Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek

Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek
Percaya pada Allah ...


__ADS_3

"Dewi," panggil Melati pada Dewi yang sedang asik bermain gawai di kamarnya.


"Oh, lu Mel. Sini duduk," ajaknya mempersilakan Melati duduk di dekatnya.


Melati mendekat, duduk di samping Dewi. Gadis itu tahu kalau Melati sedang butuh teman bicara.


"Kenapa?" tanya Dewi to the poin sambil beringsut duduk. Melati tersenyum, samar. Ia tidak tahu harus mencurahkan isi hatinya dengan siapa. "Dari raut wajah udah ketebak, loe lagi ada masalah kan?"


Melati mengangguk sambil senyum terpaksa.


"Aku, mau cerita sedikit, Dew."


"Banyak juga nggak apa-apa Kok. Sekarang ayo cerita, aku siap dengerin. Ada masalah apa?"


"Jujur aku bimbang, seperti yang kalian tau, aku ini anak dari istri ke dua Bapakku. Kami menutupinya dari Mama Hertini. Aku takut jika suatu saat dia tau kebenarannya dan meminta aku menjauh dari Kakakmu, Arjuna." Melati menarik napas panjang, kemudian melanjutkan ceritanya. "Selama ini aku tidak pernah merasakan kasih sayang dari seorang ibu. Kelembutan dan kasih sayang itu kurasakan semenjak aku mengenal Mama Hertini. Tentu saja aku berharap, semoga Mama bisa menerima latar belakangku suatu saat nanti. Tapi, percayalah ibuku orang yang baik. Bapakku sudah mengaku salah, dia mengaku duda saat menikahi ibuku, karena itu ibuku mau. Dia juga korban, Dewi."


Dewi duduk lebih mendekat ke arah Melati. Diusap-usapnya bahu sahabat beserta kakak iparnya itu, mencoba memberi ketenangan. Melati hanya tertunduk dalam. Jauh di lubuk hatinya ia sangat berharap Mama mertua bisa menerima masa lalunya, tapi di sisi lain, ia takut Bu Hertini tidak bisa menerima dan ia takut kehilangan suaminya.


"Gue tau perasaan loe, Mel. Mama Hertini memang di kenal dengen watak yang keras. Jika dia bilang A maka A yang harus terjadi. Jika dia bilang B maka tidak akan berubah menjadi C. Mama Hertini trauma dengan masa lalunya. Mamaku bilang, dulu ia sering memperingatkan Papa Arjuna untuk tidak membagi hati, jika sampai terjadi tidak akan ada toleransi. Karena keluarganya terdahulu juga hancur gara-gara hal seperti itu. Itulah mengapa ia sangat membenci wanita ke dua. Apa pun alasannya." Melati semakin terunduk dalam.


"Mel," panggil Dewi lirih. Melati tak sanggup menahan kesedihannya. Dadanya mulai terasa sesak.


"Ya... " serak suaranya terdengar saat menyahut panggilan Dewi.


Gadis itu memeluk sahabatnya. Seketika mata Melati terpejam, dan suara tangisnya terdengar tertahan.


"Loe percaya sama Allah?" tanya Dewi. Melati mengangguk. "Loe percaya kan kalau jodoh, maut dan rejeki itu sudah diatur sama yang di atas?" Sekali lagi Melati mengangguk dalam pelukan Dewi.


"Kalau Allah sudah menggariskan kalian bersama, sekuat apa pun orang lain berusaha memisahkan, InshaAllah kalian akan tetap bersama, meski pun harus melewati berjuta rintangan. Kita harus percaya, ketentuan Allah itu yang terbaik."


Melati semakin mengeratkan pelukan. Ia berusaha membesarkan hatinya sendiri. Entah mengapa kali ini perasaanya sangat sedih.


Dari balik dinding Mawar menyunggingkan senyum sebelah, Informasi ini sangat berguna bagi dia dan ibunya. Mengendap-endap dia menjauh dari sana untuk menemui sang Ibu.


"Oh, jadi seperti itu .... " ucap Bu Fikri, puas dengan informasi yang Mawar dapatkan.


"Bu, tapi bagaimana caranya menyampaikan kebenaran ini pada mamanya Tuan Arjuna. Sedangkan kita sudah tanda tangan di surat perjanjian itu."


"Kita pikirkan cara yang lainnya, sementara kita ikuti permainan mereka dulu." Tutup Bu Fikri dengan senyum sinis.


Sementara itu, saat Melati menemui Dewi, Revi sedang ada di dapur bersama Bunga.


"Ibu Bunga, kemaren Aku sama Mama Melati jenguk Mama di rumah sakit." Celoteh Revi pada Bunga di dapur. Ia memperhatikan wanita itu memotong sayuran.

__ADS_1


"Oh ya? Gimana keadaan Mama di sana?"


"Kata Mama Melati, Mama sudah mau sembuh."


"Oh bagus dong, Sayang. Sebentar lagi Revi bisa memeluk mamanya Revi lagi," sahut Bunga sambil sesekali menoleh ke arah anak itu yang sedang duduk di kursi meja makan.


"Tapi Revi sedih Ibu Bunga."


"Kok sedih?"


"Nanti kalau Mama sembuh, Revi diajak tinggal sama Mama lagi. Revi takut nggak bisa ketemu Mama Melati dan Ibu Bunga lagi." Bunga terdiam, ia menghentikan aktifitasnya. Wanita itu tidak berpikir sejauh itu. "Ibu Bunga nanti kangen nggak sama Revi?" Bunga masih mematung. Pikirannya melayang ke masa lalu.


^^^


Dulu, anaknya cantik dan pintar seperti Revi, sampai penyakit mematikan menggerogoti tubuhnya dan pada akhirnya pergi untuk selama-lamanya. Suaminya marah dengan keadaan karena penyakit yang di derita anak mereka, lalu memutuskan pergi dari rumah, membiarkan Bunga berjuang sendiri untuk mengurus dan membiayai pengobatan anaknya.


Setiap hari ia melalui hari-harinya yang sulit tanpa kenal lelah. Harus bekerja di hotel berbintang sebagai chef, setelah pulang menjadi ibu sekaligus ayah yang baik. Sampai hari keterpurukan itu tiba, dimana anaknya menghembuskan napas yang terakhir. Bunga benar-benar prustasi, terpuruk dan merasa dunianya berakhir, sampai Arjuna datang menyemangati.


Arjuna suka masakan Bunga, ia sering makan di sana bersama teman-temannya. Saat ia datang beberapa kali, Arjuna merasa rasa masakan itu berbeda, tidak seperti biasanya. Arjuna menemui pemilik hotel dan bertanya banyak soal Bunga.


Melalui informasi yang didapat Arjuna mengunjungi kediaman Bunga dan melihat wanita itu tengah terpuruk dan tak memiliki niat untuk melanjutkan hidup. Arjuna, Mariska dan Dino merasa perlu membantu Bunga karena selain kemanusiaan, profesi mereka juga sama. Dan mulai saat itu, Arjuna memutuskan Bunga menjadi juru masak di rumahnya.


^^^


"Ibu Bunga, pasti kangen sekali sama kamu, Nak. Bagi Ibu Bunga, kamu itu pelipur laranya Ibu. Darimu, Ibu bisa melepaskan rindu kepada anak Ibu."


"Ibu Bunga punya anak?" tanya Revi polos.


Bunga mengangguk dengan beberapa tetes air mata yang jatuh ke pipinya.


"Namanya Viona, dia sudah di syurga, Nak." Revi menatap Bunga, lalu menghapus air matanya.


"Syurga itu jauh ya, Ibu Bunga?" Sekali lagi Bunga mengangguk. "Ibu Bunga jangan menangis, kan ada Revi." Bunga tersenyum, getir.


"Iya, Nak. Masih ada kamu di sini." sahut Bunga lirih sembari memeluk anak itu erat.


***


Selesai praktek Rega merasa tubuhnya sangat pegal. Ia menyandarkan punggung di daun kursi. Wajahnya mendongak menatap plafon rumah sakit. Tiba-tiba bayangan Melati berkelebat di depan mata. Senyumnya, cara ia bicara.


"Ahh!!" Rega mengusap wajah kasar lalu menyandarkan dua siku tangan di meja, sementara wajahnya menunduk diiringi tubuh yang sedikit membungkuk.


"Astaghfirullah ... " Ia berucap.

__ADS_1


Rega sadar perasaanya salah, Rega sadar tak seharusnya ia memikirkan sesuatu yang bukan miliknya. Namun entah mengapa perasaan itu selalu datang dan semakin besar setiap harinya, meski pun berulang kali ia berusaha melupakannya.


Rega segera berdiri dan memutuskan pulang. Di tengah jalan, ia melihat Pak Gus sedang berdiri di pinggir jalan, karena penasaran Rega menghentikan mobilnya, ia sering melihat Pak Gus bersama Melati.


"Kenapa, Pak?" tanya Rega, membuka kaca mobilnya.


Pak Gus menoleh dan mengamati siapa yang menyapanya. Setelah sadar, wajahnya berubah senang.


"Tuan muda?" tanyanya. Rega tersenyum, ia turun dari mobil dan mendekat, langsung saja mereka bersalaman. "Ya ampun, gagah bener sekarang. Ganteng dan gagah banget, Tuan. Padahal dulu tubuh Tuan Muda masih kurus, sekarang mashaAllah ... " Rega tersenyum.


"Pak Gus bisa aja, kenapa mobilnya?"


"Nggak mau hidup, Tuan. Saya mau mengantar Nyonya Melati pulang ke apartemen."


"Oh, sama Mbak Melati?"


"Iya, itu ada di dalam."


Rega berjalan mendekat ke arah jendela mobil belakang lalu mengetuknya.


Tok tok tok!


Melati yang sedang sibuk mengajari PR Revi di dalam mobil menoleh dan mengamati siapa yang mengetuk kaca mobilnya. Setelah mengenali Rega ia membuka kacanya.


"Pak Dokter!" sapanya dengan tersenyum.


"Mbak Melati mobilnya mogok. Sama aku aja pulangnya, nanti kita panggil mekanik untuk menolong Pak Gus."


"Nggak apa-apa, Pak Dokter. Saya sama Pak Gus saja."


"Nyonya, saya takut lama. Nggak apa-apa sama Tuan Muda. Lagi pula ini sudah sore, sebentar lagi Magrib. Kalau saya bisa shalat di mana saja, kalau perempuan kan susah, Nyonya." sambung Pak Gus yang sudah berdiri di sebelah Rega.


Melati melihat ke arah Rega, pria itu hanya tersenyum.


"Ehh, baiklah. Tapi, apa saya tidak merepotkan Pak Dokter?"


"Sama sekali tidak, Mbak."


Melati segera mengajak Revi turun menuju mobil Rega. Sedikit berlari Rega membukakan pintu untuknya.


"Makasih, Pak Dokter," kata Melati merasa tidak enak.


"Sama-sama, Mbak." sahutnya sambil menutup kembali pintu mobilnya. "Pak, tunggu ya, saya panggilkan mekanik untuk menjemput Bapak di sini." teriaknya saat akan naik ke mobil.

__ADS_1


"Iya, Tuan Muda. Terima kasih!" balas Pak Gus sedikit berteriak.


__ADS_2