
"Mas, mas, kamu di mana?" Melati meraba-raba.
Cepat aku menangkap tangannya dan menenangkannya. Aku menutup matanya untuk memberi kejutan. Bukankah dia suka cahaya lampu, nah di tempat ini ia akan melihat semua ini.
"Mas di sini. Kamu tenang, ya!" Aku memegang tangannya dan meletakkan jemarinya ke wajah.
"Ini kamu, Mas?" tanyanya sambil terus meraba semua bagian wajahku.
Hari ini terlalu sering aku melihat air mata itu mengalir dari sudut matanya. Aku ingin melihat pupil mata itu kembali membesar dan berbinar bahagia.
"Iya, ini Mas. Kamu tenang, ya! Mas mau nunjukin sesuatu sama kamu." Gilsa dan Regi membuka pintu mobil.
Suasana tempat ini sepi, karena sudah ku sewa khusus malam ini. Awalnya mau sewa tiga hari, tapi ku urungkan niat karena ada jadwal syuting lain yang menunggu. Aku menuntun Melati turun.
"Mas, kenapa musti di tutup mata aku?"
"Nurut aja, Sayang ...."
Akhirnya dia diam, tangannya terus menggenggam jemariku erat. Kami sudah sampai di Orchid Forest Lembang Bandung. Tempat ini adalah tempat pariwisata yang terletak di Cikole lembang, tepatnya di kawasan hutan pinus di kaki gunung tangkuban perahu.
Semua sudah di persiapkan sedemikian rupa. Aku membawa Melati masuk. Benar saja, tempat ini sangat Indah, aku saja takjub saat sampai di sebuah jembatan gantung yang di hiasi cahaya lampu yang sangat menakjubkan. Instalasi lampu yang ada di jembatan gantung ini semuanya menyala dan ini membuat suasana sangat manis.
Sampai lah kami di atas, di tengah-tengah jembatan gantung ini. Aku membuka penutup matanya.
"Mas aku boleh buka mata?" tanyanya.
"Coba buka mata kamu." perintahku.
Perlahan wanitaku membuka matanya dan takjub dengan apa yang ada di sekeliling kami.
"Wawww ... " ucapnya lirih.
Ia berjalan lambat ke depan sesekali tubuh itu berputar, aku diam saja memperhatikannya. Setelah cukup jauh berjalan ke depan ia kembali menoleh ke belakang.
"Mas!" teriaknya memekik kecil.
Aku hanya tersenyum. Ia berlari kecil dan menabrak tubuhku, memeluk lama. Kubalas pelukannya, sesekali mencium kepala.
"Kamu suka?" Ia mengangguk cepat, masih dalam pelukan.
"Aku tuh udah lama banget pengen ke sini. Tapi nggak berani bilang sama Bapak, takut jadi beban, ternyata pas aku ke sini, situasinya lebih indah, yaitu sama kamu."
Aku melepas pelukan. Kubingkai wajahnya dan mendaratkan satu kecupan. Ia tersenyum, pupil mata itu kembali terlihat berbinar.
"Mas!" panggilnya lirih dengan senyum bahagia dan melingkarkan kedua lengan di leherku, kemudian membalas ciumanku berkali-kali. "Makasih, Mas." Kembali ia memeluk tubuh ini erat.
__ADS_1
Setelah itu kami duduk di pinggir jembatan gantung ini. Ia bersandar di bahuku. Mengungkapkan kebahagiaan tak terkira telah memilikiku. Andai ia tahu, aku adalah orang paling bahagia memilikinya di dunia ini.
"Sayang ... "
"Emm ... "
"Mas berjanji mau cerita semua sama kamu malam ini."
"Iya, Mas. Tolong ceritakan sama aku semuanya," katanya menarik kepala dari bahuku. Ia mendongak dan menatap wajahku lekat.
"Sebenarnya, keluarga kamu udah lama pulang dari LN, sekitar lima bulan yang lalu." Wajahnya terlihat kaget. "Ibu dan Mawar berbohong pada kami. Mereka bilang masih berobat jalan. Padahal pihak rumah sakit sudah kasih kabar mereka keluar rumah sakit sudah beberapa bulan yang lalu. Aku tetap meminta Gilsa mengatur semuanya. Tetap mentransfer biaya pengobatan seperti biasa untuk tuk mereka. Namun, aku memutuskan berhenti mentransfer uang sekitar dua bulan yang lalu. Karena aku mendapat laporan, kalau Mawar sering memakai uangnya untuk berfoya-foya."
"Astaghfirullah, Mas maafin keluarga aku. Terlebih Bapak," katanya minta maaf berkali-kali.
Aku merangkulnya, menatap wajah yang kembali menampakkan gurat kesedihan itu dan meyakinkan kalau aku tidak masalah dengan semua itu.
"Jadi, tadi kami sempat diskusi dengan ibu, kami mengajukan surat perjanjian. Supaya ibu membantu kita untuk meyakinkan Mama kalau kamu itu anak dari Bapak dan Ibu Fikri. Mama, trauma dengan WIL dalam rumah tangga, karena dulu Papa sempat memiliki WIL dan semua jadi berantakan."
Melati menunduk. Ia menghembuskan napas berat.
"Mas, tapi Ibu kandungku nggak salah. Dia tidak pernah tau kalau Bapak memiliki istri dan anak."
"Iya, Mas tau sayang ... Hanya dengan melihat kepribadian kamu, mas sudah tau ibu kamu itu pasti orang yang sangat baik. Karena buah yang jatuh, tidak akan jauh dari pohonnya. Seperti kamu dan almarhumah ibu." Aku mencolek hidungnya.
"Percaya, Mas percaya!" ucapku membingkai wajahnya, sambil menatap ke dalam bola mata indahnya, meyakinkan. Melati tersenyum tipis, kemudian kembali menyandarkan kepala di bahu ini.
"Terima kasih, Mas."
"Iya, sama-sama Sayang."
Hening.
Dingin malam mulai menusuk ke lapisan kulit.
"Yank." tidak ada jawaban. "Sayang ... " panggilku karena Melati tak kunjung menyahut.
Aku menoleh dan memperhatikan wajahnya. Ternyata ia sudah terpejam.
"Sudah tidur?" tanyaku yang terlontar dari bibir begitu saja.
"Belum," sahutnya tiba-tiba. Aku tertawa sambil menggelengkan kepala.
"Pura-pura tidur, nanti kena sun lohh!"
"Nggak perlu, udah bangun!" katanya langsung menarik kepala dari bahuku. Ia langsung duduk tegak dan segar kembali.
__ADS_1
"Nggak mau kena sun, maunya apa nih?"
"Mulai dehhh." sahutnya mengulum senyum dengan pipi merona.
Kami sama-sama tertawa. Kemudian memutuskan berdiri dan berjalan santai menyusuri jembatan gantung yang indah ini. Ia terus menautkan jemarinya di lenganku. Sesekali kami tertawa, kemudian saling mengejar. Melati kembali terlihat bahagia, wajahnya bersinar di hiasi cahaya lampu yang ada di sekeliling kami.
"Naik sini!" perintahku saat ia terlihat lelah. Aku berjongkok di hadapannnya, meminta ia naik ke punggung.
"Baik banget!" katanya masih mematung.
"Buruan, nanti aku berubah pikiran loh!"
"Iya, iya Kang Mas Sayang."
Wanitaku menurut, ia naik ke punggung dan kami kembali melanjutkan perjalanan menyusuri jembatan ini. Bahagia, kumohon jangan cepat berlalu, teruslah ada di tengah-tengah kami, jangan pernah pergi.
***
Paginya tim sudah berkumpul sejak subuh. Aku tau infonya dari Gilsa. Aku akan bersiap untuk syuting. Karena kami tidur malam hari, Melati kembali tidur setelah shalat subuh tadi. Penginapan di sini cukup unik dan menarik, katanya ini juga salah satu yang di gemari oleh pengunjung. Selain fasilitas spot foto dan outbound. Bentuk akomodasi yang disediakan berupa camping ground dengan fasilitas ruang penginapan yang bertema pedesaan, sangat menyenangkan.
Aku mendekati Melati yang masih berbaring di ranjang. Ia memakai baju tidur, dress tipis berwarna putih, cukup membuat hati ini berdesir. untung sudah halal, jadi nggak dosa mikir ke mana-mana.
"Mas udah bangun?" Tanyanya menyibakkan selimut dari tubuhnya.
"Udah."
Ia beringsut duduk dan mendekat, kemudian mencium pipiku hangat.
"Mas jahat!" mencebik sebal.
"Jahat kenapa?"
"Semalem minta aku siap-siap. Pas aku sudah siap, Masnya udah tidur duluan."
'Sial, Kok bisa kelupaan ya? hal sepenting itu, pantes dia sexy banget!"
Aku diam saja, memperhatikan lekuk tubuhnya memakai dress pres body sampai pertengahan paha, baju tanpa lengan ber belahan dada rendah yang di hiasi renda-renda halus di bagian dadanya.
"Mas! Kok malah bengong. Sana ganti baju!" perintahnya. Aku diam saja, masih bergeming.
"Sayang." panggilku saat ia berjalan ke arah kamar mandi.
"Ya, apa Mas?"
"Aku siap kok pagi ini! Sini!" Aku menepuk bagian kosong di sisiku. Sambil melepas baju.
__ADS_1