
Dengan hati kesal Dewi mengikuti langkah kaki Rega dari belakang. Awalnya ia menolak, tapi Rega berkata tidak akan ada kesempatan ke dua untuk tawar menawar tinggal di rumahnya. Tanpa pikir panjang mawar langsung mengiyakan. Gadis itu pura-pura bahagia meski pun hati dongkol bukan kepalang. Tentu saja Rega bukan pria bodoh yang mudah dibohongi.
Bel rumah berbunyi nyaring, segera mbok berlari untuk membukakan pintu.
"Oh, Den Rega," kata si Mbok sambil tersenyum ke arah mawar.
"Mama mana mbok?" tanya Rega melangkah masuk, diiringi Mawar menggeret koper di belakangnya.
"Ada di kamarnya, Den."
Rega langsung menuju ke sana. Sampai di depan pintu Rega mengingatkan Mawar untuk bersikap sopan. Mawar mengangguk mengerti.
"Assalamu'alaikum, Ma," kata Rega sembari memutar knop pintu dan membuka.
Bu Hartini yang sedang sibuk memainkan ponsel menoleh ke arah sumber suara.
"Sudah pulang, Nak?" tanya mamanya lembut, tapi wajahnya berubah bingung saat melihat mawar ada bersamanya.
"Sudah. Oh iya, Ma. Ini mawar, adiknya Mbak Melati. Dari pada aku susah cari orang yang pas untuk mengurus Mbak Melati jadi aku ajak dia kesini."
"Tante .... " Mawar langsung menyalami Bu Hartini.
"Oh, kamu anaknya istri pertama bapakmu, ya?"
"Ehh, iya. Tante," sahut Mawar singkat.
"Iya, iya. Kamu cantik juga. Duduk sini, Nak!" Bu Hartini menepuk bagian kosong di sampingnya.
Mawar heran melihat tingkah mamanya Rega yang sangat baik. Ia menuruti duduk di sebelahnya.
"Kamu sekarang sedang kuliah kan?"
"Iya, Tante."
"Ehh jangan panggil Tante. Panggil mama aja."
Mawar dan Rega saling menatap. Kemudian tersenyum saat menoleh ke arah wanita paruh baya yang ada di sampingnya.
"Mama suka ada kamu di sini. Mama jadi ada temen ngobrol." Bu Hartini membelai lembut kepala gadis itu.
Rega heran dengan tingkah mamanya. Tapi, ia berusaha menyembunyikannya.
"Nak, kamu kok cuma berdiri di sana. Duduk sini dekat Mama." Rega menurut, ia duduk di sisi sang Mama.
Bu Hartini mengajak Mawar dan Rega berbincang banyak hal. Baik mawar mau pun Rega heran dengan sikap Bu Hartini. Ia tidak membenci mawar sedikitpun meski pun gadis itu adik dari menantunya.
***
"Ini kamarmu!" kata Rega membuka sebuah kamar tamu yang letaknya agak jauh dari kamar Melati.
__ADS_1
"Aku pikir satu kamar dengan wanita itu," sahutnya ketus sambil menghempaskan bokong di ujung ranjang.
"Wanita itu?" tanya Rega mengerutkan kening.
"Mbak Melati maksud aku."
"Tidak sopan bicara seperti itu kepada saudaramu sendiri. Aku belum memberi tahumu peraturannya. Jadi, aku mau kamu menyediakan semua kebutuhan Mbakmu. Bersigap menolongnya kalau ia lagi kesusahan dan mengingatkannya untuk minum vitamin hamil. Kalau ada sesuatu yang mencurigakan kamu orang pertama yang aku cari."
"Apa aku pembantu Mbak Melati di sini?" Mawar melengos, kesal.
"Asistennya, bukan pembantu."
"Sama aja kali."
"Beda. Satu lagi, kamu lihat cara mbok bersikap dengan kami semua di sini? Lemah lembut dan sopan. Aku mau kamu bersikap seperti itu juga, termasuk dengan Melati."
"Tidak cukupkah hanya dengan memenuhi dan membantu semua kebutuhannya?" Mawar tampak kesal.
"Kalau tidak bisa tidak apa-apa, aku bisa cari asisten yang jauh lebih baik dari kamu. Oh, ya! Caramu mengurus Melati mencerminkan caramu mengurus suamimu kelak. Jadi, aku juga mengambil poin itu."
Mata Mawar berbinar.
"Benarkah Pak Dokter?"
"Tentu saja." Jawab Rega sekenanya.
"Kupastikan Mbak Melati mendapatkan pelayanan terbaik!" kata Mawar bersemangat sambil mengepalkan tangan dan mata berbinar.
'Apa Pak Dokter itu memberikan lampu hijau padaku supaya aku berubah jadi lebih baik?' batinnya kegirangan.
"Oke, aku harus tidur. Lelah seharian berkerja. Selamat malam." Rega menutup pintu dan berlalu pergi sambil tersenyum.
Ia bersikap demikian hanya untuk mengerjai Mawar, supaya gadis itu bersikap baik pada kakaknya. Sedangkan Mawar langsung berselancar di dunia maya. Mencari artikel tentang bagaimana caranya menjadi gadis yang sholehah dan menjadi idaman banyakpria.
***
Pagi-pagi sekali Mawar datang ke kamar Melati. Ia membawakan segelas susu dan roti. Dengan wajah semringah Mawar mengetuk pintunya. Melati yang sedang membereskan kamar membuka pintu dengan perlahan.
Kreakkk ....
Mata Melati membulat sempurna saat tahu siapa yang ada dibalik pintu.
"Kamu, Dek? Kapan datang?" tanyanya heran.
Mawar hanya tersenyum, sinis. Ia langsung masuk dan meletakkan nampan di meja sofa. Melihat hal itu membuat sang kakak tidak percaya. Melati duduk melangkah mendekati adiknya yang sudah duduk di sofa.
"Cepetan diminum susu sama rotinya. Aku mau berangkat kuliah tiga puluh menit lagi."
Melati duduk si samping Mawar dengan senyum mengembang. Sungguh hatinya terasa penuh dengan kebahagiaan melihat sikap sang adik.
__ADS_1
"Makasih, ya. Mbak minum susunya."
"Iyeee, cepetan!!" Mawar sedikit melotot.
"Hem Hem Hem!" Rega sudah berdiri di depan pintu.
Melihat itu Mawar langsung menegakkan punggung. Ia berusaha tersenyum, dan mengambil roti dalam piring kemudian memberikannya pada Melati.
"Mbak, makan yang banyak ya! Kasihan dedek bayinya kalau Mbak kurang gizi. Nanti siang pas aku pulang kuliah, aku siapin buah-buahan ya. Mbak harus makan makanan yang sehat," kata Mawar sok mencari perhatian.
Rega mendengkus, tertawa melihat tingkah Mawar. Padahal sejak tadi ia memperhatikan cara gadis itu bicara dengan kakaknya. Sedangkan Melati, hanya tersenyum melihat tingkah adiknya di depan Rega.
"Iya, makasih ya, Dek. Kamu belum cerita gimana kamu bisa sampe ke sini?"
"Ohh itu, aku kemarin datang ke rumah sakit untuk menemui dokter Rega. Kebetulan aku mendengar Mbak tinggal di sini. Karena tidak tega mendengar Mbak sendirian di sini, aku memutuskan untuk tinggal di sini juga menemani Mbak."
"Oh gitu," sahut Melati sambil mengunyah roti dalam mulut.
"Dia juga berjanji akan bersikap baik pada siapapun di sini. Kalau dia bersikap buruk sama Mbak Melati. Bilang aja ke aku Mbak, mungkin Mawar lebih baik tinggal dirumahnya sendiri dari pada di sini."
'Ish! Kenapa harus bicara seperti itu!' batin Mawar, kesal.
"Ya sudah, Mbak istirahat dulu ya. Aku mau siap-siap pergi kuliah. Oh iya pagi ini Mbak sudah minum obat belum?"
Rega tertawa melihat sok peduli mawar terhadap kakaknya. Ia menyandarkan tubuh tingginya di tiang pintu sambil melipat tangan di dada.
"Hampir lupa kalau nggak diingetin." Melati baru saja akan berdiri, tapi Mawar menawarkan diri untuk mengambil obatnya.
"Biar saya, Mbak. Di mana mbak simpan obatnya?"
"Di laci nakas, Dek."
"Oke." Mawar langsung beranjak dan mengambil obatnya. Ia juga langsung ke dapur untuk mengambil segelas air putih. Setelah itu langsung kembali ke kamar Melati.
"Ini mbak air putihnya."
"Makasih, ya!" kata Melati di sambut senyum lebar oleh Mawar.
Baru saja akan meminum obatnya Rega menghentikan aksinya.
"Kenapa, Dok?"
"Nanti aja minum obatnya. Abis minum susu kan?" Melati mengangguk.
"Nah karena itu, takutnya obatnya nanti jadi nggak berfungsi kalau minumnya berbarengan dengan susu."
"Oh baiklah ...."
Mawar sedikit kesal, karena ia sudah bersusah payah berlari ke dapur untuk segelas air putih, tapi ternyata sia-sia.
__ADS_1
'Kenapa Dokter itu tidak bilang dari awal? Ish!!'
Rega pamit pergi bekerja setelah memeriksa keadaan Melati yang baik-baik saja. Sedangkan Mawar pamit untuk berangkat kuliah.