Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek

Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek
Memperkenalkan Keluarga


__ADS_3

Rega menyalami semua orang, termasuk Mawar. Ia mengulurkan tangan sambil tersenyum.


"Hai, Saya Rega," katanya yang membuat Mawar semakin terpukau. Mawar diam saja, matanya tak berkedip menatap. "Maaf, saya Rega." Laki-laki itu kembali mengulang kata-katanya.


"Ohh, Iya. Saya Mawar," sahutnya sambil tersenyum, tapi mata tak lepas dari wajah Rega.


Rega hanya tersenyum melihat Mawar, ia kemudian duduk tepat di samping Arjuna.


"Akhirnya, MashaAllah ... hari ini datang juga," kata Bu Hertini sekali lagi mengungkapkan kebahagiaannya. "Bu namanya siapa tadi?" tanyanya pada Bu Jamila.


"Saya Jamila, Bu," sahut Bu Jamila.


"Seperti nama teman SD saya, hahaha." Kemudian mereka tertawa. "Tapi, Ngomong-ngomong saya seperti pernah melihat Bu Jamila, di mana ya?" Bu Hertini coba mengingat-ingat.


Reflek Arjuna dan Melati saling pandang, khawatir.


"Perasaan Mama aja kali," sanggah Rega.


"Bener, Nak. Di mana ya?"


Bu Jamila agak gugup, ia menoleh ke arah meja di mana Gilsa duduk. Sementara itu Gilsa berpikir keras, ikut berpikir di mana kira-kira mamanya Arjuna pernah melihat Bu Jamila. Seperti lampu yang sedang menyala di atas kepala, sepertinya ia tahu di mana Bu Hertini pernah melihat nya.


Bu Jamila pernah masuk berita saat ia tiba-tiba datang meminta pertolongan pada Arjuna saat itu. kebetulan waktu itu sedang ada konferensi pers, ia tiba-tiba datang dan memeluk kaki Arjuna, meminta tolong mengobatkan sang suami ke rumah sakit.


Gilsa berpikir keras bagaimana kalau dugaan itu benar adanya, apa yang harus dijawab oleh Bu Jamila. Gilsa sedikit menunduk dan menekan alat di telinganya.


"Bu Jamila, dengarkan baik-baik apa yang saya katakan." Lalu ia melirik ke arah Bu Jamila, wanita itu mengangguk, memberi isyarat mengerti. "Sepertinya mamanya Tuan Arjuna pernah melihat Ibu di TV saat Ibu menangis meminta pertolongan. Karena saat itu sedang ada konferensi pers. Jadi kita ubah rencana, jika ia bertanya katakan yang sejujurnya, karena Bu Hertini tidak suka orang yang suka berbohong." Bu Jamila mengangguk dengan mata tertuju pada Gilsa.


"Dimana, ya?" tanya Bu Hertini sekali lagi.


Semua orang saling pandang, khawatir.

__ADS_1


"Kayaknya di TV, tapi acara apa ya Jeng? Sebelumnya pernah main film kah?" tanya Bu Hertini.


Bu Jamila berkeringat mau menjawab pertanyaan Bu Hertini. Gilsa terus memberikan instruksi.


"Dulu, saat saya sedang mengalami kesulitan keuangan dan ayahnya Melati sakit alhamdulillah ada malaikat penolong, Jeng," kata Bu Jamila.


"Oh, ya? Bapak pernah sakit parah? Sakit apa?" tanya Bu Hertini dengan dahi mengerut.


"Iya, saya pernah di vonis MINGINITIS, Bu," sahut Pak Fikri.


"Innalillahi, lalu bagaimana, Pak?"


Melati mulai khawatir, takut ketahuan. Dibawah meja Arjuna menggengam erat jemarinya.


"Saat itu, saya sedang mengalami kesulitan keuangan. Hingga saya tau ada satu malaikat penolong di bumi ini. Dia, anak Anda, Bu. Arjuna."


Bu Hertini langsung menoleh ke arah anaknya dan Arjuna tersenyum.


"Ia membiayai semua pengobatan suami saya, ayahnya Melati sampai tuntas," tambah Bu Jamila.


"Waktu itu kami belum menikah, Ma. Cuma sudah kenal satu sama lain. Melati sempat tinggal di rumah untuk mengurus semua kebutuhanku, dan dari sana aku tahu dia gadis yang istimewa." Arjuna menoleh ke arah Melati dan tersenyum.


Acara dimulai, setelah melewati banyak rangkaian acara. Saatnya nama Arjuna dipanggil ke depan. Arjuna maju ke depan. Ia menyampaikan kata sambutan. Semua orang memperhatikannya dengan seksama.


"Assalamu'alaikum Warohmatulohi wabarakatuh semuanya. Terima kasih kepada semua tamu undangan yang sudah hadir. Saya berdiri di sini untuk memperkenalkan keluarga besar saya, karena Ibu dan Adik saya yang selama ini tak terendus media selama berada di LN, hari ini akan saya perkenalkan. Di sana, ada wanita yang duduk di kursi roda, wanita yang cantik jelita, dia adalah Ibu saya." Arjuna tersenyum, semua paparazi kembali mengambil gambarnya. Bu Hertini hanya tersenyum menatap sang anak.


"Di sana ada juga laki-laki tampan yang memakai jas hitam, namanya Rega, dia adik kandung saya. saat ini bekerja sebagai dokter spesialis THT di salah satu rumah sakit di Jakarta." Rega berdiri dan tersenyum ke arah paparazi, kemudian kembali duduk.


"Wawwww, Dokter spesialis." Mata Mawar berbinar menatap Rega. Hatinya di tumbuhi berbagai macam bunga.


"Ada juga Istri saya tercinta, beserta keluarganya. Melati kusuma, yang paling cantik di sana." Melati hanya tersenyum. "Itu adalah ayah dan Ibu mertua juga adik ipar saya yang baru datang dari bandung. Terima kasih sudah hadir." Bu Jamila, Pak Fikri dan Mawar menunjukkan senyumnya.

__ADS_1


"Ada yang bertanya seperti ini." Arjuna menoleh kebelakang dan membaca tulisan di dinding yang disorot cahaya, proyektor telah dinyalakan. "Apa yang membuat istri Anda yang biasa saja menjadi luar biasa di mata Anda?" Arjuna cukup lama diam, kemudian tersenyum dan menjawab. "Istri saya memang orang biasa, dia juga bukan dari kalangan jajaran artis dan konglomerat. Tapi, saya meyakini, dia mampu jadi istri yang baik untuk saya. Matanya selalu memancarkan cinta, sikapnya selalu selembut sutera, ia juga istri yang patuh dan pemaaf. Berapa kali saya mengecewakannya, tapi dia tetap berdiri di samping saya dan menggenggam erat tangan saya." Arjuna menatap Melati dalam.


Ribu tepuk tangan para tamu undangan yang hadir membuat pipi wanita itu merona.


"Bagi saya tidak ada yang lebih baik darinya. Melati Kusuma adalah wanita pertama dan yang terkahir dalam hidup saya. Terima kasih untuk semuanya istriku ... " Arjuna menatap melati dengan sayu. "Baiklah, cukup sampai di sini, selamat menikmati hidangan makan malamnya teman-teman sekalian, Wassalamualaikum warohmatulohi wabarokatuh." Riuh tepuk tangan kembali terdengar seiring langkah kaki Arjuna kembali ketempat, acara dilanjutkan dengan acara hiburan, di mana artis Ibu kota menghibur semua tamu undangan, bernyanyi di depan selama mereka menikmati hidangan makan malam.


"Kamu yang terbaik, Nak," ucap Bu Hertini saat Arjuna sudah kembali duduk di sampingnya.


Malam itu acara berjalan sesuai rencana, semua orang bisa bernapas lega, termasuk Gilsa dan Melati. Semua keluarga makan malam dengan hangat, mereka terlihat sangat akrab dan bahagia.


***


"Mikirkin apa sih?" tanya Arjuna pada Melati saat mereka sudah di apartemen. Wanitanya duduk di balkon, menatap ribuan bintang.


"Mas, aku lega. Akhirnya semua berjalan dengan baik." Arjuna yang tadinya berdiri kini duduk di samping istrinya.


"Aku sudah bilang, semua akan baik-baik saja. Kamu nggak percaya." Melati tersenyum.


"Ngomong-ngomong apa yang kamu sampaikan di sana tadi apa bener?"


"Yang mana Sayang?" tanya Arjuna sambil mencoba mengingat-ingat.


"Tuh kan lupa, males ah!" Arjuna tertawa sambil menggelengkan kepala.


"Oh, yang aku bilang kamu yang terbaik ya?" Melati mengangguk.


Arjuna melingkarkan tangan di bahu sang istri dan menyandarkan kepalanya di sana.


"Serius, aku nggak pernah bohong kalau soal kamu." Melati menoleh dan tersenyum.


"Kasih hadiah dong udah dibuat berbunga-bunga hatinya." Arjuna mengangkat kepala menunggu hadiah kecil dari istrinya sambil menatap.

__ADS_1


Wanita itu menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan.


"Hadiah apa?" Arjuna menunjuk pipi, Melati menciumnya, menunjuk kening, ia juga menciumnya dan yang terakhir menunjuk bibir.


__ADS_2