Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek

Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek
Usaha Mawar Menemukan Melati


__ADS_3

Malam ini sekali lagi Arjuna bisa memberi alasan yang pas pada Mamanya. Bagaimana hari berikutnya.


'Ya Allah, tunjukkan dimana istriku beserta adikku berada?'


Arjuna melangkah menuju ranjang, lalu menghempaskan tubuh di sana. Pikiran dan hatinya sungguh merasa lelah. Tanpa sadar ia terlelap setelah berhari-hari tak mengistirahatkan mata.


***


"Jun, diminum kopinya," sapa Juwita pagi itu. Arjuna baru saja turun ke bawah. Mereka sedang duduk di kursi meja makan beramai-ramai. Arjuna diam saja saat perempuan itu meletakkan kopi di hadapannya.


"Jun, apa ada kabar terbaru dari soal Melati dan Rega?" tanya Tante Dinda tampak cemas.


"Kak, mungkin mereka tersesat dan tidak bisa pulang." tambah Dewi.


"Kasihan mereka, semoga cepat ditemukan," tambah Juwita sambil mengalihkan pandangan.


Mendengar semua bertanya soal Melati selera sarapan Arjuna menghilang. Ia begitu saja berdiri dan hendak pergi, tapi tangan kecil Revi menariknya hingga membuat langkahnya terhenti.


"Om ganteng, apa Revi punya salah sampe om ganteng nggak mau bicara sama Revi?" Arjuna menoleh kemudian tersenyum tipis saat tatapan nya beradu dengan anak itu.


"Om lagi banyak kerjaan, kamu main sama Mbak Bunga saja, ya!"


Revi diam saja, kemudian tersenyum samar saat Arjuna melepas tangannya. Arjuna kembali melangkah meningalkan semua orang yang terus menatapnya.


Di apartemen Mawar sedang bicara dengan Bapak dan Ibunya. Ia menceritakan bahwa Melati hilang bersama Rega. Tapi diluar dugaan, sang Ibu malah senang dan berdoa semoga Melati tidak selamat yang membuat Mawar dan Suaminya menatap tidak percaya.


"Sebenci itukah mau terhadap Melati, Bu?" tanya suaminya.


"Iya, kenapa? Bagus kalau dia nggak kembali lagi."

__ADS_1


"Bu, Mbak Melati itu orang baik, Bu. Selama ini kita yang salah. Dia selalu menunjukkan kalau dia itu syang sama aku. Tapi ibu selalu bilang kalau itu cuma topeng. Ibu salah, mbak Melati tulus sayang sama aku. Dia anggap aku bener-bener adeknya.".


"Kamu sudah terhipnotis sama topeng dan sandiwara nya. Tapi ibu tidak semudah itu!"


"Terserah! Pokoknya Mawar mau cari Mbak Melati."


"Bapak ikut ya, Nak!"


"Nggak usah, Pak. Bapak kan kurang sehat, tunggu di rumah aja, InshaAllah nanti mbak Melati aku temukan."


Akhirnya Pak Fikri pasrah karena ia memang tak akan sanggup berkeliling hutan mencari keberadaan anaknya itu. Keesokan harinya Mawar bahkan tak masuk kuliah untuk mencari kakaknya dan pria yang sangat di sukainya. Ia naik kendaraan umum menuju ke desa lalu memutuskan jalan kaki menuju ke tempat kejadian perkara. Untung Pak Gus menceritakan semua sehingga ia bisa mencari keberadaan Melati dan Rega.


Ada beberapa polisi di sana masih menyelidik. Mawar dia saja, ia hanya memperhatikan lalu sedikit bertanya soal perkembanganya. Saat salah satu polisi menceritakan soal gubuk di tengah sawah Mawar langsung menuju ke sana. Meski pun waktu hampir gelap ia tetap nekat memberanikan diri menyusuri persawahan.


Tepat pukul 21.30 malam Mawar mulai takut karena keadaan sawah gelap gulita dan batre ponselnya tinggal 20%. Gadis itu bersusah payah berjalan menyusuri jalanan sempit persawahan menuju ke sumber cahaya di sebuah desa. Entah akan kemana kakinya melangkah.


"Assalamu'alaikum."


Tok ... tok ... tok ....


Terdengar sahutan dari dalam rumah.


"Waalaikumsalam."


Kreakkk! Pintu terbuka, terlihat kepala seorang pria paruh baya tersembul keluar. Mawar tersenyum tipis sambil menunjukkan botol minumannya yang kosong.


"Boleh minta air putih, Pak?" tanyanya agak sungkan. Pria itu manatap cukup lama, memperhatikan penampilan gadis kota itu dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Oh iya, perkenalan nama saya Mawar, saya dari kota. Lagi mencari saudara yang hilang."


"Silakan masuk!" pinta Pria itu. Ia mempersilakan Mawar duduk dan mengambil botol minuman yang diberikannya. "Saya isi dulu air minum kamu." Mawar mengangguk. Tidak berapa lama keluar wanita paruh baya memakai kain dan atasnya kaus oblong berwarna merah. Rambutnya diikat asal. Ia duduk di samping Mawar.

__ADS_1


"Bu, perkenalkan saya Mawar." Gadis itu langsung menyalami wanita yang duduk di sampingnya.


"Iya, salam kenal ya, Nduk! Tadi sempet denger kamu cari saudara yang hilang. Kalau boleh tau kamu cari siapa? Trus ciri-cirinya gimana? Soalnya di desa sebelah ada orang baru."


Mawar langsung antusias mendengar kalimat si ibu. Lelah dan rasa hausnya hilang berganti semangat yang menggebu. Matanya berbinar penuh pengharapan dan wajahnya jadi berseri-seri.


Segera ia merogoh ponsel dan hendak menunjukkan foto Melati, sayang baru saja akan dibuka ponselnya sudah mati.


"Bu, bisa antar saya ke desa sebelah?" tanya Mawar menggenggam tangan Ibu itu.


"Jangan malam ini, Nduk. Besok saja, karena kita akan melewati hutan. Takut ada binatang buas. Kamu termasuk nekat berani datang ke sini malam-malam."


Semangat yang tadinya penuh jadi mengendur. Bahunya yang semula tegap, langsung turun ke bawah. Mawar mencoba tersenyum.


"Baiklah, Bu. Kalau begitu bolehkah saya menumpang menginap di sini?" Ibu itu mengangguk seraya tersenyum, yang membuat gadis itu lega. Tidak berapa lama pria paruh baya datang menyerahkan botol air minum yang sudah terisi penuh.


"Pak, gadis ini biar menginap di sini malam ini. Kasihan sudah larut."


"Oh iya, nggak apa-apa, Bu," sahut pria paruh baya itu. Setelah itu mereka menawarkan pada Mawar untuk makan. Kebetulan Mawar merasa sangat lapar. Setelah makan Mawar izin untuk mandi dan shalat. Lalu tidur di kamar tamu yang telah disediakan.


Karena lelah Mawar langsung terlelap. Dini hari pukul 03.00 pria paruh baya itu mengendap-endap masuk ke kamar Mawar. Ia menatap tubuh gadis itu yang terlelap. Paha putih mulusnya terlihat sangat nyata dan menggoda iman karena dan roknya sedikit tersingkap ke atas. Pria itu mendekat dan menelan ludahnya berkali-kali melihat pemandangan di depan matanya. Matanya melotot seperti akan keluar dari tempatnya. Lalu tangan hitam legam itu mulai menyentuh wajah, lengah dan turun ke pahanya.


Mawar mencoba membuka matanya saat merasa ada sesuatu yang menjalari tubuhnya. Matanya langsung membulat saat mendapati pria berawalan kurus itu sedang asik mengelus-elus kaki dan pahanya. Ia melonjak kaget dan reflek beringsut mundur ketakutan. Ranjang sempit yang terbuat dari bambu itu sampai ber kenyit mendapat perlakuan seperti itu.


"Astaghfirullah, Bapak ngapain masuk ke kamar ini?" tanyanya seraya menarik selimut dan menutupi tubuhnya.


"Tenang, kamu pasti lelah. Bapak cuma kasihan dan ingin memijat tubuhmu." kata pria itu menyeringai seram yang membuat Mawar bergidik ngeri. "Ayolah, sini biar lelahmu hilang," kata pria itu yang mulai merambat naik mendekati gadis itu.


"Pak! Hentikan, atau saya teriak!" ancam nya dengan wajah pucat pasi.

__ADS_1


__ADS_2