
"Di sini." Tuan menunjuk bibir. "nggak mau kalau di sini!" Kemudian ia menunjuk hidung.
Aku hanya tersenyum, lalu beringsut duduk dan mencium semua bagian wajah suamiku yang membuatnya tertawa karena bahagia.
"Kurang. Disini belum!" katanya menunjuk dada.
"Hahhh!" Aku pura-pura pingsan.
"Wah pingsan ini, musti diberi napas buatan!" katanya, baru saja wajahnya mendekat aku tertawa terpingkal sambil memegang perut. "Kenapa sudah bangun? Putri Snow white musti di kasih napas buatan dulu biar sadar."
"Nggak mau!" Aku beringsut duduk sambil menahan tawa.
"Pura-pura nggak mau, nanti kangen kalau aku keluar kota." ucapnya sambil menyadarkan punggung ke kepala ranjang. Senyumnya tipis dan ia tak mau menatap.
Deg! Jujur aku kaget mendengarnya. Apa Tuan Arjuna akan pergi meninggalkanku? Berapa lama?
"Mas, serius mau kerja ke luar kota?"
"Iya, barusan dapat email dari sana. Satu bulan, Sayang. Aku sudah tanda tangan kontrak dari jauh hari."
"Kapan berangkat, Mas?" tanyaku penasaran. Sementara rasa sesak sudah berjejal merasuk ke dalam dada.
"Besok."
"Secepat itu?" Ia mengangguk.
"Kamu ikut, ya!"
"Revi sekolah, Mas. Dan ... " Aku ingat janjiku untuk sering menemui mama dalam minggu ini. "Aku nggak bisa." Aku menggeleng dengan alis saling bertaut, sedih. "Mas, nggak bisa ditunda?" Aku merengek persis seperti anak kecil sambil memegang erat jemarinya.
"Sayang, nggak bisa. Udah tanda tangan kontrak. Ya udah gini aja, kita nikmati saja rindu yang akan datang. Kita beri kesempatan pada ruang yang ada didalam sini untuk merasakan siksanya menahan rindu." Ia menuntun tangan ini dan meletakkan telapak tanganku tepat di hatinya. "Sehingga saat kita bertemu nanti. Kita bisa menumpahkan segalanya di sini, di kamar kita ini." ucapnya lirih.
Aku bisa merasakan detak jantungnya. Sementara kami terus saling menatap.
"Mas, apa aku bisa, pasti aku kesepian?"
"Kita pasti bisa, satu bulan bukan waktu yang lama." ucapnya, sembari mengangkat jemariku lalu mengecupnya penuh penghayatan. Setelahnya kami berbaring bersama untuk mengucapkan salam perpisahan.
Malam itu mataku enggan terpejam, sementara Tuan sudah terdengar dengkurannya. Aku mendongak menatap dengan seksama wajah itu, kemudian menyandarkan kepala di dadanya. Aku gelisah, besok aku akan tidur sendirian.
__ADS_1
Wajah tampan itu terlihat sangat tenang, kuputuskan naik ke tubuhnya kemudian menelangkupkan badan diatasnya. Tuan terjaga, ia tersenyum, membelai lembut kepalaku dan memeluk erat tubuh kurusku diatasnya.
"Nanti kalau udah punya anak, trus badannya gemukan kamu nggak bisa lagi kayak gini. Mas bisa sesak napas." Godanya. Aku diam saja, masih memikirkan satu bulan tanpa dia.
"Mas jangan pergi." pintaku lirih. Tuan hanya menyunggingkan senyum tipis di wajah tampannya.
"Tidurlah, besok mau anter Revi sekolah, nanti kesiangan." Kemudian mengeratkan pelukan. Aku hanya bisa pasrah, memejamkan mata, merasakan hangatnya pelukannya dan mendoakan keselamatannya selama kami berjauhan.
***
Selesai shalat subuh aku terus saja memeluknya, aku sedih jika harus berpisah dengannya. Kami duduk di sisi ranjang, ia memangkuku sementara aku duduk miring sembari terus saja melingkarkan tangan di lehernya menghadap kebelakang sambil menyandarkan kepalaku dibahunya.
"Nggak jadi pergi kalau gini terus, Sayang ... "
Ia mendaratkan ciuman di punggung belakangku. Sementara aku diam saja, enggan melepaskannya.
Tok ... tok ... tok ....
"Mama Melati!" panggil Revi. Aku langsung berdiri dan merapikan baju, sementara Tuan Arjuna tersenyum.
"Dicari Revi tuh!" katanya tersenyum. Ia sudah bersiap dengan setelan kemeja berwarna biru dan jins berwarna hitam.
"Iya Sayang ... Tunggu bentar Mama lagi ngerapiin kamar, ya." balasku, dan terdengar anak itu berlari menjauh.
"Kutitip hati dan rinduku di sini." ucapnya lirih, aku hanya bisa menatap, pasrah akan kepergiannya. "Dan kembalikan saat aku pulang nanti."
"Mas, jangan lupa makan dan shalat. Itu saja." ucapku dengan suara serak. Tuan memeluk dan kembali mencium puncak kepala.
"Pasti! Mungkin aku bisa lupa makan, tapi aku tidak akan pernah lupa menjalankan kewajibanku sebagai seorang muslim. Dan satu lagi, aku tidak akan pernah bisa melupakanmu, walau hanya sedetik saja." Kalimatnya berhasil membuat bibirku tersenyum, dibarengi setetes air mata yang jatuh ke pipi.
Tuan menghapusnya kemudian mengecup hangat kelopak mata ini secara bergantian.
"Baik-baik dirumah, jangan pergi sendirian, ajak Pak Gus kalau ke mana-mana. Kalau bosan main ke rumah kita yang lama, ngobrol sama Bunga dan lainnya." Aku mengangguk tanda mengerti sambil menahan lelehan air mata.
Tuan memeluk sambil terus mengusap-usap pundak ini. Sepertinya dia tau suasana hatiku.
Dilepaskannya pelukan dan kami keluar kamar bergandengan. sebelumnya aku menyambar hijab instan berwarna hitam di balik pintu kamar dan memakainya.
"Mau ikut nganter ke bandara?" tanyanya setelah kami sudah sampai di depan pintu. Ternyata sudah ada Regi dan Gilsa yang menunggu di teras depan apartemen ini. Aku menggeleng, tak sanggup.
__ADS_1
"Ya sudah, Mas pergi dulu. Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam, Mas." sahutku terus menunduk, aku hanya takut sedih melihatnya pergi.
Gilsa dan Regi berdiri, mengiring Tuan dari belakang. Aku berani menatap saat mereka sudah berdiri di depan lift, jaraknya sekitar 50 meter dari tempatku berdiri. Tuan menoleh dan tersenyum.
Mereka masih menunggu lift terbuka. Kenapa rasanya begitu berat melepas kepergiannya?
"Mas!" teriakku.
Dan mereka bertiga menoleh, aku langsung berlari ke arahnya. Setelah dekat aku langsung menghambur memeluknya, Tuan balas memeluk sampai mengangkat tubuhku, lama kami berpelukan.
"Hanya satu bulan, aku berjanji akan pulang lebih cepat." bisiknya lirih ditelinga sembari menurunkan tubuhku.
Aku mengangguk, menggigit bibirku sendiri menahan beratnya perpisahan ini.
"Tuan, kita bisa terlambat." ucap Gilsa. Pintu lift telah terbuka.
"Oh, iya." sahutnya sambil melirik jam tangan. Ia mengusap wajahku lembut sebelum akhirnya melangkah memasuki lift.
Akhirnya mereka masuk kedalam sana. Sementara aku masih berdiri didepan lift, kami terus saling menatap sampai pintu lift itu tertutup sempurna.
"Mas, Hati-hati di jalan." ucapku seiring bayangan wajahnya memudar.
"Mama Melati!" teriak Revi.
Ia berdiri di depan pintu sudah masih mamakai piyama. Aku bahkan belum memandikannya. Cepat kuhapus air mata dan berjalan cepat kearahnya. Aku langsung memandikannya dan menyuapinya makan.
"Mama Melati menangis?" tanyanya ketika aku menyuapkan bubur ayam ke mulutnya.
"Tidak." Aku berkilah.
"Tapi dari tadi air matanya keluar mulu." ucapnya polos sambil menghapus air mataku dengan tangan mungilnya.
"Mama Melati lagi sedih, Sayang."
"Karena Om Ganteng pergi, ya?" Aku mengangguk. "Kan ada Revi yang temenin. Revi Sayang kok sama Mama Melati, sama seperti Om Ganteng menyayangi Mama." Aku tersenyum, menyentuh lembut pipi mulusnya dan menciumnya perlahan.
"Makasih, ya. Sudah sayang sama Mama Melati."
__ADS_1
"Sama-sama Mama Melati."
Kemudian aku memeluknya. Untung masih ada anak ini dirumah, sehingga aku tidak begitu merasakan kesepian.