Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek

Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek
Kebenaran Terkuak (Pov Arjuna)


__ADS_3

Beduk subuh berkumandang, aku bahkan tak bisa tidur semalaman. Aku beringsut duduk dan mengambil wudhu, setelahnya shalat subuh sendirian. Usai shalat aku berdo'a, memohon petunjuk pada Sang Pemilik Semesta.


'Ya Allah, beri petunjuk pada saya. Sebenarnya apa yang terjadi dengan istri saya, kenapa ia tak mau bicara walau hanya sedikit saja. Maafkan saya karena telah menyakiti hatinya. Sunggu saya tak pernah bisa mengontrol emosi saya jika kecemburuan sudah merasuk dalam hati ini. Sekali lagi ampuni saya, yang telah menzolimi istri saya sendiri.' Kuusapkan tangan pada wajah dan termenung sesaat.


Tiba-tiba, aku ingin menemuinya. Akan kutanyakan baik-baik padanya. Tanpa emosi dan amarah. Aku beranjak dan melipat sajadah, masih mengenakan sarung, baju koko dan peci aku mengetuk pintunya.


Tok ... Tok ... Tok ....


"Melati." Aku akan meminta maaf atas kejadian tadi, aku sudah terlalu keras padanya. "Melati!" suara agak keras. Tapi, mengapa sepi?


Aku terus mencoba mengetuknya kembali, tapi masih saja tak ada jawaban. Kucoba memutar gagang pintunya dan berhasil terbuka.


"Mel ... a ... ti .... " Kamar ini kosong.


Kemana dia? Bergegas aku masuk dan mencarinya, kemudian keluar kamar dan memeriksa setiap sudut ruangan, nihil. Kemana dia? Apa dia pergi meninggalkanku?


'Astaghfirullahalazim ... ' Aku duduk di sofa, di kamarnya. Lalu menelpon Gilsa. Sialnya ia lama mengangkat teleponnya.


"Halo, Tuan." Suara diseberang sana. Terdengar sepertinya ia baru saja terjaga dari tidurnya.


"Melati pergi dari rumah! Cepat suruh orang mencarinya di setiap sudut kota! Sekarang!"


"Tapi, Tuan. Mengapa Nyonya bisa kabur dari rumah?"


"Ceritanya panjang, cepat cari dia!"


"Ba ... baik, Tuan." Ponsel dimatikan.


Argghhh!!! Aku meremas kepala, kemudian memijatnya. Semalaman aku tak bisa memejamkan mata. Bagaimana kalau ia tersesat, bagaimana kalau ia di dekati orang jahat. Aku berusaha menelponnya. Suara ponsel bergetar di nakas, aku menoleh ke arah nakas. Ia meninggalkan ponselnya.


Argghhh!!! Makin pusing aku dibuatnya.


Aku beranjak dan mengambil ponselnya, ternyata ia juga meninggalkan kartu kredit yang kuberikan di sana.


"Astaghfirullah, mengapa harus meninggalkan semua ini?" tanyaku kesal.


Aku berjalan kearah sofa, dan mencari petunjuk pada ponselnya. Kubuka semua chat yang ada. Terlihat nama Rega di sana. Setelah lama diam akhirnya aku memutuskan membukanya.


Hari senin tanggal 6 Des


[Assalamu'alaikum, Mbak. Kata Mama hari ini kalau bisa datang ke sini. Mama mau mengajak masak bersama.]


Mama? Jadi selama ini Melati sering menemuinya? Aku lanjut membaca pesannya.


Hari Rabu tanggal 8 Des

__ADS_1


[Mbak, kata Mama dia sangat bahagia hari ini. Mbak menceritakan banyak hal tentang Kak Arjuna hari ini. Mama merasa dekat dengannya meski pun berjauhan.]


Mataku memanas, aku berusaha mengatur gejolak di dalam dada. Tiba-tiba kerinduan pada mama hadir menyapa. Melati, jadi selama ini?


Hari Jum'at tanggal 10 Des


[Mbak, Mama sangat berterima kasih karena Mbak tidak memberitahu semuanya pada Kak Arjuna, lukisan itu sengaja aku buat untuk kenang-kenangan. Lukisan dua wanita hebat, Mama dan Mbak.]


Lukisan? Dimana melati menyimpan lukisannya? Lukisan seperti apa? Kenapa aku belum melihatnya? Aku meletakkan ponsel dan mencari lukisan, di dalam lemari pakaian, di balik TV, di balik sofa dan di semua tempat, tapi tidak ada. Dan ketika tanpa sengaja kakiku menginjak sesuatu di bawah ranjang. Aku berjongkok, kemudian mengambilnya, kutegakkan lukisan itu bersandar pada meja sofa.


Terlihatlah, seorang wanita memakai kerudung, duduk bersimpuh dan mencium tangan seorang wanita yang duduk di kursi roda dengan takzim, dan wanita yang duduk di kursi itu mencium kepalanya. Hatiku serasa berhenti berdetak, apakah, apakah wanita yang duduk dikursi roda itu adalah ... Mama? Lalu mengapa dia memakai kursi roda?


Cepat aku mengambil ponsel itu lagi dan mencari tau semuanya.


Hari Minggu tanggal 12 Des


[Mbak, kata Mama sekali lagi. Tolong jangan pernah beri tahu Kak Arjuna mengenai keadaan Mama yang lumpuh. Mama takut Kak Arjuna khawatir.]


Jantungku serasa berhenti berdetak, ponsel Melati jatuh begitu saja. Aku terdiam cukup lama, memikirkan, Mama. Tenggorokanku rasanya semakin sakit menyiksa, dadaku terasa penuh dan sesak, sedangkan mataku sudah dipenuhi kilatan kaca.


"Mama ... lumpuh?"


Aku menghembuskan napas berat, mataku terpejam dan air mata jatuh beriringan. Ingat kata-kata pedas yang kulontarkan pada Melati semalam. Wajar saja ia tetap diam, wajar saja ia tak mau bicara. Wanitaku, tidak bersalah ...


"Astaghfirullah," aku beristigfar. Terseok-seok aku mendekati lukisan. Kuraba wajah dua wanita yang paling berarti dalam hidupku di lukisan itu.


'Bodoh! Bodoh! Bodoh!'


Tanpa pikir panjang aku langsung berdiri dan mencari kunci mobil. Akan kucari kemana pun wanitaku pergi.


***


Aku sudah mencari ke setiap sudut kota, tapi mengapa tak kutemukan. Setiap orang yang kutemui kutunjukkan fotonya dan ciri-ciri nya, tapi tetap saja mereka tak melihat.


'Kemana kamu, Sayang?'


Aku menelpon Gilsa beberapa kali kutanyakan kemajuan mencari Melati. Tetap saja, nihil.


'Sayaang, kumohon kembali. Maafkan pria bodoh sepertiku yang meragukan kesetiaanmu. Bahkan kau tetap perduli padaku meski pun aku marah-marah padamu. Menuduhmu yang bukan-bukan.'


Jam sudah menunjukkan pukul 12.00 siang. Sungguh aku lelah, aku tidak tidur semalaman, dan bahkan perutku belum terisi apa-apa. Kutepikan mobil di halaman masjid dan memutuskan beristirahat serta shalat dulu di sana.


Dalam do'a aku meminta perlindungan untuk Melati dan juga Revi. Juga memohon ampunan yang sebesar-besarnya karena selama ini sudah mengabaikan Mama. Aku menangis tersedu menyadari kesalahan ini.


'Tolong ya Allah, pertemukan aku dan istriku. Sungguh ia wanita yang solehah, wanita yang baik. Tak ada wanita lainnya yang lebih baik dari istriku. Dia tetap dingin meskipun aku panas, dia tetap perduli meski pun aku mengacuhkannya. Kumohon ya Allah, hanya padamu aku menyembah dan hanya padamulah aku memohon pertolongan. Aminn,'

__ADS_1


Kuhapus air mata dan merebahkan tubuh dimesjid ini. Lima belas menit aku berbaring di Majid, menenangkan pikiranku yang kacau. Kemudian menuju restoran untuk makan siang. Baru saja pelayan mengantarkan pesanan Ponsel bergetar, ada satu pesan dari Pak Gus.


[Tuan, Nyonya ada di rumah. Jangan khawatir.]


Tanpa pikir panjang, aku langsung membayar tagihan makanan dan mengurungkan niat untuk makan siang. Aku keluar menuju parkiran. Dengan kecepatan penuh aku menuju rumah. Tidak sabar ingin meminta maaf pada wanitaku.


***


Sampai di rumah pukul 13.30. Tanpa memperdulikan semua orang aku naik ke lantai atas, menuju kamar. Sampai di kamar kosong tidak ada Melati, apa Pak Gus berbohong? Aku langsung berlari ke lantai bawah menemui semua orang. Termasuk Pak Gus yang mengirimkan pesan.


"Pak, mana Melati?" tanyaku tergesa setelah sampai di hadapannya.


Semua orang diam, kemudian menoleh ke arah sebuah kamar. Di dapur aku melihat Revi sedang dipangku Bunga, sedang di suapi makan.


"Kasihan, Tuan. Nyonya menangis tersedu-sedu tadi saat subuh. Pakaiannya basah semua karena hujan deras. Bibirnya sampai membiru, Jaketnya dipakaian pada anak itu. Kami menawarkannya makan berapa kali, ia menolak. Kami tanya ada apa, katanya tidak apa-apa."


Rasa bersalah menguar di hatiku.


"Kalau boleh tau, ada apa Tuan? Sebelum pergi Nyonya Dinda dan Dewi juga membujuknya makan, tapi ia menolak. katanya tidak lapar."


"Kemana Tante Dinda dan Dewi?"


"Kurang tau, Tuan. Pergi berdua, mereka juga awalnya mengajak Nyonya Melati, tapi lagi-lagi di tolak."


Aku melangkah perlahan ke arah kamar Bunga. kubuka dengan hati-hati pintu kamar. Terlihatlah ia tertidur di atas sajadah masih memakai mukena. Sakit, sedih, kecewa pada diriku sendiri, dua tetes air mata jatuh ke pipi. cepat aku menghapusnya.


Aku berbaring di sisinya. Menatap wajah lelahnya, jiwanya pasti tersiksa menerima perlakuanku semalam sampai ia memutuskan pergi dari rumah. kusentuh wajahnya, matanya terbuka.


"Tuan ... " ucapnya lirih dan kembali terpejam. "Apa saya sedang bermimpi Anda ada di hadapan saya?" ucapnya lirih, lebih terdengar merancau.


"Ini nyata ..." bisikku ke telinganya.


lagi ia membuka mata. lelehan kristal mulai berjatuhan di sana.


"Tuan maafkan saya, sungguh saya tak pernah bermaksud membohongi Anda. huhuhuhu." Ia tergugu. Aku tersenyum samar, merasa bersalah.


"Panggil apa tadi?" tanyaku selembut mungkin.


"Tuan." Aku mengecup hangat bibirnya.


"Ulangi." pintaku juga meneteskan air mata.


"Tuan." Sekali lagi aku mengecup bibir manisnya, lama dan mencumbu hangat.


Wanitaku semakin menangis. Aku melepas ciuman dan memeluknya erat.

__ADS_1


"Maafkan aku, Sayang. Maaf... "


__ADS_2