
Pagi itu, aku mandi dua kali karena Melati. Wanita itu, benar-benar menjaga pandanganku. Ia bersolek secantik mungkin jika ada di dekatku, memakai baju sexy tanpa kuminta. Sehingga aku tak pernah merasa ada yang lebih baik darinya. Padahal tanpa ia melakukan hal semacam itu saja aku akan menyukainya. Dan Ia selalu siap kapanpun aku membutuhkannya.
Kini aku sedang menjalankan syuting, ia menonton bersama penonton lainnya. Sesekali ia melempar senyum saat aku melihatnya. Kuharap masakanku tidak gosong karena grogi ada dia. Ini pertama kalinya Melati menemaniku di lokasi syuting.
Acara selesai, setelah beristirahat sejenak kami berjalan mengelilingi tempat ini. Mengunjungi beberapa tempat dan yang istimewa ada berbagai macam bunga anggrek di sini. Banyak hal baru juga yang kami tahu tentang tanaman anggrek. Mulai dari cara budidayanya, berbagai jenisnya di dunia dan lain sebagainya, pemandunya menjelaskan dengan sangat lugas. Kami juga mencoba flying fox. Awalnya Melati menolak karena ia takut ketinggian, tapi aku meyakinkannya bahwa ia pasti bisa.
Malamnya, kami kembali duduk di jembatan gantung yang memancarkan cahaya. Bercerita tentang masa kecil kami masing-masing, tentang masa remaja kami dan apa saja yang kami suka. Sementara Regi dan Gilsa juga sedang asik berbincang di tempat yang tidak jauh dari kami.
"Sayang .... "
"Iya, Mas?"
"Kamu pengennya punya anak berapa sih?"
"Tiga cukup kayaknya, Mas!"
"Tujuh aja, ya!"
"Tiga aja .... "
"Tujuh!"
"Tiga!"
"Sun nih!"
"Dih, sekarang sukanya ngancem mulu!" bibirnya cemberut dan aku tertawa.
"Habisnya pengen cium kamu mulu. Kamu itu ngegemesin tau ... " Aku mencubit pipinya. Setelah itu kami tertawa bersamaan. Melati bersandar di bahuku.
"Bahu ini selalu menjadi tempat ternyaman bagiku."
"Oh ya?"
"Hu um."
"Dan akan selalu begitu." Aku mencium keningnya.
"Mas, Bapak udah sampe rumah belum, ya?"
"Udah, tadi ada chat dari Pak Gus. Katanya udah dari kemaren malam."
"Alhamdulillah ... semoga rencana kamu berjalan lancar ya, Mas. Aku nggak tau bagaimana hidup aku tanpa kamu."
Aku menatapnya, lama. Melati semakin mengeratkan pelukan di lenganku, takut.
"Hei ... " bisikku di telinganya. Ia mendongak, kulihat mata itu sudah berkaca-kaca. "Kita akan selalu sama-sama," ucapku lirih sembari menautkan hidung kami. "Kamu itu yang pertama dan yang terakhir buat aku."
Melati memeluk, erat, sangat erat. Sepertinya hatinya memang sedang gundah dengan masalah ini. Aku melepas pelukan dan membingkai wajahnya. Kutatap dengan tajam mata itu untuk meyakinkan bahwa kami bisa melewati semua ini.
"Mas tau ini tidak mudah, tapi kita harus terus bergandengan tangan untuk menghadapi semua. Kamu hanya perlu terus ada di sisi Mas, terus memegang erat jemari ini dan apa pun yang terjadi jangan pernah pergi. Hanya itu," lirih bibir ini berucap.
"Mas, bagaimana kalau Mama meminta kita berpisah."
__ADS_1
"Sttt." Aku langsung memeluknya. "Jangan katakan hal seperti itu. Harus selalu berpikir positif. Kamu tau? Apa yang kita fikirkan itulah yang akan terjadi di masa yang akan datang. Karena secara tidak langsung apa yang kita fikiran di alam bawah sadar, lambat laun akan jadi kenyataan.Itulah mengapa kita harus selalu berpikir positif dan berbaik sangka kepada Allah. Jangan pernah lagi katakan hal semacam itu." Wanitaku mengangguk.
Itulah yang terjadi pada Papa. Saat ia memutuskan pergi sendiri dengan pikiran kacau. Aku berpikir bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan Papa? Bagaimana kalau Papa mengalami kecelakaan dan tidak tertolong, di saat kegelisahanku mencapai puncaknya. Ponsel berdering dan kabar mengejutkan itu terdengar di telinga yang membuat hatiku remuk seketika. Aku memejamkan mata terbayang kejadian itu, perih ....
"Jangan katakan hal seperti itu, bahkan jangan sampai terpikir tentang perpisahan kita." Kataku mencium puncak kepala Melati berkali-kali.
"Maaf, Mas."
Aku hanya mengangguk, memeluk tubuhnya semakin erat.
***
Paginya kami berkemas siap pulang. Diperjalanan wanitaku seperti biasa, terlelap. Sementara di depan Regi dan Gilsa masih diam. Malu-malu karena ada kami mungkin.
"Tuan, kita sudah sampai," kata Gilsa membangunkanku. Ternyata aku ketiduran juga. Aku bangun dan melihat Melati masih tidur dengan nyenyaknya.
"Kamu duluan aja, ya! Nggak tega mau bangunin nya. Regi bawa mobil aku aja."
"Baik, Tuan."
Akhirnya Regi dan Gilsa pulang setelah membereskan semua barang. Sedangkan aku masih di parkiran, di dalam mobil menunggu wanitaku terbangun.
Aku memandang wajahnya dengan seksama. Mengusap halus pipinya. Dan sesekali mencium kening. Ia masih terlelap. Setelah lima belas menit, matanya terbuka, masih belum terlalu sadar.
"Mas, kita di mana?" tanyanya menatapku, aku hanya tersenyum.
"Di apartemen kita, Sayang."
"Kok nggak bangunin?"
Melati tersenyum. Ia beringsut duduk, aku duduk menghadap ke arahnya. Menyangga kepala dengan kepalan tangan dengan sikut bersandar pada jok mobil. Hanya menatap lalu tersenyum.
"Mas, liat apa sih? Ayo naik!" katanya hendak membuka pintu. Tapi aku langsung menarik tangannya, sehingga ia berbalik ke tempat semula.
"10 menit." ucapku.
"Buat apa?"
Aku diam saja, hanya menatap. Selama ini aku kehilangan banyak waktu bersamanya. Sehingga saat sedang berada di dekatnya kumanfaatkan sebaik mungkin hanya untuk melihat wajah manis itu. Lama-lama melati juga menatapku tanpa berkedip, kami saling bertatapan.
Mata indah itu, kuharap sampai kapanpun tetap tertuju padaku. Bibir tipis itu, kuharap hanya akan menyebut namaku dalam setiap doanya. Wajah manis itu, kuharap akan selalu melekat dalam ingatanku bahkan jika suatu saat aku tak bisa mengingat apa pun.
***
"Assalamu'alaikum." sapa kami pada semua orang di rumah. Kami datang pagi-pagi dari rumah ke sini.
Revi menghambur memeluk Melati. Mulut lincah nya bertanya banyak hal. Ia juga menceritakan pengalamannya membuat kue bersama Bunga. Aku langsung menuju meja makan. Di sana semua keluarga sudah berkumpul, ada Bapak dan yang lainnya. Ada juga Tante Dinda dan Dewi.
"Selamat pagi semua," sapaku.
Satu persatu mereka juga menjawab sapaanku. aku langsung duduk di kursi meja makan. Muka Dewi merah padam, menatap Mawar seperti musuh bebuyutan. Apa yang sudah kulewatkan. Aku mengambil gawai mencoba melihat apa yang terjadi selama aku tidak di rumah. Karena setelah pindah ke apartemen aku jarang sekali memeriksa CCTV di rumah ini.
Aku memutuskan melihat hari di mana rombongan Bapak datang ke rumah ini. Di sana terlihat Mawar datang membawa semua kebutuhannya. Masuk ke rumah dan berteriak. Berputar-putar menyusuri rumah ini dengan riang. Tampak orang-orang bertanya dengan Pak Gus, mungkin bertanya siapa orang-orang ini. Untung sebelumnya aku menjelaskan pada Pak Gus perihal bergabungnya mereka di rumah ini.
__ADS_1
Dewi sudah terlihat kesal sejak awal. Apalagi melihat sikap Mawar yang sok berkuasa. Tampak mereka saling tunjuk muka, entah apa yang mereka katakan. Kemudian mereka di lerai Pak Fikri. Pak Gus menunjukkan kamar tamu untuk mereka, tapi terlihat gerakan tubuh Mawar seperti menolak, ia berlari ke lantai atas dan Dewi mengejarnya. Ditangga mereka kembali bertengkar. Aku tertawa sendiri sambil menggelengkan kepala.
"Mas!" Melati menepuk pundak. Ia tau-tau sudah berdiri di sampingku.
"Hey... " Aku langsung memasukkan ponsel ke saku celana. Melati tersenyum Ia menyalami semua orang, setelah itu duduk di sampingku.
"Selamat datang semuanya. Bapak, Ibu dan siapa nama kamu?" kataku bertanya pada Mawar.
"Mawar, Mas!" katanya sambil tersenyum.
"Panggil saja Arjuna, saya tidak mau ada orang lain memanggil saya dengan panggilan itu. Karena hanya istri saya yang boleh memanggil seperti itu karena dia istimewa." Aku menoleh dan Melati tersenyum.
"Oh, baik kakak ipar."
"Nah, itu terdengar lebih baik." Aku tersenyum, sinis.
"Jadi, selama tinggal di sini saya harap mematuhi peraturan yang sudah saya buat. Di sini semua sama, semua orang yang ada di sini keluarga saya. Tidak ada ART, mereka keluarga saya, mereka yang mengurus rumah saya. Jadi saya tidak mau ada yang memerintah mereka seenaknya selain saya." kataku sambil menoleh ke arah Mawar dan menatap dengan tajam. Karena di CCTV terlihat dia berlaku seenaknya pada ART di sini.
"Kak, bukankah aku adik iparmu. Kalau begitu aku berhak dong kalau mau MEMINTA tolong pembantu di sini kalau butuh sesuatu?" tanyanya dengan penuh penekanan.
"Sok berkuasa lu!" timbal Dewi kesal.
"Kamu siapa? Dari kemaren kayak nggak suka banget sama aku?"
"Iya karena lu itu norak!"
"Sudah-sudah stop! Mawar, dia sudah seperti adik saya sendiri, dia sepupu saya dan tinggal di sini sudah cukup lama. Mohon saling menghargai."
"Ih! Males banget menghargai orang kayak dia!" Mawar memutar bola matanya, malas.
"Dek, kamu harus sopan sama mbak-mbak di sini. Dewi juga bagian dari keluarga ini, ya!" kata Melati menengahi.
"Iyeee .... " katanya masih dengan muka jutek.
"Nak, jangan bersikap seperti itu di rumah orang." Bapak ikut andil.
"Udahlah, Pak. diem aja!" sahutnya kesal.
Dewi tampak menahan amarahnya di ujung sana, sementara Tante Dinda menenangkan.
'Emmm, mungkin Dewi cocok kalau di jadiin bodyguard nya Melati, biar ada yang jagain kalau di sini.' pikirku.
aku mengeluarkan gawai mengirim chat, sementara yang lain sudah kuminta lebih dulu makan.
[Dewi, kamu mau Kakak kasih kerjaan?]
tampak Dewi memeriksa gawainya yang bergetar di atas meja. Matanya membulat melihat isi pesan dan menatap ke depan, melihat ke arahku. Aku tersenyum menaikkan alisku, isyarat. Ia mengetik balasan.
[Mau, Kak. Kerja apa?]
[Jagain Melati dari dua monsters itu (Mawar dan Ibunya)]
Dewi terbatuk beberapa kali. Cepat ia minum air putih di hadapannya. Sekali lagi ia menatap dan tersenyum, penuh siasat.
__ADS_1
[Nggak di gaji aja aku mau, apalagi dapet duit. Mau banget, Kak!]