Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek

Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek
Aku tidak seperti itu (Pov Melati)


__ADS_3

Semua orang duduk di ruang keluarga. Aku duduk di samping Mas Arjuna, Dokter Rega, Mawar dan Vivi duduk bersisian di sofa yang panjang. Ada mbak Juwita dan Bunga di ujung sana. Tante Dinda dan Dewi masih tampak syok dengan kedatanganku yang tiba-tiba.


Tadi saat di kamar, ketika Mbak Juwita tanpa sengaja melihat kami bermesraan, aku sengaja semakin memanasinya, berharap ia terpancing. Tapi, ia malah tersenyum dan mengatakan bahagia dengan kepulanganku. Entahlah, ia tampak baik dan tak menaruh dendam padaku.


Tapi rekaman dan foto-foto itu tidak mungkin berbohong. Dokter Rega bahkan sampai rela mengajak ku pergi ke desa untuk membuktikan semuanya. Dia tak mungkin membohongiku. Aku meliril sekilas dokter Rega, ia juga sedang menatap dan kami sama-sama tersenyum.


"Melati, alhamdulillah. Kami bahagia kamu sekarang sudah kembali di rumah ini. Kamu tahu Arjuna hampir saja putus asa nyariin kamu," kata tante Dinda dengan raut bahagia.


"Aku pikir kita nggak akan ketemu lagi, Mel. Alhamdulillah banget Allah masih mempertemukan kita," sambung Dewi.


"Aku pun bahagia banget Tante, Dewi bisa kembali ke rumah ini. Yang pasti... " suara tercekat, aku menatap suamiku dengan mata berkava-kaca. "Aku bersyukur bisa kembali sama kamu, Mas."


Mas Arjuna tersenyum, membelai lembut pucuk kepala ku dan mencium hangat puncak kepala.


"Jangan pergi lagi ya, Sayang." Aku mengangguk cepat.


Semua orang melihat kami dengan raut sedih, bahagia dan haru. Kecuali Mbak Juwita, aku berapa kali menangkap nya memalingkan wajah dan sedikit berbisik pada Bunga.


Dari gerak geriknya wajah bunga tampak tertekan. Apa yang mereka bicarakan?


"Juna." Panggil Mbak Juwita tiba-tiba.


Mas Arjuna yang sedang merangkulku langsung menoleh ke arahnya. "Ya?"


"Ehh, sebenarnya ada sesuatu yang ingin kau sampaikan. Aku, dokter Rega dan Vivi serat mawar saling pandang. Dokter Rega memberi kode pada Vivi untuk membongkar penyamaran, tapi mawar mencegah. Mereka tampak berbisik dan Vivi mengangguk mengerti.

__ADS_1


'Sebenarnya apa yang mereka bicarakan?'


" Katakan saja, ada apa?" tanya Mas Arjuna melepas rangkulan dan terus menatapnya.


"Aku sebenarnya takut di bilang memfitnah jika mengatakan semua ini. Tapi, seorang teman yang aku pun bingung dari mana, tiba-tiba mengirim beberapa foto padaku. Awalnya aku mengira hanya hoax, tapi saat ku pandangin beberapa kali. Ini nyata bukan hoax Juna."


"Maksud kamu apa? To the poin aja," Mas Arjuna tampak kesal.


"Aku kirim ke ponsel kamu ya fotonya."


Mbak Juwita langsung merogoh saku celana dan mengambil gawai. Ia tampak mengetik sesuatu dan bibirnya mengulum senyum. Tidak berapa lama ponsel Mas Juna bergetar, aku jadi penasaran apa yang di kirim olehnya. Seketika wajah Mas Arjuna memerah dan matanya memandangku lekat. Sesekali ia juga menatap ke arah adik kandungnya, Rega dengan tatapan nyalang, seolah marah.


"Mas.... " panggil kau seraya menyentuh pundak.


"Maksud mas apa?" tanyaku. Mas Arjuna menunjukkan layar ponselnya di hadapanku dengan muka merah pada. Rahangnya mengeras dan tangan itu mengepal kuat. Aku terbelalak saat melihat beberapa foto Dokter Rega sedang melepasi bajuku, lalu memelukku dari belakang dan di sana aku tak mengenakan busana, tubuhku di selimutan beberapa padi yang menguning.


"Jelaskan padaku apa ini?" Mas Arjuna melotot mendekatkan wajahnya di hadapanku, dengan mata merah menyala, wajah itu bahkan bergetar saat menanyakan semua itu padaku.


"Mas itu tidak seperti yang mas pikirkan, saat itu suasananya sangat pelik."


"Kenapa, Mbak?" tanya Rega, tatapan semua orang tampak bingung. Terlebih tante Dinda dan Dewi. Aku menoleh ke arah Rega dan menggeleng lemah. bingung harus menjelaskan dari mana.


Melihat ekspresi ku Dokter Rega mendekat dan menatap foto di ponsel Mas Arjuna.


"Kak kalau saya tidak melakukan ini, nyawa Mbak Melati dan bayi dalam rahimnya terancam." Rega berusaha menjelaskan. "Dan ada yang lebih penting dari semua ini, Kak."

__ADS_1


"Apa yang lebih penting? Apa, hah?!" Bentak Mas Arjuna. "Kalian mesra mesraan di saat aku gelisah mencari keberadaan kalian berdua. Apa aku terlihat seperti orang bodoh?" mata nyalang itu sedikit memicing memperhatikan aku dan Dokter Rega secara bergantian.


"Mas, situasinya saat itu hujan deras." Aku ikut mencoba menjelaskan.


"Ya, karena hujan kau merasa kedinginan dan butuh kehangatan?" bisiknya menatap tajam.


"Kak aku bisa jelasin!"


"DIAM!!" Teriaknya menunjuk muka Rega dan Rega memilih diam.


"Mas aku, aku tidak seperti itu .... " Lirih bibir ini berucap dengan wajah penuh keputus asaan.


Mas Arjuna diam saja, ia berdiri dan menghempaskan ponselnya ke dinding. Brakk!!


"Aku benar-benar bodoh! bodoh!!" Ia meremas kepalanya, menjambak rambutnya dan mengusap wajah kasar. Sedangkan aku memejamkan mata. berusaha meredam semua rasa.


"Maaf, karena saya kalian jadi bertengkar," Kata Mbak Juwita. aku menatap Mbak Bunga dengan wajah memelas supaya ia tak mendukung wanita iblis itu, tapi Mbak Bunga enggan meliat ke arahku.


"Tuan, maaf kalau saya harus bicara. tapi ini lebih penting." Vivi bersuara.


"Apa kepentinganmu?" tanyanya dengan tangan semakin terkepal.


Vivi mengeleluarkan ponsel. Perlahan ia memutaf sebuah suara.


"Mbak Bunga, bagaimana rencana kita?" suara itu berasal dari ponsel Vivi.

__ADS_1


__ADS_2