Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek

Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek
Belanja Lingerie (Pov Melati)


__ADS_3

'Haduh bagaimana ini, apa Tuan tidak bisa menunggu sebentar lagi? Menunggu aku benar-benar siap, apa yang harus kulakukan.'


Sungguh aku seperti orang gila malam itu, setelah makan malam usai aku langsung masuk kamar, aku bahkan tidak menemani Tuan Arjuna mengobrol meski pun ia memintanya. Aku menyelimuti tubuh kecil Revi kemudian beranjak dan memutuskan duduk di sofa. Ponsel bergetar sepertinya ada pesan masuk. Aku segera mengambilnya dari atas meja dan membuka pesan.


[Makasih, ya. Agar-agarnya enak! Udah aku makan. Tapi di mana agar-agarku yang lama?]


Agar-agar sudah berlendir seperti itu kenapa Tuan masih menyimpannya? Lalu kuketik balasan.


[Sama-sama, Tuan. Yang lama sudah saya buang karena tak layak makan lagi. Nanti Tuan sakit perut kalau memakannya.] send.


[Apa? Dibuang?]


[Iya] send.


[Tega sekali, aku bahkan tidak memakannya karena ingin terus melihatnya.]


[Tuan, makanan itu di buat untuk dimakan, bukan untuk dilihatin aja. Sudahlah jangan sedih, nanti saya buatkan setiap hari untuk Tuan.] send.


[Alhamdulillah.Makasih, Sayang. Aku baru mau cerita masalah Revi. Kenapa kamu langsung masuk ke kamar?]


[Saya mengantuk. Cerita lewat sini saja.] send.


[Bilangnya mengantuk tapi masih chat an sama aku, emang ada orang tidur bisa bales chat?]


[Emot ketawa.] send.


Akhirnya kami berbalas chat sampai tengah malam. Kalau dipikir-pikir lucu, ya. Kami satu rumah tapi saling berbalas pesan. Dan malam itu aku tau, mengapa Tuan Arjuna membawa pulang gadis kecil yang malang ini.


***


Paginya Tuan Arjuna membawa Revi untuk mendaftar di sekolah yang baru. Kami sudah membicarakannya semalam, selama Juwita sakit kami yang akan merawatnya. Entah apa yang terjadi dengan Kak Juwita, tapi sungguh aku kasihan dengan nasibnya. Selain jauh dari orang tua, ia juga sendirian di Indonesia ini. Awal melihat aku bahkan iri dengan kesempurnaan yang dimilikinya.


Ternyata aku jauh lebih beruntung darinya. Meski pun tinggal bersama ibu sambung, tapi aku masih mendapatkan kasih sayang yang tulus dari Bapak. Sedangkan Kak Juwita, orang tuanya tak pernah memberi kabar, mereka selalu mentransfer sejumlah uang dan membiarkan anaknya begitu saja melewati masa-masa sulitnya.

__ADS_1


Kenapa hidup sekejam ini. Anak layaknya seperti seorang pegawai, diberi uang setiap bulan, tapi tak pernah diurus layaknya seorang anak. Mungkin kak Juwita terlalu banyak pikiran hingga sampai membuatnya stress seperti itu.


Semakin hari keadaannya makin memprihatinkan, bahkan dokter menyarankan membawanya ke RSJ, untuk pengobatan lanjutan. Setiap pulang sekolah Revi diajak main ke sana untuk menjenguk ibunya. Ketika pulang kadang anak itu menangis memelukku seraya menangis sesenggukan. Ia sedih mamanya sering marah-marah jika melihatnya. Mamanya berteriak, karena kehadirannya lah hingga mamanya tak bisa mendapatkan Arjuna.


Aku memeluk dan menenangkannya bersama Arjuna. Minggu depan mungkin Kak Juwita akan dipindahkan ke rumah sakit khusus kejiwaan. Kak Juwita terlalu terobsesi dengan Tuan, tapi aku yakin bukan hanya itu masalahnya, pasti ada hal lainnya. Hanya saja ia tak menceritakannya.


Hari itu hari paling sulit bagiku, bagaimana tidak? sepuluh hari telah berlalu dan hari ini aku telah selesai melewati masa menstruasi. Tuan Arjuna sudah bilang akan bersiap-siap, apakah aku juga harus bersiap-siap. Namun, bagaimana caranya?Aku menelepon tante Dinda dan ia memintaku main ke sana. Katanya semua orang kangen denganku. Baiklah, aku akan main ke sana.


"Hahahhahaa." Tawa Dewi menggelegar.


"Dewi jangan diketawain. Orang bertanya kok. Kamu keluar sana! Kamu belum pantas mendengar hal seperti ini." pinta Tante Dinda pada anaknya.


"Kenapa harus keluar, Ma? Aku juga pengen mendengar."


"Nggak boleh, kamu belum menikah! Sana!" Tante Dinda menyeret Dewi supaya keluar dari kamar. Setelah Dewi keluar kamar, tante Dinda baru menjelaskan padaku.


"Jadi begini, Sayang. Kamu harus mandi bersih-besih. Cuci tubuh dan rambutmu sampai benar-benar bersih dan wangi. Setelah itu belilah baju sexy, seperti lingerie. Pakai sebelum tidur, semprot kan wewangian ke bagian-bagian tertentu. Jangan lupa berdandan, jangan terlalu mencolok, pake bedak tipis saja, pake lipstik warna kalem dan baca bismillah."


Aku berpikir sejenak, aku bisa menangkap semua penjelasan tante Dinda. Hanya satu, lingerie itu bentuknya bagaimana.


Tante Dinda tersenyum, kemudian mengutak-atik gawainya dan menunjukkannya padaku.


"MashaAllah, jadi aku harus pake baju kayak gini, tante? Serius?"


"Nggak harus sayang, tapi dengan berpakaian seperti ini bisa membuat pasangan jadi lebih suka sama kita. Kan menyenangkan hati suami termasuk ibadah?"


"Oh, iya juga ya Tante."


Kami tertawa bersama. Cukup lama aku main ke sana berbaur sama semua asisten rumah tangga, tante Dinda dan Dewi juga. Ketika sore aku memutuskan pulang. Pak Gus berniat mengantar, tapi aku menolaknya. Kan malu kalau lagi pilih-pilih lingerie dilihat olehnya.


***


Aku berjalan sendirian di sebuah mall. Ini pertama kalinya aku tak ditemani siapa-siapa, suasana Mall tidak terlalu ramai. Tiba-tiba seseorang menarik tasku dan berlari. Baru saja aku akan berteriak ada seorang pria yang menghadangnya kemudian menghajar serta merampas kembali tas milikku. Setelahnya ia mendekat, menyerahkan tas itu.

__ADS_1


"Lain kali jangan sendirian, bahaya!" ucapnya.


"Dokter Rega?" tanyaku sambil mengambil tas yang diberikannya.


"Mau ke mana?"


"Nggak ada, bosen di rumah jadi jalan-jalan."


"Mau aku temenin?"


Aduh! Bagaimana aku mau beli lingerie kalau di temani sama dia. Tapi kalau menolak tidak enak juga.


"Boleh juga, Dok. Terima kasih atas bantuannya."


"Iya sama-sama."


Kami berjalan beriringan. Ternyata mengobrol dengannya enak juga, banyak hal yang kuketahui soal Tuan Arjuna darinya. Foto-foto masa kecilnya dan lain sebagainya. Saat berada dibagian pakaian dalam wanita aku bingung harus berbuat apa.


"Dokter, bisakah Anda menunggu saya di lantai atas, di tempat permainan anak-anak. Saya harus ke toilet itu dulu."


"Tidak apa-apa, Mbak. Saya menunggu di sini saja."


"Jangan, Dok! saya mohon, saya merasa tidak enak!" Ia mengangguk mengerti.


Aku pura-pura berjalan ke arah Wc dan diam di sana cukup lama, setelah memastikan dia pergi. Aku cepat-cepat memilih baju tidur sexy seperti yang di sarankan tante Dinda. Aku begitu saja mengambil beberapa dan langsung menuju kasir. Langsung kuberikan baju-baju itu pada pelayannya sambil menunggu.


"Jadi berapa?" tanya seseorang yang sudah berdiri di belakangku. Mataku membulat setelah menoleh ke belakang. Dia Dokter Rega. Bagaimana ini, jadi malu ketauan membeli baju seperti ini.


"Lingerie lima potong, jadi semuanya Rp. 2.239.000." kata Pelayan kasir sambil memasukkan lingerie itu ke dalam kantung berwarna putih dan menempelkan struk pembelian di sana.


Aku memejam, malu. Segera Dokter itu mengeluarkan kartu kreditnya. Ia tampak mengulum senyum dan itu membuatku sangat malu.


"Ehh, Dok. Saya bisa bayar sendiri." pintaku.

__ADS_1


"Anggap saja di traktir adik ipar." sahutnya enteng sembari tersenyum dan kembali memasukkan kartu kreditnya dalam dompet.


__ADS_2