Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek

Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek
Bertemu Ibu Mertua


__ADS_3

"Hai, Revi. Anak manis." sapa Dewi.


"Halo, Kakak." sahutnya.


Kemudian anak itu berlari ke arah Bunga, melihat wanita yang pintar memasak itu memotong sayuran. Sedangan Melati dan Dewi mengobrol di meja makan berdua.


"Lo yakin, ngajak anak Kak Jelita tinggal satu rumah? ."


"Juwita, Dewi namanya buka Jelita."


"Setau gue namanya Jelita, karena dulu Kak Arjuna itu manggilnya selalu dengan sebutan Lita. Aku pun baru tau dari loe kemaren kalau ternyata nama aslinya itu Juwita."


Melati menarik napas panjang. Ada sedikit duri yang menusuk di hatinya mendengar panggilan sayang mereka dulu.


"Aku kasihan sama anak itu, Dewi. Kalau mau tidur, setelah aku bacain dongeng, dia suka cerita, kalau dulu dia itu sering di pukuli mamanya."


"Wahhh emang nggak waras itu wanita."


"Emang nggak waras, Dewi. Kalau waras, dia nggak akan masuk rumah sakit kejiwaan."


"Eh, iya gue lupa." Dewi menggaruk kepala yang tidak gatal sembari tersenyum samar. "Jadi nanti kalau maknya itu bocah sembuh, gimana? Apa loe rela ngebiarin anak yang sudah loe urus dan dengan tulus loe kasihi, begitu saja diambil sama maknya?"


"Itulah yang aku pikirin. Aku berat kalau mikir ke arah sana." Melati memperhatikan Revi membantu Bunga memotong sayuran.


Tiba-tiba ponselnya bergetar. Dengan segera Melati mengambilnya dari dalam tas. Terlihat nomor tidak dikenal.


"Ya, halo?"


"Mbak, saya Dokter Rega."


"Oh, iya Dok."


"Hari ini bisa ketemu Mama?"


"Ehhh, gimana, ya?" Melati melihat ke arah Dewi dan gadis itu juga sedang menatapnya. Melihat Melati menatap, Dewi memberi isyarat bertanya dengan mata dan alisnya. Melati hanya menggeleng dan menjauh. "Bisa, Dok. Saya dirumah Arjuna yang lama. Nanti saya ke sana kirimkan saja alamatnya."


"Mbak, kalau bisa ajak tante Dinda, ya. Mama pengen ketemu."


"Baik, Dok. Akan saya usahakan dulu."


Melati mematikan sambungan telepon.


"Eh, bentar ya. Aku mau nemuin tante Dinda." pamit wanita berhijab itu sambil berlari menuju kamar tante Dinda.


"Kenapa emang cari Mama?" Tanya Dewi sedikit berteriak karena Melati sudah berlalu.


"Ada perlu!" sahut Melati ikut berteriak.


Sampai dikamar tante Dinda, Melati langsung mengetuk pintu dan tante Dinda langsung mempersilakannya masuk. Perlahan Melati masuk dan menutup pintu kamar lalu mendekati tante Dinda yang sedang duduk di meja rias.


"Tante, ada yang ingin ketemu." Melati berbisik. Tante Dinda menoleh keheranan.


"Siapa?"

__ADS_1


Sekali lagi Melati berbisik dan itu berhasil membuat tante Dinda syok.


"Kamu serius? Mereka di Indonesia? Arjuna tau?"


"Serius, Arjuna tau Tante, tapi tetap saja dia nggak mau nemuin mereka."


"Ahh kasihan sekali saudaraku satu itu, dia sering menelpon tapi kenapa tidak bilang kalau ada di negara ini. Ya sudah ayo berangkat, tante tinggal ganti baju." Melati mengangguk.


***


Melati menitipkan Revi di rumah itu dan pergi bersama tante Dinda naik taksi online menuju alamat yang dikirimkan oleh Rega. Sampailah mereka di sana. Mereka turun di sebuah hunian minimalis tiga lantai berwarna abu-abu berpagar biru. Melati mengintip dari luar pagar dan menekan belnya. Tidak lama seorang pria berpakaian security datang.


"Cari siapa, Mbak?"


"Pak Dokter Rega Affandi nya, ada?"


"Oh, Mbak Melati, ya?"


"Iya, Pak."


Security itu tersenyum ramah, ia segera membuka pagarnya dan mempersilakan Melati beserta tante Dinda masuk ke rumah.


"Silakan, Mbak. Tuan Rega sudah titip pesan, kalau ada wanita cantik memakai hijab kesini minta dibukain pagarnya."


"Oh, heheh makasih, ya!"


"Sama-sama, Mbak." Kemudian Melati menggandeng tangan tante Dinda mengajak masuk ke halaman.


Udaranya sangat sejuk karena dibagian pinggir halaman terdapat pohon-pohon cemara yang berjajar rapi membentuk barisan. Sampailah mereka di teras rumah. Melati menekan bel rumah.


"Mel, tante kok deg-degan, ya! Udah lama nggak ketemu sama mereka soalnya." Tante Dinda menggenggam tangan Melati.


"Bismillah saja, tante ... " Melati menenangkan.


"Bismillah bismillah bismillah ... "


Kreakkk...


Pintu terbuka, terlihat Rega mengenakan training biru dengan kaus oblong putih membukakan pintu.


"Ya Allah, tante!" Rega tampak bahagia, langsung saja ia mencium punggung tangan sang Bibi dan memberi pelukan.


"Ya ampun kamu sudah besar sekali, Nak. Ganteng dan gagah!" ucap Tante Dinda penuh keharuan. Melati hanya mengatupkan kedua tangan di depan dada saat Dokter Rega menoleh ke arahnya.


"Mbak Melati, Terima kasih banyak!" katanya.


"Sama-sama, Dok."


"Mari-mari masuk, Tante, Mbak Melati."


Mereka masuk dan duduk di ruang tamu. Sedangkan dokter Rega berlalu. Tidak berapa lama Dokter Rega keluar mendorong sebuah kursi roda, dimana ada seorang wanita paruh baya yang duduk dikursi tersebut. Tante Dinda dan wanita itu saling bersitatap lama sampai air mata keduanya menganak sungai, keduanya pun tak dapat ber kata-kata.


"Dinda ... " lirih perempuan itu berucap.

__ADS_1


Dengan tatapan tidak percaya perlahan tante Dinda jalan mendekat, ia bersimpuh di depan wanita itu dan menangis sejadi-jadinya dengan kepala bersandar dipangkuan saudaranya.


"Kenapa bisa jadi seperti ini? Kenapa, Mbak huhuhu huhuhu." Keduanya saling memeluk dan menangis sesenggukan. Sesekali Melati menghapus air mata yang mengalir dipipinya. Sedangkan Rega hanya berdiri mematung disamping kursi roda.


Setelah tangis itu mereda, kini tatapan mata wanita itu tertuju pada Melati. Ia meminta Melati mendekat, perlahan menantunya itu mendekat dan duduk mensejajarkan diri dengan ibu mertua. Ia mencium tangan wanita itu dengan takzim, sedangkan wanita itu mencium puncak kepala Melati.


"MashaAllah menantuku." ucapnya lirih, lalu membelai lembut kepala Melati dengan penuh kasih.


"Ibu ...," ucap Melati dengan suara serak, sembari menyandarkan kepala di pangkuannya.


"Panggil saja Mama, seperti yang lainnya." kata ibu mertuanya lirih.


Melati mengangguk pelan dengan mata masih terpejam, air mata tak mampu lagi di bendungnya. Ia merasa menemukan sosok ibu yang tak pernah ditemukannya pada ibu yang selama ini merawatnya. Diam-diam Rega mengambil foto mereka, di saat kakak iparnya itu menyandarkan kepala kepangkuan sang Ibu dan Ibunya mencium puncak kepala Melati. Setelahnya laki-laki itu tersenyum.


Cukup lama Melati dan tante Dinda bertamu di rumah itu. Banyak cerita baru yang mereka ketahui dari cerita sang ibu mertua. Nyonya Hertini terlibat kecelakaan tunggal saat masih di Belanda. Sehingga menyebabkan kakinya lumpuh total. Baik Rega mau pun mamanya sering menelepon Arjuna, tapi pria itu enggan mengangkat.


Kadang kala Gilsa menelepon jika ada keperluan. Ia hanya bicara soal tante Dinda dan Dewi. Soal kesehatan mereka dan jatah bulanan yang diberikan Arjuna. Rega berencana memberitahu Arjuna soal Nyonya Hertini, mamanya. Tapi wanita itu melarang. Ia takut anak kesayangannya merasa bersedih jika tahu ibunya sekarang lumpuh dan tidak bisa berbuat apa-apa.


Dengan terpaksa laki-laki itu menuruti kemauan ibunya, meskipun hati kecilnya sangat ingin memberitahu kakaknya. tepat pukul 16.30 Melati dan Tante Dewi pamit pulang. Bu Hertini meminta menantu dan adiknya untuk sering-sering berkunjung, karena ia merasa kesepian jika Rega pergi bekerja dan hanya berdua dengan ART dirumah. Melati berjanji ia akan sering datang untuk menemuinya, dengan senyum bahagia Nyonya Hertini mengantar kepergian mereka dari depan teras rumah.


Hati wanita itu penuh dengan kebahagiaan. Lama ia mengidamkan bisa bertemu menantunya, akhirnya hari ini impian itu tercapai. Terlebih saat mengetahui ternyata menantunya adalah sosok wanita yang sangat baik.


***


Malamnya Melati sedang berbaring di kasur bersama Arjuna. Pria itu sedang sibuk dengan ponselnya sedangkan Melati bersandar manja di pangkuan suaminya.


"Mas."


"Emmm."


"Kira-kira kamu bisa marah nggak sama aku kalau aku melakukan hal yang nggak kamu suka." Melati bertanya. Ia tau serapat apa pun ia menyembunyikan pertemuannya dengan mama mertua suatu saat pasti ketauan juga.


"Kok nanya seperti itu?" Arjuna menghentikan kegiatannya pada ponsel. Ia meletakkan ponsel di atas nakas dan kini fokus pada Melati. "Mas percaya istri mas ini istri yang baik, istri yang berbakti, tidak akan macam-macam."


Melati diam saja, rasa bersalah menyeruak masuk dicelah-celah hatinya.


"Kok gadisku sekarang diem?" Arjuna mengangkat kepala Melati dan mendaratkan ribuan ciuman di sana.


"Nggak gadis lagi, nggak usah panggil seperti itu." Melati tersenyum malu.


"Bagi Mas kamu itu tetap gadisku, putri maluku dan semuanya ... "


Melati tersenyum, ia menarik kepala sang suami dan memberikan satu kecupan di hidungnya.


"Di sini," Arjuna menunjuk bibir. "nggak mau di sini!" Arjuna menunjuk hidung.


Melati hanya tersenyum, ia beringsut duduk dan mencium semua bagian wajah Arjuna yang membuat laki-laki itu tertawa bahagia.


"Kurang. Disini belum!" katanya menunjuk dada.


"Hahhh!"


Melati pura-pura pingsan.

__ADS_1


__ADS_2