
Suatu malam Arjuna menemui Rega di sebuah taman bersama Melati dan tante Dinda, untuk membahas bagaimana kalau mereka mengatakan yang sebenarnya pada sang Mama. Mereka duduk di kursi taman yang berjajar rapi di pinggir jalan. Revi mereka titipkan pada Bunga.
"Semuanya, aku ingin berdiskusi bagaimana kalau kami berdua mengatakan hal yang sesungguhnya pada Mama."
"Kalau aku pribadi terserah kalian berdua saja. Memang kejujuran sepertinya lebih baik dari pada hidup dalam kegelisahan dan ketakutan, takut kalau suatu saat kebohongan kita terbongkar," ucap Rega. "Tapi harus siap dengan konsekuensinya," sambungnya sembari melempar pandangan ke jalan raya.
"Kalau menurut tante gimana?" tanya Arjuna.
"Gimana, ya? Tante bingung, Juna. Iya, memang jujur lebih baik, tapi hubungan kalian jadi taruhannya," jawab Tante Dinda, khawatir.
"Sayang, kamu siap hadapi ini berdua? Kamu janji ya jangan ninggalin aku apa pun yang terjadi," tanya Arjuna pada istrinya.
"Mas, apa pun yang aku lakukan nanti, itu pasti yang terbaik," sahut Melati.
"Apa pun? Asal jangan perpisahan kita." Arjuna mengingatkan, menatap wajah wanita di sampingnya dengan seksama, sembari menggenggam jemarinya.
Melati tersenyum dengan kepala mengangguk perlahan.
"Baiklah, dalam minggu ini akan kuusahakan mencari waktu yang pas untuk serius bicara dengan Mama," kata Arjuna.
"Kabarin ya, Kak. Aku mau ada di sana saat Mama mengetahui semuanya," sambung Rega.
"Iya nanti Kakak kabarin."
Setelah itu mereka memutuskan makan malam bersama di salah satu resto yang dekat dengan taman. Bagi mereka jujur adalah jalan terbaik untuk menyelesaikan semuanya. Arjuna tidak tega melihat istrinya yang terus-menerus merasa bersalah dan hatinya pun tidak tenang, karena merasa berdosa terus membohongi mamanya.
***
Siang itu Melati sedang duduk didekat perosotan anak-anak di sekolah Revi. Ia menunggu anak kecil itu keluar sekolah. Hari ini Melati akan menemui bapaknya di rumah Arjuna. Bel sekolah berbunyi nyaring, tandanya anak-anak telah usai mengikuti pelajaran hari ini. Revi berlari ke arah wanita itu dengan tersenyum bahagia.
"Bagaimana sekolahnya?" tanya Melati sambil membelai lembut kepala anak itu.
"Hari ini belajar menyanyi, Mama," jawab Revi bersemangat.
"Oke, kita main ke tempat Ibu Bunga, ya!"
__ADS_1
"Siap!
Dan mereka langsung menuju mobil di mana Pak Gus sudah menunggu. Di perjalanan perasaan wanita berhidung mancung itu diliputi rasa gelisah, tidak seperti biasanya. Ia menelpon suaminya, mengingatkan.
" Mas, kamu hati-hati kerjanya hari ini, ya! Di jalan juga nyetirnya pelan-pelan saja."
"Tumben banget, Sayang. Kamu kangen sama aku?" tanya Arjuna masih mengajak bercanda.
"Mas! Aku serius, perasaanku tiba-tiba nggak enak. Aku takut kamu kenapa-kenapa."
"Istighfar, Sayang. Mungkin kamu mau dapet kali, jadi sensitif."
"Iya kali ya, tapi belum tanggalnya loh!"
"Positif thinking saja, jangan mikir yang macam-macam."
"Iya, Mas. Ya udah, kerja lagi sana! Aku tutup teleponnya, ya!"
"Sayang, jangan di tutup dulu teleponnya."
"Sun dulu!".
" Malu ada Revi sama Pak Gus... " bisiknya lirih, mendekatkan ponsel lebih mendekat ke bibir.
"Ya udah deh, di rumah aja nanti. Assalamu'alaikum." Melati tersenyum.
"Waalaikumsalam, Mas." Wanita itu lalu menyimpan gawainya.
***
Sampai di rumah Revi langsung berlari menuju dapur, menemui bunga. Melati berjalan di belakangnya dengan bibir tersenyum melihat tingakah anak kecil itu.
"Ibu Bunga!" teriak Revi dan Bunga menoleh, ia duduk berjongkok merentangkan tangan dan Revi berlari ke pelukannya.
"Baru pulang, ya?" tanya Bunga.
__ADS_1
"Iya, Ibu. kata Mama Melati mau lihat kakek ke sini." celotehnya.
"Mbak, aku ke kamar Bapak dulu, ya!" pamit Melati .
"Iya, Nyonya. Silakan!" sahut Bunga dan Melati berlalu.
Di kamar, ada Bapak dan Ibunya sedang berbincang. Sedangkan Mawar sedang pergi kuliah.
"Pak, belain saja terus itu Melati! Anakmu dan anak selingkuhanmu. Bapak nggak pernah tahu, rasa sakitnya hati ibu ini, Pak. Bapak selingkuh di belakang bersama pelac** itu! Bapak kira hati ini tidak sakit?" teriak Bu Jamila berapi-api.
Melati menggigit bibirnya sendiri, ia bersembunyi di balik pintu mendengarkan kedua orang tuanya bertengkar hebat, kebetulan pintu terbuka dan Melati yang berada di luar bisa mendengar dengan jelas.
"Bu, kenapa Ibu sangat membenci anak itu. Dia tidak berdosa, sudah berapa kali Bapak mengatakan, Riyanti tidak pernah tahu kalau Bapak masih terikat pernikahan dengan kamu! Tidak pernah tahu. Kalau dia tahu pasti dia tidak akan mau menikah dengan Bapak, Bu!" Pak Fikri terus menjelaskan.
Prakkk!!
"Jangan sebut nama pelac** itu, Jangan pernah!" teriak Bu Jamila sambil membanting vas bunga yang ada di atas meja sofa.
Melati menahan tangisnya. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, takut mereka mendengar suaranya.
"Bu, ini di rumah orang, kita harus menjaga sikap!" Pak Fikri mencoba menenangkan, ia mendekati Bu Jamila dan mencoba bicara baik-baik. "Bapak minta maaf, tolong tenang Bu, tolong ... " Pak Fikri memohon.
"Mangkanya Bapak jangan pernah memancing pembicaraan ini lagi. Jangan paksa aku bersikap baik pada Melati, anak Bapak bersama pelac** itu. Aku benci! Benci! dan selamanya benci! Aku selalu ingat perselingkuhan kamu setiap kali liat mukanya, hatiku sakit, Pak!" teriak Bu Jamila tidak bisa tenang.
Tubuh Melati luruh ke lantai mendengar kata-kata sang Ibu sambung. Hatinya hancur, ia menyembunyikan wajahnya di antara lengan, terisak. Begitu bencinya Bu Jamila padanya, tak ada rasa sayang sedikit pun di hatinya.
"Bu, Maafkan Bapak, maaf ... " lirih Bapaknya berucap di dalam sana. Pak Fikri mencoba memegang tangan Bu Jamila yang sedang menangis, duduk di ujung ranjang.
Melati merasakan sesak di hatinya. Ia meremas baju bagian dada, sambil meringis menahan sakit di ulu hati karena menahan tangis. Setiap cacian dan makian yang ditujukan Bu Jamila untuk Ibunya begitu menghujam jantung.
Ingin ia berkata, tidak Terima dengan kata-kata itu, tapi Bu Jamila memang benar-benar sakit hati akan penghianatan Bapaknya pada Ibunya. Bu Jamila juga korban. Melati masih berjongkok, menangis di samping dinding kamar itu. Sedikit limbung ia mencoba berdiri di atas lututnya yang tiba-tiba terasa lemah. Ia menghapus air matanya.
Namun, ada hal yang sangat mengejutkan. Saat ia berdiri dan menatap ke depan, sudah ada Bu Hertini duduk diam mematung di kursi roda sedang memandangnya tajam. Melati segera menghapus sisa air matanya kasar. Bu Hertini tak mengatakan apa pun. Ia memutuskan pergi sendiri bersama Mbok naik taksi tanpa bicara dengan Rega dan lain sebagainya untuk memberi kejutan.
Namun, yang terjadi malah di luar dugaan, Ia melihat pertengkaran hebat besannya di dalam kamar dan Bu Hertini mendengar semuanya. Melihat mama mertuanya membuat kaki Melati semakin lemas.
__ADS_1
"Mama .... " ucap Melati lirih.