
Malam itu kuceritakan kalau mawar sudah pulang lebih dulu ke apartemen dan menyampaikan permohonan maafnya untuk semua. Bersyukur Mama dan Rega bisa memaklumi dan memaafkan Mawar. Keesokan harinya kami pulang ke rumah, aku sudah sangat merindukan rumah ini. Terutama si mungil Revi. Kami berencana menjenguk ibunya di RS bersama Tuan.
"Ya udah tidur dulu ya anak Mama. Mimipi yang Indah." Aku mencium kening menyelimutinya. Kemudian beringsut turun dari ranjang dan keluar kamar.
Saat akan naik ke atas aku bertemu tante Dinda dan Dewi. Mereka sedang asik ngobrol sambil meminum kopi. Lama tidak bersenda gurau bersama mereka, kuputuskan bergabung.
"Mel, Tante bahagia akhirnya mama kamu menyetujui hubungan kalian." Tante Dinda membuka obrolan.
"Iya, Tante aku nggak nyangka. Alhamdulillah banget."
"Mel, dengan begitu Mama hertini tidak akan meragukan loe lagi. Karena dia udah test loe sedemikian rupa."
"Aku nggak bisa berkata-kata saking bahagianya. Aku pikir aku bakal besarin anak aku sendirian, berjubah sendirian. Ternyata Allah memiliki rencana lain ya. Kuncinya harus sabar dan ikhlas serta berbaik sangka sama Allah..."
"Kami berdua di sini belajar jadi orang baik juga karena kamu, Mel." lanjut tante Dinda.
"Apalagi gue, semenjak akrab sama loe shalat gue jadi rutin. Kak Arjuna beruntung bisa bersanding sama loe!" Dewi menepuk bahu.
"Ah Tante sama Dewi bisa aja. Karena pada dasarnya semua manusia itu baik Tante menurutku hanya saja kadar kebaikannya aja yang beda-beda. Ya udah aku ke atas dulu ya."
"Kak Juna udah nunggu tuh!" seloroh Dewi sambil tertawa.
"Ish! Kamu apa-apa an masih kecil juga." Protes tante Dinda. Aku hanya menggelengkan kepala dan berlalu naik ke atas.
Sampai di atas lampu mati, kemana Tuan Arjuna?
Aku menghidupkan lampu dan berjalan ke arah kamar mandi. Ternyata kosong. Tak ada dia di sana. Aku melangkah ke arah ruang rahasia. Lalu tersenyum saat melihat Tuan sedang duduk di salah satu sofa.
"Mas!" Panggilku. Ia menoleh dan tersenyum. Diangkatnya sebelah tangan, memberi aba-aba supaya aku mendekat. Setelah dekat ia menepuk salah satu pahanya, meminta aku duduk di sana. Aku menurut duduk di sana dan melingkarkan tanganku di lehernya.
"Mas kok sendirian sih di sini?" tanyaku sedikit berbisik.
"Lagi kangen sama Papa. Pengen lihat foto-fotonya. Nanti kalau Mas jadi seorang ayah, pengennya bisa deket sama anak-anak nya kayak Papa. Aku tersenyum. Ia meraba perutku yang mulai membuncit. " Halo jagoan atau princess nya Papa. Lama ya nggak denger suara Papa.".
"Biasanya denger dia Mas, tapi lewat telpon aja."
Tuan hanya tersenyum. Ia mendudukkanku di kursi dan duduk berjongkok di lantai. Selanjutnya mengajak anaknya bicara sambil terus mengelus perut ini. Selesai, ia mengajakku tidur.
__ADS_1
"Sayang, kamu tahu apa yang Mas pikirkan selama jauh dari kamu?" tanyanya sambil memainkan ujung rambut.
Tuan berbaring meiring menyangga kepala dengan tangan.
"Apa Mas?"
"Mas berpikir kamu kangen nggak ya sama Mas? Terus suka mikirin Mas nggak sih?"
Aku tersenyum, membingkai wajahnya dengan tangan kecilku dan mencium lembut bibirnya.
"Aku selalu rindu kamu Mas." ucapku sambil terus membelai wajahnya.
"O ya? Coba buktikan!"
Aku menciumi semua bagian wajahnya dan membisikkan kata-kata romantis ke telinganya. Tuan hanya memejamkan mata dan tersenyum tanpa membalas perlakuanku atau mengatakan sesuatu.
"Kayaknya Mas yang nggak kangen sama aku!" Aku merajuk.
"Udah, segitu aja?"
Tanpa menjawab langsung saja Tuan menarik selimut dan menutup semua bagian tubuh kami berdua.
"Sekarang giliran Mas!"
***
Keesokan harinya kami berangkat ke rumah sakit untuk melihat keadaan Mbak Juwita. perlahan mobil meninggalkan pekarangan rumah. Revi bernyanyi dengan lincahnya. Sesekali aku ikut menyanyikan lagu Garuda Pancasila di mobil mengiringi suaranya.
Tuan hanya tersenyum melihat kami berdua. Tak sabar rasanya memberinya teman bermain. Selesai bernyanyi Revi mengangkat tangannya mengelus perut.
"Bu Guru cantik, kalau dedek bayi udah keluar dari perut Mama, nanti panggil Revi apa?" tanyanya polos.
"Manggil Kak Revi, Sayang."
"Hore Revi jadi Kakak!" Aku membelai lembut kepalanya.
"Mama Melati, kenapa dulu Revi nggak jadi anak Mama Melati sama Om Ganteng aja? Revi nggak mau jadi anaknya Mama Juwi."
__ADS_1
Aku dan Tuan saling pandang, kemudian berusaha memberi pengertian.
"Sayang, nggak boleh bilang gitu. Biar bagaimanapun Mama Juwi adalah orang tua kandung kamu. Dan Mama Melati sama Om Ganteng tetep sayang kamu kok meski pun kamu anaknya Mama Juwi." Revi menunduk, wajah yang baru ceria itu berubah murung. Mata lentiknya berkedip beberapa kali. "Sayang, anak siapa pun Revi, Mama sama Om Ganteng tetep Sayang kok."
"Tapi Revi pengennya jadi anak Mama sama Om Ganteng."
Tuan yang sedang menyetir menoleh ke arah Revi.
"Anak manis yang cantik itu nggak boleh sedih kalau sedih bisa berubah jadi jelek!" sambungnya sambil menatap anak itu dari kaca di atas dashboard mobil.
"Revi cuma takut, nanti kalau Mama sembuh Revi nggak bisa ketemu lagi sama om Ganteng, apalagi sama Bu Guru cantik."
Aku menoleh ke belakang dan membelai lembut kepalanya. Andai ia tahu sejak dulu aku mengkhawatirkan tak soal itu.
"Berdo'a ya sayang semoga kita tetep bisa saling menyayangi walau pun Mama sudah sembuh nanti." Mata lentiknya kini menatap dan sedikit memerah.
"Iya Mama." Aku tersenyum sambil menggengam jemarinya.
***
Tidak terasa kami sudah sampai pada tujuan, setelah memarkir mobil kami langsung menuju ke ruangan. Sudah ada Gilsa dan Regi menunggu di sana. Melihat kami datang Gilsa menunduk sopan.
"Gimana perkembangannya?" tanya Tuan.
Kami berdiri di luar memperhatikan Juwita dari kaca bening seperti jendela.
"Nyonya Juwita tidak pernah mengamuk dalam satu bulan ini, Tuan. Laporan kesehatannya juga menunjukkan hal yang baik. Masih dilihat untuk beberapa bulan ini jika kesehatan terus meningkat dan daya ingatnya terus bertambah, kemungkinan bisa dibawa pulang."
Aku menggenggam tangan Revi, perpisahan itu terasa semakin nyata. Anak itu merasakan tanganku sedikit meremas jemarinya. Ia reflek mendongak ke atas memperhatikanku.
"Mama Melati, Revi sayang Mama," ucapnya seolah mengerti keadaan hatiku.
Aku mengulum bibirku sendiri. Sedangkan sebelah tangan mengelus perut ini. Terlihat Mbak Juwita di dalam sana sangat tenang memandang foto kami berdua. Tangannya terus mengelus wajah Tuan pada foto itu sambil tersenyum.
"Sayang, kamu nggak apa-apa?" tanya Tuan mendekat, kemudian menarik kepalaku supaya bersandar di bahunya. Aku mengangguk lemah, pura-pura tegar lebih tepatnya.
Aku harus mempersiapkan diri dan hati untuk berpisah dengan anak ini. Jika memang suatu saat keluarganya berniat mengambilnya dariku.
__ADS_1