Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek

Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek
Malam Pertama (Pov Melati)


__ADS_3

💗💗💗💗


Jatuh cinta, sepertinya itu yang sedang kurasakan. Berbagai macam jenis bunga sedang tumbuh subur di hatiku. Terlebih Tuan Arjuna sangat sering menyiraminya dengan sikap manisnya, baik di chat atau pun di dunia nyata.


"Langsung pulang, Mbak?" tanya Dokter Rega.


"Iya, Dok." sahutku singkat setelah aku sudah membeli semua kebutuhanku. Dari lingerie, parfum, sabun cair yang wangi dan lain sebagainya. Semua dibayarin sama Dokter Rega.


Diperjalanan Dokter Rega memutar lagu shalawat, adem dan menyejukkan hati. Sesekali bibirnya menyenandungkan syair, dan suaranya menurutku bagus. Mungkin jika suatu saat ia pensiun dari gelar kedokterannya ia bisa beralih menjadi penyanyi.


"Kearah mana ini, Mbak?" tanyanya saat kami sampai di persimpangan.


"Belok kanan, Dok."


"Oke."


Akhirnya sampailah kami di tempat tujuan, Dokter Rega menawarkan bantuan untuk membawakan belanjaanku, tapi aku menolak. Sebentar lagi pasti Tuan Arjuna pulang, aku tak mau dia marah hanya karena ini. Langsung saja kuucapkan terima kasih dan memintanya langsung pulang.


***


Benar saja, tidak lama dari kepulanganku, Tuan Arjuna dan Revi pulang. Aku menyambutnya dengan hangat, setelahnya kami shalat berjamaah. Aku sempat sedih mendengar anak kecil itu berdoa. Begitu besar kerinduannya pada sang Ibunda. Meski pun ibunya ternyata sering marah-marah dan memukulnya.


Aku baru saja selesai membacakan dongeng untuknya, ia sudah terlelap. Kucium keningnya dan menyelimuti tubuh kecilnya. Setelahnya memeriksa pakaian yang sudah kubeli tadi. Aku duduk di sofa dan membolak-balik lingerie berwarna merah hati.


Bentuknya sungguh aneh sekali, baju kurang bahan seperti ini kenapa harganya mahal sekali?


Aku berdiri mengganti pakaian dengan baju aneh ini. Rambut kugelung ke atas, lalu menabur bedak tipis pada wajah. Lipgloss berwarna merah muda jadi pilihan. Terakhir, aku menyemprotkan parfum dengan wangi lembut disekitar leher dan punggung. Lama kutatap wajah dan tubuhku di cermin. Aku meyakinkan diri sendiri kalau aku memang benar-benar siap malam ini, Apakah Tuan Arjuna juga telah bersiap? Kan dia yang lebih dulu mengatakan akan bersiap-siap.


Aku mengambil jubah mandi berwarna putih di balik pintu kamar. Rasanya malu kalau langsung memakai pakaian seperti ini menemuinya. Apakah ia sudah menunggu di kamarnya?


Kreakkk!


Aku membuka pintu kamar, tapi langsung kaget bukan kepalang saat tahu ternyata Tuan Arjuna sedang menungguku di depan TV. Ia menoleh dan tersenyum, niat awal ingin mendekat, tapi kaki ini malah belok ke kanan untuk ke kamar mandi. Sampai di dalam kamar mandi, aku gelisah.


'Apa aku harus mendekatinya lebih dulu? Eh harusnya Tuan bisa ke kamarku lebih dulu, tapi kenapa ia tidak melakukannya. Apa karena ada Revi. Benar! Ia tak mungkin ke kamar karena ada anak kecil. Oke, aku yang akan menemuinya.'


Aku memutuskan keluar. Sialnya kakiku yang seharusnya melangkah mendekatinya, malah berbelok masuk ke kamar.


Sampai di kamar aku bingung lagi, harus pake alasan apa untuk menemuinya. Baiklah Melati, kamu harus berani. Bukankah kalian sudah sama-sama bersiap malam ini?


'Huff!! Bismillah .... '


Aku keluar lagi, dan sama seperti tadi, aku tak kuasa mendekatinya. Akhirnya kembali berakhir masuk ke kamar mandi. Sampai di kamar mandi aku uring-uringan. Kenapa sulit sekali mendekatinya. Hingga sampai lima kali hal bodoh ini kulakukan. Baiklah aku akan keluar dan menemuinya atau tidur saja.


Klek!


Pintu terbuka, mukaku berubah pias saat melihat ia sudah berdiri miring bersandar pada dinding dengan tangan melipat di dada, memperhatikanku.


"Kenapa? Kamu sakit perut dari tadi bolak-balik kamar mandi?" tanyanya.


Kenapa ia datang secara tiba-tiba. Harusnya kan aku yang menemuinya.


"Ehhh, anu Tuan." Aku sangat gugup.


'Ya Allah kenapa lidahku kelu? Bicara Melati, Bicara!!


"Kenapa?" tanyanya sekali lagi.


"Ehhh."


'Bicara Melati, bicara!'

__ADS_1


"Katakan." pintanya.


Aku diam saja, menggaruk kepala sambil mencari kata-kata yang pas untuk disampaikan.


"Kamu abis makan apa? kita ke dokter, ya!"


"Oh, tidak Tuan! Saya tidak sakit!"


"Lalu?" Aku menggigit bibirku sendiri, berpikir.


"Melati, katakan, kamu kenapa?" tanyanya. Mungkin karena aku tak kunjung memberi penjelasan.


"Soal, pembicaraan kita 10 hari yang lalu .... "


"Iya? Lalu?"


'Ahhhh, bagaimana ini?'


"Ehhh, Ini Soal .... "


"Soal apa Melati cepat katakan." Cuaca dingin seperti ini, tapi Tuan Arjuna berkeringat. Apa dia sakit? Baiklah aku akan bicara.


"Tuan, waktu itu kan kita bicara di meja makan. Jadi Anda bicara akan bersiap-siap, Kalau .... "


"Ya, kalau? kalau Apa?"


"Haduh! Bagaimana cara ngomongnya." Aku bingung dan sangat gugup.


"Ngomong saja, ayo ngomong. Bagaimana aku mengerti maksudmu kalau kamu tidak bicara!" Ia mengelap peluh yang sudah membanjiri dahinya.


'Bagaimana ini, kenapa Tuan Arjuna tak kunjung mengerti? Padahal dia sendiri yang bilang akan bersiap-siap. Ayo Melati, buat dia mengerti!'


Aku menelan salivaku beberapa kali, kemudian berusaha bicara lagi.


Tuan masih bersandar di dinding dengan mata menatapku tajam, dan itu membuatku semakin gemetar. Baiklah aku tidur saja, mungkin dia lupa.


"Tuan, kalau begitu saya tidur dulu, sepertinya saya salah mengerti maksud Anda." Aku hendak pergi tapi ia langsung mencengkram pergelangan tanganku.


"Bisa ikut aku ke kamar?" tanyanya dengan sorot mata menghujam.


Ia begitu saja mengajakku ke kamarnya dengan mengamit jemari ini. Sampai di kamar Tuan Arjuna menutup pintu kamar dan menguncinya. Jantungku berdetak sangat cepat, bagaimana ini? Aku masih berdiri kikuk di dekat lampu di atas nakas. Tuan Arjuna duduk di sisi ranjang tepat di hadapanku. Ia tersenyum dan menepuk bagian kosong di sisinya, meminta aku duduk di sana. Aku menurut, perlahan aku mendekat dan duduk di sampingnya.


"Aku hampir lupa, jika kamu tak mengingatkan." bisiknya lirih tepat di dekat telinga.


Ternyata dia benar-benar lupa.


"Kamu sudah siap?" tanyanya sambil menggeser tubuh lebih mendekat ke arahku. Jujur saja, suasana hatiku tak karuan.


"InshaAllah, Tuan." lirih bibir ini berucap.


Ia tersenyum, dituntunnya daguku dengan ujung jarinya supaya menatap wajahnya. Tuan mengecup bibir ini hangat, kemudian ******* pelan. Setelahnya Tuan kembali menarik wajahnya hanya untuk menatap wajahku yang sudah kemerahan lebih mendalam.


"Kamu, yakin?" bisiknya kembali di dekat telinga.


Aku menarik napas, dan mengangguk perlahan dengan mata masih memejam. Tuan Arjuna menuntunku berdiri, kemudian melepas tali pengikat pada jubah ini. Terlihatlah semua lekuk tubuh ini tatkala jubah itu luruh ke lantai karena pakaian kurang bahan yang aku kenakan. Sungguh aku merasa malu. Aku menutup wajahku dengan kedua tangan. Tuan Arjuna mengusap kepalaku, kemudian meletakkannya di sana. Terdengar ia mengucapkan bismillah dan berdoa. Setelahnya ia membuka tanganku yang menutupi wajah.


"Cantik." katanya sembari tersenyum.


Selanjutnya aku terpekik kecil saat ia membopong tubuh dan menghempaskanku di ranjang. Aku ibarat bunga yang sedang mekar, dan Tuan adalah kumbangnya. Untuk pertama kalinya kami melakukan hubungan yang menjadi ladang pahala bagi dua insan yang telah halal. Kami mereguk manisnya surga dunia bagi pasangan suami istri. Tuan begitu lembut memperlakukanku, sesekali ia mengecup hangat kening ini di tengah aktifitas kami.


Tidak lupa kata-kata romantis dan menenangkan membuat aku tetap merasa nyaman meskipun hatiku was-was. Tidak ada aku ataupun dia, yang ada hanya kami. Kami menyatu dalam satu selimut, satu napas dan satu cinta. Peluh memenuhi tubuh tatkala ia merengkuhku untuk kesekian kalinya dan ambruk di sampingku saat ia telah mencapai puncaknya. Kekasihku menoleh dengan senyum dan tatapan penuh cinta, ia menarik tubuhku dan mendekap erat.

__ADS_1


Sementara aku? Aku masih merasa malu, kutarik selimut sampai menutupi wajah dan menggeser tubuh agak menjauh.


"Tuan berhenti melihatku seperti itu!" rengekku karena ia terus saja tersenyum. Sungguh aku malu, ia sudah melihat semuanya.


"Sama suami sendiri kok begitu?"


"Abisnya Tuan melihatku juga seperti itu."


"Aku suamimu sendiri Sayang. Mulai sekarang jangan panggil Tuan ah, nggak mesra!" pintanya menarik tubuhku untuk kembali di dekap.


"Jadi maunya di panggil siapa?"


"Sayang lah .... "


"Nggak enak. Mas aja, ya! Atau aak."


"Ia tapi buka dulu wajahnya, masak aku ngomong sama selimut."


Perlahan aku membuka selimut yang menutupi wajah. Tuan Arjuna tersenyum, ia mengecup keningku hangat.


"Mas Arjuna." bisikku dan ia tertawa. "Kenapa nggak suka?" Aku cemberut.


"Apa, ya? Aku pikir kok kayak Mas Mas yang jualan gorengan di panggil dengan sebutan seperti itu. Mas, minta gorengannya 10 ribu! Tuh kan mirip Mas Mas penjual gorengan." Ia mencubit hidungku gemas.


"Kata siapa? Itukan hasil pemikiran Tuan sendiri. Mas itu panggilan bahasa Jawa paling mesra menurutku."


"Ya udah deh, nggak apa-apa panggil, Mas."


"Aku panggil kamu Yank aja, ya! Singkatan dari kata sayang."


"Emmm boleh juga! Mas ganteng, aku mau mandi dulu, ya!"


"Nanti aja, masih pengen peluk!" ia malah memeluk erat.


"Aku risih, keringet semua."


"Jangan lama-lama, ya!"


"Oke Mas gantengku!" Aku mencubit kedua pipinya.


Aku turun sembari menarik selimut karena malu tak memakai sehelai benang pun. Sementara Tuan Arjuna menggodaku, ia tak mau melepas selimutnya.


"Mas lepasin selimutnya." Ia tertawa.


"Kenapa sih musti malu. Aku udah lihat semuanya."


"Tetap aja, malu! Ih Mas lepas selimutnya!"


"Nggak mau!" Ia semakin tertawa.


"Abis mandi aku mau tidur sama Revi aja kalau gitu." Aku mengancam dengan muka jutek.


"Ye, udah berani gitu sekarang, ya! Iya deh, tapi abis mandi tidur di sini lagi." Ia menepuk bagian kosong di sampingnya. Aku mengangguk cepat seraya tersenyum.


"Dilepasin nih, tapi janji, ya!"


"Iya, Mas ...."


Akhirnya ia melepaskan selimutnya dan aku melilitkannya ke semua tubuh menuju kamar mandi.


Setelah mandi dan berganti pakaian aku kembali ke kamar Tuan Arjuna. Ternyata ia sudah terlelap, aku mengulum senyum mengingat aktifitas barusan. Tak pernah menyangka pernikahan ini akan menjadi pernikahan yang indah.

__ADS_1


Aku mendekatinya dan menatap wajahnya dengan seksama. Wajah pria yang begitu banyak di gilai para wanita. Bahkan wanita paripurna seperti Kak Juwita, tapi nyatanya ia malah memilihku, wanita biasa saja yang sangat banyak kekurangan. Sungguh beruntung diri ini ya Allah. Untuk pertama kalinya aku mencium kedua pipinya, kening, hidung dan bibir tipisnya, kemudian berbaring di samping dan memeluknya erat. Dia kekasih halalku, dia lelakiku, dan dia adalah cinta pertama dan terakhirku.


__ADS_2