Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek

Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek
Arjuna Vs Rega


__ADS_3

"Kamu suka sama Melati?"


Rega terdiam, ia menatap wajah kakaknya yang juga sedang menatap dengan sorot mata yang tajam.


"Kakak nanya apa sih?" Rega mengalihkan pandangan sembari mencoba tersenyum.


"Karena kamu itu baik banget sama Melati. Dulu, aku selalu kasih ke kamu apa yang kamu suka. Tapi, untuk kali ini maaf, aku nggak bisa karena sampai kapanpun aku akan mempertahankannya."


"Lagian siapa yang pengen Kakak pisah sama Mbak Melati? Ada-ada saja." Rega tertawa sembari kembali menyeruput kopi susunya untuk membasahi tenggorokan. "Tapi kalau boleh jujur, semua pria di dunia ini kalau sudah kenal sama Mbak Melati, mereka pasti suka." Arjuna mengerutkan kening.


"Termasuk kamu, Ga?" Arjuna masih menunggu jawaban 'ya' dari bibir sang adik.


"Aku bilang semua Kak, tanpa pengecualian." Rega menatap Arjuna sekilas, "Karena itu bahagiakan wanita se istimewa Mbak Melati, kalau nggak?" Hening "Nanti ada orang lain yang berusaha membahagiakannya!" tambahnya sambil menatap wajah sang Kakak tajam, yang membuat Arjuna semakin yakin kalau ternyata adiknya benar-benar menaruh hati pada istrinya "Sudah ah, aku buru-buru Kak. Duluan, ya!" Rega tersenyum sambil berdiri, lalu menuju meja kasir.


Setelah membayar ia berlalu, sementara Arjuna masih memikirkan kata-kata adiknya.


***


Pagi itu Melati berencana mengunjungi sang Mama bersama tante Dinda, sementara Dewi tetap berada di rumah untuk memantau keadaan.


"Pak Gus jangan lupa nanti jemput Revi pulang, ya! mungkin aku sampe sore ada di sini sama Tante Dinda." pesan Melati pada Pak Gus setelah mereka sampai di rumah Rega.


"Iya, Nyonya," sahutnya, kemudian Melati dan Tante Dinda turun beriringan.


Mobil Pak Gus meninggalkan pekarangan halaman setelah mereka masuk ke dalam. Mbok segera memberi tahu bahwa Bu Hartini sedang ada di kamarnya. Melati dan Tante Dinda menuju kamar Bu Hartini, kemudian mereka tersenyum saat melihat wanita paruh baya itu sedang berbaring di ranjang.


"Kebetulan, barusan Mama mau menelepon kalian. Mama ada sesuatu yang ingin di sampaikan," kata Bu Hartini setelah Melati dan Tante Dinda duduk di sisi ranjang.


"Apa, Ma?" tanya Melati sambil mengambil punggung tangan sang Mama mertua untuk bersalaman.


"Mama ada kabar gembira," ucap Bu Hartini memandang adik dan menantunya satu persatu.


"Apa, Ma?" tanya Melati antusias.

__ADS_1


"Jadi nggak sabar pengen denger!" sambung Tante Dinda.


"Jadi, Mama berencana menginap di rumah Arjuna beberapa hari, supaya hubungan mama sama keluarga kamu, makin dekat Sayang." kata Bu Hartini antusias sambil membelai lembut pipi menantunya.


Wajah Melati yang awalnya ceria, berubah jadi pucat, begitu juga wajah tante Dinda, ia tersenyum terpaksa.


"Kenapa? Kalian nggak suka, ya?" tanya Bu Hartini saat melihat ekspresi menantu dan adiknya.


"Pasti, se ... seruu ya Tante!" sahut gadis berhijab coklat itu ragu, ia menatap wajah tante Dinda nanar.


"Oh, Iya. Pasti seru ya! Bisa masak sama-sama, bisa ngobrol banyak!" sambung tante Dinda.


"Tuh kan! Mama tuh udah bilang ini ke Rega dan dia setuju!"


"Apa? Pak Dokter setuju?" tanya Melati tidak yakin.


"Iya, awalnya menolak, tapi karena kepiawaian merayuku akhirnya dia menyerah dan bilang 'YA'." Mata Bu Hartini berbinar menceritakan cara dia merayu Rega supaya setuju menginap di rumah Arjuna.


Sementara Melati, tangannya saling menggenggam erat, disertai tabuhan jantung yang tak beraturan. Hatinya mulai gelisah, ketakutan kembali hadir di sorot matanya.


***


"Ma, Om Ganteng, kalian kok diem aja."


Melati dan Arjuna saling pandang lalu tersenyum.


"Iya, kamu kok diem aja sayang! Mama Melati nih yang diem aja, kita dari tadi ngobrol kok." kilah Arjuna.


"Om Ganteng juga sama, diem aja. Aku ngomong sendirian," kata anak itu cemberut, manja.


Melati mengacak lembut pucuk kepala kemudian menciumnya. Ia baru menyadari sedari tadi hanya sibuk sendiri.


"Maaf, ya! Mama lagi memikirkan sesuatu," sahut Melati.

__ADS_1


Mendengar itu Arjuna tertegun. Pria itu penasaran, apa yang sedang di pikirkan istrinya. Setelah Revi masuk ke kamar. Melati mengajak suaminya juga tidur di dalam kamar mereka, tapi Arjuna menolak, ia mengajak Melati duduk di sofa untuk bicara.


"Mas mau ngomong apa sih?" tanya Melati lemas, dia memang merasa lelah setelah seharian main ke rumah Mama mertuanya dengan hati dan pikiran yang tidak tenang.


"Kamu mikirin apa? Kok nggak bilang sama aku kali banyak pikiran, aku suami kamu loh! Kamu bisa berbagi apa pun sama aku. Jangan hanya berbagi suka dan bahagiamu, aku juga siap menanggung, sedih dan susahmu."


Melati tersenyum, di usap-usapnya lembut pipi suaminya penuh rasa sayang.


"Nggak ada, aku nggak mikirin apa-apa. Aku cuma mikir... " Arjuna menunggu kalimat selanjutnya. "Suami aku kalau di goda cewek ABG bakal tergoda nggak ya?" Sengaja wanita itu mengalihkan pembicaraan, ia menatap wajah sang suami dengan mata tertutup sebelah, menggoda.


Arjuna tertawa.


"Emangnya aku ada tampang mata keranjang?" Pria itu balik bertanya. "Yang ada nanti kamu tergoda sama pria yang lebih cakep dan keren dari aku di luar sana!" Arjuna membuang muka.


Ia menyindir Rega sebenarnya, tapi Melati tak merasa karena memang ia tak memiliki rasa pada adik iparnya itu.


"Tega banget nuduh aku begitu, Mas aku ini istri paling setia!" tegas Melati di depan wajah suaminya yang membuang muka.


"Bohong!" sahutnya sambil berdiri dan berjalan ke arah kamar meninggalkan wanitanya.


"Mas! Kamu yang ngajak bicara, sekarang kamu yang ninggalin aku sendiri! Awas, ya!" Melati berlari mengejar Arjuna dan melompat ke punggungnya. Arjuna hanya tertawa, ia tak mau memegang tubuh istrinya sehingga wanita itu mencengkram erat lehernya dengan kaki melingkar di pinggang suaminya.


"Mas! Aku jatoh nanti."


"Biarin!"


"Ih kamu jahat ya sekarng! Aku nggak mau cium kamu lagi!"


"Kalau nggak mau cium aku kasih hukuman."


"Maunya! Mas pegangin!"


Arjuna tertawa, "Nggak mau!"

__ADS_1


Akhirnya mereka kembali tersenyum dan tertawa meskipun pikiran dan hati mereka sama-sama sedang gelisah. Mereka berlarian di dalam kamar, saling menggoda dan menjahili satu sama lain, persis seperti anak TK yang main kejar-kejaran di taman kanak-kanak saat istirahat.


Mereka tidak pernah tahu, takdir akan membawa mereka kemana, apakah bahagia ini akan tetap mewarnai hari-hari mereka atau sebaliknya?


__ADS_2