
"Mbak! Mbak Melati!!" samar-samar Aku mendengar suara seseorang memanggil namaku.
Aku di ajak pergi ke pasar oleh Ibu untuk menghilangkan kebosanan. Meskipun jaraknya agak jauh, Aku mau. Aku menoleh ke belakang mencoba mencari sumber suara dan alangkah terkejutnya saat melihat Mawar bersama seorang wanita berjalan tergesa-gesa untuk men dekat.
"Ya Allah, Dek!" Mawar langsung menghambur memeluk. Kami larut dalam kesedihan, sementara Ibu dan temannya memperhatikan tidak mengerti.
"Mbak apa kabar?" tanyanya dengan deraian air mata. Suaraku tercekat tak bisa berkata banyak. "Mbak semua orang bingung nyariin, Mbak." katanya sambil melerai pelukan.
"Mawar, ini saudar kamu yang hilang?" tanya temannya.
"Iya, Vi. Ini mbak Melati saudara aku."
"Alhamdulillah, akhirnya bertemu," sambung Ibu yang tersenyum berdiri di sampingku. "Ya sudah, kita pulang ke rumah Ibu sama-sama, ya!"
Akhirnya kami pulang bersama, Aku dan Ibu naik ojek sedangkan mawar dan Vivi naik sepeda motor mereka sendiri. Sampai di rumah, kami langsung di sambut oleh Rega dan anaknya Ibu. Kami mengobrol banyak hal, secara kebetulan ternyata Vivi adalah orang yang di sewa Pak Dokter untuk menyelidiki Mbak Juwita saat itu.
Akhirnya aku mengetahui semua nya, termasuk Mawar. Ternyata benar, Mbak Juwita selama ini hanya berpura-pura. Mawar juga ber cerita kalau saat ini Mbak Juwita sudah kembali dan tinggal di rumah kami. Sungguh Aku takut suamiku akan terpengaruh oleh nya.
"Jadi gimana, Vi? Bagaimana caranya kita keluar dari sini?" tanya Rega kepada Vivi.
"Besok Ada mobil dekat rumahku yang biasa pergi ke kota. Kalau tidak hujan kita bisa berangkat."
"Pokoknya kita harus keluar dari desa ini sebelumnya Kak Arjuna terpengaruh sama wanita sialan itu," sambung Mawar.
"Kita harus keluar dari desa ini, Aku takut, sungguh takut suamiku akan terpengaruh, meskipun Aku yakin dia tidak mudah percaya begitu saja dengan wanita itu." Aku menghapus air mata yang mengalir di pipi.
"Mbak, sabar ya! Kita usahakan sama-sama cepat keluar dari sini." Mawar mengulurkan tangannya menggenggam jemariku.
***
"AllahuAkbar!"
Dokter Rega menjadi imam shalat kami malam ini. Aku, Mawar, Vivi, Ibu dan anaknya menjadi makmum di belakang tubuhnya. Selesai shalat kami ber do'a bersama, memohon kemudahan supaya besok di permudah keluar dari desa yang sangat Terpencil ini. Dalam hati Aku ber do'a, semoga malam ini cerah dan tidak hujan, sehingga perjalanan kami ke kota besok berjalan mulus tanpa halangan.
Malam ini Aku sedang bersama Vivi di kamar, sedangkan Mawar Ada di luar, belum masuk. Aku pamit pada Vivi untuk melihat adikku itu di luar. Sampai di luar ternyata is sedang duduk di halaman rumah bersama Dokter Rega. Aku melihatnya Dari balik pintu, takut mengganggu Aku hanya bersembunyi di sini.
__ADS_1
"Terima kasih, Mawar," kata Dokter Rega.
"Iya, Dok. Saya ke sini murni karena ingin mencari Mbak Melati, mohon Dokter jangan Salah paham. Saya sudah berusaha move on dari Anda. Jadi jangan berpikir yang bukan-bukan."
Dokter tertawa, ia menatap Mawar yang sedang duduk di sampingnya.
"Saya tidak bicara seperti itu. Kenapa kamu berpikir saya berpikir seperti itu?"
"Saya hanya takut Dokter Salah paham. Itu saja."
Tiba-tiba Dokter Rega memegang jemari Mawar secara yang membuat mata gadis itu membulat tidak percaya.
"Terima kasih!" Katanya seraya menggenggam tangan Mawar dengan ke dua tangan.
Mawar segera melepaskan pegangan tangan Dokter Rega dan Tampa Salah tingkah. Melihat itu Aku tersenyum, ingat suamiku di sana. Aku ingin memeluk nya erat, lalu mendaratkan ribuan ciuman di wajahnya. Aku menunduk dalam, sungguh Aku rindu ....
***
Paginya setelah shalat subuh kami segera menuju ke desa Vivi, selain untuk naik mobil itu, juga mengambil bukti. Mawar berulang kali bertanya tentang keadaanku, ia takut Aku terlalu lelah dan berdampak pada bayi dalam kandungan. Alhamdulillah Aku kuat, Aku bersemangat untuk pulang. Aku bersemangat untuk bertemu Mas Arjuna. Rindu ini sudah membuncah di hati.
Satelah cukup lama, akhirnya kami sampai di desa Vivi. Gadis itu mempersilahkan kami masuk. Setelah membayar ongkos ojek kami segera masuk menyusul Vivi. Kami duduk di ruang tengah menunggu gadis itu. Rumah yang sangat Sederhana, tapi bersih dan sehat.
"Mbak Melati baik-baik saja, kan?" Dokter Rega mulai memeriksaku, seperti menyentuh pergelangan tangan dan bertanya banyak hal.
Aku mengangguk-angguk memberi isyarat bahwa semua baik-baik saja. Begitu pun Mawar. Ia selalu bertanya, apakah Aku haus, apakah Aku lapar, apakah Aku lelah. Dan lagi-lagi hanya kujawab dengan gelengan kepala. Tidak berapa lama Vivi datang sambil membawa sebuah map berwarna merah.
"Udah dapet bukti-buktinya. Kita langsung ke rumah yang punya mobil, ya! Semoga masih belum ketinggalan." Kata Vivi sambil beberapa kali melirik jam di tangan.
Baru juga duduk, harus berdiri lagi. Jujur, Aku lelah... Tapi demi bertemu Mas Arjuna Aku akan terus kuat dan berusaha.
"Mbak, masih kuat?" tanya Mawar mendekatiku. Ia duduk di bawah sambil memegang tanganku.
"Kuat, kok Dek!" sahutku sambil mengelap peluh di dahi dengan punggung tangan.
"Mbak, tapi mbak pucet!" Mawar tampak khawatir.
__ADS_1
"InshaAllah mbak kuat!"
Dokter Rega dan Vivi berdiri menunggu kami. Aku berdiri di bantu oleh mawar. Ia memegang sebelah tanganku.
"Mbak, kalau capek bilang, ya?" Kata Dokter Rega.
"Iya, Dok. Pasti!" sahutku yakin.
Kami keluar bersama-sama, kemudian jalan kaki menuju rumah si sopir yang di tuju. Sungguh Aku merasa dadaku sakit dan perut ini begah. Tapi, Aku berusaha menutupinya.
Setelah istirahat berulang kali kami sampai di rumah orang itu. Vivi langsung mengetuk pintu dan ber bicara dengan seorang wanita paruh baya. Sedangkan kami menunggu dari kejauhan, setelah cukup lama, Ia menoleh dan menunjukkan jempol tangan dengan wajah semringah.
"Berangkat!!" Teriaknya dengan lantang pada kami semua. Dengan semangat kami datang mendekat, Aku memeluk Vivi erat Saking senangnya.
"Terima kasih, ya!" kataku dengan semangat yang luar biasa. Perasaanku tak karuan, antara sedih, bahagia juga was-was. Bagaimana nanti saat bertemu Mas Arjuna.
Mobil berwarna kuning di keluarkan dari pagar bambu di samping rumah itu. Seorang bapak paruh baya berkulit coklat mengeluarkan mobilnya. Di dalamnya sudah penuh dengan sayuran.
"Ayo, silakan naik! Tapi campur sama sayuran, nih!"
"Nggak apa-apa, Pak!" sahut Dokter Rega seraya menunduk sopan. Mawar menuntunku untuk naik ke mobil itu. Di susul Rega dan Vivi.
Mobil perlahan meninggalkan pekarangan rumah menuju ke kota. Dadaku rasanya sesak, mungkin akibat perut yang kian membesar. Tapi Aku berusaha terlihat baik-baik saja. Aku tidak mau pertemuanku dan Mas Arjuna tertunda untuk yang ke sekian kalinya.
Di perjalanan hati kembali was-was. Awan hitam di atas sana terlihat bergelayut manja ingin menumpahkan airnya. Sementara suara gemuruh sudah bersahut-sahutan. Aku memejam kan mata, ber do'a semoga Allah tidak menurunkan hujan untuk saat ini. Kalau hujan jalanan akan jelek dan kami bisa saja putar balik ke belakang.
"Sepertinya, Mau hujan ya Mbak, Mas!" kata Pak Sopirnya.
"Wahh, jangan lah Pak, semoga tetap terang, kami harus kembali ke kota malam ini."
"Ber do'a saja, semuanya ya mbak-Mbak, Mas ... "
Tanganku saling meremas melihat suasana dan cuaca di luar. Dalam hati Aku terus ber do'a...
Jangan hujan dulu ya Allah, kumohon....
__ADS_1