
Siang itu Arjuna sedang istirahat syuting. Arjuna duduk di bawah pohon yang rimbun sambil meminum secangkir kopi hangat. Tiba-tiba Gilsa yang sedang duduk bersebrangan meja dengannya memberi tahu suatu hal.
"Tuan, Anda ada jadwal minggu depan. Mengisi salah satu acara di Bandung, tepatnya di tempat wisata Orchid Forest Cikole."
Arjuna diam sejenak.
"Bandung? Itu tempatnya yang banyak lampunya itu, ya? "
"Iya, Tuan."
Arjuna tersenyum, ia ingat istrinya sangat menyukai cahaya lampu seperti itu. Segera ia membuka gawai dan mencari info tentang lokasi dan tempat itu. Bibirnya menyunggingkan senyum melihat tempatnya. Sepertinya bisa membuat hati istrinya bahagia. Lalu ia ingat janjinya, suatu saat ia akan mempertemukan Melati dan Bapaknya.
"Bukankah keluarga Melati kembali tinggal di sana sekarang?"
"Iya, Tuan."
"Oke, sekalian aku mau menepati janjiku pada Melati. Akan kuajak dia liburan ke sana. Sewa tempat itu selama tiga malam. Khusus untuk kita."
"Kita?"
"Iya, kita berempat, kamu, Regi, aku dan Melati."
"Regi ikut, Tuan?"
"Iya, siapa yang bawa mobil kalau bukan dia?"
Gilsa sedikit tersenyum.
"Aku melihat senyum malu-malumu itu. Pastikan kalian berdua tidur terpisah! Awas kalau ketahuan macam-macam di sana."
"Iya, Tuan," sahutnya masih mengulum senyum. Arjuna kembali melihat-lihat tempat itu dari info di internet.
***
Dikediaman Rega, Melati sedang asik memasak di temani Bu Hertini. Banyak hal yang diceritakan Mama mertuanya itu. Arjuna sejak kecil memang suka memasak, kadang hanya berdua berada di dapur bersama papanya. Sambil memotong bumbu Melati mendengarkan, sesekali ia tersenyum sambil menoleh ke arah mamanya.
"Kalau kamu? Di mana orang tuamu, Nak? Mama ingin bertemu."
Wajah Melati yang awalnya senyum semringah berubah pucat seketika. Ia tetap memaksakan tersenyum meskipun bingung harus bicara apa.
"Ehh, orang tua saya ... "
Melati menelan salivanya beberapa kali. Ia bingung harus menjawab apa.
"Iya, orang tuamu masih ada, kan?" sahut Mama tidak sabar mendengar Melati bicara.
"Orang tua saya ...."
"Hai, Ma!" Tiba-tiba Arjuna datang. Ia menatap wajah gugup Melati sekilas, kemudian menunduk mencium puncak kepala mamanya.
"Baru pulang, Nak?" tanya mamanya, bersyukur ia melupakan pertanyaannya barusan pada menantunya.
Melati melanjutkan kegiatan masaknya yang sempat tertunda. Hatinya merasa tidak enak. Bagaimana jika suatu saat Mama mertuanya menanyakan hal yang sama?
"Masak apa, Yank?" tanya Arjuna mendekati Melati, ia mendekat dan mencium puncak kepala istrinya.
__ADS_1
"Masak semur ayam, Mas." jawabnya singkat. Wajahnya masih pucat memikirkan pertanyaan mertuanya barusan.
"Wahh, pasti enak nih masakannya." Ia mengusap bahu istrinya pelan, seolah tau apa yang sedang berkecamuk dalam hati putri malunya, kemudian kembali mendekati mamanya.
"Ma, kita jalan-jalan di luar komplek, ya!" ajaknya.
"Wah, kebetulan Mama pengen lihat-lihat halaman rumah." Arjuna tersenyum, perlahan mendorong kursi roda mamanya keluar dari rumah.
***
"Ma, menurut Mama latar belakang seseorang itu apa terlalu penting?" tanya Arjuna.
"Penting, Nak. Kita harus tau, orang itu anak siapa, bagaimana garis keturunannya dan bagaimana sikap keluarganya. Kalau orang tuanya baik, pasti anaknya baik. Kalau orang tuanya jahat, penipu misalnya pasti anaknya penipu juga."
Arjuna terdiam.
"Bagaimana kalau seseorang itu anak seorang penipu, tapi yang nipu itu bukan orang tua kandungnya?"
"Dari kecil dia di asuh oleh siapa? Kalau yang mengasuhnya penipu, sudah pasti dia penipu juga. Mama paling anti sama orang-orang seperti itu. Karena Mama punya pengalaman pahit, Nak."
Pikiran mamanya menerawang, pernah ditipu oleh suaminya sendiri. Suaminya selingkuh diam-diam dan menduakannya.
"Ma ... Tapi kita nggak bisa ngambil kesimpulan gitu aja. Bisa jadi walaupun anak itu di asuh oleh seorang penipu, tapi dia baik. Bisa aja kan?"
"Kamu kenapa sih, Nak? Kok kayak belain seorang anak penipu?"
Arjuna pura-pura tertawa.
"Nggak apa-apa, Ma. Rasanya nggak adil aja kalau kita memandang buruk seseorang hanya karena perbuatan buruk orang tuanya."
***
Malamnya di apartemen mereka sendiri, Melati tampak menatap luasnya langit di atas sana. Hatinya masih gundah memikirkan pertanyaan sang mama mertua. Dia bingung jika suatu saat mamanya bertanya, apa yang harus dikatakannya. Apakah ia akan mengatakan, ia adalah seorang anak dari istri kedua, karena dulu ayahnya memutuskan menikah lagi karena istri pertama tak kunjung memberi keturunan.
Sedangkan Melati tau alasan mama mertuanya minta pisah dari papanya Arjuna. Apa nanti mama mertuanya bisa menerima latar belakangnya?
Huhhh!
Melati mengembuskan napas kasar. Tiba-tiba Arjuna datang dan mengalungkan lengan di leher istrinya.
"Mikirin apa?" tanya Arjuna.
Melati tersenyum Samar.
"Nggak mikirin apa-apa, Mas."
"Nggak boleh mikir yang berat-berat." Kemudian Arjuna melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang istri dari belakang.
"Nggak kok, Mas."
"Emm, kamu pikir Mas nggak tau? Mas tau kalau kamu bohong." bisiknya di telinga.
Melati hanya mengembuskan napas berat, tetap saja hatinya gelisah.
"Sayang." Panggilnya lirih dan Melati menoleh kesamping, tepat di mana Arjuna menyandarkan kepalanya di bahu sang istri. Melati tersenyum.
__ADS_1
"Apa?" tanyanya pelan. Mereka saling menatap, begitu dekat.
"Cium."
"Dih nggak mau!" Melati tersenyum.
"Dikit aja!" bisiknya sekali lagi.
Wanita itu kembali tersenyum, ia tahu, mungkin dengan cara itu sang suami menghapus gundah di hatinya.
"Nggak mau, Mas." katanya kembali menoleh ke depan.
Arjuna, gemas, ia mencium leher wanitanya cukup lama sampai Melati terpekik kecil kesakitan.
"Mas sakit!" Protesnya, sambil mengelus lehernya.
"Abisnya pelit!"
"Duh nanti kalau nimbulin bekas merah gimana nih? Kan malu kalau di tanya Revi."
"Tinggal bilang aja, di hisap darahnya sama drakula. Drakula tampan."
Ish!
Melati cemberut, kesal. Sedangkan Arjuna hanya tertawa, ia kembali menyandarkan kepalanya di bahu sang istri.
"Aku tahu yang kamu pikirkan, nanti kita cari jalan keluarnya sama-sama, ya!"
Melati tersenyum, sekali lagi ia menoleh ke arah suaminya yang masih menatapnya.
"Makasih ya, Mas!" ucapnya lirih sambil tersenyum.
Arjuna membalas senyum istrinya dan memeluk tubuh itu lebih erat.
"Mas, dingin! Masuk, yuk!"
"Masih pengen peluk kamu."
"Di dalem aja."
"Kalau di dalem ceritanya lain lagi."
"Ih mulai deh, mesum!" Melati melepas pelukan suaminya dan berjalan masuk ke kamar sambil mengulum senyum.
"Biarin aja, dari pada mesum sama wanita lain."
Mendadak Melati menoleh dan melotot ke arah Arjuna. Mata itu memicing memperhatikan sang suami.
"Awas ya kalau berani!" Kemudian kembali berjalan.
"Mangkanya ayo!" Pinta Arjuna sambil menggelitik pinggang istrinya.
"Mas! Apaan sih!" Melati berlari dan Arjuna mengejarnya.
Sebenarnya itu hanya cara Arjuna untuk menghibur hati istrinya yang sedang gundah. Ia tahu betul Melati tidak nyaman dengan pertanyaan sang Mama tadi siang. Ia sedang memikirkan bagaimana caranya memberi tahu mamanya mengenai latar belakang Melati dengan cara yang tepat, supaya mamanya bisa menerima.
__ADS_1