
"Mbak bunga, kamu harus bantu saya mendapatkan kembali Arjuna. Mbak tau kenapa? Karena Revi akan lebih bahagia kalau Juna jadi ayahnya. Saya mohon sama Mbak. Jika saya menikah dengan Arjuna, mbak akan dekat terus dan selamanya bersama Revi karena kami akan tinggal di sana selamanya."
"Tapi Nyonya, Melati itu sudah saya anggap sebagai adik saya sendiri. Dia perempuan yang baik. Saya tidak tega menyakitinya."
"Jangan khawatir. Kita semua bisa melihat kalau Rega menyukai Melati, dia akan membahagiakan Melati lebih dari Arjuna."
Aku dan Rega bertatapan mendengar rekaman barusan, sementara Mas Arjuna hanya diam, matanya manatap ke lantai dengan tajam. Sedangkan Mbak Juwita, wajahnya langsung berubah pucat. Yang lainnya masih khusyuk mendengar percakapan mereka. Ternyata begitu cara perempuan itu menarik simpati dari mbak Bunga.
"Apa yang harus saya lakukan Nyonya? Saya melakukan semua ini hanya untuk kebahagiaan Revi. Karena anak itu, hati saya yang terasa kosong kini terisi penuh dengan rasa bahagia."
"Iya, Mbak. Ini semua demi Revi. Tugas mbak pantau terus kejadian di rumah itu, laporkan semua padaku. Bujuk Melati supaya mengijinkan aku tinggal di sana. Sementara aku di sini akan terus berpura-pura gila sampai saatnya tiba, baru akan keluar dan bertobat. Aku akan jadi wanita baik untuk Arjuna. Aku berjanji."
"Iya, Nyonya."
Ponsel di matikan. Semua orang hanya diam. Vivi kembali mengambil sesuatu dari ranselnya. Foto-foto mbak Juwita yang tampak mengobrol serius dengan Mbak Bunga. Mereka tampak serius mengatakan sesuatu.
"Juna, itu tidak benar ..., " katanya dengan suara sedikit bergetar. "Mbak Bunga tolong jelaskan pada mereka kalau kita di fitnah!" Ia menggenggam jemari wanita yang duduk di sampingnya, sementara mbak Bunga hanya membungkam, dengan mata terpejam dan hampir terisak. "Mbak tolong jelaskan sama mereka, Mbak."
"Mbak, makasih sudah perduli denganku mau pun Revi. Aku percaya Mbak Bunga, wanita yang baik. Mbak bunga sudah kuanggap seperti mbakku sendiri. Mbak bunga tidak mungkin membela yang salah," kataku dengan lembut.
Aku menatapnya seraya tersenyum, aku yakin satu satunya alasan dia berbuat itu hanya untuk Revi. Karena ia terlalu menyayangi Revi. Mbak bunga terisak, ia melepaskan tangan Mbak Juwita dan beringsut dari sofa. Mbak bunga duduk di hadapanku, lalu bersimpuh meminta maaf.
"Maafkan Mbak Mel, mbak nggak pantes dapet pengampunan." Mbak Bunga menggenggam tanganku, dengan air mata berderai.
Mbak Juwita tidak menyangka dengan apa yang akan di lakukan oleh orang kepercayaan nya ini. Ia menatap mbak bunga nyalang dengan tangan mengepal dan raut yang geram. Sementara Mas Arjuna kini menatap Mbak Juwita dengan penuh kebencian, mukanya merah menahan amarah.
"Iya, Mbak. Aku ngerti kok. Tapi, lain kali jangan berbuat seperti itu mbak. Kita bisa bicara baik-baik mencari jalan keluar bersama, Mbak. Memfitnah orang lain sangat tidak baik mbak." Aku mengusap punggung Mbak Bunga dan menuntun bahunya duduk di sampingku.
"Makasih ya, Mel. Mbak nggak tau mau ngomong apa. Semenjak ada Revi hidup lebih berwarna. Mbak terlalu takut dipisahkan dengan anak itu." Mbak bunga menghapus air matanya dengan punggung tangan, aku tersenyum samar sambil terus mengusap bahunya, menenangkan.
"Kupastikan kau tidak akan pernah lagi melihat Revi!!" teriak Mbak Juwita sambil menatap Mbak Bunga penuh amarah.
"Ibu macam apa kau? Anakmu bahkan kau jadikan senjata untuk kepentingan mu sendiri?" kata Mas Arjuna berapi-api.
Ia mengalihkan pandangan dan tatapan tajam itu berubah jadi hangat saat menoleh ke arahku. Matanya berkaca-kaca menatap wajahku, lalu tangan itu terulur mengusap lembut pipi. Aku memegang sebelah tangannya yang membingkai wajah, lalu mencium punggung tangan itu.
__ADS_1
"Maaf, Sayang ... " ucapnya merasa bersalah.
"Nggak apa-apa, Mas. Aku paham, aku mengenalmu bukan satu dua bulan. Aku paham sifatmu, dan aku sudah menyiapkan stok sabar untuk menghadapi semua itu."
"Kak Juna emang gitu, Mbak. Tapi percaya deh, dia itu sayang banget sama Mbak." Celetuk Rega.
"Mbak jangan fitnah orang gitu lagi, dosa loh!" sambung Mawar menatap penuh kesal pada Juwita.
"Untung ada gue, ya!" Vivi tak mau kalah.
"Nanti kamu saya beliin motor!" kata Mas Arjuna pada Vivi. "Karena kamu mata saya terbuka."
"Beneran, Tuan? Wahhh makasih loh!" Vivi tampak bahagia.
Juwita berdiri, ia manatap kami semua dengan tatapan benci, kemudian begitu saja naik ke atas. Kami membiarkannya saja, mungkin dia akan pergi dari rumah ini karena malu. Tidak berapa lama Revi pulang bersama Regi. Ia berlari memelukku. Aku memeluknya erat. Setelahnya anak cantik ini menyalami semua orang yang ada di sini.
"Mama Melati kok baru pulang. Revi kan kangen," ucapnya polos sembari bergelayut manja di sisiku.
"Mama juga kangen sama kamu, Sayang." Aku membelai kepalanya.
"Kalau kangen harusnya pulangnya dari kemaren kemaren."
"Eh Om super tampan juga nggak datang-datang."
"Karena om ngejagain mamanya Revi."
"Kenapa bukan om ganteng aja?"
Arjuna hanya tersenyum dan geleng kepala.
"Ya sudah om, tante. Revi ganti baju dulu ya, nanti kesini lagi." Kami semua mengangguk. "Ibu Bunga." Ia mendekati Mbak Bunga yang masih diam membisu. Anak itu berdiri di hadapan Mbak Bunga, tangan mungilnya terulur untuk menghapus air mata yang mengalir di pipi. "Ibu Bunga kenapa nangis?"
"Nggak apa-apa Sayang."
Revi tersenyum dia mendekat dan mencium pipi Ibu angkatnya itu. "Jangan sedih lagi ya, kan udah Revi cium pipinya, jadi harus senyum... " Revi menunjuk dua pipinya dengan jari telunjuk sambil tersenyum dan kepala miring ke samping.
__ADS_1
Seketika Mbak Bunga tertawa, begitu pun kami yang melihatnya.
"Nah, Ibu Bunga cantik deh kalau tersenyum. Eh Revi mau ganti baju dulu ya. Ibu Bunga nggak boleh nangis lagi." Mbak Bunga segera mengangguk.
Setelah adegan lucu itu, Revi berlari dengan riang naik ke atas. Kami melanjutkan keseruan obrolan kami.
"Assalamu'alaikum, udah boleh gabung?" tanya Dewi dan Tante Dinda. Mas Arjuna sengaja melarang mereka bergabung saat kami sedang menyelesaikan masalah tadi.
"Udah dong tante, Dewi," sahutku tersenyum.
"Alhamdulillah, kalau dilihat lihat kayaknya udah kelar ya masalahnya?"
"Salah paham aja kok, Tante," sambung Rega.
"Juna suka gitu sih, nggak mau dengerin penjelasan orang lain dulu." Tante mencubit kecil lengan Mas Arjuna. Sementara pria itu hanya mengulum senyum. tapi tiba-tiba terdengar teriakan Revi dari atas sana.
"Mama, Revi nggak mau!!"
Suara itu lantang terdengar sampai ke sini. Kami semua saling pandang satu sama lain.
"Mama, Revi takut!!!" Teriakannya semakin keras terdengar.
Bergegas Rega dan Mas Juna berlari ke atas. Kemudian menyusul yang lainnya. Mawar dan Dewi berdiri dan kami menyusul naik ke atas. Karena perut yang sudah membesar aku jadi agak kesusahan.
"Juwita, jangan nekat!!" Teriak Mas Arjuna. Hatiku semakin tak karuan.
"Om Ganteng, tolong Revi. Huhu huhuhu."
"Mawar kamu bantu Mbak Melati ya, biar aku duluan naik ke atas," pamit Dewi sepertinya dia juga sangat penasaran. Ia langsung berlari menyusul yang lainnya ke atas.
"Mawar sebenernya ada apa?"
"Nggak tau Mbak aku juga baru mau lihat."
Setelah bersusah payah dan mendengar keributan yang tak berkesudahan akhirnya kami sampai di ujung tangga atas. Sedikit lebih cepat kulangkahkan kaki menuju ke kamar mereka. Dari pintu masuk aku melihat Mbak Bunga menangis bersimpuh, ia memohon pada Juwita, sementara yang lain terlihat tegang. Aku menatap mereka satu persatu saat sampai di dalam.
__ADS_1
"Mas ada apa?" tanyaku seraya menarik tangannya. Mas Arjuna diam saja, wajah itu tampak tegang. Aku menoleh ke depan dan alangkah terkejutnya aku saat melihat ....
Mbak Juwita, berdiri di balkon rumah bersama Revi. Ia sudah naik ke pembatas besi, wanita gila itu mengajak dan sedikit memaksa anak itu untuk terjun ke bawah.