Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek

Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek
Mencari Asisten Untuk Melati


__ADS_3

"Kok murung mukanya? Kamu kenapa Sayang?" tanya Arjuna saat mereka sedang tersambung dalam Vidio Call.


Melati yang tak menyadari itu langsung meraba wajahnya. Ia sudah berusaha sebisa mungkin untuk tersenyum, tapi gurat kesedihan masih tergambar di wajah ayunya.


"Murung? Masak sih, Mas?" tanya Melati masih meraba-raba wajahnya. "Aku biasa aja kok, nggak ada apa-apa."


"Mas bukan orang lain yang bisa kamu bohongin. Sekarang ceritakan sama Mas apa yang terjadi di sana!" Tampak Arjuna menyandarkan punggung ke daun kursi.


"Huft!!" Melati menatap Arjuna dengan senyum samar. "Mas, ternyata agak sulit ya melembutkan hati Mama. Aku buatin teh setiap hari nggak pernah diminum. Kalau aku bantuin Mbok masak, mama nggak mau makan di rumah. Pasti nanti minta beliin Pak Dokter makan di luar." Melati tertunduk lesu, sangat terlihat keputus asaan di wajah ayunya.


"Sayang .... " Istrinya masih tertunduk. "Heii sini lihat Mas." Perlahan Melati mengangkat wajahnya. "Mama itu tau kalau kamu itu istimewa, karena itu Mama ingin melihat seberapa tangguh dan sabarnya kamu menghadapinya." Mereka saling bersitatap.


"Benarkah?" tanya Melati dengan suara serak.


"Percaya sama, Mas." Melati menarik napas panjang. "Jangan sedih gitu dong, Mas jadi pengen pulang, pengen peluk kamu."


Melati mendengkus tertawa, tapi setetes air mata jatuh ke pipinya.


"Kamu yang sabar ya ngadepin Mama. Mas percaya kamu bisa." Melati mengangguk. "Eh Mas mau lihat anak kita. Tempelin ponselnya ke perut kamu sayang Mas mau bicara."


Istrinya tersenyum, hatinya sedikit terhibur dan kembali bersemangat untuk meluluhkan hati sang mama mertua. Melati langsung menempelkan ponsel ke perutnya yang kini sudah sedikit berisi.


"Halo anak Papa, kamu nakal nggak selama Papa jauh dari Mama. Jangan nakal ya! Papa dua minggu lagi pulang. Nanti Papa bawain oleh-oleh buat Mama biar bibirnya nggak cemberut!" Melati menggelengkan kepala sambil tertawa. "Kamu tau, Mama itu kalau nangis jelek! Nggak cantik! Tapi kalau dia tersenyum dan tertawa, seluruh dunia mengakui kecantikannya." Melati langsung mengangkat ponselnya, menjauhkan dari perutnya.


Ia mencebik ke arah kamera, menggoda sang suami. Arjuna tertawa sambil menempelkan bibirnya ke arah kamera berkali-kali.


"Nggak mau dicium sama kamu. Jahat, bilang aku jelek!" Melati pura-pura merajuk.


"Kamu kalau nangis emang jelek Sayang. Karena itu harus selalu tersenyum." Arjuna berhasil membuat istrinya mengulum senyum, malu.


"Udah ah, aku mau tidur, Mas!"


"Emmm, padahal Mas masih kangen loh!"


"Aku nggak!"


"Masak sih?!" Melati mengangguk. "Ya sudah kalau gitu kontrak satu bulan lagi aja di sini. Jadi pulangnya 1 bulan 15 hari lagi." Melati melotot ke arah kamera.


"Ish! Jahat banget!" rajuknya.


"Kan kamu sendiri yang bilang nggak kangen sama aku."


"Mas! Pulang!!" Istrinya merengek.


"Ya udah Mas pulang. Tapi pengen denger kalau kamu kangen banget sama Mas."

__ADS_1


"Harus bilang gitu ya?"


"Iya dong!!"


Melati berdecak, kesal.


"Ya udah, Mas aku kangen." Wanita itu langsung menutup wajahnya dengan bantal yang membuat Arjuna tertawa lebar.


Entah sampai pukul berapa mereka bercanda. Namun, menelepon Arjuna adalah satu-satunya cara mengesampingkan kesedihannya. Melati merasa dunia penuh warna jika bersenda gurau dengan suaminya. Segala gundah dan gelisah terbang menembus awan. Menyisakan pilar-pilar kebahagiaan.


***


Pagi itu Melati kembali membuatkan segelas teh hangat untuk Bu Hertini. Ia tidak peduli, teh itu di minum atau tidak oleh mama mertuanya. Yang penting ia sudah melakukan yang terbaik.


"Ma, teh nya." Melati meletakkan gelas di meja. Dimana sang mama sedang asik menonton berita.


Setelahnya Melati berjalan keluar rumah. Ia memutuskan menyirami bunga-bunga. Samar-samar ia mendengar Rega berbicara dengan mamanya. Melati meletakkan selang, lalu memperhatikan dari jendela. Ia mendengar percakapan mereka.


"Ma, harus sampe kapan bersikap seperti ini sama Mbak Melati?" tanya Rega duduk di seberang meja memperhatikan sang Mama.


Bu Hertini diam saja, seolah tak ada yang mengajak bicara. Rega mengangkat gelas yang tergeletak di meja, memandang mamanya sekilas lalu meminumnya.


"Teh nya Rega habisin ya, Ma. Kasihan sama Mbak Melati, udah buat susah-susah nggak diminum sama sekali." Mamanya masih diam. Rega beranjak. Mendekati mamanya dan mencium punggung tangan itu. "Rega pergi dulu, Ma. Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam," sahut mamanya singkat.


"Mbak."


"Iya, Pak Dokter."


"Tehnya enak!"


Melati hanya tersenyum tipis, kemudian sedikit mengangguk, tanda mengerti.


"Terima kasih."


"Ya sudah, saya berangkat bekerja dulu, Mbak. Jangan lupa diminum obatnya. Kalau ada apa-apa telepon saya saja."


"Baik. Terima kasih Pak Dokter."


"Sama-sama." Kemudian pria tampan itu berlalu, berjalan ke arah mobilnya.


Perlahan mobil itu meninggalkan halaman rumah yang luas. Ia membuka kaca jendela saat melintas di depan Kakak iparnya, melempar senyum dan membunyikan klakson beberapa kali. Melati hanya sedikit membungkukkan badan tanpa menatap Rega.


***

__ADS_1


Hari itu pasien yang datang ke rumah sakit cukup ramai. Dengan sabar dan telaten Rega melayani mereka. Bahkan ia melewatkan jam makan siang. Diliriknya jam di pergelangan tangan, jam sudah menunjukkan pukul 14.15 menit.


Rega mengirim pesan pada Melati, bertanya apakah ia sudah makan. Melati menjawab sudah makan bersama Mbok di rumah. Rega juga menanyakan apakah hari ini kakak iparnya itu merasa mual. Melati mengatakan kalau semua baik-baik saja. Rega merasa lega, ia kembali memasukkan gawai ke laci meja dan melanjutkan melayani pasien yang sudah menunggu.


Wajah itu sedikit terkejut saat melihat pasien selanjutnya, gadis itu tidak asing. Siapa lagi kalau bukan Mawar. Langsung saja gadis itu duduk di hadapan Rega.


"Mbak Mawar, silakan sampaikan keluhannya!"


"Dok, saya tidak sakit."


"Lalu?"


"Emmm .... " Mawar menyapukan pandangan, takut kalau ada yang mendengar.


"Dok, apakah Mbak Melati sekarang tinggal di rumah dokter Rega?"


Cukup lama pria itu manatap gadis di depannya. Ia berpikir apa yang sedang dipikirkan oleh gadis itu.


"Ya." sahutnya singkat.


"Selama ini saya bersikap tidak baik sama Mbak Melati. Jadi, saya berpikir bagaimana kalau .... " Pria itu menunggu kata-kata selanjutnya. "Bagaimana kalau saya juga tinggal di rumah dokter untuk menemani Mbak Melati. Kan kasihan dia tidur sendiri."


Rega tertawa lebar, membuat Mawar kebingungan.


"Maaf kenapa Anda tertawa, Dok?"


"Hadehh Hadehh, hahahahaaha. Apa saya tidak salah mendengar Mbak Mawar?" Rega sampai menempelkan tangan dikeningnya sambil menggelengakan kepala.


"Tentu saja tidak, Dok. Apa yang lucu?"


Rega menghentikan tawanya. Ia langsung menatap Mawar tajam.


"Kebetulan saya sedang mencari seseorang untuk tinggal di rumah saya."


"Benarkah? Kalau begitu saya saja, Dok!" Mawar bicara dengan semangat 45 dan mata berbinar sempurna.


"Yakin Mbak Mawar mau?"


"Jelas saya mau. Kami dulu tinggal bersama, tidak masalah jika harus menemaninya."


"Masalahnya bukan hanya menemaninya."


"Lalu?"


"Menyiapkan semua kebutuhannya, menyediakan semua keinginannya. Jika mbok di rumah adalah Asisten Rumah Tangga. Maka yang saya cari adalah Asistennya Mbak Melati."

__ADS_1


Mawar terdiam, secara tidak langsung Rega mencari pembantu buat kakak nya itu.


"Gimana Mbak Mawar? Mau?"


__ADS_2