
Rapuh! Itulah yang kulihat saat ini. Tuan Arjuna tampak begitu menyedihkan melihatnya seperti ini. Ini pertama kalinya aku melihatnya menangis. Banyak sekali diluar sana orang yang seperti Tuan Arjuna, tampak bahagia dan baik-baik saja, tapi hatinya sedang menangis dan kecewa. Aku terenyuh melihat dan mendengar ia menangis, sungguh menyayat hati.
"Tuan, tuan?" panggilku lirih saat kumerasa ia sudah lebih baik. Aku mencoba melihat wajahnya, ternyata ia sudah terlelap.
Perlahan aku merebahkan tubuhnya di ranjang, dan dengan sangat hati-hati mencoba turun. Baru saja kaki ini akan menginjak lantai Tuan Arjuna langsung menggenggam jemariku.
"Jangan pergi!" pintanya dengan mata masih terpejam. Aku bingung harus bagaimana. "Jangan pergi, kumohon." Kini sepasang mata bening itu terbuka, menatap dengan penuh harap dan ... aku menyerah.
Aku kembali ketempat semula dan membaringkan tubuh di sana. Tuan Arjuna mendekat dan membenamkan kepalaku di dadanya yang bidang. Sesekali diciumnya puncak kepala ini dan mengucapkan terima kasih.
"Tidurlah, maaf merepotkanmu dengan masalahku."
Aku diam saja, mendengarkan detak jantungnya yang tak beraturan. Setelah itu aku merasa sangat mengantuk dan memejamkan mata.
***
Samar-samar aku mendengar suara alarm berbunyi nyaring. Tubuhku sudah ditutup oleh selimut, lalu kemana Tuan Arjuna? Aku menyibakkan selimut dan turun dari ranjang, ternyata Tuan Arjuna sedang berdiri di balkon sana. Ia menatap jauh ke depan.
"Tuan." panggilku lirih.
Ia Menoleh dan tersenyum, kemudian memberikan isyarat kepadaku supaya mendekat. Jam baru menunjukkan pukul 05.15 pagi. Kebetulan aku sedang tidak shalat hari ini.
"Sudah shalat subuh?" tanyanya. Aku berdiri di sampingnya, melipat tangan di depan dada, dingin.
"Semalam saat berganti pakaian, saya baru tau kalau ternyata saya sedang .... "
"Tidak usah dilanjutkan, aku mengerti." Ia tersenyum, dan aku membalas senyumnya.
Tuan Arjuna berjalan mendekat, ia berada tepat dibelakang tubuhku. Perlahan, ia membalikkan tubuhku kearahnya. Lalu mengunciku di sana dengan kedua tangannya, sedikit menunduk ia memandang wajahku lekat. Sedangkan dua telapak tangannya memegang besi penyangga di sisi kiri-kanan tubuh ini.
__ADS_1
"Terima kasih," ucapnya lirih.
"Buat, apa, Tuan?" tanyaku terbata.
"Kamu itu seperti bunglon. Bisa menyesuaikan diri. Ah, tidak. Kamu seperti obat!"
"Obat?"
"Ya. Disaat aku sakit, kamu bisa jadi pengobat rasa nyeri itu. Disaat aku sedih, kamu adalah obat untukku kembali bahagia. Disaat aku terluka, kamu jadi antibiotik penyembuhnya."
Melihat wajahnya sangat dekat denganku membuat jantungku berdetak tak karuan. Sudah 2kali ia menciumku, tapi rasanya tak segugup ini.
"Tuan, bisa saja." Aku memaksa tersenyum. Ia masih menatap wajahku lekat, jarak wajah kami hanya satu kilan.
"Melati, bolehkah aku menciummu?"
'Mengapa Tuan Arjuna bertanya hal semacam ini. Apa aku harus mengatakan 'mau'? Bukankah itu sangat memalukan?'
Gemuruh hatiku tak dapat kusembunyikan tatkala ia semakin dalam menciumku dengan lembut. Untuk pertama kalinya aku merasakan gejolak seperti ini. Suhu tubuhku memanas seiring ia mencumbu, wajahku sudah pasti memerah. Sampai pada akhirnya ia melepas ciuman dan hanya memandangku.
"Kamu lebih cantik dengan pipi merona seperti ini."
Aku membuka mata, dan segaris senyum tergambar jelas di wajahnya. Tuan menarik tubuhku dan membenamkannya dalam pelukan.
***
Entah mengapa setelah ciuman pagi itu aku merasa canggung jika bertemu Tuan Arjuna. Terlebih saat ia tersenyum dan tanpa sengaja aku melihat ke arah bibirnya. Oh Tuhan! Bantu aku menghadapi kecanggungan ini. Aku harus bagaimana supaya bisa bersikap normal padanya. Aku bahkan menabrak jendela dan sofa setelah masuk kembali ke kamar.
Tuan Arjuna selalu tersenyum melihatku. Kenapa? Bukankah ia sudah 2 kali menciumku, tapi kenapa rasanya berbeda, kali ini sangat menggetarkan semua persendianku. Hari ini aku hanya berguling-guling di kasur setelah Tuan Arjuna pergi bekerja. Aku tak bisa melakukan apa pun. Hatiku masih berdesir tak karuan jika merasakan ciuman itu.
__ADS_1
Ahh! Aku beringsut duduk di ujung ranjang. Apa yang harus kulakukan hari ini. Tiba-tiba semalam saat aku bertamu ke kamar Tuan Arjuna aku melihat fotoku berdiri di atas nakasnya. Apa tidak salah lihat? Baiklah aku akan memastikannya. Aku turun dari ranjang dan keluar kamar, kemudian langsung berjalan menuju kamar Tuan Arjuna.
Pintu terbuka dan aku langsung menuju ke nakas. Benar saja, ini fotoku malam itu ketika ia memintaku berdiri di dekat pohon yang di lilit lampu. Tanpa sadar aku tersenyum, aku kembali mengedarkan pandangan ke semua arah, dan aku bahkan lupa ia pernah membeli kulkas untuk di kamarnya, katanya males mau berjalan ke dapur jika haus tengah malam. Aku mendekati kulkas itu dan membukanya.
Tapi kulkasnya kosong. Saat hendak kututup kembali, aku seperti melihat sesuatu di bagian paling bawah, dan memutuskan memeriksanya. Aku terkesima, ketika tahu agar-agar yang kubuat waktu itu masih tersimpan di situ, bahkan sudah berlendir. Aku mengambilnya dan membawanya keluar. Aku membuangnya di kotak sampah dan berencana akan membuat yang baru untuknya.
Siang itu aku sibuk di dapur membuat puding. entahlah aku merasa sangat bahagia hari ini. Apa karena ciuman tadi pagi? aku menggelengkan kepala sembari tertawa. Kemudian mencoba fokus pada apa yang sedang aku kerjakan. terdengar ponsel berbunyi dari kamar, aku segera berlari ke sana dan mengambilnya. Ternyata Tuan mengirimkan pesan.
[Rindu.]
ih, apaan sih kirim pesan seperti ini. kayak anak SMA aja, rutukku. Namun, setelahnya aku guling-guling di kasur saking senangnya. Kemudian aku mencoba menenangkan diri dan membalas pesannya. Pura-pura tidak tahu sajalah.
[Rindu sama siapa, Tuan?]
[Sama yang baca pesan.]
Aku mengulum senyum, kemudian menutup wajah. Kembali kukirim pesan balasan.
[Tuan, bisa saja.]
[Kamu tuh, bisa saja membuat aku tergila-gila.]
Ahhh, rasanya nano-nano. Baru kali ini aku merasa hidupnya manis sekali. Kembali ia mengirim pesan, screenshot foto namaku di ponselnya. Disana tertera nama 'Sayang' dan ia juga memintaku mengirimkan screenshot namanya. Wah aku harus ganti apa namanya, ya?
baiklah, aku mengeditnya dari 'Tuan' menjadi 'Tuan Tampan' segera kuscreenshot dan mengirimnya. setelah itu tidak ada balasan. Lama-lama aku seperti mencium bau gosong, di mana, ya? Aku tidak sedang menggosok.
Mataku membulat. agar-agar ku?
Ya Allah ... aku langsung berlari ke dapur. pancinya sudah gosong, segera kumatikan kompor dan menyiramnya dengan air keran.
__ADS_1
Nyesss!
Alhamdulillah tidak terjadi kebakaran. bagaimana kalau tadi tak ketauan dan kompor meledak. Astaghfirullah ... lain kali jika aku memasak aku tidak akan menerima chat dari Tuan Arjuna.