Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek

Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek
Amarah Arjuna (Pov Arjuna)


__ADS_3

Ingin sekali aku kembali percaya padanya, tapi berat. Kenapa ia musti berbohong padaku. Kenapa Melati tak bicara jika ia sering pergi bersama Rega selama aku tak ada di rumah. Dulu, apa pun ku lakukan untuk Rega, karena ia adikku satu-satunya.


^^^


"Kak, aku sering diganggu temanku di sekolah. Mereka sering meminta uang sakuku." rengeknya saat duduk di kelas dua SMP.


Keesokan harinya aku akan datang ke sekolah, menemui mereka. Memperingatkan dan memberi pelajaran.


Di lain waktu.


"Kak, aku suka jaket kakak yang berwarna merah itu. Kalau aku yang memakainya apakah aku akan keren seperti Kakak?"


Tidak menunggu lama, langsung saja kuserahkan jaket berwarna merah milikku untuknya. Semua yang kupunya selalu kuberikan. Bagiku dia saudara satu-satunya. Kepada siapa dia meminta dan berharap perlindungan kalau bukan dariku.


^^^


Kini, saat aku memperhatikan foto-foto ini lagi, lagi dan lagi. Aku baru memahami setelah berusaha mencermatinya berulang kali. Pikiranku salah, mereka tidak selingkuh, tapi terlihat dari cara ia memandang Melati, ada rasa suka terpancar di matanya. Wajah itu berbinar bahagia saat bersamanya.


Sedangkan Melati? Jujur saja aku tak melihat apa-apa di matanya, apa karena aku ingin menghibur diriku sendiri hingga menarik kesimpulan kalau Melati tidak memiliki rasa kepada Rega? Dia selalu tertunduk saat berhadapan dengan Rega. Begitu pun ketika Rega mengajaknya bicara, Melati sangat terlihat tidak nyaman.


Apakah aku harus mengalah?


Mengikhlaskan wanitaku untuknya?


Argghh!


Kuremas kepala dan menunduk dalam. Kutarik napas panjang lalu mengembuskannya secara perlahan. Mata menatap tajam pada foto dalam genggaman.


"Tunggu aku pulang," ucapku lirih.


***


Keesokan harinya aku pulang. Aku bersikap biasa saja dengannya. Berat, sangat berat ... Aku berusaha bersikap baik-baik saja, padahal aku terluka melihat air matanya. Jujur aku masih kesal, mengapa ia tak jujur denganku?


Apa ia mulai menyukai Rega?


Hari itu dengan terpaksa aku memintanya pindah kamar, kekecewaanku belum hilang. Rahasia apalagi yang di simpannya. Kenapa Melati tidak berterus terang. Apa dia tidak percaya padaku?


Hatiku tersayat saat melihatnya mengemasi pakaian sambil terisak-isak. Aku hanya menatap punggungnya dari belakang. Aku hanya ingin dia jujur. Dengan sikapku yang seperti ini aku berharap ia mau bicara, mau berterus terang dan mengatakan semuanya.


Kemana ia sering pergi, ke rumah siapa itu? Apakah Rumah Rega, mengapa ia sering ke sana. Tapi ia tetap membisu bahkan setelah aku memintanya pindah ke kamar itu.


Brak!

__ADS_1


Ia menutup pintu kamarnya seiring isakan yang semakin jelas terdengar.


***


"Mas aku mau pamit keluar sebentar." pamitnya saat aku sedang sibuk membalas pesan dari Gilsa.


"Kemana?" tanyaku tanpa menoleh ke arahnya. Mata itu sembab, sepertinya menangis seharian.


"Mau jemput Revi di rumah kamu."


"Minta saja Pak Gus mengantarnya ke sini. Pekerjaan yang mudah jangan di persulit."


Ia diam, berbalik dan kembali menutup pintu kamarnya.


***


Malamnya aku hanya mendengarkan ia mengajari Revi belajar. Sedangkan aku sibuk menonton siaran bola. Tadi setelah shalat Isya mereka makan berdua, Melati sempat menawarkan, tapi aku menolak. Aku berjanji akan bersikap seperti ini sampai ia mau terbuka, mau bercerita, mau berterus terang.


Ponsel bergetar, sebuah pesan dari detektif yang kusewa. Kubuka foto itu dan terlihat Melati berdiri berhadapan dengan Rega, saling melempar senyum memegang sebuah lukisan berdua.


Ada yang terbakar di sini melihat semua ini. Lukisan apa ini? Apa mungkin Rega sempat melukis Melati seperti di film titanic?


Pikiranku kemana-mana. Aku membayangkan bagaimana Rega melukis wajah manis istriku, sedangkan istriku, duduk berpangku dagu sambil tersenyum manis menatap Rega. Mereka saling bercanda, saling menatap dan ....


Argghhh!!


Kuhempaskan ponsel ke lantai. Ada beberapa perabotan di atas nakas juga kuhempaskan ke lantai. Pecahan beling di mana-mana. Kudekati kaca rias tempat biasa Melati duduk disana dan menghempaskan kursinya.


Brak!!


Kaca tidak luput dari pandangan. Kutinju berulang dengan tangan mengepal, sampai lelehan darah mengucur di punggung tangan.


"Tuan! Tuan!"


Tok tok tok!


"Apa anda baik-baik saja?" teriak Melati dari luar.


Kulirik jam didinding jam sudah menunjukkan pukul 03.00 dini hari.


Kreakk!


Pintu terbuka, Melati membuka pintunya dan terpaku melihatku berdiri dengan darah mengucur deras di punggung tangan.

__ADS_1


"Astaghfirullah, Tuan! Apa anda tidak apa-apa?" teriaknya berlari kearahku.


Aku diam saja, hatiku masih panas. Melati mengambil kotak p3k dan menuntunku duduk di sisi ranjang. Dengan telaten ia mengobati lukaku. Andai ia tau, lukaku di sini(hati) bukan di tangan ini.


"Tuan jangan seperti ini." ucapnya sambil menangis.


"Saya sudah pernah bilang. Katakan apa pun yang ingin Anda katakan pada saya, meski pun itu sebuah rahasia. Saya berjanji akan menjadi pendengar yang baik dan tidak akan mengatakannya pada siapa pun."


"Bukankah kau yang memiliki banyak rahasia, mengapa memintaku mengatakan semuanya? Harusnya kau yang mengatakan semuanya, bukan aku." Kutatap matanya tajam, yang membuatnya diam seketika.


Ia menatapku dengan nanar, mulutnya terkatup rapat.


"Katakan, apa rahasiamu?" tanyaku terus menatap wajahnya dengan seksama. Melati segera mengakhiri pengobatannya dan hendak pergi, tapi aku menarik tangannya.


"Maaf Tuan, saya akan meletakkan kotak obat ini terlebih dahulu." Aku berdiri dan mendekat ke arahnya. Kutarik pinggangnya sampai ia berada tepat di hadapanku. Kembali kutatap mata itu dengan tajam, berharap ia bisa mengatakan semuanya.


"Kau tidak bisa mengatakan rahasiamu? Sesulit itu?" tanyaku penuh penekanan. Matanya memejam, aku bisa merasakan ia ketakutan. "Kau pergi ke mana saja selama aku tidak di sini. Apa kau pergi dan bersenang-senang dengan pria lain?" Aku bertanya sembari memutari tubuhnya.


"Saya tidak kemana-mana, Tuan." sahutnya dengan napas tersenggal, takut.


"Bohong!!" teriakku.


Dan ia semakin memejamkan mata dibarengi air mata yang mengalir deras.


"Kau sama seperti ibu sambungmu itu, pembohong!" Kini ia tergugu.


Aku berjalan ke arah meja rias dan kembali meninju kaca di sana.


Brak!!


Melati memekik dan seketika berlari memelukku.


"Jangan lakukan ini, Tuan. Saya mohon!Jika Anda marah silakan marah, tapi tolong jangan sakiti diri Anda sendiri, saya mohon!"


Melati memeluk sangat erat. Kutarik napas panjang dan mengembusaknnya perlahan, kulakukan itu berulang-ulang untuk menangkan diri.


"Istighfar, Tuan. Istighfar ... huhuhu huhuhu," pintanya terisak-isak. Perlahan aku melepas pelukannya dan memintanya keluar dari kamar.


"Keluarlah!" pintaku sambil memalingkan muka.


"Izinkan saya mengobati luka Anda sekali lagi dan membersihkan ini semua dulu, Tuan. Nanti kaki Anda bisa terluka juga jika menginjaknya."


Aku diam saja. Cepat ia mengambil obat dan kembali membalut tanganku dengan perban. Setelah mengobatinya Melati mengecup tanganku yang terluka cukup lama, sampai aku memalingkan wajah.

__ADS_1


Setelahnya ia memunguti pecahan beling di lantai. Aku hanya duduk bersandar pada kepala ranjang memperhatikannya. Sesekali ia menghapus air matanya dengan punggung tangan dan melanjutkan kegiatannya. Ia menyapu dan mengepel lantai sampai bersih, tak ada lagi bau amis darah. Tak ada lagi sisa pecahan beling kaca.


"Tuan, saya permisi," pamitnya sembari menutup pintu kamar setelah menyelesaikan semuanya.


__ADS_2