Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek

Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek
Salah Pengertian (Pov Arjuna)


__ADS_3

"Arjuna ... kamu masih cinta, kan sama aku? Kamu menjauh dari aku karena anak itu, ya? Atau karena gadis ini?" Juwita menunjuk foto Melati di hari pernikahan kami.


Aku hanya melihatnya dari luar kamar, Juwita dikurung di ruangan khusus karena sering mengamuk. Aku melihatnya melalui jendela berkaca bening. Ia meronta-ronta ingin menemuiku. Ia memukul-mukul kaca itu.


"Om, Mama kenapa?" tanya Revi. Ia menangis sesenggukan di gendonganku. Pulang dari sekolah aku mengajaknya ke sini untuk melihat keadaan ibunya, tapi sepertinya ini akan membuatnya bersedih.


"Mama kepalanya masih pusing jadi seperti itu, sayang."


"Mama sakit, Om?" tanyanya polos sambil terus menatap mamanya yang mengamuk di dalam sana.


"Iya." Anak itu terdiam, sesekali ia menyeka air matanya dengan punggung tangan.


"Anak pinter nggak boleh nangis, do'akan mamanya supaya lekas sembuh. Biar bisa main lagi sama Revi." Aku menghapus air matanya sambil mencium puncak kepalanya.


***


Sampai di apartemen aku menggandeng tangan Revi menuju lantai atas. Tetangga di apartemen bingung dengan kami, mereka mengira kami memiliki anak angkat karena Revi selalu bersamaku kadangkala bersama Melati.


"Om, kalau nanti mama sembuh boleh tinggal sama Om dan Ibu Guru juga?"


"Nggak boleh sayang. Orang dewasa nggak boleh tinggal dalam satu rumah, kecuali saudara atau terikat pernikahan seperti om dan Ibu Guru Melati."


"Oh, jadi nanti mama Revi tinggalnya di mana, Om Ganteng?"


"Di rumah mamanya Revi sendiri."


Anak itu tersenyum, dan kami baru saja keluar dari lift.


"Assalamu'alaikum, Ibu Guru." teriak Revi. Sedangkan aku menekan belnya.


Krreaakk! Pintu terbuka dan Melati tersenyum melihat kami berdua.


"Halo cantik!" sapanya pada Revi.


"Halo Ibu Guru."


"Om Ganteng nggak di sapa?" tanyaku sengaja menggodanya. Melati diam saja, hanya melirik sekilas, setelahnya ia melepas sepatu dan mencium punggung tanganku seperti biasa.


Kami masuk beriringan dan aku menutup pintunya, Melati langsung mengurus Revi dan aku masuk ke kamarku sendiri, membersihkan diri dan bersiap menjalankan shalat Magrib berjamaah bersamanya, bukankah ia telah selesai hari ini?


Aku memilih baju koko terbaik dan yang wangi, kemudian meletakkan di atas ranjang. Aku membersihkan diri lalu langsung berganti pakaian. Aku keluar kamar saat azan sudah berkumandang dan langsung menuju kamar Melati. Ternyata dia sudah bersiap.


"Tuan." Katanya ketika melihatku datang. Aku tersenyum tipis. Terlihat Revi juga sudah memakai mukena.


"Saya masih ingat kamu bilang, setelah sepuluh hari masa itu telah selesai." Ia menunduk dalam. "Ayo, kita shalat berjamaah!" Mereka bersiap. Aku memposisikan diri sebagai imam.


"AllahuAkbar!!"

__ADS_1


Kami khusyuk shalat berjamaah. Sudah lama sekali aku ingin berjamaah, sayang Melati sedang datang bulan. Akhirnya hari ini kami bisa kembali shalat berjamaah.


"Assalamu'alaikum warahmatullah, Assalamu'alaikum Warahmatullah."


Dan kami berdoa bersama. Ketika berdoa baik aku mau pun Melati di kejutkan oleh Revi. Ia menangis terisak-isak mendoakan mamanya.


"Ya Allah, Revi mohon sembuhkanlah Mama. Meski pun mama sering marah-marah sama Revi, tapi Revi sayang sama Mama. Meski pun mama sering pukul Revi, tapi Revi tidak marah ya Allah. Revi kasihan lihat mama seperti itu, Terima kasih sudah mengirimkan Om Ganteng dan Ibu Guru cantik, jadi Revi sekarang ada temennya. Om Ganteng dan Ibu Guru sangat baik. Terima kasih ya Allah .... "


Kami berdua saling pandang dan Melati mendekati Revi. Diangkatnya tubuh anak itu dan diletakkannya tubuh kecil itu di pangkuannya.


"Allah pasti denger doa anak manis seperti kamu. Mamanya Revi sedang sakit, jadi sementara Revi sama Ibu Guru di sini, ya!" Anak itu mengangguk.


"Ibu Guru Terima kasih sudah baik sama Revi. Om Ganteng juga, Terima kasih, ya!" kami tersenyum. Melati memeluk anak itu erat, persis seperti anaknya sendiri.


"Kamu boleh kok kalau mau panggil Ibu Guru, dengan sebutan mama. Karena bagi Ibu Guru, Revi itu anak yang sangat baik, jadi Ibu Guru senang kalau punya anak seperti kamu."


"Boleh, Ibu Guru?"


"Boleh dong!" Melati kembali memeluknya.


MashaAllah aku bersyukur memiliki istri sebaik Melati. Padahal Revi adalah anak dari wanita yang sangat membencinya, tapi ia bisa menyanyangi anak itu dengan segenap jiwa dan raganya.


***


Revi sudah tertidur, sejak tadi aku juga tidak melihat Melati keluar dari kamarnya. Aku sedang menonton TV sambil minum segelas kopi susu di meja. Tiba-tiba suara pintu terbuka, Melati keluar memakai jubah mandi berwarna putih. Ia ke kamar mandi.


Ia hanya tersenyum melihatku, kemudian langsung masuk ke kamar mandi.


Setelah 15 menit ia keluar, masih mengenakan jubah putih. Aku menoleh ke arahnya, ia kembali tersenyum masuk ke kamarnya. Aku kembali fokus menonton TV di hadapan.


Setelah itu suara pintu kembali terbuka, Melati kembali keluar memakai jubah mandi yang tadi. Ia tersenyum saat melihatku, lalu ke kamar mandi.


'Apa dia salah makan, ya?' kenapa dia bolak-balik ke kamar mandi, dan seperti itu terus sampai berulang kali.


Dan saat kelima kalinya ia masuk ke kamar mandi aku memutuskan mendekatinya. Pintu masih tertutup, aku bersandar miring pada dinding dekat pintu, menunggu dia keluar. Kenapa dia bolak-balik kamar mandi, aku jadi penasaran.


Klek!


Pintu terbuka, mukanya berubah pucat saat melihat aku sudah menunggunya.


"Kenapa? Kamu sakit perut dari tadi bolak-balik kamar mandi?" tanyaku, ia cukup berbeda, wangi dan bibirnya yang biasa pucat, terlihat segar dengan polesan lipgloss berwarna pink.


Rambutnya di sanggul ke atas sehingga menunjukkan lehernya yang jenjang dan putih.


"Ehhh, anu Tuan."


Ia tampak gugup.

__ADS_1


"Kenapa?" tanyaku, dengan hati yang berdesir tak karuan melihat penampilannya.


"Ehhh," Sepertinya ia sedang berpikir sesuatu.


"Katakan." pintaku.


Melati diam saja, ia malah menggaruk-garuk kepalanya dan terlihat sedang memikirkan sesuatu.


"Kamu abis makan apa? kita ke dokter?" tanyaku.


"Oh, tidak Tuan! Saya tidak sakit!"


"Lalu?"


Melati menggigit bibir bagian bawahnya yang membuatku semakin gemas, terlebih ia memakai lipgloss berwarna merah muda itu, sungguh membuatku tak berdaya.


"Melati, katakan, kamu kenapa?" tanyaku karena ia tak kunjung bicara.


"Soal, pembicaraan kita 10 hari yang lalu .... "


Aku menunggu ia melanjutkan kata-katanya, tapi ia menggantung kalimatnya di udara.


"Iya? Lalu?"


"Ehhh, Ini Soal ... "


"Soal apa Melati cepat katakan." Aku yakin suhu tubuhku naik sekarang ini, keringatku mulai tumbuh di dahi. Kenapa dia terlihat sangat sexy.


"Tuan, waktu itu kan kita bicara di meja makan. Jadi Anda bicara akan bersiap-siap, Kalau ... "


Aku terus memperhatikan setiap gerakan bibirnya.


"Ya, kalau? kalau Apa?"


"Haduh! Bagaimana cara ngomongnya."


"Ngomong saja, ayo ngomong. Bagaimana aku mengerti maksudmu kalau kamu tidak bicara!" Aku mengelap peluh yang sudah membanjiri dahi.


"Jadi Sepuluh hari yang lalu, Tuan bilang akan bersiap-siap kalau saya sudah selesai masa menstruasinya, dan .... hari ini saya sudah selesai, Tuan. Jadi saya pikir ehh .... "


Aku bisa menangkap arah pembicaraanya, padahal maksudku waktu itu, aku akan bersiap-siap untuk menjalankan shalat berjamaah dengannya, sedangkan yang dipikirkannya adalah malam pertama.


Aku masih bersandar di dinding dengan mata masih menatapnya, dan itu membuatnya salah tingkah. Ternyata ia sudah menyiapkan segalanya. Wangi tubuhnya, polesan make up di wajahnya dan mengapa ia hanya mengenakan jubah mandi keluar dari kamar.


"Tuan, kalau begitu saya tidur dulu, sepertinya saya salah mengerti maksud Anda." Melati hendak pergi tapi aku langsung mencengkram pergelangan tangannya.


"Bisa ikut aku ke kamar?" tanyaku menatap wajahnya tajam.

__ADS_1


__ADS_2