Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek

Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek
Ngidam


__ADS_3

"Kak, Aku ngomong gitu biar Mama berpikir 100 kali buat misahin kalian." Rega menggeleng kan kepala sambil tertawa.


"Tapi kamu pernah bilang loh, kalau Melati nggak bahagia sama Aku, bakal Ada orang lain yang bahagiain." ucap Arjuna serius.


Rega tersenyum tipis, kemudian menatap kakaknya.


"Kenyataannya kan Mbak Melati bahagianya cuma sama Kakak, tipe wanita seperti Mbak Melati nggak akan mudah ngasih hatinya ke orang lain."


"Dia memang yang terbaik, bersyukur Aku punya wanita sepertinya."


Tiba-tiba Melati datang bersama Bunga. Ia duduk di Sisi suaminya dan meletakkan gelas kopi ke meja. Setelahnya membawa kopi, Bunga kembali ke dapur.


"Ngomong apa sih seru banget?" tanya Melati sambil tersenyum.


'Kenapa musti tersenyum, itu bisa membuatku selalu terbayang nanti saat sampai di rumah.' batin Rega.


"Ini si Rega ada-ada aja, katanya dia suka sama kamu!" Goda Arjuna.


Reflek Melati menatap wajah Rega.


"Emm, Aku cuma bercanda Mbak... " sahut Rega senyum di paksa.


"Iya juga nggak apa-apa, istriku tidak akan tergoda." Arjuna bergurau sambil memeluk tubuh istrinya. "Iya kan Sayang?" tanyanya.


"Pak Dokter baik, pasti nanti jodohnya juga baik," sahut Melati. "Ayo di minum kopinya, Mas, Pak Dokter!"


"Oh iya Mbak Makasih sebelumnya. Ini Aku Ada bawain vitamin untuk Mbak dan janin yang Ada di dalam kandungan. Jangan lupa diminum ya, Mbak!" Rega meletakkan kantung berisi obat ke meja.


"Makasih Pak Dokter," kata Melati sambil mengambil kantung itu dan memeriksanya.


Rega mengunjungi rumah mereka sampai sore. Banyak hal yang mereka bicarakan. Awalnya Arjuna merasa cemburu, tapi lama kelamaan Ia yakin istrinya tidak akan ber paling darinya, sehingga pikirannya lebih tenang. Arjuna takut membuat kesalahan yang sama seperti yang pernah Ia lakukan sebelumnya, sampai Melati memutuskan pergi dari rumah.


***


"Huekk! Huekk! Huekk!!"


Pagi itu Melati terkena morning sickness, sudah berapa kali Ia muntah-muntah di kamar mandi. Sampai mulutnya terasa pahit dan mengeluarkan caira kekuningan. Arjuna mengurut pundak istrinya beberapa kali sedang perasaan khawatir.


"Kita ke dokter ya Sayang?" tanya Arjuna dengan wajah cemas.


Melati mencuci mulutnya, kemudian bersandar di dada suaminya.


"Mas, Aku masih bisa kok ngatasinnya. Nggak usah nggak apa-apa," kata istrinya dengan lemah.


Arjuna membelai lembut kepala, lalu mengecup hangat keningnya.


"Ya udah baringan lagi, ya!" Melati mengangguk.


Pria itu menuntun istrinya kembali ke ranjang, kemudian membaringkan tubuh istrinya dan menyelimutinya. Dipijat-pijatnya lembut kepala dan bahu sang Istri secara bergantian. Kemudian mengoleskan minyak angin ke dahinya.


Saat istrinya memejamkan Mata, Arjuna mengambil ponselnya yang Ada di bawah bantal, kemudian mengirim chat pada Gilsa.

__ADS_1


[Gilsa, Aku tidak bisa masuk Hari ini. Istriku sakit, cari chef pengganti untuk menggantikan acaraku, minta tolong sana Dino atau Mariska.]


[Baik, Tuan.]


Selesai mengirim chat Arjuna memutuskan pergi ke kamar mandi. Baru saja hendak pergi, Melati menarik tangannya.


"Kenapa Sayang?" tanyanya kembali duduk di posisi semula.


Melati membuka matanya dan tersenyum.


"Mas .... "


"Ya, kenapa?"


"Aku pengen ketemu Mama."


Hening. Arjuna bagai seorang patungan di hadapan istrinya. Setelah lama diam, melati kembali melanjutkan kalimatnya.


"Bukan Aku yang mau ketemu, tapi anak kita." katanya sedikit berbisik.


***


Sore itu Rega sedang sibuk melayani pasiennya. Terdengar perawat memanggil nomor urut pasien berikutnya.


"Nomor urut ke 64, atas nama Mawar."


Rega lupa siapa Mawar, dia hanya diam menunggu di mejanya. Datanglah seorang gadis berpakaian modis duduk di hadapannya. Gadis itu tidak bicara, hanya menatap dengan bibir semringah dan mata berbinar. Rega menegakkan punggung, membenahi kaca Mata dan kerah kemejanya.


"Iya, Dok ..., " sahutnya lemah lembut.


"Keluhannya apa Mbak?" tanya Rega sambil bersikap mengambil buku catatan dan pena.


"Jantung saya sering berdetak tak karuan, Dok."


"Benarkah? Coba Saya periksa."


Rega menarik kursi lebih mendekat, lalu memakai stetoskopnya ke telinga. Rega mulai menempelkan lempengannya ke dada gadis itu. Benar saja jantungnya terdengar seperti abis lari marathon 10km. Detak jantungnya sangat cepat.


Selesai Rega memundurkan kursinya.


"Mbak Mawar saya sarankan ke dokter spesialis penyakit dalam saja, karena saya dokter khusus Telinga, Hidung, dan Tenggorokan." katanya sambil tersenyum.


"Masalahnya, Saya jadi seperti ini kalau ber hadapan dengan orang tertentu, Dok."


Rega tidak mengerti, Ia hanya tersenyum.


"Apa pun itu, tetap saja. Mbak lebih baik memeriksakan diri ke dokter spesialis penyakit dalam, karena mereka yang lebih mengerti keadaan Mbak."


"Dok, apa Anda lupa dengan saya?" tanya Mawar tiba-tiba.


Rega tampak berpikir, Mata Mawar terus mengawasi.

__ADS_1


"Siapa, ya? Maaf Saya tidak ingat." sahutnya sambil tersenyum.


"Malam itu saat pertemuan keluarga di gedung. Kita saling berjabat tangan, apa Anda lupa?" .


Rega kembali menatap Mawar dengan seksama. Pikirannya melayang di saat itu, malam ketika Ia menghadiri acara makan malam bersama keluarga bersama Melati dan sekeluarga.


Cukup Lama Ia berpikir, baru ingat siapa gadis yang duduk di hadapannya.


"Oh iya, kamu adiknya Mbak Melati, ya?" Mawar menunduk dan tersenyum malu. "Masih suka niat jahat nggak sih sama Kakaknya sendiri?" tanya Rega sekali lagi dengan senyum manis.


Sontak Mawar langsung melotot ke arah Rega. Tidak menyangka, pria yang sangat disukainya bisa tahu semua itu.


***


Perjalanan pulang Rega tertawa sendiri mengingat tingkah Mawar. Ia kesal jika ingat cerita Dewi dan Tante Dinda saat datang ke rumahnya waktu itu. Mereka bercerita banyak soal Mawar.


^^^


"Melati itu Ada satu saudara tiri, Kak. Tapi jahat banget. Dia pernah naruh obat di jusnya Melati. Untung Aku tau dan segera Aku tuker minumanya. Akhirnya senjata makan Tuan. Tiga hari Ia sakit perut karena minum obat itu." celoteh Dewi saat itu.


"Oh, siapa namanya, ya? Aku lupa, apalagi ketemunya waktu itu cuma sekilas. Jadi Aku nggak inget mukanya."


"Namanya Mawar. Sesuai sama namanya, menusuk orangnya. Mulutnya tajem banget."


"Oh ya?"


"Iya, Kak. kalau di bandingan sama Mbak Melati 1000 : 1 jauh banget."


^^^


Rega berjanji kalau gadis itu datang sekali lagi, Ia akan memberi pelajaran sampai gadis itu tidak bisa melupakannya.


***


Hari berikutnya Arjuna makin tidak tenang jika pergi bekerja. Meskipun Ia bekerja, tapi pikirannya Ada di rumah. Usia kandungan Istrinya sudah memasuki bulan ke dua. Ia sering terkena morning sickness setiap pagi. Tidak jarang Melati enggan makan dan perutnya kosong tak ada isi.


"Sayang kamu pengen makan apa? Biar Mas bikinin."


"Nggak Mau Mas, Aku eneg makan apa pun."


"Gimana Mau sehat kalau nggak Mau makan?"


"Sebenernya Aku pengen makan sesuatu sih, tapi pasti kamu nggak bisa menuhinnya."


"Mas akan usahakan. Kamu pengen makan apa? Coba bilang!"


Melati diam Ia menggigit bibirnya karena ragu harus menyampaikan keinginannya atau tidak.


"Ayo bilang."


"Mas, Aku pengen makan masakan Mama ... "

__ADS_1


__ADS_2