Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek

Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek
Tampan Siapa? (Pov Arjuna)


__ADS_3

Aku baru saja pulang. Sudah kutekan bel berulang kali, tapi kenapa tak Melati tak kunjung membuka pintunya. Acara hari ini cukup padat, mana ada sedikit insiden juga tadi di lokasi, tanganku terkena minyak panas.


"Ah!!" Aku mematahkan leher ke kanan dan kiri, pegal semua.


Aku memutuskan menelepon Melati. Suara panggilan terhubung terdengar.


"Iya, Mas. Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam, Sayang. Kamu di mana? Dari tadi aku ketuk pintunya kok nggak di buka?"


"Oh, aku masih di jalan, Mas. Mobil Pak Gus mogok, untung ketemu Pak Dokter jadi dia nawarin nganter aku pulang."


"Rega?"


"Hu um."


"Oh, ya udah hati-hati di jalan, ya! Aku nunggu di rumah. Assalamu'alaikum."


"Iya, Mas. Waalaikumsalam." Ponsel kumatikan.


Jadi Melati lagi sama Rega. Kira-kira adikku itu apa masih ada rasa ya sama Melati? Karena di foto waktu itu siapapun tahu kalau ekspresi muka dia tu bahagia saat sama Melati.


Aku gelisah, takut juga kalau Melati nanti suka sama dia. Apalagi Rega tampan, mapan dan dokter pula.


Ish!


Aku mengambil gawai, kemudian menghidupkan camera depan, berkaca. Tampan aku atau Rega? Kucermati wajah di camera, sedikit tersenyum, kemudian mencoba tertawa lepas, coba melirik dari samping. Aku terlihat tampan kok di semua pose yang kucoba tadi. Aku memasukkan gawai ke saku celana.


Ah, Melati tidak akan tergoda. Lagi pula aku yakin, istriku wanita baik-baik yang tidak mudah jatuh cinta. Eh tapi aku lebih tampan saat lagi apa sih? Kembali aku merogoh celana, klik camera depan dan kembali berkaca. Coba tersenyum simpul, tampan kok. Coba sok cool, wah lebih tampan, coba kalau tertawa lepas, apa lagi ini.


Buktinya dulu banyak wanita hinggap ingin merebut hatiku. Pastilah aku ini tampan. Kembali aku menyimpan gawai. Lalu tersenyum sendiri saat ingat tingkah konyolku barusan. Pintu lift terbuka, keluar tiga orang dari sana, Melati, dan Rega yang sedang menggendong Revi.


"Mas, Assalamu'alaikum!" panggilnya seraya mencium punggung tanganku, kemudian berjongkok melepas sepatu.


"Waalaikumsalam."


Aku memperhatikan wajah Rega yang membuang pandangan beberapa kali, sepertinya ia berusaha mengontrol perasaanya sendiri, baguslah.


"Om Ganteng, mobilnya macet di jalan," kata Revi.


"Oh, ya? Jadi bertemu Oom ini tadi, ya?" tanyaku seraya berdiri, Melati meletakkan sepatu di rak, kemudian membuka pintu.


"Iya, ketemu om super Ganteng," katanya tersenyum sangat manis sambil menatap ke arah Rega.


'Apa, super ganteng? Apa Rega lebih tampan dari aku?'


"Hemm, hemm! sini sama Om!" Aku mengambilnya dari gendongan Rega.


"Dia ngantuk tadi, Kak," ucap Rega, aku hanya mengangguk.


Melati membuka pintu dan mempersilakan Rega masuk. Baru saja kami akan melangkah masuk, aku menarik lengannya.


"Iya, kak?"


"Udah sore, Ga. kasihan sama Mama. Pulang sana, makasih ya udah nganterin mereka berdua."

__ADS_1


Rega menggaruk kepalanya, kemudian terlihat agak bingung. Namun, pada akhirnya ia tersenyum dan pamit pulang.


"Ya Udah deh, lain kali aja mainnya, padahal aku mau numpang shalat Magrib di sini, Kak."


"Di bawah, di dekat pom bensin ada Mushola, shalat di sana saja. Amalanmu kan makin banyak kalau shalat berjamaah," jawabku.


"Bener juga, ya sudah aku pamit, Kak! Assalamu'alaikum," pamitnya, kemudian mendekat dan mengacak lembut kepala Revi "Om pulang dulu, cantik!" katanya dengan senyum mengembang.


Revi tersenyum, menutup wajahnya dengan tangan. "Waalaikumsalam, Om super ganteng!" jawabnya dan Rega berlalu.


Setelah ia menghilang di lift aku baru masuk ke dalam. Tampak Melati sedang membuatkan minuman.


"Loh Mas, Pak Dokter tadi mana?"


"Pulang, Sayang."


"Kok pulang, padahal aku sudah buat kopi loh."


Aku menurunkan Revi dari gendongan.


"Ya nggak tau, Sayang. Mungkin kasihan sama Mama di rumah."


"Om super ganteng pulang, di suruh sama Om Ganteng Mama Melati."


Haduh, anak ini kenapa harus bilang seperti itu sih?


"Bener, Mas? Dia udah bantuin aku loh, nganter sampe ke sini," tanya Melati dengan tatapan menyelidik.


"Ya ... karena tadi Mama menelpon nanyain Rega, karena itu aku minta dia buru-buru pulang."


"Bener ya, Mas! Nggak bohong kan?"


"Buat apa aku bohong Sayang. ya udah Mas mandi dulu, ya, gerah. Siap-siap shalat Magrib, ajak juga Revi ke kamar." Langsung aku menuju kamar.


Selesai shalat Magrib dan Isya Melati ke kamar Revi untuk mengajarinya belajar. Aku berdiri di depan cermin.


Apa model rambutku harus di perbaharui supaya terlihat lebih fresh? Bagusnya potong rambut model apa, ya?


Aku mencoba menyisir rambut dengan macam gaya. Biasanya rambut kusisir ke belakang begitu saja, malam ini aku coba belah pinggir.


Manis Juga, ternyata. Aku tersenyum, kemudian berjalan ke arah ranjang. Tidak berapa lama, Melati masuk ke kamar.


"Mas, makan yuk!" Ajaknya.


"Udah ngajarin Revi belajar?" tanyaku.


"Udah ..., " sahutnya sambil duduk di sampingku.


Ia memperhatikan rambutku, aku sengaja menunggu komentar darinya.


"Mas, tumben rambutnya di sisir seperti itu?"


"Kenapa emang? Jelek, ya?"


"Nggak, bagus kok." jawabnya sambil menyentuh ujung-ujung rambutku.

__ADS_1


"Sayang, menurut kamu. Mas ini tampan nggak sih?" Melati tertawa. "Kok ketawa?"


"Mas nanyanya aneh!" Melati semakin tertawa.


"Karena kamu nggak pernah bilang aku ganteng. cuma Revi yang suka bilang gitu." Aku diam.


Melati berhenti tertawa, ia duduk lebih mendekat.


"Mas, bagi aku kamu itu pria paling tampan di sini." Nunjuk hati. "Sesempurna apa pun orang lain, tidak ada yang lebih baik dari kamu, Mas!"


Melati meletakkan kedua tangannya di bahuku, sambil menatap.


"Yang bener?"


"Bener, Mas. Percaya sama aku."


"Emmm, jangan-jangan kamu dari dulu mengagumi aku? Tapi malu-malu?" Aku melirik ke arahnya dengan mata sedikit menyipit.


"Gimana, ya? Emm, pernah sih waktu pertama kali kamu jadi imam di rumah. Itu kamu terlihat ganteng banget!" katanya dengan mata menerawang, mengingat-ingat saat itu, mungkin.


Aku mengulum senyum. Tidak menyangka ternyata dia sudah mengagumiku sejak dulu.


"Kok baru ngomong sekarang."


"Takut kamu GR." Aku semakin tertawa.


Kemudian begitu saja merangkulnya sampai jatuh ke kasur berdua.


"Ih, Mas ayo makan!" Aku diam saja, melepas rangkulan dan berbaring miring menghadap ke arahnya, aku menyangga kepala dengan tangan sambil menatapnya.


"Makasih loh sudah buat kepercayaan diri Mas kembali."


"Emang sempet nggak percaya diri?" tanyanya dengan alis terangakat, bertanya.


"Hu um." sahut ku sambil memainkan ujung rambutnya.


"Karena apa?"


"Sesuatu."


"Apa?"


Terdengar lucu kalau aku bilang aku takut kalah saing sama Rega, adikku sendiri. Tapi, dia memang tampan. Selama bagi Melati aku paling tampan, tak masalah.


"Mas! Kok malah diem?"


"Enggak apa-apa. Yuk makan! Revi pasti udah menunggu di meja makan." ajakku sambil menarik tangannya.


"Mas jawab dulu!"


"Jawab apa?"


"Kenapa Mas bisa nggak percaya diri?"


Aku hanya tersenyum, terus menarik tangannya keluar, sementara Melati terus bertanya, kenapa kenapa dan kenapa?

__ADS_1


__ADS_2