Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek

Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek
Memahat Kenangan Bersamamu (Pov Melati)


__ADS_3

Pagi itu tiba-tiba Mama menelepon Tuan. Hampir saja ketahuan, untung Tuan Juna bisa mengalihkan pembicaraan. Saat mereka sedang asik ngobrol melalui sambungan telepon. Aku beringsut turun dari ranjang dan membuka balkon. Aku duduk di luar menikmati dinginnya udara dini hari. Karena tak tahan dengan dinginnya malam aku masuk untuk mengambil selimut, Tuan memperhatikanku, tapi mulutnya masih asik bercerita dengan Mama. Aku kembali keluar sambil mengeratkan selimut pada tubuh.


Di balkon terdapat dua sofa untuk memandang ke arah lautan. Aku duduk sambil membayangkan bagaimana nanti hidupku tanpa suamiku, tapi aku tak boleh egois, mungkin semua sudah ditakdirkan seperti ini?


"Sayang .... " Suara lembut Tuan membuyarkan lamunan, aku menoleh dan tersenyum samar. Ia duduk di sampingku dan membelai lembut kepala.


Masih gelap, mungkin sekitar 20 menitan lagi azan subuh berkumandang.


"Kenapa Mama nelpon di jam seperti ini, Mas?" tanyaku.


"Dia nanya kapan pulang. Mas bilang lusa, Mama Minta Mas pulang hari ini. Dia tau sekarang Mas ada di Bali."


"Tau dari siapa, Mas?".


Kemudian Tuan sibuk mengutak-atik ponselnya, lalu menunjukkannya padaku. Terlihat ada fotonya di sana. Ternyata Tuan tertangkap camera paparazi sedang duduk di kursi gantung rotan, tempat kami duduk kemarin sore.


"Untung cuma Mas sendiri yang tertangkap camera."


"Jadi kita pulang hari ini, Mas?"


"Iya, terpaksa Sayang. Soalnya Mama sibuk mau ke sini juga kalau Mas nggak pulang hari ini juga."


Aku diam saja, hanya tersenyum tipis lalu kembali menatap ke depan. "Sayang, kamu nggak apa-apa kan?" Aku mengangguk.


"Nggak apa-apa, Mas," sahutku, meskipun hati ini berkata lain.


Semakin dekat perpisahan itu.


"Mas dingin juga loh," katanya kemudian beranjak dari kursi dan mendekat ke arahku. "Boleh duduk di situ?" tanyanya, aku bingung.


"Boleh Mas," Aku berdiri dan ia duduk di tempatku. Aku hendak pindah ke kursinya, tapi secepat kilat ia menarik tubuhku hingga kini aku duduk di pangkuannya.


"Gini aja, jangan ke mana-mana." pintanya sambil memeluk dan menyelimuti tubuh kami berdua dengan selimut yang aku kenakan.


"Mas siap-siap shalat subuh yuk!" ajakku.


"Belum azan Sayang," katanya mengeratkan pelukan.

__ADS_1


Tuan mulai jahil, memainkan ujung hidungnya di leherku bagian belakang, sesekali menciumnya.


"Mas!"


"Emm," sahutnya tanpa menghentikan aktivitasnya.


"Aku kok takut mau pulang." Ia berhenti, kemudian memutar tubuhku miring ke samping, hingga kami bisa bersitatap.


"Kalau gitu nggak usah pulang." Ia tersenyum.


"Tapi kasihan Mama."


"Mas sebenernya belum mau pulang. Tapi Mama bilang kalau nggak pulang hari ini dia mau nyusul ke sini."


Aku Manggut-manggut. Ia menatap wajahku lama, sambil menyelipkan rambutkku ke belakang telinga.


"Nanti setelah kita melewati semuanya, kita akan kembali lagi kesini untuk bulan madu yang sesungguhnya."


Aku tersenyum tipis, jujur saja aku pesimis. Aku mengalihkan pandangan, takut meneteskan air mata, tapi Tuan langsung menuntun dagu ini untuk kembali menatapnya. Ia kembali berkata.


"Jangan pernah lihat yang lain." sambil tersenyum. "Sekuat apa pun orang lain berusaha memisahkan kita, semakin kuat cinta ini bersemayam di hati kita. Aku itu cuma buat kamu, dan kamu cuma buat aku."


"Kamu yakin kan kalau kita berjodoh?" Aku mengangguk sambil menahan serpihan kaca yang sudah berkilauan hendak turun ke pipi. "Mas harap, bukan hanya Mas yang selalu berdoa untuk dipersatukan, tapi kamu juga." Dadaku mulai sesak dan beberapa tetes air mata luruh juga.


Tuan menghapus air mataku dengan lembut.


"Jangan menangis lagi Sayang." pintanya. "Aku berjanji ini tidak akan lama, Mas percaya Allah akan kasih kita jalan keluar." Ia memeluk dan mencium kening ini lama, sementara aku hanya bisa diam, sambil mencoba memahat moment manis dan kehangatan ini di hati, sehingga jika nanti kami benar-benar berpisah, hari ini akan menjadi kenangan kebersamaan yang tidak akan terlupakan.


Samar terdengar suara azan berkumandang. Kami segera membersihkan diri dan bersiap untuk shalat subuh berjamaah. Seperti biasa selesai shalat aku akan membaca Al-Quran dan Tuan akan menyimak bacaanku.


Hari ini kami membatalkan pertemuan dengan kedua sahabatnya. Kami langsung kembali ke Ibu kota karena Mama, tapi kami berjanji suatu saat akan kembali ke sini, ke Bali ini untuk bulan madu yang sesungguhnya.


***


Sampai di bandara. Tuan sedang menggeret koper di tangan sedangkan aku berjalan di belakangnya. Kami seperti pasangan bahagia, aku mengenakan masker untuk menutupi muka, sedangkan Tuan memakai kaca mata hitam dan topi supaya tidak dikenali orang. Cukup sekali tertangkap camera paparazi, jangan sampai ketahuan lagi.


Saat sedang berjalan, tiba-tiba kami melihat Mama sudah menunggu bersama Pak Dokter dan Mbok di ujung sana.

__ADS_1


"Juna!!" teriaknya.


Pak Dokter memberi isyarat padaku supaya aku menjaga jarak dari Tuan. Bersyukur Masker menutupi wajah ini sehingga Mama tidak mengenali. Aku bejalan lamban dan perlahan menghilang di balik salah satu tiang penyangga di gedung bandara ini.


Tuan masih menoleh sesekali mancari keberadaanku. Ia segera mencium tangan Mama dengan takzim dan memeluk setelah sampai di sana. Sementara aku hanya bisa mengintip di balik tiang ini. Segera aku mengirim chat ke ponselnya supaya Tuan tidak khawatir.


[Mas, aku bersembunyi di balik salah satu tiang di bandara ini. Jangan khawatir, aku bisa pulang sendiri.]


Terlihat Tuan merogoh ponsel dan membalas pesanku.


[Nanti aku minta Pak Gus jemput kamu. Tunggu disini, jangan ke mana-mana. Mas sayang kamu!]


Aku hanya tersenyum, getir. lalu membalas pesannya.


[Aku juga sayang kamu, Mas. (Emot senyum)]


Kemudian mereka pergi dari sana. Tuan masih menoleh dan tersenyum padaku, aku melambaikan tangan membalas senyumnya, lalu mereka menghilang.


***


Aku sudah sampai di apartemen, kuputuskan pulang sendiri tanpa menunggu jemputan dari Pak Gus. Tuan bilang ia masih ada di rumah Pak Dokter. Aku bahkan belum mengambil Revi, meski pun hatiku sudah sangat rindu.


Setelah shalat Isya aku berdiri di balkon kamar. Menatap lampu kerlap-kerlip yang pernah diberikan oleh Tuan Arjuna. Ponsel bergetar, ternyata Dewi yang menelpon.


"Mel, kamu udah pulang?"


"Udah, aku ada di apartemen sekarang. Tolong bilang sama Mbak Bunga, besok aku jemput Revi ya!"


"Iya. Mel, kamu baik-baik saja? Aku udah denger semuanya dari Mama." Aku mengalihkan pandangan.


"Aku baik-baik aja, Dew."


"Kamu yang sabar, ya! Aku bantu do'a semoga ada jalan keluar terbaik buat kalian."


"Makasih, ya!"


"Iya sama-sama, aku tutup dulu teleponnya ya. Assalamu'alaikum."

__ADS_1


"Oke, Waalaikumsalam." sahutku dengan suara serak. Perpisahan itu terasa semakin dekat.


Aku duduk berjongkok menenggelamkan wajah di antara lengan lalu menangis sejadi-jadinya.


__ADS_2