Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek

Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek
Pertemuan Keluarga


__ADS_3

Semua orang sudah bersiap malam itu. Bu Hertini sudah berdandan cantik dengan gamis apik yang baru saja dibelinya lengkap dengan hijab panjang. Sementara Rega memakai jas berwarna hitam, tidak lupa bunga mawar terselip di saku bajunya.


Mereka sudah bersiap, Rega mendorong kursi roda ke mobil, kemudian membopong tubuh sang Mama naik ke mobil, sedangkan Mbok melipat kursi rodanya dan meletakkan di bagasi belakang.


"Makasih ya, Mbok. Kami pergi dulu!" pamit Rega pada Asisten rumah tangganya.


"Iya, Tuan. Hati-hati di jalan." Rega tersenyum, kemudian membuka pintu depan dan duduk di belakang kemudi.


"Ma, kita berangkat, ya!"


"Iya, Nak. Pelan-pelan saja, duhh deg-degan. Bismillahh ... "


Rega menatap sekilas mamanya dari kaca spion di atas dashboard, kemudian mulai fokus menyetir.


***


Dikediaman Arjuna.


Arjuna dan Gilsa sedang mengajak keluarga Melati bicara. Melati duduk di sisi suaminya. Sementara Mawar dan Ibu Jamila tertunduk duduk di hadapan mereka mendengarkan penjelasan. Pak Fikri sudah diberitahu lebih dulu di kamarnya, sehingga tidak nimbrung di sana.


"Jadi sudah jelas kah, Bu Jamila?" tanya Gilsa.


"Iya saya mengerti," sahut Bu Jamila lemas.


"Kalau sampai keceplosan, selain kalian masuk penjara, kalian tidak akan pernah bisa lagi menikmati fasilitas dari Tuan Arjuna. Saya harap kalian berdua bisa diberi tahu baik-baik seperti ini."


Mawar menyikut lengan ibunya, ia sudah memakai dress mahal berwarna pink salem, wajahnya pun sudah di make up sempurna. Begitu juga mamanya, Bu Jamila mengenakan dress hitam dengan rambut di gelung ke atas, perhiasan tampak cantik melingkar di lehernya dan anting-anting yang menjuntai di telinga. Bu Jamila hanya tertunduk, takut.


"Saya ada satu permintaan," kata Mawar tiba-tiba.


Melati hanya diam, hatinya bergemuruh tak karuan, begitu banyak kekhawatiran di dalam sana.


"Apa?" tanya Gilsa.


"Kalau berhasil saya minta sekolah saya di lanjutkan yang lebih tinggi. Jadi kami akan berlakon sebaik mungkin, di samping itu kalian juga harus memperlakukan kami dengan baik dan menuruti semua kemauan kami." Mawar berkata dengan angkuhnya, ia sudah mengetahui kelemahan mereka, jadi bisa mengancam kapan saja.


Gilsa menoleh ke arah Arjuna dan pria itu mengangguk setuju.


"Baiklah, jika pertemuan hari ini berjalan dengan baik, maka Anda akan melanjutkan kuliah di salah satu Universitas di kota Jakarta ini."

__ADS_1


Mawar tersenyum puas, ia menoleh ke arah ibunya, tapi ibunya masih tertunduk, takut.


Yes, akhirnya aku bisa hidup bahagia. Tak masalah tidak mendapatkan cinta Tuan Arjuna, toh aku masih tetap bisa menikmati semua uangnya.


"Ya sudah, kalian boleh keluar sekarang. Sepuluh menit lagi kita berangkat."


Mawar dan Ibunya beranjak dan keluar ruangan. Kemudian dilanjutkan Gilsa. Tinggallah mereka berdua.


"Mas, aku takut!" lirih Melati berucap.


"Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja. Kamu hanya perlu bersikap sewajarnya saja Sayang. Kamu mengerti?" Arjuna membingkai wajah istrinya dan mencium keningnya.


"Iya, Mas. InshaAllah ... "


***


Dihotel berbintang, ruangan sudah diatur sedemikian rupa. Persis seperti acara ulang tahun atau pertungan. Ruangan itu dihiasi bunga yang bergelantungan di setiap sudutnya. Meja-meja bulat beserta kursinya di lapisi kain putih, persis seperti acara resepsi, bersih.


Arjuna mamakai jas berwarna putih, begitu juga Melati, ia mengenakan dress berwarna putih dengan list keemasan di ujung roknya yang panjang. Ia melilitkan pasmina berwarna senada dengan make up tipis di wajah, cantik.


Gilsa sibuk mempersiapkan semuanya, termasuk memasang alat persis seperti in ear monitor ke telinga Bu Jamila. Sehingga ia bisa memberikan intruksi sekaligus mendengarkan apa saja yang mereka bicarakan.


Kemudian Arjuna mengajak keluarga Melati duduk di sebuah meja bulat di tengah-tengah ruangan. Bu Jamila terkhir datang karena harus menerima beberapa penjelasan Gilsa terlebih dahulu. Jika mamanya bertanya apa, ia harus menjawab apa dan lain sebagainya.


Satu persatu tamu undangan berdatangan, Arjuna sekaligus ingin memperkenalkan semua keluarganya malam ini. Para paparazi pun satu persatu hadir di sana, siap meliput berita perihal keluarga besar Arjuna.


Keluarga itu tampak bahagia, Arjuna terlihat akrab mengobrol dengan ayah mertuanya. Sedangkan Bu Jamila sibuk berbincang dengan Mawar. Waktu yang dinanti tiba, mobil Rega berhenti di halaman hotel berbintang, langsung saja ia memberikan kunci mobil kepada yang bertugas dan menelpon Arjuna.


"Bentar ya, Pak. Nunggu Kakak saya datang dulu." dan petugas itu mengangguk patuh.


Didalam Arjuna pamit pada semua dan datang ke depan untuk menemui Rega beserta mamanya. Rega mengambil kursi roda untuk sang Mama, sedikit berlari Arjuna datang. Mencium tangan sang Mama dengan takzim setelah itu mencium kedua pipi.


Cekrek! cekrek! cekrek!


Para paparazi langsung mengabadikan moment itu. Arjuna mengangkat tubuh mamanya dan meletakkan tubuh itu ke kursi roda yang sudah di siapkan oleh Rega. Lagi-lagi para paparazi mengabadikan moment itu.


Arjuna tersenyum tipis melihat ke arah camera begituan Rega dan Bu Hertini. Setelah diam cukup lama diluar untuk memberi kesempatan kepada para paparazi mengambil foto mereka, perlahan Arjuna mendorong kursi roda mamanya, diiringi langkah kaki Rega dari belakang.


"Nak, Mama gugup mau ketemu mereka," kata Bu Hertini sembari memegang tangan Arjuna di dekat pundaknya yang sedang mendorong kursi roda.

__ADS_1


"Arjuna malah gugup mau ketemu Mama," sahut anaknya dengan tawa berderai.


"Aih, kamu. Mama serius!" Arjuna hanya tertawa, padahal apa yang dikatakanya benar adanya.


Mereka hampir sampai, Gilsa memberikan intruksi agar semua berdiri. Bu Jamila berdiri dengan senyum semringah. Begitu pun Pak Fikri dan Mawar, Melati langsung datang mendekat saat melihat Mama mertuanya, ia langsung mencium punggung tangan itu dengan takzim, kemudian sedikit membungkuk untuk memeluk.


"Mama kangen kamu, Nak!" bisik mamanya di telinga menantunya.


"Melati juga, Ma," sahut Melati sambil tersenyum kemudian duduk di dekat Mama mertuanya.


Bu Jamila langsung mendekat untuk bersalaman. Paparazi terus saja mengabadikan setiap moment yang terjadi di sana.


"Wahhh seneng banget, akhirnya bertemu besan!" kata Bu Hertini semringah sembari menempelkan pipi kanan kirinya pada Bu Jamila.


Cekrek! cekrek! cekrek!


Lampu blitz camera tak henti-hentinya berkilauan di antara mereka.


Gilsa dengen seksama mendengarkan apa yang mereka katakan. Sesekali ia mengatakan sesuatu untuk memberikan intruksi pada Bu Jamila.


"Iya, saya juga Jeng. Alhamdulillah, akhirnya bisa bertemu." sahut Bu Jamila membalas kata-kata Bu Hertini kemudian kembali duduk.


Mawar maju untuk bersalaman pada Bu Hertini.


"Anak gadis cantik ini siapa?" tanyanya pada Bu Jamila. Mawar hanya tersipu malu.


"Dia adiknya Melati. Sayang, kamu nggak pernah cerita sama Mama mertuamu soal Mawar, ya?" tanyanya menoleh ke arah Melati.


"I ... iya, dia Mawar adik saya, Ma!" sahut Melati sedikit terbata.


Arjuna yang berdiri di belakang kursi roda mamanya langsung menatap wajah istrinya. Tatapannya memberi isyarat bahwa semua akan baik-baik saja.


"Kalau ini pasti ayahnya Melati ya?" tanyanya pada Pak Fikri.


"Iya, saya ayahnya Melati," kata Pak Fikri sembari menyalami Bu Hertini.


Rega sedang menerima telepon di luar. Setelah semua orang duduk rapi dan sudah memperkenalkan diri masing-masing, Rega baru datang.


"Maaf, saya terlambat. Perkenalkan, saya Rega Affandi, adik dari Arjuna Delendra," katanya memperkenalkan diri di hadapan semua orang.

__ADS_1


Mulut Mawar terbuka lebar menatap Rega, bahkan jika ada lalat yang masuk ke dalam mulutnya, dia tidak akan menyadarinya.


"Wahhh, tam pan nya .... " lirih bibirnya berucap.


__ADS_2