Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek

Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek
Topeng Juwita (Pov Melati)


__ADS_3

"Dokter, bisa jelaskan?" tanyaku menatap Dokter Rega dengan pandangan nanar.


Kemarin ia bilang akan ke klinik kandungan, aku baru sadar jalan yang kami tempuh waktu itu bukan ke sana. Sampai kami terdampar di desa ini. Tubuhku sudah lebih baik dari sebelumnya. Ia yang sedang duduk di halaman, di kursi kayu berukuran panjang di bawah pohon mangga hanya menunduk dalam.


"Mbak, sebenarnya aku mau membawa Mbak pada seseorang. Waktu Mbak dan Kak Arjuna pergi ke Bali, aku pernah datang ke rumah sakit sebentar di mana Kak Juwita di rawat. Aku melihat seseorang menemuinya bersama Revi."


"Seseorang?"


"Ya, Mbak mengenalnya selama ini. Bahkan kalian cukup dekat. Ada sesuatu yang mencurigakan, aku melihat keadaan Kak Juwita normal. Dan tidak seperti orang gila di kamar itu. Namun, saat Revi dan orang itu pergi. Kak Juwita kembali seolah-olah menjadi tidak waras. Bisa jadi dia bersandiwara, Mbak."


"Jangan asal bicara, Dok!"


"Aku tau Mbak tidak akan percaya, karena itu aku ingin membawa Mbak ke Desa untuk menemui seseorang."


"Siapa?" tanyaku penasaran.


"Seseorang yang bisa membuat Mbak percaya. Aku meminta dia menyelidiki semuanya. Saat kutelepon, dia bilang sedang ada di desa, sedang dapat musibah. Ayahnya meninggal. Jadi kita harus ke desa untuk menemuinya."


Apa aku bisa percaya begitu saja pada Dokter Rega? Aku bimbang. Bagaimana kalau benar, tapi siapa orang yang sudah bekerja sama dengan Mbak Juwita.


"Boleh aku dengar siapa orang yang bekerja sama dengan Mbak Juwita?" tanyaku penasaran.


"Mbak tau orangnya. Dia sering bersama Revi. Dia dekat dengan kalian, jadi orang kepercayaan Kak Arjuna. Menurut laporan yang kuterima, Juwita berjanji akan terus mendekatkan Revi dan dia jika sampai Kak Juwita bisa bersama Kak Arjuna. Orang itu terlalu takut kehilangan Revi sehingga rela melakukan apa saja demi anak itu. Revi dijadikan alat Mbak oleh Kak Juwita, Mbak."


Ya Allah. Tiba-tiba aku teringat waktu itu ada yang datang ke kamar untuk memohon agar aku mau menerima Mbak Juwita. Mungkinkah, dia?


"Dokter, apakah Mbak Bunga?" tanyaku tak sabar menunggu jawaban Dokter Rega.


Dokter Rega diam, kemudian mengangguk perlahan. Reflek aku memejamkan mata sambil mengulum bibirku sendiri, geram. Begitu teganya ....


"Aku tidak pernah tau kalau kita akan terdampar di sini Mbak. Semua bukti ada pada Vivi."

__ADS_1


"Vivi?"


"Ya, namanya Vivi. Dia orang yang kuminta menyelidiki Kak Juwita dan Bunga. Juwita berencana akan keluar dari RS itu dan datang ke rumah kalian. Ia sudah merencanakan banyak hal untuk memisahkan kalian, Mbak."


"Dokter kita harus pulang. Mas Arjuna pasti cemas!" Aku berdiri dan tertatih melangkah, hendak masuk ke rumah ini, tapi kakiku masih lemas. Aku hampir terjatuh kalau tidak di tangkap oleh dokter Rega.


"Mbak, pulihkan dulu tubuh Mbak, jangan memaksakan diri. Bagaimana Mbak bisa melawan mereka kalau keadaan Mbak seperti ini. Aku akan membantu Mbak, tenang saja," katanya sambil menuntunku masuk. Akhirnya aku pasrah, semua yang dikatakannya benar. Aku harus sehat dulu supaya bisa melawan mereka. Ternyata diam-diam Mbak bunga selama ini bersekongkol ingin menyingkirkanku.


***


Malamnya aku tak berselera makan. Aku rindu suamiku, sudah hampir satu minggu kami berada di desa ini. Dia pasti cemas, dia pasti khawatir. Aku membolak-balikan badan gelisah memikirkan lelakiku itu. Ingin rasanya menghilang dari sini dan ada di dekatnya.


"Bagaimana keadaanmu, Nak?" Seseorang menyentuh bahu. Aku menoleh, ternyata Bu Karsih. Ibu yang punya rumah ini. Ibu yang berbaik hati mau menampung kami.


"Aku beringsut duduk dan tersenyum.


"Alhamdulillah, sudah lebih baik, Bu!" sahutku singkat.


"Saya menikah dengan Kakaknya, Bu. Dia memang pria baik."


"Iya, kakaknya juga pasti pria baik."


"Alhamdulillah, kakaknya sangat baik dan lembut, Bu." Ibu Karsih menepuk pucuk kepalaku.


"Ya sudah, tidurlah. Sudah malam. Kamu harus sehat, suamimu pasti sangat khawatir di kota sana. Besok kita coba meminjam ponsel ketua desa di desa sebelah. Semoga bisa terhubung dengan suamimu."


"Aminn ya Allah. Makasih banyak, Bu!" Ia mengangguk kemudian berlalu. Aku kembali berbaring.


'Sungguh aku merindukan mu, Mas.'


Air mataku menetes juga. Aku mengelus perutku yang kian membuncit.

__ADS_1


"Kamu kangen Papa, Nak?" tanyaku terus mengelus perut dan linangan air mata. "Sabar ya, sebentar lagi kita pulang." Kucoba memejamkan mata meskipun sangat sulit.


'Mas, aku kangen kamu ... '


****


Hari-hari kulalui di desa itu dengan perasaan yang, Entah. Aku terus saja merindukan suamiku. Cara dia memperlakukanku, cara dia memanjakanku. Rega dan Bu Karsih sudah pergi ke desa sebelah, tapi nomor Tuan selalu di luar jangkauan. Katanya memang jaringan di desa ini susah.


Bu Karsih mengurusiku dengan sangat baik, pun anaknya si Hetika, ia gadis yang sopan dan manis. Pagi hari, Hetika akan mengajakku jalan di sekitar rumah untuk berolah raga. Kadang ia memijat kakiku dan tidak lupa melafalkan ayat-ayat suci Al-Quran di dekat perut. Aku merasa tenang saat ia melakukan itu.


Besok, Dokter Rega akan pergi ke kota diantar orang dekat sini. Untuk menuju ke kota harus melewati hutan yang cukup panjang. Terlebih kalau musim hujan, jalannya sempit dan licin. Banyak mobil tidak bisa keluar dari sini kalau musim hujan seperti ini. Karena keadaan jalan yang belum di aspal dan tanahnya tanah liat.


"Mbak, aku pergi dulu ya! Jangan lupa makan. Aku akan kembali bersama Kak Arjuna. Dan kita akan menemui Vivi bersama-sama."


"Terima kasih, Dok. Hati-hati di jalan."


"Iya, Mbak. Assalamu'alaikum," pamitnya.


"Waalaikumsalam," sahutku singkat.


Ia menaiki sepeda motor yang yang tak memiliki body. Suaranya berisik dan sangat nyaring. Sebelum naik ke boncengan pria itu, dokter Rega kembali melambaikan tangan yang hanya kubalas dengan senyuman.


"Bismillah, semoga Dokter Rega sampai pada tujuan dengan selamat dan membawa lelakiku datang ke sini," ucapku lirih setelah sepeda motor itu pergi.


"Mbak, kita makan dulu, ya!" ajak Hetika.


"Nanti aja, Dek. Mbak belum laper!"


"Mbak, nggak boleh gitu. nanti dedek bayinya nangis kalau Mbak nggak makan. Kasihan, Mbak!" Katanya mengingatkan.


"Nak, anakmu itu butuh nutrisi loh. Hayuk gek ndang makan. Apa bosen makan sama daun singkong setiap hari?" godanya.

__ADS_1


Aku hanya tersenyum.


__ADS_2