Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek

Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek
Revi (Pov Melati)


__ADS_3

Tuan Arjuna mengatakan kalau dia akan libur selama sepekan, ia ingin menghabiskan waktu bersamaku. tapi, aku melarangnya, aku meminta ia libur saat Revi libur sekolah supaya bisa jalan-jalan keluar kota bersama. Akhirnya dengan berat hati ia kembali bekerja setelah aku memintanya.


"Jahat ya sama suaminya gitu."


"Bukan, Mas. nanti kalau mau libur sekalian pas bulan madu aja."


"Maunya bulan madu sekarang, Sayang."


"Nanti aja, kan malamnya masih bisa sama-sama."


"Servis, ya!" Godanya dengan tatapan nakal.


"Servis apa? Servis TV? Buruan sana kerja, Mas!"


"Janji dulu, nggak mau pergi kalau nggak janji!"


"Emmmm." Ia menunggu jawaban dariku. "Baiklah ... "


"Yes!" ucapnya sambil meninju ke udara. "Ya udah, pergi dulu, ya! Assalamu'alaikum, Sayangku." pamitnya seraya mencium keningku.


"Waalaikumsalam, Mas." sahutku mencium punggung tangannya dan ia berlalu.


***


[Pak Gus jemput, ya! Kita ke sekolah Revi.] send.


Pesan kukirim untuk Pak Gus. Biasanya Gilsa yang menjemput, tapi mulai hari ini aku yang akan melakukannya. Aku takut, jika suatu saat harus berpisah, setidaknya ada kenangan manis yang melekat di memori ini. Tidak lama Pak Gus membalas chat, ia mengatakan sudah menunggu di bawah.


Segera aku turun ke bawah. Diperjalanan entahlah, pikiranku tidak tenang, aku sudah terlanjur sayang dengannya. Sejak ia masih menjadi anak didikku di kelas menari waktu itu. Ditambah sekarang kami satu rumah, tinggal di satu atap yang sama. Mungkin ini pemikiran yang jahat! Biar saja, aku berdoa semoga baik nenek mau pun ayahnya tidak akan pernah mengambilnya dariku.


Atau jika suatu saat Kak Juwita sembuh dan ingin kembali mengambil Revi. Aku tidak akan menyerahkannya sebelum ia berjanji tidak akan menyakitinya lagi. Sudah cukup, cukup selama ini ia tersakiti. Ia hanya seorang anak kecil, hanya butuh di kasihi dan diperhatikan. Memoriku melayang berpuluh tahun silam, saat itu usiaku masih 13 tahun.


^^^^


"Melati! Kamu main saja kerjanya. Cuci ini pakaian adikmu sampai bersih. Lihat dibagian kantungnya, sangat kotor terkena permen yang sudah meleleh. Kalau besok saat ia sekolah masih terlihat kotor kamu yang harus bertanggung jawab!"


Aku tak berani membantah, hanya menunduk dan berjalan mengambil baju yang sudah dilemparnya sejak tadi ke lantai, kemudian merendamnya.


"Bu, jangan terlalu keras sama Melati. Ibu kan bisa mencucinya sendiri."


"Bela saja terus anak itu, Pak! Semakin besar kepala dia di manjakan. Dia itu anak tua! Harus bisa jadi panutan adiknya."


Akhirnya Bapak mengalah, setiap kali Bapak ingin melindungiku dan membela, ujung-ujungnya akan bertengkar dengan ibu di rumah.


"Sekarang Bapak pilih ibu atau dia! Kalau pilih dia keluar dari rumah ini dan nggak usah balik lagi!"


"Bu, jangan kasih pilihan seperti itu. Kalian sama-sama berarti buat, Bapak."


Aku mendengarkan pertengkaran mereka di balik pintu kamar. Memeluk boneka lusuh pemberian Bapak dan hanya bisa menunduk sambil terisak.


'Apa aku terlalu manja, kenapa ibu begitu membenciku?' pikirku saat itu.


^^^^


"Nyonya, Anda baik-baik saja?" tanya Pak Gus. Ia melihatku menangis dari atas kaca dashboard mobil.

__ADS_1


"Nggak apa-apa, Pak. Cuma kelilipan." kilahku.


Sampai di sekolah aku langsung turun dan meminta Pak Gus pulang. Semua anak-anak sedang bermain diluar kelas. Terlihat Revi sedang duduk di batu besar berwarna hitam dikelilingi teman-temannya. Tapi mengapa ia tampak berbeda, ia hanya menunduk sedangkan teman lainnya tertawa.


"Dasar, anak orang gila. Hahahaha."


"Nggak punya orang tua! Pantes saja setiap ada pentas tidak ada orang tuanya yang datang." Gemuruh ejekan dan tawa anak-anak itu terdengar jelas di telingaku.


Aku mengedarkan pandangan mencari sosok guru yang mungkin bisa membelanya, yang bisa memberi pengertian pada murid lainnya supaya tidak bersikap demikian, tapi tak kutemukan. Aku malah melihat beberapa guru dengan santai makan bakso tanpa menghiraukan anak-anak yang bermain di luar.


Ini memang tampak biasa, tapi jika dibiarkan bisa menimbulkan rasa minder pada anak yang terkena bullyan. Bisa saja suatu hari ia tak mau lagi bersekolah, atau malah nyaman menyendiri dari pada memiliki teman. Aku mendekat, kutatap wajah anak itu satu persatu sampai mereka terdiam.


"Kata siapa Revi tak memiliki orangtua? Saya mamanya, orang tuanya." Aku tersenyum menatap Revi. Melihat kedatanganku matanya berbinar.


"Mama Melati!" katanya.


"Kalian tau, sikap kalian itu tidak terpuji. Tuhan di atas sana akan marah jika melihat kalian menyakiti atau mengolok-olok teman seperti ini." Revi melompat dari tempat duduknya dan langsung menghambur memelukku.


"Mama Melati yang jemput Revi hari ini?" Aku mengangguk.


"Suka?" tanyaku sambil membenarkan kuncir rambutnya.


"Revi senenggg banget." Ia mencium pipiku. Sementara teman lainnya menatap sinis kemudian pergi.


Aku menggandeng tangannya dan menemui para guru. Kuceritakan kejadian barusan dan mereka minta maaf.


"Saya pikir main-main biasa, Mbak. Jadi tidak terlalu saya perhatikan."


"Mungkin lain kali bisa lebih di perhatikan ya Bu Guru. Saya minta tolong, Revi ini sudah saya anggap seperti anak sendiri. Saya tidak mau nanti ia trauma dan jadi enggan pergi ke sekolah."


Akhirnya kami saling berjabat tangan dan saling memaafkan. Aku menemani Revi membeli roti, memakan es krim dan main perosotan di sekolahnya sambil menunggu jam istirahat usai.


"Mama Melati, Revi mau sama Tante Gilsa aja, ya nanti. Mau lihat Mama." pintanya saat kami sedang duduk di ayunan berdua.


"Kamu mau jenguk Mama?"


"Iya."


"Ya sudah pulang sekolah ini kita langsung menuju ke rumah sakit dimana mama di rawat, ya." Anak manis itu mengangguk setuju.


***


"Bu Guru! lihat foto ini Bu Guru!! Gadis ini yang merebut Arjuna dariku. Apa kau tau Bu Guru, jika bukan karena perempuan ini Arjuna pasti masih menjadi milikku. huhuhu ... " pekik Kak Juwita di dalam sana sambil menangis.


Jujur aku kasihan, sesekali kuusap air mata yang jatuh ke pipi. Ia memukul-mukul fotoku ditangannya, sesekali digigitnya kertas foto itu lalu diinjak-injak olehnya. Itu foto pernikahanku dan Arjuna. Kata Kak Gilsa, kalau foto itu diambil ia akan mengamuk lebih dari ini. bahkan seisi rumah sakit dibuat kewalahan olehnya.


"Mama Melati, itu foto siapa yang dipegang mama? Apa karena tante dalam foto itu mama jadi sakit kepala?"


'Itu foto tante, Sayang ... ' aku hanya berani berkata dalam hati saja.


"Mama nggak tau, Sayang." Aku berbohong.


"Mama, kenapa Mama Revi sakit kepalanya lama sekali. kapan Mama akan sembuh, ya? Apa Mama nggak kangen sama Revi?"


"Kangen, dia pasti kangen sama Revi. cuma untuk saat ini Revi belum bisa menemuinya. kita lihat dari sini saja, ya!" Aku berusaha menenangkan. aku menggendongnya untuk melihat Kak Juwita di dalam sana.

__ADS_1


"Arjuna, harusnya kamu tau, dia itu cuma gadis kampung! Cuma gadis biasa. Harusnya kamu sama aku Arjuna!!" teriaknya histeris. ia kembali Menginjak-injak fotoku dan Arjuna dengan kesal.


***


"Kok nggak di makan kuenya." tanya Tuan Arjuna malam itu.


Revi sudah tidur dan aku sedang tidak berselera makan.


"Mas."


"Emm."


"Kak Juwita, kasihan, ya!"


"Iya."


"Kok gitu doang jawabnya."


"Jadi mau jawab apa?"


Aku terdiam, menuang air minum dalam gelas dan meminumnya. Selesai minum kuletakkan gelas ke meja. Tanpa kusangka, Tuan Arjuna mengambilnya, memutar gelas itu seperti mencari sesuatu.


"Kenapa, Mas?" tanyaku bingung.


"Mau cari bekas bibirmu, mau minum juga." Otomatis tawaku tersembur keluar. Aku tertawa, merasa lucu dengan apa yang dilakukannya.


"Ini tuh salah satu teladan Nabi loh. Minum di bekas bibir istrinya. Kenapa emang?"


"Nggak apa-apa." Aku masih menahan tawa.


"Kenapa?" ia sedikit memaksa. "Lucu?"


Aku mengangguk sambil terus tertawa.


"Bukan teladan Nabinya yang lucu, kalau itu mah contoh yang baik, Mas. tapi aku jadi inget masa lalu. Inget nggak sih, Mas itu pernah bilang aku itu kuman, virus, dan bakteri yang harus dihindari. Eh sekarang bekasnya aja masih dicari-cari."


Tuan tiba-tiba diam, mungkin ia merasa tak enak.


"Mas!" Aku menyandarkan dagu di bahunya.


Ia masih diam.


"Maaf, ya!"


"Buat?"


"Dulu sudah berbuat seperti itu sama kamu."


Kini aku yang diam. Menatap wajahnya dengan seksama.


"Kalau nggak ada hari itu, mungkin nggak ada hari ini. Kalau nggak ada kisah sedih itu, mungkin tidak akan ada kisah semanis ini." Ia menoleh, kami bersitatap, direkatkannya kening kami berdua dan memejam.


"I Love You ... " ucapnya lirih.


"Love you too, Mas." balasku.

__ADS_1


__ADS_2