Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek

Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek
Perjanjian


__ADS_3

Arjuna termenung ingat kata-kata Rega. Ia menatap Melati yang sudah terlelap. Di pandanginya lama wajah ayu itu, sesekali ia mencium kening istrinya. Dalam hatinya ia berdoa semoga terus di persatukan dengan wanita istimewa yang ada di hadapannya. Arjuna menyelipkan tangannya di bawah tubuh istrinya, kemudian menarik tubuh itu untuk di dekap. Sungguh ia merasa takut kehilangan.


'Jika memang harus berpisah, semoga hanya maut yang memisahkan kami ya Allah.' Batinnya berdo'a sebelum ia benar-benar terlelap.


***


Keesokan harinya, Gilsa membawa keluarga Melati untuk berbelanja di mall. Seperti orang yang tidak pernah berbelanja Mawar mengambil semua yang ia mau dengan rakus, matanya belingsatan melihat barang-barang bermerk dan mahal yang ada di sana. Gilsa hanya menggelengkan kepala melihatnya. Sementara ibunya malah banyak memilih belanja perhiasan. Ia hanya mengambil beberapa potong baju saja.


"Bapak, silakan ambil apa pun yang ingin Anda beli," kata Gilsa.


"Saya tidak ingin membeli apa-apa, Nona. Melihat anak-anak dan istri saya bahagia saja sudah cukup," sahutnya dengan mata sayu.


"Apa Bapak baik-baik saja?" tanya Gilsa karena melihat wajah Pak Fikri agak pucat.


"Saya baik-baik saja, Nona. Terima kasih selama ini sudah membantu banyak anak saya."


Gilsa tersenyum.


"Sudah tugas saya, Pak. Kalau begitu Bapak istirahat di sini dulu, ya! Saya akan membayar semuanya." Pak Fikri mengangguk lemah.


Sementara Mawar dan ibunya tidak berkesudahan mencoba semua baju yang mereka borong di ruang ganti.


"Bu, bagus nggak?" Tanyanya pada sang ibu yang juga sibuk mencoba pakaian. "Aku sengaja beli ini untuk kupakai saat Tuan Arjuna datang ke rumah. Jadi tubuhku yang sexy bisa dilihat semuanya oleh dia."


Bu Fikri menoleh, kemudian melotot melihat Mawar.


"Kamu pikir kucing garong pake baju seperti ini?" Anak gadisnya memilih baju super norak yang bermotif macan tutul. "Tuan Arjuna itu sukanya yang kalem-kalem kayak Melati, kalau pake baju yang polos-polos aja gitu. Nggak suka wanita bermake up tebal. Kamu harus belajar dari dia dong!" Bu Fikri kembali sibuk berputar-putar di depan cermin setelah menceramahi anaknya.


"Ihh ibu! Jadi ini jelek nih?" tanya Mawar dengan bibir cemberut.


"Jelek pake TOP BGT!" sahut ibunya kesal.


"Ahh! padahal aku suka!" katanya menghentakkan kaki ke lantai sebal, kemudian segera mencoba pakaian yang lainnya. Sampai ruang ganti pakaian itu penuh oleh baju mereka.


***

__ADS_1


"Nak, jadi kapan Mama bisa bertemu dengan keluarga Melati?" tanya Bu Hertini pada Arjuna melalui sambungan telepon.


"Secepatnya, Ma. Arjuna mau buat pertemuan resmi, sekalian menggelar makan malam keluarga."


"Wah, kalau begitu Mama harus beli baju baru. Baju Mama model lama semua, malu dong kalau pake baju itu."


"Mama, biasa aja. Kayak mau ketemu presiden."


"Ya Harus dipersiapkan lah, Nak. Kan mau ketemu besan. Apalagi ini pertama kalinya." Arjuna terdengar tertawa. "Kok malah ketawa?" Protes mamanya.


"Nggak apa-apa, Ma. Mama itu cantik biar bagaimana pun."


"Ish! Kamu bisa saja, kalau Mama sama Melati cantik siapa?" Mamanya menggoda.


"Nggak bisa di samain, Ma. Kadar kalian itu berbeda. Tapi, kalau beberapa tahun yang lalu pasti cantik Mama karena Melati masih ingusan, atau bahkan belum terlahir ke dunia, kalau sekarang jelas cantik Melati, Ma. Hahahah." Lagi anaknya terpingkal.


"Ah! Kamu bisa aja buat Mama berbunga-bunga." Bu Hertini mengulum senyum.


"Ya udah, Arjuna matiin dulu teleponnya ya, Ma. Jangan lupa istirahat yang cukup." Pesan Arjuna.


"Kamu tuh, jangan lupa shalat dan makan."


"Karena itu Mama sangat menyayanginya, karena kami banyak kesamaan," sahut Bu Hertini.


Arjuna diam saja, mungkinkah mamanya masih bersikap hal yang sama kalau tahu kebenarannya. senyum di wajahnya memudar seketika berganti gemuruh gelisah yang kian menebal.


"Ma, aku tutup teleponnya, ya!" katanya setelah diam cukup lama, sibuk dengan perasaannya sendiri.


"Oke, sayang."


"Assalamu'alaikum. Juna tutup, ya! "


"Waalaikumsalam." Telepon dimatikan, Bu Hertini kembali menyandarkan punggung pada kepala ranjang. Ia membuka aplikasi belanja online untuk melihat-lihat pakaian.


Sementara Arjuna, kembali menatap istrinya yang sejak tadi mendengarkan ia bicara. Kini ia sedang di rumah, bersandar di pangkuan sang istri sambil disuap buah anggur oleh Melati.

__ADS_1


"Mas, ngomong-ngomong kok nggak kerja sih?" tanya Melati. Arjuna diam saja, masih sibuk memeriksa ponselnya. "Mas!"


"Apa Sayang." sahutnya tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel. "Aku ngurangin aktivitas syutingku sayang. Aku nggak mau kekurangan waktu sama kamu." Arjuna mematikan ponsel dan meletakkannya di meja.


Bagi Arjuna, Melati kini adalah prioritas utama. Ia rela mengurangi jadwal syutingnya demi perempuan itu. Melati kembali menyuapkan satu buah anggur ke mulut suaminya.


"Mas."


"Emm."


"Kapan pertemuan keluarga kita?"


"Minggu depan InshaAllah, Sayang. Kenapa?"


Melati hanya tersenyum samar.


"Bagaimana kalau suatu saat Mama tau semuanya?" Wanita itu berusha memberanikan diri untuk bertanya. Padahal ia takut menanyakan hal itu pada suaminya.


Arjuna menatap wajah Melati lama, sedangkan wanitanya terus berusaha tersenyum, walau pun terpaksa. Pria itu beringsut duduk menghadap ke arah sang istri, kemudian meraih jemarinya dan menggenggam tangan itu erat.


"Kamu cukup genggam tangan aku seperti ini dan jangan pernah melepaskannya apa pun yang terjadi," ucapnya lirih.


Matanya memandang wanita di hadapannya dengan penuh pengharapan. Melati diam saja, ia hanya menunduk dengan alis saling bertaut, gelisah.


"Sayang ... " panggil Arjuna lirih, dan Melati balas menatapnya.


Arjuna mendekatkan wajah ke arah Melati dan menatap ke dalam kedua bola mata bening itu secara bergantian, cukup lama. Sementara tangan mereka masih saling menggenggam erat.


"Berjanjilah, Sayang. Aku mohon ... " bisiknya lirih dengan mata terus menatap mata Melati. "Apa pun yang terjadi jangan pernah lepaskan tangan ini. Terus ada di sisiku tanpa pernah berpikir pergi. Mas mohon berjanjilah ... "


Melati masih diam. Arjuna meremas tangan istrinya dan mengangguk lemah, memberikan isyarat supaya istrinya mau berjanji padanya. Wanita itu menarik napas panjang, sejujurnya kegelisahan juga sedang menghantui hatinya.


"Sayang." panggil Arjuna sekali lagi.


"Iya, Mas. Aku janji," ucap wanitanya tersenyum sambil menghembuskan napasnya.

__ADS_1


Arjuna tersenyum lega, ia berharap Melati terus ada di sisinya, terus menemaninya hingga menua, memiliki anak serta cucu bersama. hingga maut yang memisahkan mereka. Arjuna membingkai wajah istrinya dan mencium kening Melati penuh penghayatan.


"Hanya itu pintaku sayang, aku tidak meminta apa-apa. Kamu mengerti?" ucap Arjuna setelah mencium kening itu lama.


__ADS_2