" tanyanya sambil mendudukkan anak itu ke sofa.


"Ada, nanti ya Revi panggilkan!" katanya seraya berlari ke atas.


Tidak berapa lama, Arjuna turun bersama Melati. mereka tersenyum melihat siapa yang datang. Pandangan Rega tertuju pada Kakak iparnya. Ia bersyukur Melati sudah terlihat lebih baik dan tubuhnya sedikit berisi.


"Hay Dok!" sapa Melati yang di balas senyum manis oleh Rega.


"Hay Mbak Mel, Kak Arjuna. Aku ganggu nggak nih?"


"Nggak lah, masuk yuk!"


Melati mempersilakan adik iparnya masuk. Sementara Arjuna dan Rega mengobrol, Melati pergi ke dapur untuk meminta Mbak Bunga membuatkan minum dan membawa camilan ke depan.


"Ga, apa kabar Mama?" tanya Arjuna saat istrinya sudah berlalu ke belakang.


"Baik, Kak."


"Kakak jadi nggak enak ngecewain Mama."


"Nggak apa-apa, Kak. Mungkin ini saatnya Mama harus mengerti. anak-anaknya sudah dewasa mereka berhak menentukan pilihan."


"Bagaimana kalau nanti setelah Melati melahirkan Mama akan memisahkan kami kembali."


"Itu tidak akan terjadi."


"Kita tau Mama seperti apa kan, Ga?"


Rega diam, Ia mengalihkan pandangan. Andai Arjuna tau kalau Rega sudah berbicara dengan mamanya.


"Aku sudah bicara empat mata dengan Mama."


"Apakah itu berhasil?"


"InshaAllah, Kak. Aku akan membantu kalian supaya bisa terus sama-sama."


"Bagaimana kau begitu yakin? Apa yang kau sampai kan pada Mama sampai Ia menurutimu?"


"Kukatakan percuma saja jika terus berusaha memisahkan kalian, toh pada akhirnya Mbak Melati akan tetap kembali ke rumah itu. Jika bukan menjadi istrimu, maka saat Ia kembali suatu saat nanti, akan menjadi istriku."


Dahi Arjuna berkerut, "Hah? Apa?"

__ADS_1


__ADS_2