
Melati terbangun di tengah perjalanan. Revi mereka titipkan kepada Mbak Bunga karena harus bersekolah. Setelah shalat subuh mereka langsung berangkat. Meski pun terbangun wanita itu diam saja, ia menyandarkan kepala di bahu suaminya, sedangkan Arjuna sibuk dengan gawai.
Di depan, Gilsa dan Regi pun hanya diam. Mereka tak berani bersuara, mungkin segan ada bosnya.
"Sayang, tidur aja nggak apa-apa," kata Arjuna tiba-tiba. Ia menyimpan gawainya dan mengusap kepala sang istri.
"Iya, Mas."
"Nanti kamu capek, sini aja kepalanya." Arjuna menepuk pahanya, supaya Melati menjadikannya bantal.
"Nggak, Mas. Gini aja udah enak kok."
Arjuna tersenyum, ia menuntun kepala istrinya supaya mau bersandar dikedua pahanya.
"Makasih, ya!" kata Melati.
"Iya, sama-sama." Arjuna membelai kepalanya dan Melati kembali memejamkan mata.
***
"Yank, bangun. Kita udah sampe." bisik Arjuna sambil mencium kepala Melati.
Wanita itu terbangun, mengucek mata dan beringsut duduk. Tidak ada lagi Gilsa dan Regi dalam mobil, mungkin mereka sudah turun lebih dulu.
"Turun, yuk!" Ajak Arjuna. Melati mengangguk, setuju.
Mata Melati terbelalak saat tahu lokasi mereka saat ini. Jantungnya berdetak tak karuan. Sedih, senang, gugup, semua rasa bercampur menjadi satu.
"Mas, bagaimana kamu tau rumah aku? Apakah rumah ini sudah dibeli oleh orang lain? Bukankah Mas akan syuting?"
Arjuna tersenyum, memeluk wanitanya yang matanya sudah berkaca-kaca.
"Syutingnya besok, aku mau menepati janjiku dulu. Mempertemukanmu dengan keluarga."
Melati tersentak, ia menatap wajah suaminya lama.
"Mas, apa Bapak sudah pulang dari LN?" tanya Melati dengan tetesan air mata yang menghiasi pipi mulusnya.
Arjuna mengangguk, nanti malam aku ceritakan semuanya. Arjuna mencium kening istrinya dan mengamit tangan itu. Di dalam sudah menunggu Gilsa dan Regi. Terlihatlah wajah ibu dan adiknya yang tertunduk duduk di kursi rotan ruang tamu.
"Assalamu'alaikum. Ibu, Mawar!" Suara Melati sedikit terpekik saking bahagianya dan langsung memeluk mereka satu persatu.
Sedangkan Arjuna duduk di samping Gilsa. Ia melipat tangan di depan dada memperhatikan, membiarkan Melati melepaskan rasa rindunya, meski pun ibunya dan Mawar tidak merasakan hal yang sama.
Sementara ibu sambung beserta saudaranya diam saja. Menerima pelukan Melati dengan wajah datar dan terpaksa. Mereka diam saja, mereka hanya takut pada Gilsa dan Arjuna. Mungkin jika Melati sendirian, mereka sudah mendorong tubuh Melati secara spontan karena tidak rela dipeluk olehnya.
Gilsa dan Arjuna memperhatikan mereka berdua dengan seksama. Baru saja Gilsa menunjukkan bukti kecurangan mereka dan mengancam akan melaporkan ke pihak berwajib jika mereka tidak mau membantu.
Ibu Melati merasa tidak perlu membantu anak sambungnya itu. Ia malah senang kalau Melati menderita. Mereka mati kutu saat Gilsa menunjukkan semua bukti dan merasa terpojok saat ini. Dengan terpaksa ibunya Melati menandatangani surat perjanjian untuk menjadi ibu kandungnya Melati di mata mamanya Arjuna.
Jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan maka mereka harus siap dipenjara.
"Ibu, Bapak mana?" tanya Melati melepas pelukan.
__ADS_1
Mawar menatap saudaranya itu dengan pandangan luar biasa benci. Ia tidak menyangka Arjuna begitu manis memperlakukan kakak tirinya.
"Nggak tau!" sahut ibunya jutek.
"Bu, istri saya bertanya di mana Bapaknya," kata Arjuna dengan wajah agak kesal.
Muka Bu Fikri tertunduk dalam. Kemudian lirih menjawab kembali pertanyaan Melati.
"Bapak, kerja, Nak."
"Apa, kerja Bu? Apa Bapak sudah benar-benar sehat?" Melati terkejut mengetahui Bapaknya sudah kerja, padahal baru saja pulang dari LN untuk berobat.
"Terpaksa. Ya bagaimana lagi, kami mau makan apa kalau Bapakmu tidak kerja. Memangnya kamu, enak sekarang sudah bergelimang harta. Nggak kerja, duitnya aja sudah banyak."
Melati menunduk, bersedih. Sementara Arjuna dan Gilsa saling pandang, Gilsa bahkan tersenyum sinis mendengar penuturan ibu Melati.
"Assalamu'alaikum." Suara parau seseorang terdengar dari pintu. Melati langsung menoleh, terlihatlah tubuh Bapaknya yang ringkih baru pulang.
"MashaAllah, Bapak!" Melati langsung berdiri dan menghambur memeluk Bapaknya.
Bapaknya terkesima, tak menyangka anak yang sangat dirindukannya akan datang hari ini. Ia memeluk anaknya erat, mencium puncak kepala anaknya dan meng usap-usapnya bahu sang anak.
Arjuna beranjak, ia menyalami Bapak mertuanya, masih agak kikuk karena tidak terbiasa.
"Tuan. Terima kasih sudah berkunjung ke sini. Sehingga saya bisa melihat anak gadis saya."
"Iya, sama-sama, Pak," sahut Arjuna sopan.
Melati menuntun Bapaknya supaya duduk di kursi, sedangkan ia duduk di lantai, dengan lembut mamijat kaki laki-laki yang sangat dirindukannya itu.
"Badan Bapak pegel semua kalau diam saja di rumah, Nduk. Bapak harus kerja buat makan. Lagi pula Bapak sudah lumayan sehat berkat Tuan Arjuna. Terima kasih, Tuan."
"Panggil Arjuna saja, Pak. Biar lebih akrab."
"Oh iya, Nak Juna."
Bapaknya terus terbatuk hingga Melati menuntunnya masuk ke kamar untuk beristirahat.
Melihat Melati masuk kamar, ibunya memberi kode pada Mawar untuk membuatkan minum untuk mereka supaya Arjuna terkesan. Mawar tersenyum sinis, ia yakin Arjuna bakal tergoda olehnya.
"Permisi sebentar. Saya ambilkan minum, Tuan."
Arjuna diam saja.
"Boleh, saya jangan terlalu manis ya!" Pesan Regi yang di sambut senyum kecut oleh Mawar. Gadis itu kemudian berlalu ke belakang.
"Jadi peraturan pertama. Anda harus merahasiakan identitas asli Melati. Yang ke dua, bersikap baik dan penuh kasih sayang terhadap Melati selama ada di depan mamanya Tuan Arjuna. Buat seolah-olah Anda memang terlihat seperti ibu kandungnya. Ke tiga, penampilan harus sopan selama tinggal di rumah Tuan Arjuna. Jika melanggar, atau kami mencium pelanggaran, maka dengan terpaksa kami akan melaporkan Anda ke polisi." kata Gilsa dengan tegas.
"Iya," sahut Ibu Fikri lemas.
Mawar datang membawa tiga gelas teh hangat dalam nampan. Ia sengaja duduk berjongkok dengan gaya menggoda saat meletakkan gelas di depan Arjuna.
"Tuan, silakan di minum!" Mawar menawarkan. tubuhnya meliuk-liuk seperti ular.
__ADS_1
"Emm," sahut Arjuna singkat tanpa menoleh sedikitpun.
Mata Mawar terus saja menatap wajah Arjuna yang tampan.
'Wahhh, tuan Arjuna memang keren. Sudah tampan, kaya, terkenal. Mungkin Melati pake ilmu pelet hitam sampai ia bisa bersikap selembut itu.'
Mawar berjalan ke arah dapur hendak mengembalikan nampan, tapi terus saja menoleh ke belakang menatap Arjuna.
Bruk!!
"Awww!" Mawar meringis kesakitan, ia menabrak tembok saat akan melewati pintu ke dapur.
Gilsa menahan tawa, Regi tertawa lepas. Sedangkan Arjuna tidak terusik sama sekali barang sedikit saja. Ibunya melotot ke arah anaknya.
'Bodoh! Memalukan. Tuan Arjuna bisa ilfil melihatmu seperti itu.' batin ibu Fikri geram.
Mawar mengusap dahinya sambil sedikit berlari menuju dapur.
Sementara di kamar, Melati sedang bicara serius dengan Bapaknya. Ia menanyakan kebenaran soal kabar bahwa dirinya adalah anak dari istri ke dua.
"Maafkan Bapak, Nak. Maaf, Bapak kira suatu saat istri pertama Bapak bisa menerimamu sebagai anak, karena itu Bapak terus merahasiakannya. Ternyata sampai sekarng, ibumu tidak bisa, Nduk."
Melati terisak-isak.
"Di mana Makam Ibu kandung Melati, Pak?"
"Di desa sebelah, Nak."
"Huhuhuhu." Melati semakin tergugu. "Jadi benar, Melati anak dari seorang Perebut suami orang, Pak?"
"Tidak Melati. Ibumu orang yang baik. Dia tidak merebut Bapak dari istri pertama. Tapi, Bapak yang berbohong sebagai duda. Jadi ibumu juga korban. Di sini Bapak yang salah. Ibumu tidak salah, dia tidak tau apa-apa. Bahkan di akhir hayatnya dia tidak tau kalau Bapak masih memiliki istri, maafkan Bapak... Hiks hiks hiks." Pak Fikri ikut menangis.
Ia memegang erat kedua tangan Melati dan menciumnya. Memohon pengampunan.
"Penyakit ini pasti teguran dari Allah karena dosa-dosa yang pernah Bapak perbuat terhadap ibumu. Bapak ini memang jahat, Nduk. Jahat! Setiap kali melihat kamu Bapak itu teringat ibumu, penurut, lemah lembut, kalem dan tidak neko-neko. Itu yang membuat Bapak jatuh hati sama ibumu sampai rela berbohong."
"Bapak... huhu huhu huhu." Melati semakin menangis, hatinya sangat sedih.
"Maafkan, Bapak!" sekali lagi Pak Fikri menggenggam tangan anaknya. Memohon maaf.
"Sudahlah, Pak. Setiap manusia pasti berbuat salah, mereka juga berhak mendapatkan kesempatan ke dua. Bapak memang salah telah berbohong, tapi Melati tetap berterima kasih karena selama ini hanya Bapak yang tulus menyayangi Melati. Mengajari banyak kebaikan dan karena Bapak juga Melati terlahir ke dunia ini."
Mereka berpelukan. Bapak dan anak itu menangis terisak-isak.
"Pak, Bapak istirahat, ya! Melati ke depan dulu." pamitnya, bapaknya mengangguk.
"Nak!" panggil Pak Fikri saat Melati hendak membuka hordeng kamar.
"Iya, Pak."
"Apa kamu bahagia hidup bersama laki-laki itu?"
Melati tersenyum. "Alhamdulillah sangat Bahagia, Pak." Mendengar jawaban anaknya Pak Fikri tersenyum lega.
__ADS_1
"Nanti Melati buatin teh anget dulu, ya. Buat Bapak."
Bapaknya mengangguk.