Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek

Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek
Kentang Goreng yang manis ( Pov Arjuna)


__ADS_3

Sore itu aku pulang ke rumah untuk menjemput Revi dan Melati terlebih dahulu. Di perjalanan aku masih sering tertawa mengingat laporan Dewi. Katanya mereka bahkan memanggil dokter karena Mawar terus buang air besar, sampai bolak balik ke kamar mandi tak berkesudahan. Mawar sampai terlihat lemas dan kini hanya terbaring lemah.


Sampai di rumah aku langsung menemui Melati. Tampak ia sedang duduk di dapur bersama beberapa ART di sini.


"Assalamu'alaikum," sapaku pada semua.


Mereka menjawab bersamaan, Melati sedang memangku Revi. Katanya anak itu baru saja pulang dari supermarket, untuk menemani Bunga berbelanja bulanan bersama Pak Gus. Aku duduk di samping istriku dan mengacak kepala anak kecil yang di pangkunya.


"Om ganteng, tante Mawar sakit perut terus. Kasihan ke kamar mandi terus." Lapor anak itu. Aku hanya tersenyum. Itu hukuman yang pantas bagi orang yang memiliki penyakit hati akut seperti dia.


"Jadi sekarang udah sembuh belum?" tanyaku sedikit menunduk menatap wajah cabinya.


"Masih bobok terus, kayaknya masih sakit Om Ganteng."


"Ohh, tenang. Nanti juga Tante Mawar sembuh kok." Aku menjawil hidungnya, kemudian beralih menatap Melati yang hanya tersenyum memperhatikan aku dan Revi.


"Sayang, kamu sudah makan?" tanyaku sambil mengusap lembut pipi wanitaku.


"Sudah, Mas," sahutnya tersenyum.


"Juna, bagaimana kalau kalian kembali tinggal di sini lagi. Karena rumah ini terasa mati tanpa kalian." Pinta Tante Dinda.


"Wahh, menurutku lebih baik Melati sama Kak Juna tetap di sana, Ma!" sanggah Dewi.


"Emang kenapa?" tanya Tante Dinda.


"Emmm, mungkin saja mereka mau program punya momongan. Jadi bisa lebih leluasa di sana."


Melati terbatuk dan aku mendengkus tertawa.


"Dewi, kamu masih belum terlalu dewasa bicara hal semacam itu." Protes tante Dinda.


"Nggak apa-apa, Tante. Lagi pula, kami memang berencana memiliki momongan." Aku menatap wajah Melati lekat.


Beberapa kali wanitaku menghindari sorot mataku. Sungguh lucu.


"Nanti kalau Bu Guru dan Om Ganteng punya dedek, yang sayang sama Revi siapa dong?" tanya anak itu polos.


"Kan ada Ibu Bunga Sayang ... " sahut Bunga dari kursi sebrang.

__ADS_1


"Sayang, Bu Guru tetap sayang sama Revi kok walau pun dia punya dedek. Kalau nggak percaya coba tanya." Aku sengaja menggodanya.


"Mas, apaan sih!" Protesnya. "Revi itu tetap ada di hati Mama, jadi jangan takut, ya!" katanya sambil memeluk anak itu erat.


Kemudian kami berbincang seputar banyak hal. Sebelum pulang, aku, Melati dan Revi menjenguk Mawar dulu ke kamarnya. Di sana ada Ibu dan Bapak Fikri sedang menunggui Mawar. Aku menyalami mereka, jujur masih agak canggung karena ini di luar kebiasaanku. Bersentuhan dengan orang baru. Kalau ingat dulu aku suka cuci tangan berkali-kali setelah bersentuhan dengan orang lain, karena kita tidak pernah tahu, apakah orang itu sehat atau tidak. Apakah orang itu memiliki penyakit yang menular atau tidak dan lain sebagainya. Hingga aku mengenal Melati dan aku mulai mengubah cara pandangku.


"Dek, kamu cepet sembuh, ya! Jangan lupa di minum obatnya." Perintah wanitaku.


Mawar hanya diam, wajah itu tampak pucat.


"Nggak tau kenapa, Mawar kok bisa salah minum obat. Padahal dia tidak minum obat sama sekali hari ini. Jangan-jangan ada yang sengaja ingin mencelakai Mawar, Pak!"


Kata Bu Fikri bicara, sengaja membesarkan suara sambil melirik ke arah Melati.


"Bu, nggak boleh suudzon sama orang. Mawar mungkin salah makan aja." Bapak menenangkan. Ibu hanya melirik sinis kemudian memutuskan keluar kamar.


Di sisi lain aku melihat Revi sudah akrab dengan Bapak. Menurut ceritanya, Revi sering berkunjung ke kamar Bapak dan bercerita banyak hal. Termasuk perihal mamanya, saat di tanya siapa ayahnya, Revi hanya menggelengkan kepala. Bapak bertanya padaku seluk beluk tentang Revi. Aku menjelaskan secara garis besar. Semoga anak itu belum terlalu paham dengan apa yang aku katakan.


***


"Makan! Makan! Makan!" Teriak Melati dan Revi menggebrak meja seperti yang sering kulakukan bersama anak itu. Kami sudah sampai di apartemen, dan akan makan malam setelah shalat isya tadi.


Aku mengambil sesendok makanan. Mereka berdua terlihat tidak sabar menyantapnya. Aku menggoda Melati, kuarahkan sendok ke mulutnya, tapi saat ia membuka mulut, kuberikan pada Revi yang membuatnya cemberut kesal. Dan itu bukan hanya sekali, tapi kulakukan berulang kali.


"Kenyang!" kata Revi mengusap perutnya. "Om ganteng, Mama Melati. Revi tidur duluan, ya! Ngantuk nih!" katanya sambil terus menguap. Matanya sudah terlihat sayu.


"Jangan lupa gosok gigi dulu ya Sayang!" perintah Melati.


"Siap, Bu Guru!" sahutnya langsung berlari ke kamar mandi. Setelahnya langsung masuk ke kamar.


Tinggalah kami berdua. Melati kembali kesal. Ia tak mau tersenyum padaku.


"Masih mau makan?" tanyaku sambil menarik kursi duduk didekatnya.


"Nggak!" jawabnya jutek.


"Yakin?" tanyaku sambil tersenyum menggoda.


Aku mengambil kentang goreng dan menggigitnya di mulut. Lalu kudekatkan ke arahnya. Melati hanya tertawa melihat tingkahku. Karena ia tak kunjung menyambutnya aku mengambil kentang dari mulut dengan tangan untuk bicara.

__ADS_1


"Sayang, kalau masih mau makan syaratnya seperti ini."


"Mas, nanti di lihat Revi." Melati masih tertawa, menutup mulutnya dengan sebelah tangan.


"Dia sudah tidur, ayo sekarang Mas suapin."


"Suapin nya pake tangan aja!" Protesnya.


"Nggak mau, Mas maunya begini."


Setelah lama berkelit akhirnya ia mau juga. Kembali aku menggigit kentang dan kuarahkan ke padanya. Ia masih mengulum senyum, tapi lama-lama mendekat. Semakin dekat, dekat dan kini sudah menggigit ujung kentang gorengnya. Melati memakannya, kemudian kembali mengigit ujung kentang, hingga kentang goreng semakin memendek. Gigitan terakhir, masih ada sedikit sisa di mulutku.


Ya ... aku masih menunggu.


"Sisanya Mas aja yang makan!" Perintahnya.


Aku menggelengkan kepala.


Melati kembali mendekat, dan terlihat ragu mengambil kentangnya, ia masih mengulum senyum dengan pipi merona merah, malu. Karena lama langsung saja aku menarik lehernya ke depan dan berhasil, aku memberikan sisa kentang itu dari mulutku ke mulutnya. Saat ia hendak melepas aku kembali menariknya, hingga moment manis itu berlangsung lama.


"Mas sudah!" kata Melati melepas ciuman.


"Kenapa?"


"Aku ngantuk, Mas!"


"Ya udah, ayo ke kamar kita lanjut di sana."


"Mas ... "


"Kan kita mau program punya momongan. Mau laki atau perempuan?"


"Kalau aku apa pun yang di kasih Allah, aku akan menerimanya dengan rasa syukur yang tiada terkira."


"Jadi mau nih?"


"Mau apa?"


Aku diam saja, hanya menatap dan tersenyum nakal, penuh siasat.

__ADS_1


__ADS_2