Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek

Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek
Selamanya .... (Pov Melati)


__ADS_3

Aku berusaha mengesampingkan perasaan khawatirku. Di depan Tuan Arjuna aku selalu berusaha baik-baik saja, bersikap biasa saja dan selalu tersenyum. Meski pun jauh di lubuk hatiku yang paling dalam, kegelisahan ini membuncah. Aku akan menumpahkan keluh kesahku pada Dewi dan Tante Dinda.


Seperti hari itu, ketika Tuan Arjuna sudah pergi bekerja, aku mampir ke rumah untuk bertemu Bapak dan yang lainnya. Kata Mbak Bunga, baru-baru ini Bapak susah makan, ia lebih sering mengurung diri di kamar. Apa Bapak sedang banyak pikiran? Jika Iya, apa yang mengganggu pikiran Bapak?


Sebelum menemui Tante Dinda aku masuk ke kamar Bapak, terlihat ia terbaring di atas pembaringan. Aku tersenyum dan menutup pintu perlahan. Aku akan coba bertanya, mungkin Bapak bisa bercerita padaku.


"Bapak ... " panggilku lirih sambil menyentuh bahunya. Ia menoleh dan tersenyum, kemudian aku membantunya beringsut duduk.


"Nduk! Kamu ternyata," sahutnya dengan tersenyum, senang.


"Bapak kenapa nggak mau makan?" tanyaku setelah ia duduk bersandar di kepala ranjang.


"Nggak tau, nggak berselera aja, Nduk!"


"Bapak, nggak boleh gitu. Bapak harus makan, ya!" Aku mengusap-usap bahunya.


"Iya, nanti Bapak makan."


"Nggak mau janji doang, Bapak sayang sama Melati?" Ia menatap dengan mata sayu.


"Kalau bisa Bapak ingin memberikan isi dunia beserta isinya untukmu, Nduk!" Aku tersenyum.


"Melati nggak mau isi dunia beserta isinya, Melati cuma mau lihat Bapak makan dan sehat! itu aja yang bisa buat aku bahagia."


Bapak mengangguk, "kalau begitu Bapak mau makan."


"Ya udah tunggu bentar, ya. Melati ambilkan makanannya." Kemudian aku berlalu ke dapur.


Di dapur seperti biasa aku melihat Revi dan Bunga asik membuat sesuatu. Mereka bahkan tak menyadari kehadiranku. Sejak tadi aku tak melihat Ibu dan Mawar, apa mungkin Ibu sedang ada di kamar Mawar?


Selesai mengambil sepiring nasi beserta lauk pauknya beserta segelas air putih. Aku kembali ke kamar. Bapak tersenyum melihatku, begitu juga aku. Kuletakkan nampan di nakas dan mulai menyuapi Bapak. Bersyukur ia menurut, mau makan setelah aku membujuknya.


"Nduk, Bapak kenyang!" katanya setelah hampir habis.


"Tanggung banget, tinggal beberapa sendok lagi, Pak!" pintaku yang di jawab dengan gelengan kepala. "Ya udah minum dulu." Aku menyodorkan segelas air putih padanya.


"Makasih, ya!" katanya kembali menyodorkan gelas kosong padaku. Aku tersenyum, ia membelai lembut kepalaku.


***


Aku menemui tante Dinda setelah menemui Bapak. Ternyata tante Dinda sudah mengetahui banyak ceritaku dari Dewi. Ia memberi beberapa masukan.


"Mel, apa kata Dewi itu benar. Kamu harus yakin sama Allah, semua sudah digariskan. Sekuat apa pun orang lain berusaha memisahkan kalian, termasuk Mbak Hertini. Kalian pasti akan kembali bersatu. Kamu yang sabar, ya! Tante pasti selalu do'ain kamu." Tante Dewi memberi semangat.


"Mel, lo itu orang baik. Gue yakin Allah pasti kasih kebahagiaan dunia akhirat sama lo. Percaya deh!" sambung Dewi.


Aku hanya tersenyum menanggapi mereka, berusaha terus dan terus berpositif thinking dan membesarkan hatiku sendiri.


***


Aku izin pada Tuan Arjuna akan pulang malam karena harus menyiapkan Bapak makan malam dulu. Ia tidak akan mau makan kalau bukan aku yang membujuknya. Untung Tuan sudah memiliki kunci serep, jadi tidak perlu menungguku untuk masuk ke apartemen.

__ADS_1


Pak Gus langsung pulang setelah mengantar kami. Aku dan Revi langsung menuju ke atas. Beberapa hari yang lalu Rega mengirimkan chat mengajak menemui Mama, tapi pesan Tuan Arjuna aku tidak boleh dulu pergi ke sana, maka dengan terpaksa aku menolak. Padahal jauh di dalam hatiku, aku sangat merindukan beliau.


Tapi aku harus taat dan menuruti kata-kata suamiku. Jika aku tidak bisa menjadi seperti Khadijah atau Aisyah setidaknya aku bisa menjadi Melati yang baik untuk seorang Arjuna. Aku membuka pintu apartemen, suasana tampak sepi.


"Mama, Revi langsung ke kamar, ya!" pamit anak itu sambil mendongak menatapku.


"Iya, Sayang jangan lupa ganti bajunya, ya!" pintaku.


"Siap Mama," sahutnya lalu berlari ke kamarnya.


Kami sudah mandi dan shalat di sana, jadi sampai di rumah tinggal berganti pakaian dan istirahat. Aku menuju kamar, membuka pintunya, tapi tetap saja sepi, juga gelap.


'Apa Tuan, belum pulang?' batiku berkata.


Aku kembali menutup pintu dan masuk, terlihat pintu balkon terbuka. Aku berjalan ke arah sana. Ternyata Tuan Arjuna sedang berdiri menghadap ke arah jalanan. Perlahan aku mendekat, mendekap tubuhnya dari belakang dan menyandarkan kepala ini di punggungnya yang bidang.


"Baru pulang, Sayang?" tanyanya.


"Iya, aku pikir Mas belum pulang."


Tuan sedikit menoleh ke belakang kemudian tersenyum.


"Mas baru saja pulang. Bagaimana kabar Bapak?"


"Bapak susah makan, Mas. Aku harus membujuknya terlebih dahulu supaya ia mau makan."


"Tapi sudah mau makan kan sekarang?"


"Alhamdulillah, mau, Mas."


Tuan Arjuna melepas tanganku di perutnya, kemudian menuntun tangan ini untuk berdiri di depannya.


"Mas, kenapa? Aku nggak boleh peluk kamu, ya?"


"Boleh, tapi Mas pengennya yang peluk kamu."


Lalu ia memeluk dari belakang, seperti biasa menyandarkan kepalanya di bahu sebelah kananku. Aku mengeratkan kedua tangannya yang melingkar di pinggangku.


"Mas."


"Emmm."


"Malam ini cerah banget, banyak bintang."


"Tetap aja kelabu kalau nggak ada kamu."


"Kamu bisa aja, dulu pasti suka ngegombal."


"Nggak, cuma sama kamu."


Aku tersenyum, aku menoleh ke arahnya, lalu mendaratkan satu ciuman di pipinya. Tuan diam saja, ia memejamkan mata.

__ADS_1


"Mas."


"Emm."


"I Love you."


Ia mendengkus, tertawa.


"Kok ketawa?" tanyaku.


"Gombal," sahutnya singkat.


Aku hanya tersenyum. Kemudian hening.


"Mas."


"Apa? Kamu berisik banget!"


"Kapan-kapan kita liburan, yuk! Berdua aja."


"Serius?" tanyanya masih tetap memejam dan bersandar di bahuku.


"Hu um."


"Kenapa tau-tau ngajak liburan."


"Pengen ngabisin waktu sama kamu."


"Nanti InshaAllah, ya!"


"Oke."


Malam itu kami habiskan waktu di balkon apartemen. Entah sampai pukul berapa, yang jelas hingga lewat tengah malam. Tuan Arjuna banyak diam, sehingga aku yang banyak mengajaknya bicara. Ia memelukku sangat erat, bahkan enggan melepaskan meski pun hanya sesaat. Aku tidak pernah tahu apa yang sedang ia pikirkan, tapi aku tahu, lelakiku sedang tidak baik-baik saja.


Aku terus mencoba mencairkan suasana, menghiburnya dengan cara yang aku bisa, meski pun sejujurnya suasana hatiku pun sedang tidak baik-baik saja. Aku hanya ingin terlihat baik di depannya. Sesekali aku mencoba tertawa, kemudian mengecup hangat, pipinya. Tuan hanya tersenyum dengan mata yang terus saja terpejam.


"Mas."


"Emm."


"Masuk yuk!"


"Nanti aja, aku masih pengen peluk kamu."


"Udah malem, Mas. Besok kamu mau kerja."


Tuan diam saja.


"Mas."


"Emm."

__ADS_1


"Mau sampe kapan peluknya?"


"Selamanya .... "


__ADS_2