Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek

Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek
Pengakuan Rega


__ADS_3

"Apa? Melati hamil? Kamu serius, Ga?" tanya Arjuna saat Rega baru saja keluar kamar habis memeriksa istrinya.


"InshaAllah, Kak. Aku memang bukan dokter kandungan, tapi sedikit tau tentang itu. Untuk memastikannya nanti kita Cek ke dokter kandungan, ya. Sementara biarlah Mbak Melati istirahat dulu."


"Alhamdulillah ya Allah ... " Arjuna mondar mandir di depan pintu kamar, hatinya penuh oleh kebahagiaan yang tak terhingga. "Ga, Aku masuk ya! Aku mau melihatnya, sebentar saja!" Arjuna meminta.


"Silakan, Kak!"


Arjuna segera menerobos masuk menemui istrinya. Sementara itu, Bu Hertini yang mendengar percakapan dua anak nya hanya bisa mematung Dari kejauhan. Setelah Arjuna masuk ke kamar, wanita itu memutar kursi rodanya dan berlalu dari sana menuju kamar.


Arjuna duduk di sisi sang Istri, didekat kepalanya. Sedikit membungkuk Ia mencium kening istrinya.


"Sayang .... " panggilnya dengan sangat lembut.


"Maafkan Mas, ya! Mas janji mulai saat ini nggak akan buat kamu tersiksa batin lagi." Janji Arjuna.


Melati perlahan membuka mata, samar-samar Ia melihat wajah suaminya yang sedang memandang wajahnya dengan penuh kekhawatiran.


"Mas .... "


"Ya."


"Apa kita sudah berpisah, Mas?"


"Alhamdulillah kita masih resmi menjadi suami Istri Sayang. Allah mendengar doa kita, Allah memberi jalan pada kita untuk bisa terus sama-sama."


Melati memejam kan matanya, samar bibir tipisnya mengucap Alhamdulillah.


"Sekarang, kamu fokus ke kesehatanmu dan anak kita, ya! Jangan pikirkan yang lainnya."


"Anak? Maksud Mas Revi kah?"


Arjuna menggeleng, Ia meremas jemari istrinya dan menuntunnya menyentuh perut istrinya sendiri yang masih datar.


"Ini anak kita, di sini Sayang .... "


Melati tidak mengerti, Ia belum menyadari kalau dirinya tengah hamil.


"Mas maksud kamu, aku?" Matanya seperti mencari sesuatu di dalam mata sang Suami.

__ADS_1


Arjuna tersenyum sambil mengangguk perlahan.


"Aku, ha ... hamil?" tanya Melati kurang yakin.


"Iya, Sayang."


Alis tebal wanita itu bertaut, Ia mengulum bibirnya sendiri. Kebahagiaan sedang memenuhi rongga hati sampai Ia meneteskan air mata.


"Sayang kok nangis? Kamu nggak suka?"


"Mas, Aku nggak tau mau ngomong apa, yang pasti Aku bahagia, Mas. Aku bahagia ... "


Arjuna memeluk wanitanya, setelah itu kembali mengecup keningnya.


"Mulai saat ini Mas nggak mau liat kamu murung dan banyak pikiran. Cukup pikirkan kebahagiaan kamu dan anak kita. Itu saja.


" Satu lagi, Mas."


"Apa Sayang."


"Kebahagiaan suamiku dan ayahnya anakku."


"Kebahagiaan Aku itu sederhana Sayang. Cukup melihat kamu bahagia, Aku sudah bahagia."


Mereka seling memandang. Sesekali Arjuna kembali mencium punggung tangan sang Istri yang ada di genggamannya.


***


Rega menjauh Dari kamar dan mencari keberadaan sang Mama. Ia tak menemukan Mamanya di ruang tamu, juga di ruang tengah. Pria super tampan itu melangkah ke arah dapur, terlihat bibik sedang memasak di sana.


"Bik, lihat Mama?"


"Nggak lihat Tuan muda."


Rega diam saja, matanya menyisir ke semua ruangan mencari keberadaan sang Mama. Karena tak kunjung ketemu Ia memutuskan mencarinya di kamar.


Perlahan laki-laki itu membuka knop pintu dan terlihat lah Mamanya sedang melamun saat pintu terbuka lebar. Rega tersenyum, Ia melangkahkan kaki mendekati sang mama. Setelah sampai Rega memijat lembut bahu sang mama yang sedang asyik menatap ke luar jendela.


"Mama, selamat ya! Bentar lagi mau nimang cucu." Bisiknya sambil membungkuk untuk mencium puncak kepala sang mama.

__ADS_1


Bu Hertini diam seribu bahasa. Sorot matanya tajam menatap ke luar.


"Ma, mama tau di mana pertama kali Aku bertemu dengan Melati?" Mamanya diam saja. "Aku bertemu dengan gadis manis itu di sebuah taman. Aku tidak sengaja menabrak tubuhnya saat Ia sedang berjalan. Aku meminta maaf dan mengulurkan tangan untuk berkenalan."


"Apa ini penting untuk dibahas?" Ketus mamanya bertanya.


"Menurutku penting, Ma." jawab Rega dengan luar biasa ketenangannya. "Aku lanjutin ceritanya ya, Ma. Aku ngajak kenalan, tapi wanita itu hanya menunduk dan menangkupkan ke dua tangan di depan dada sambil menyebut nama. Ia tak membalas uluran tanganku. Dihari berikutnya, sangat sulit mengajaknya jalan berdua. Dia Selalu takut bertemu seseorang yang bukan muhrimnya dan takut dengan Fitnah mulut manusia. Dan sejak saat itu, Aku tau begitu beruntungnya Kak Arjuna memiliki wanita seperti Mbak Melati. Wanita itu begitu menjaga harga dirinya di depan orang lain."


"Sudah cukup ceritanya?" Mamanya tampak bosan.


"Masih ada, Ma .... " sahut Rega dengan suara yang sangat lembut. "Ma." panggil Rega lirih, kembali Ia mencium puncak kepala sang mama dan memijat lembut bahu Bu Hertini. "Sebenarnya Rega tak ingin mama tau soal ini, tapi Aku rasa mama harus tau dan Aku akan mengatakan sesuatu pada mama. Sebelumnya Aku ingin minta maaf jika nanti Aku menyakiti hati mama."


"Langsung saja, tidak usah berbelit-belit," kata mamanya ketus tanpa menoleh kebelakang.


"Ma, jika suatu hari mama berhasil memisahkan Mbak Melati dan Kak Arjuna. Jangan heran kalau Aku akan kembali membawanya ke sini. Bedanya, jika selama ini dia adalah kakak iparku, saat Ia kembali bersamaku suatu hari nanti, statusnya akan berubah menjadi istriku."


Seketika Bu Hertini berbalik menatap Rega. Pria itu hanya tersenyum dan duduk Mensejajarkan diri dengan mamanya. Ia menggenggam tangan ibunya dan berkata.


"Rega menyukai Mbak Melati, Ma." Mamanya tidak percaya dengan kata-kata putra bungsunya. "Jadi percuma saja Mama berusaha keras memisahkan mereka. Karena jika itu berhasil pada akhirnya Mbak Melati akan tetap kembali ke sini juga. Mama tinggal pilih, Mbak Melati menjadi Istri Aku, atau Istri kak Arjuna."


Mata Bu Hertini nampak berkilatan. Ia memendam amarahnya di dalam hati saja, karena selama ini Ia tidak pernah marah besar dengan anak bungsunya.


"Maaf untuk ini. Tapi, ini jujur dari dalam hatiku yang paling dalam." Kemudian Rega mencium punggung tangan sang Mama dan berlalu begitu saja.


Rega menutup pintu, membiarkan hati Mamanya diliputi rasa yang tak menentu. bagaimana bisa dua anaknya yang kaya dan tampan bisa tergila-gila dengan satu wanita seperti Melati. wanita yang miskin dan sederhana.


Rega melangkah menuju kamar tamu, di mana Arjuna dan Melati sedang menunggu. Ia tersenyum saat melihat keduanya.


"Kak, ayo kita ke dokter kandungan. Supaya lebih jelas dan tenang," ajak Rega.


"Aku ke toilet sebentar ya!" pamit Arjuna. "Sayang kamu sama Rega bentar ya, Mas kebelet pipis nih!" Melati tersenyum sambil mengangguk.


Setelah Arjuna berlalu, Melati mencoba beringsut duduk untuk bersandar di kepala ranjang, tapi Selalu gagal karena tenaganya belum pulih total.


Dengan cepat Regi mendekat dan mencoba membantu. Melati agak kaget dan menatap Mata Rega cukup lama, hingga membuat dada pria tampan itu bergedup kencang.


"Makasih Pak Dokter," kata Melati setelah berhasil duduk.


"Ehhh, iya mbak sama-sama," sahut Rega sambil mengalihkan pandangan.

__ADS_1


__ADS_2