
Hari itu Melati merasa sangat gelisah. Sejak kemarin Rega tak ada kabar. Ia sibuk ingin ikut pulang, tapi Bu Karsih tidak membiarkannya. Terlalu berbahaya membiarkan wanita hamil sepertinya melewati jalan jelek dan licin seperti itu.
"Bu, saya sungguh tidak bisa kalau hanya berdiam diri seperti ini. Suami saya pasti tidak tenang," kata Melati terisak. Air matanya jatuh mengajak sungai. Hatiku terlalu rindu di barengi ketakutan dan kekhawatiran terhadap sang suami.
"Ibu tau perasaan kamu, Nak. Tapi pikirkan bayi dalam rahimmu. Bersabarlah sedikit lagi. Adik iparmu pasti sedang berusaha mencari jalan keluar. Percayalah sama dia, Nak."
Melati tertunduk dalam. Isak tangisnya terdengar tertahan. Tangannya mengelus-elus perutnya yang mulai membuncit.
"Sudahlah, istirahat lah, Nak jaga kesehatanmu." Bu Karsih menuntun tubuh Melati untuk berbaring. Lalu menyelimuti tubuh kurusnya. "Pikirkan anakmu, Nak. Jangan stres dan cobalah terus bahagia." Melati mengangguk. Bu Karsih berlalu meninggalkan Melati yang kian bersedih.
"Mas, aku mau pulang Mas. Kamu apa kabar? Aku kangen, Mas!"
***
Ditengah jalan yang penuh lumpur Rega dan Pak Karso mendorong sepeda motornya. Semalam hujan deras, tanah bercampur lumpur menajdi satu sehingga mereka sulit melanjutkan perjalanan.
"Pak jadi gimana ini?" tanya Rega dengan dahi mengerut.
"Kalau kita lanjut perjalanan masih panjang, Dek. Mending kita balik belakang. Kita bisa lewat kalau besok panas, jadi jalannya agak kering. Kalau seperti ini kita susah lewat." Rega menghembuskan napas kasar. Semoga Melati bisa memaklumi nya.
Akhirnya mereka beristirahat sebentar di pondok yang ada di pinggir jalan. Setelah makan bekal dan minum mereka akan berbalik pulang. Pikiran Rega sungguh tak tenang, ia teringat kata-kata Juwita waktu itu. Bahkan akan berusaha sekuat tenaga membuat Arjuna berpaling. Saat Pak Karso sibuk makan, Rega masih mematung.
"Nak!" Pak Karso menyentuh bahu Rega.
"Ahh, iya, Pak!" sahutnya tergagap.
"Dimakan, jangan sampe lupa. Nanti kelaparan."
"I iya, Pak. Baiklah."
Rega ikut makan setelah Pak Karso telah selesai.
__ADS_1
"Coba nggak melamun, tentu sudah selesai seperti saya sekarang." Rega hanya tersenyum samar.
***
"Mama, Revi sedih deh. Mama Melati kok lama perginya. Kalau mama Melati tau mama sudah sembuh, pasti seneng. Kira-kira Mama Melati pergi ke mana ya, Ma?" tanya Revi pada Ibunya malam itu. Juwita tersenyum sinis sambil memainkan ujung rambut anaknya. Ia tidak menjawab apa pun.
"Tidurlah, Nak. Besok mau sekolah, ya!" Revi mengangguk. Juwita menarik selimut menutupi separuh tubuh anaknya, lalu pandangannya lurus kedepan. Bibirnya menyungging sebelah membayangkan semua yang telah direncanakannya telah tersusun rapi tanpa cela.
Pagi-pagi sekali setelah mengantar Revi bersekolah Juwita mengunjungi Mama Arjuna. Bu Hertini sempat kaget, tapi berusaha bersikap biasa saja. Ia turut bahagia melihat perubahan Juwita. Dulu di masa SMA, hubungan mereka cukup dekat. Karena juwita hampir setiap hari main ke rumah Arjuna.
"Mau masak apa, Ma?" tanya Juwita saat melihat Bu Hertini, duduk di kursi meja makan sambil memotong wortel dan kentang.
"Ah, Mama bisanya motong-motong sayur gini. Masih mboknya yang masak."
"Tetep aja, masakan Mama itu juara. Jadi kangen jaman dulu, Ma." Mereka tertawa bersama.
Bu Hertini tidak bertanya banyak hal soal kepulangan Juwita dari rumah sakit. Ia takut menyinggung wanita itu. Jika Juwita bertanya bu Hertini menjawab, begitu seterusnya. Sedangkan Juwita terus berusaha mendekatkan diri pada Bu Hertini. Ia tak menyia-nyiakan kesempatan itu.
***
"Pak Dokter? Mana Mas Arjuna? Kenapa kalian hanya pulang berdua? Bukankah kalian sudah sampai di kota? Apa Mas Arjuna baik-baik saja? Bagaimana dengan pekerjaannya? Apakata dia tidak mengkhawatirkan ku?"
"Mbak .... " panggil Rega pelan. Matanya menatap wajah melati yang tak sabar menunggu jawaban darinya. "Maaf, kami belum sempat ke kota. Jalanan sangat jelek, dan kami tidak bisa keluar dari hutan."
Mendengar itu air mata begitu saja lolos dari mata indahnya. Melati duduk di kursi kayu yang terbuat dari rotan. Bu Karsih yang melihatnya merasa kasihan dan duduk mendekat. Sedangkan Rega menjadi merasa bersalah karena tak bisa berbuat banyak.
"Nak, sabar. Do'akan suamimu dari sini. InshaAllah semua baik-baik saja." Bu Karsih menepuk bahu Melati. Melati tersenyum samar sambil menggigit bibirnya sendiri. Ia begitu khawatir dengan suaminya. Ia terlalu takut suaminya berpikir hal yang macam-macam. Apalagi kini ia bersama Rega. Masih jelas di ingatan bagaiman Arjuna pernah marah karena Rega. Ia tak mau itu terulang lagi.
"Iya, Bu ... " lirih bibir tipisnya berucap. Rega mengalihkan pandangan dan menuju sumur di belakang rumah untuk membersihkan diri.
***
__ADS_1
Arjuna beserta dan juga beberapa polisi sedang ada di TKP di mana mobil Rega ditemukan. Pria itu terlihat frustasi dan sesekali memukul bagian depan mobil dengan tangan terkepal. Ia kesal kenapa begitu sulit menemukan adik dan istrinya.
"Tuan,ini pakaian terakhir yang dikenakan Tuan Muda dan Nyonya." Gilsa mengangsurkan kantung berisi pakaian Rega dan Melati saat itu.
Ia mengambilnya dengan tangan gemetar kemudian memeriksa isinya perlahan. Benar saja pakaian itu terkoyak di beberapa bagian. Arjuna meminjamkan mata sambil meremas kantung itu dengan putus asa.
"Apa ada laporan terbaru?" lirih Arjuna bertanya.
"Masih dalam penyelidikan, Tuan."
Tubuh Arjuna luruh, duduk di rerumputan dengan punggung bersandar pada mobil. Kepalanya mendongak ke atas dengan mata terpejam.
"Tuan, bersabarlah. InshaAllah kita bisa menemukan Tuan dan Nyonya." Arjuna diam saja. Ia berusaha terus berpikir positif meski pun kekhawatiran memenuhi rongga hati. Setelah cukup lama diam, Arjuna berdiri dan melangkah pergi begitu saja. Dengan cepat Gilsa mengikuti langkahnya dari belakang.
***
Malam itu Bu Hertini mulai mengkhawatirkan keberadaan Rega. Ia gelisah dan merasa tidak tenang. Mengapa Arjuna seperti menutupi sesuatu darinya. Sambil berbaring di ranjang ia menatap foto Rega di ponselnya. Tanpa ia sadari air mata meluncur jatuh ke pipi. Bu Hertini mencoba menelpon nomor Rega beberapa kali, tapi selalu di luar jangkauan. Akhirnya ia memutuskan menelpon Arjuna untuk bertanya di mana Rega yang sesungguhnya.
Setelah menemukan nama Arjuna dengan segera ia menekan tombol hijau untuk menghubunginya. terdengar suara sambungan telepon terhubung.
"Halo, Assalamu'alaikum, Ma."
"Waalaikumsalam, Nak," sahut Bu Hertini dengan suara serak.
"Loh Mama kenapa? Mama lagi batuk kah?"
"Nggak, Nak. Mama kangen sama adikmu Rega. Apakah dia masih lama pergi ke luar kota?"
Hening.
"Juna, jangan bohongi Mama lagi. Di mana Rega, Nak?"
__ADS_1
"Mama ngomong apa, Juna nggak ngerti. Siapa yang bohong, Ma?"
"Mama merasa kamu menyembunyikan sesuatu dari Mama Sayang." Terdengar Arjuna tertawa kecil. Tapi itu terpaksa dilakukannya, padahal hatinya pun di landa rasa gelisah dan putus asa. "Nak, di mana Rega?"