
Rega duduk disamping Melati. Pakaiannya lusuh dan berdebu juga basah kuyup. Ia beberapa kali memeriksa keadaan kakak iparnya itu. Di bawah guyuran hujan Rega menggendong tubuh Melati yang pingsan. Mobil mereka jatuh ke semak belukar, yang jauh dari jalanan. Saat Rega terbangun mobil sudah dalam keadaan mati dan penuh asap. Cepat-cepat ia mengeluarkan Melati dari sana. Entah di mana posisi mereka saat itu. Ponsel pun tak tau ada di mana. Rega membawa Melati ke sebuah pondok kayu di tengah sawah yang atapnya terbuat dari pohon padi yang mengering. Bibir wanita itu sudah membiru, pakaian pun basah semua.
Didekat mereka ada tumpukan damen bekas para petani memanen sawahnya. Ada juga baju berlengan panjang yang tergantung, yang biasa di pakai ani-ani untuk memanen padi. Rega memikirkan bagaimana mengganti pakaian Melati dengan baju itu, karena jika dibiarkan seperti ini, Melati bisa sakit. Rega mengulurkan tangan memegang tangan Melati. Dingin seperti es, terlebih udara malam semakin mencekam dan dingin semakin menusuk kulit.
Ragu, laki-laki itu mulai membuka kancing baju bagian atas milik Melati. Ia memejamkan mata, memberanikan diri mengganti baju wanita yang sangat disukainya itu. Tangannya kembali bergerak membuka kancing baju nomor dua milik Melati. Tapi perlahan tangan Melati terangkat dan memegang tangannya.
"Dokter, jangan ... " pintanya dengan sisa tenaga yang ada. Mata itu sedikit terbuka.
"Mbak, kalau baju mbak nggak diganti, Mbak bisa sakit." Rega berusaha memberikan pengertian.
"Saya takut, Dok. Takut nanti terjadi ke salah fahaman." Lemah Melati mencoba berbicara.
"Mbak, pikirkan keselamatan bayi dalam kandungan Mbak. Di luar hujan lebat. Kita tidak bisa ke mana-mana. Kalau Mbak bertahan dengan pakaian basah seperti ini. Bisa-bisa Mbak sakit dan akan berpengaruh pada janin." Melati mencoba duduk, tapi kembali jatuh terbaring. Tenaganya telah habis.
"Dok ... " Melati tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Ia kembali pingsan.
Melihat Melati kembali pingsan membuat Rega tak bisa menunda lagi untuk mengganti bajunya. Rega segera bangkit dan mengambil baju yang tergantung di sana. Kemudian kembali mendekati Melati yang terbaring lemah. Ia memberanikan diri membuka hijab kakak iparnya terlebih dahulu. Kemudian perlahan membuka kancing baju itu satu persatu.
"Bismillah," katanya sambil memejamkan mata. Selesai mengganti baju Melati, ia kembali memboyong tubuh Melati ke damen-damen kering yang bertumpuk rapi. Ia juga mengganti bajunya terlebih dahulu. Lalu duduk dibelakang tubuh kakak iparnya untuk memeluk, Rega hanya mencoba memberi kehangatan pada wanita itu.
"Mbak bertahanlah ... " bisiknya dengan wajah penuh kekhawatiran. Ia mengambil telapak tangan Melati dan menggenggamnya dengan erat. Kemudian meniupnya beberapa kali. "Bertahan, Mbak," katanya sekali lagi.
***
Paginya Rega menggendong tubuh Melati di belakang seperti tas ransel. Ia berjalan melewati sawah, menuju perumahan warga. Beberapa kali ia hampir terpeleset dan jatuh ke dalam sawah. Apalagi perutnya sangat terasa lapar. Sementara Melati masih tak sadarkan diri. Rega sangat khawatir dengan keadaan kakak iparnya itu. Akhirnya setelah beberapa jam, Rega berhasil sampai di rumah warga. Tempat ini terpencil, jauh dari kota. Beruntung mereka semua adalah orang yang baik dan dengan tangan terbuka mau menerima.
"Cah bagus kamu dari mana?" tanya seorang Ibu yang mau menerima Rega dan Melati di rumahnya.
"Kami dari kota, Bu. Mobil saya hampir menabrak Bus dan saya banting stir ke kanan, lalu mobil saya meluncur masuk ke dalam semak-semak. Entah berapa kali saya banting stir menghindari pepohonan. Mobil saya masuk ke semak-semak yang curam, Bu. Setelah itu saya tidak ingat lagi."
__ADS_1
"Ya ampun kasihane. Tapi kalian kenapa pake baju seperti ini?"
"Saat saya sadar, mobil saya sudah berada di tengah hutan. Sudah dalam keadaan mati dan berasap. Ketika itu hujan lebat. Saya membawa mbak saya keluar dari mobil dan menemukan sebuah pondok di tengah sawah. Karena baju kami basah, dan saya khawatir kami akan sakit maka kami ganti baju di sana." Ibu itu mendengarkan penjelasan Rega dengan seksama.
"Itu siapa?" Menunjuk Melati yang terbaring di atas ranjang bambu.
"Itu kakak ipar saya, Bu. Kasihan, dia sedang hamil lima bulan." Melati sedang di kompres air hangat dengan anak ibu itu, setelah mengompres gadis remaja itu kembali ke dapur.
"Ya ampun kasihannya," ucapnya sambil memandang ke arah Melati penuh iba. Setelahnya Ibu itu sedikit berteriak untuk memanggil anaknya. "Nduk! Teh angetnya mana ini? Kasihan cah bagus ini pasti kelaparan dari kemaren belum makan!"
"Njeh, Bu!" sahut anaknya dari belakang.
Tidak berapa lama keluar gadis remaja itu dari dapur. Ia berumur sekitar tiga belas tahunan, membawa secangkir teh hangat dan Ubi kukus hangat.
"Silakan diminum, cah bagus." Ibu itu menawarkan.
"Maksih, Bu." Rega memakan Ubi itu dengan cepat, ia merasa sangat lapar. Ibu itu hanya tersenyum melihatnya.
"Silakan istirahat dulu, ya! Ibu mau ke kebun deket sini dulu untuk mengambil daun ubi bakal sayur makan kita siang dan malam ini."
"Maaf, Bu merepotkan." Rega merasa tidak enak.
"Ndak apa-apa, jangan sungkan. Sesama manusia kan wajib tolong menolong." Kemudian ibu itu berlalu. Setelah ibu itu berlalu Rega mendekati Melati sambil membawa teh hangat dan Ubi.
"Mbak! Mbak!" Ia menepuk-nepuk pipinya. "Mbak buka mulutnya, ya aku suapin teh hangat sama Ubi."
Melati mendengar suara Rega tapi berat membuka mata. Ia hanya mengangguk lemah, lalu perlahan membuka mulutnya. Rega duduk di sisi ranjang dan mulai menyuapkan teh itu sedikit demi sedikit ke dalam mulut Melati.
"Mbak harus minum dan makan, supaya tenaga mbak kembali pulih dan kita bisa pulang." Melati mengangguk lemah.
__ADS_1
***
Brakk!!
Arjuna mendobrak meja dengan keras. Otot-otot lehernya terlihat keluar. Mukanya memerah. Ia marah karena Melati dan Rega tak kunjung di temukan.
"Gilsa, kalau sampai kau tak bisa menemukan mereka kau kupecat!"
"Baik, Tuan."
"Cepat, pergi dari sini dan bekerja dengan baik!" teriaknya marah.
Gilsa hanya menunduk, kemudian berlalu. Ponselnya terus berdering panggilan dari sang Mama. Ia terus berbohong mengatakan kalau Rega ada bersamanya dan semua baik-baik saja.
"Iya, Ma." sahutnya sambil berusaha meredam kegelisahan di dalam dada.
"Nak, kenapa Rega nggak di suruh pulang dulu ke rumah? Sudah dari kemaren loh."
"Ma, Rega kan adik Arjuna juga. Aku lagi mau sama dia, ada yang harus aku bicarakan sama dia."
"Soal apa sih?" tanya sang Mama penasaran.
"Soal jodoh." Arjuna berusaha tertawa.
"Ahahaha, benarkah? Ya sudah, tolong pilihkan jodoh yang baik buat Rega. Kalau bisa yang seperti Melati, ya!"
"Mama bisa aja. Ya sudah Juna tutup dulu ya, Ma. Ponsel Rega lagi rusak, jadi nggak bisa dihubungin."
"Pantesan, Mama telpon nggak nyambung-nyambung. Ya sudah Assalamu'alaikum. "
__ADS_1
"Waalaikumsalam." Panggilan tertutup. Arjuna meremas kepalanya dengan keras. Ia bingung harus mencari mereka ke mana lagi. Semua sudah dilakukan, lapor polisi dan meminta bantuan banyak orang.
"Akhh! Kemana kamu sayang?" pekiknya lirih sambil meremas kepala semakin kuat.